Part 16 : Deep Talk

2039 Words
[flashback]   “Dad ... kita harus bicara.”   Edward yang sedang sibuk dengan pekerjaannya mendongak, menatap Mia yang berjalan masuk ke ruang kerjanya. Edward pun segera bangkit, lalu duduk di samping sang putri, merangkul pundak sempit itu dan mengelusnya perlahan.   “Kenapa Darl? Bosan Max sibuk terus dengan Nate?”   Mia menggeleng kecil. “Bukan tentang Max, Max tidak mengabaikanku kok. Nate juga tidak. Mereka justru sangat perhatian padaku.”   “Lalu tentang apa?”   Mia menoleh menatapnya dengan tatapan sendu. “Kalian ada masalah ya?”   Edward menaikkan satu alisnya. “Kalian?”   Mia mengangguk. “Daddy dan Ilona.”   Edward terdiam, ia tidak tahu mereka sedang ada masalah atau tidak, hanya saja ada sesuatu yang mengganjal, mengganggu perasaannya hingga secara sadar, ia tak ingin bertemu Ilona. Ia enggan untuk berhadapan dengan perempuan yang membuat perasaannya kalut dan bingung.   “Biasanya kalian akan minum bersama di ruang tengah atau balkon, tidak minum pun kalian akan duduk bersama sambil nonton atau membicarakan pekerjaan. Tapi beberapa hari ini kenapa Dad? Apa yang salah? Kenapa aku merasa Daddy justru menjauhi Ilona?”   “—Daddy bahkan tidak memberikan gaun untuk pesta malam besok. Gaun yang ada di mobil ... itu gaun untuk Ilona kan Dad? Tidak mungkin Daddy mau memberikan gaun terbuka seperti itu untukku.”   Kepala Mia tertunduk, dengan kedua tangan saling tertaut. Menghindari tatapannya. “Kalau ada masalah jangan memberikan Ilona silent treatment ... masalah tidak akan selesai Dad.”   Edward menghembuskan napas perlahan. “Untuk apa Daddy memberikan Ilona gaun jika Ilona sendiri tidak akan pergi bersama Daddy?”   “Tidak mungkin. Ilona pasti mau berangkat bersama Daddy.”   Edward menggelengkan kepalanya seraya mengelus surai sang putri. “Tidak. Ilona sedang mempertimbangkan ajakan orang lain.”   “Tapi bukan berarti Ilona akan pergi dengan orang itu Dad.”   “Memang. Tapi dengan dia berpikir mempertimbangkannya pun sudah berarti dia tidak memikirkan Daddy. Jika memang ingin pergi bersama Daddy atau setidaknya berniat untuk pergi bersama. Seharusnya Ilona tidak perlu memikirkan ajakan orang lain. Cukup menolak dengan tegas.”   “Tapi Dad ... bisa saja itu hanya untuk basa-basi.”   Edward menarik napas panjang, lalu menatap Mia dengan tatapan intens. “Awalnya basa-basi, selanjutnya tidak ada yang tahu Mia.”   “—awalnya hanya berusaha menjaga perasaan pada akhirnya terbawa perasaan.”   “Daddy pