Part 10 : Cemburu Buta

1990 Words
  “Wah! Wangi.” Gumam Max. “Kamu benar-benar pandai memasak ya ... pria yang menikahimu nanti akan sangat beruntung bisa bersamamu.”   Ilona terkekeh kecil. “Bocah sepertimu bisa saja memberikan komentar.”   “—aku tidak tahu lagi masakan apa yang kalian inginkan, jadi aku memasak ini untuk makan malam. Semoga suka ya.” Ujar Ilona saat ketiganya dengan kompak menyantap pasta dan juga steak yang ia buat.   “Enak. Ini enak sekali Ilona ... aku seperti makan di restoran.” Ujar Mia bersemangat. “Benarkan Max?”   Max mengangguk dengan mulut yang penuh makanan. “Menurut Daddy gimana?”   Uhuk!   Ilona segera bangkit lalu memberikan segelas air pada Edward. “Pelan-pelan nanti tersedak lagi.” ujarnya saat melihat Edward minum buru-buru.   Ilona membasahi bibirnya, lalu meneguk ludah kasar, gugup ketika melihat Edward sedang mengunyah makanan. Saat makan siang tadi anak-anak tidak melontarkan pertanyaan itu, ia pun tidak berani melontarkannya. Sebab ia tahu suasana canggung masih terasa begitu kentara diantara mereka berempat.   “Tidak buruk.”   Ilona mengulum senyumannya mendengar komentar itu.   “Meskipun garamnya tidak berasa.”   “Dad.” Tegur Max.   “Hm? Daddy hanya berusaha untuk jujur saja.”   Ilona menghembuskan napas perlahan. “Iya ... aku akui, stock makanan di kulkas memang sudah habis jadi aku benar-benar memasak dengan bahan seadanya saja. Tentang garam ... garam juga ternyata habis.”   “Kalau begitu kenapa Daddy tidak mengantar Ilona berbelanja saja?”   “Biar Bibi saja besok.”   “Besok masih libur Dad, memangnya Daddy tega melihat kami kelaparan? Tidak makan seharian.” Ujar Max dramatis.   Edward menghembuskan napas. “Biar supir saja yang mengantar.”   “No no ... ini hukuman Daddy. Jadi Daddy harus mengantar Ilona berbelanja.”   Edward menatap Max lamat, sedikit terganggu dengan Max yang terlalu mendorongnya mendekati Ilona. Ia memang setuju tentang ia akan membiarkan Ilona mendekat padanya, tapi tidak dengan paksaan seperti ini.  Edward menghembuskan napas. Jika saja Max bukan putranya, ia pasti sudah memarahinya habis-habisan karena membuat perasaannya tidak nyaman.   “Tidak apa Max, aku bisa belanja sendiri.” ujar Ilona kemudian tersenyum tipis.   “Dad ... .”   Edward menghembuskan napas. “Baik. Besok pagi kita belanja.”   Ilona mengerjapkan matanya lalu menoleh menatap Max dan Mia yang tersenyum lebar. Terkejut dengan Edward yang mendadak berubah pikiran.   ***   Edward berjalan dengan tangan mendorong troli, sejajar dengan Ilona yang sedang memilih beberapa jenis sayuran dan buah-buahan di etalase. Sesekali ia melirik Ilona, melihat penampilan perempuan itu yang entah bagaimana ceritanya bisa menggunakan pakaian yang sama persis dengan yang ia kenakan. Celana jeans hitam dengan kaus putih dan juga sneakers hitam dengan merk sama persis, bahkan sepatu mereka adalah edisi couple jika dibeli bersamaan.   Edward tidak mau ambil pusing, mungkin saja Mia yang lagi-lagi melakukan  hal ini pada mereka.   “Kamu sama anak-anak lebih suka sayuran atau daging?”   “Both. Tapi ambil lebih banyak daging dan juga buah.”   “Okey. Dad ... ingin sayuran apa saja?”   “Jangan memanggilku Daddy.”   Ilona mencebikkan bibir. “Di rumah saja depan anak-anak tidak ada protes, kenapa sekarang protes?”   “Terserahku.”   “Yasudah terserahku juga mau memanggilmu apa. Memang apa masalahnya?”   “Tentu saja karena yang kau panggil itu aku!”   Iris mata mereka berpandangan tajam. Setelah itu Ilona berdecak.   “Kemarin saja sok manis-manis sampai mencium keningku. Sekarang berubah lagi. kamu ini punya dua kepribadian atau bagaimana?”   Edward diam, seketika ingatannya tentang kejadian kemarin menyeruak dalam pikirannya. Jujur saja ... entah dari mana keberanian itu muncul. Ia hanya mengikuti kata hatinya saja, lalu mencium tanpa berpikir panjang.   “Jangan berpikir macam-macam tentang kemarin. Itu hanya permainan dan tidak berarti apapun untukku.”   Ilona mendesis kecil. “Lalu kenapa memilih dare? Kamu jawab pun kita bertiga tidak tahu kamu berbohong atau benar-benar jujur.”   Benar ... padahal bisa saja kemarin ia menjawabnya dengan asal menyebut nama. Tapi entah mengapa dorongan dari dalam dasar dadanya begitu bersemangat, saat sebagian besar hatinya menolak pun hati kecilnya terus mendorong untuk melakukannya.   “Ah ... kau mungkin ingin menyenangkan anak-anak ya? Mereka sangat ingin ada yang memilih dare.”   Edward berdehem kecil seraya mengalihkan pandangannya. “Ya ... tentu. Memang apa lagi tujuanku?”   “Siapa yang tahu sebenarnya kamu mencari kesempatan?”   Bingo!   Edward menghembuskan napas lalu mendelik pada Ilona. “Bangun bocah, kau terlalu banyak bermimpi.”   Edward melenggang pergi berjalan meninggalkan Ilona yang memanggil-manggilnya dari belakang. Beberapa saat kemudian mendadak ia menghentikan langkahnya.   “Hei! Aku bukan bocah ya! Akan kubuktikan kalau aku sudah dewasa dan aku sudah bis—.”   Duk!   “Argh! Kenapa tiba-tiba berhenti? Sakit tahu!” rajuk Ilona saat kepalanya terantuk punggung bidang Edward.   “Eva ... .”   ...   Ilona terkesiap saat nama itu keluar dari mulut Edward. Ia segera mendongak, lalu bergeser untuk melihat seseorang di depan pria itu.   Seketika senyuman Ilona sirna begitu melihat Eva yang ia kenal berdiri seraya tersenyum lebar pada Edward.   “Mr. Dalbert ... kebetulan sekali.”   Ilona mendengus kecil. Sebelum tersenyum kaku pada Eva yang kini menatapnya dengan mata membulat, terlihat sangat terkejut. Wajah perempuan itu pun tampak panik, sangat aneh untuk ukuran seseorang yang hanya akrab sebagai atasan dan bawahan.   “Hi Miss Eva. Kebetulan sekali kita bertemu di sini?”   “Ah ini ... seperti biasa belanja mingguan. Kalian ... belanja bersama?” tanya Eva ragu.   “Tidak. Aku hanya mengantar.” Jawab Edward cepat.   Ilona mendelik pada Edward. Apa katanya? Tidak? Yang benar saja!   “Oh ... kalian dekat ya sampai kau mengantarkannya belanja.”   Ya lalu memang kenapa kalau ia diantarkan Edward? Apa masalahnya?   Bibir Ilona mengatup, menahan rentetan kalimat yang sudah ada diujung lidahnya. Jika bukan karena perjanjian bodoh itu, sudah ia pastikan akan melepaskan apapun yang ada di ujung bibirnya.   “Kamu ingat Mr. Hazard dari Swiss?”   Eva mengangguk kecil. “Pemilik peternakan yang memasok s**u?”   Edward mengangguk kecil. “Ilona putrinya. Mr. Hazard menitipkan Ilona padaku agar aku menjaganya selama satu tahun dia bekerja di sini. Jadi ya ... itulah alasanku mengantarnya belanja.”   Ilona memutar bola matanya, malas. Untuk apa Edward menjelaskan sampai sedetail itu tentang dirinya? Memangnya perlu?!   “Oh begitu ya ... Kenapa kau tidak bilang sejak awal Ilona? Aku sangat menghormati Mr. Hazard juga ... sampaikan salamku pada Mr. Hazard ya.” Ujar Eva terdengar sangat bersemangat.   Sementara Ilona hanya tersenyum kaku, malas menanggapinya.   “Oh ya sekalian bertemu aku baru ingat. Maaf kemarin aku salah menginfokan laporan. Aku lupa saat itu hari Jumat. Kamu bisa sedikit bersantai laporannya bisa diberikan hari Senin. Iya kan? Mr. Dalbert?”   Edward hanya mengangguk kecil.   “Sayang sekali aku sudah menyelesaikannya. Aku bahkan sudah memberikannya pada Edward.”   Kening Edward mengerut. “Kapan?”   “Aku menyimpannya di meja kerjamu.”   “Oh.”   “Mm ... kalau begitu aku duluan ya? Aku harus kembali berbelanja.” Pamit Eva.   Pergi saja sana! siapa yang peduli?   “Tunggu ... kita belanja bersama saja Eve.”   APA?!   Mata Ilona membulat, mulutnya pun terbuka hampir melontarkan protes tapi sial! Perempuan itu justru mengangguk, bahkan tersenyum malu.   Oh! Gagal sudah quality time yang sudah ia rencanakan.   Sialan!   “Ilona ... kenapa berdiri di sana? Ayo.”   Ilona mendengus lalu menoleh ke arah etalase buah-buahan. Mengambil kiwi, anggur, apel dan jeruk. Setelah itu tanpa banyak bicara ia berjalan ke arah bumbu yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.   Ilona kembali mendengus, kesal saat melihat Edward justru berjalan santai bersama Eva, dia bahkan membantu Eva mendorong troli dengan tangan lainnya.   Apa-apaan ini?! katanya dia punya pacar! Kenapa masih saja menanggapi Edward dengan sesantai itu?   Lihatlah tatapannya! Tidak bisakah dia mengendalikan tatapannya pada Edward? Jelalatan sekali! Menjijikan!   Oh sial sungguh sial! Seharusnya edisi belanja mereka tidak diisi dengan adanya orang ketiga seperti ini. Seharusnya mereka berbelanja berdua dan bermanis-manis. Tapi nyatanya?   “Jangan lupa garam. Kau bilang garam habis.” Tegur Edward. Lalu tanpa pikir dua kali ia mengambil beberapa bungkus kecil garam, penyedap, berbagai macam kecap dan rempah-rempah lainnya.   “Wow ... sepertinya kamu cukup senang memasak ya sampai berbagai bumbu diambil?” komentar Eva.   “Memang kenapa? Aku memang senang memasak.”   “Ah ... begitu. Hebat sekali. Kalau aku hampir tidak pernah sempat apalagi kalau sedang sangat sibuk. Masak seadanya aja yang penting kenyang.”   Tidak ada yang nanya.   “Tapi sandwich buatanmu enak Eve. Kenapa tidak pernah buat lagi untukku?”   Rahang Ilona semakin mengatup, tatapan matanya kembali mendelik tajam. Apa? Enak? Sespesial apa sampai Edward memujinya seperti itu? Paling juga sandwich isian biasa saja.   “Emm itu ... ya seperti yang kubilang. Tidak sempat. Tapi nanti kapan-kapan aku akan membuatkannya lagi jika memang kau mau.”   Cih!   “Tidak perlu. Aku bisa membuatkan Edward sandwich jenis apapun. Kau kan sibuk.” Desis Ilona. Akhirnya melepas emosi tertahannya.   “Oh. Begitu?” Eva bertanya dengan sesekali melirik Edward dan Ilona bergantian, dengan canggung.   Edward menghembuskan napas, lalu menatapnya dengan datar da dingin. “Tidak perlu kekanak-kanakan begitu. Siapapun berhak memberikanku makanan atau apapun yang ingin mereka berikan.”   Ilona mendelik menatap Edward yang kini melewatinya.   “Kenapa masih diam? Ayo cepat. Aku masih banyak urusan.”     ***   “Mr. Dalbert terimakasih sudah membayar belanjaanku, aku jadi tidak enak.”   “Kalau masih tidak enak kita pulang bersama. Aku akan mengantarkanmu lebih dulu.”   Ilona tidak peduli! Ia benar-benar sudah tidak peduli karena hatinya sudah terlalu kebas mendengar kalimat penuh perhatian dari Edward, telinganya sudah cukup iritasi mendengar kalimat-kalimat itu. Ia sudah cukup muak! Jadi lebih baik ia menutup telinga, mengabaikan lelaki itu.   “Tapi nanti kau perlu putar balik. Rumah kita tidak searah Mr. Dalbert.”   “Tidak ada tapi, lagipula kamu tidak membawa kendaraankan? Biar aku antar, tidak penolakan.”   Eva tidak bisa menjawab apapun selain mengangguk kecil.   Setelah itu Edward membuka pintu penumpang di samping kemudi. Saat ia hendak berjalan masuk pintu itu, mendadak pintunya di tutup kembali, membuatnya mendongak, menatap iris mata Edward yang kini terasa sangat dingin.   “Ngapain? Belakang. Aku membukakan pintu untuk Eva.”   Ilona lagi-lagi hanya bisa mendengus kemudian berbalik lalu masuk ke bangku penumpang.   Menyebalkan bukan? Sangat!   Dadanya bahkan sudah dipenuhi oleh api yang membara, terus berkobar layaknya ditambah dengan bensin lalu diterpa angin, semakin membesar, memanas, nyaris gila.   Ternyata tidak memerlukan waktu lama kendaraan itu sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah klasik yang tampak begitu sederhana. Dua orang itu pun keluar dari kendaraan tersebut lalu berjalan ke arah bagasi untuk membawa kantung belanjaan Eva.   “Hm ... Eve, maaf aku sedikit kurang ajar tapi bisakah aku meminjam toilet? Aku tidak bisa berkompromi lagi.”   Eva terkekeh kecil mendengarnya. “Kebiasaan.”   “—Boleh, masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”   Tok tok tok   Perempuan itu mengetuk pintu kaca mobil di sebelahnya.   “Miss Ilona ... ayo mampir dulu.”   Tanpa berpikir dua kali ia pun keluar dari dalam mobil. Tapi bukannya mengekori perempuan itu ia justru menarik lengan Eva dalam satu kali hentakan sampai perempuan itu kembali berbalik, menatapnya dengan kening mengerut.   “Eh ... Miss Ilona. Ada apa?”   Ilona mendengus kasar sesaat.   “Miss Eva, saya tidak tahu apa hubungan Miss Eva dengan Mr. Dalbert sampai Miss Eva dengan mudah akrab begitu saja. Aku juga tidak peduli jika misalnya Miss Eva menyukai Mr. Dalbert atau mengincar Mr. Dalbert secara diam-diam, yang ingin saya katakan adalah saya mencintai Mr. Dalbert. Kami bahkan sudah tinggal bersama. Jadi saya harap Miss Eva menjauh, jaga jarak dengan Mr. Dalbert karena sampai kapanpun, saya tidak akan membiarkan anda bisa mendapatkan Mr. Dalbert!”   Eva terkekeh kecil lalu mengulum bibir sesaat, sebelum menatapnya kembali dengan intens. “Kenapa kau mengatakan ini padaku? Apa tujuannya Ilona?”   “Apa lagi? Tentu saja agar anda tahu batasan! Lagipula anda sudah memiliki kekasih.”   “Ah—tapi kalau memang masih mau bersaing ... ayo bersaing secara fair!” tegas Ilona dengan iris tajam menatap tepat di manik mata Eva yang tidak memberikan reaksi apapun.   “Aku ... tidak akan pernah takut kalah saing denganmu.”   ***   Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD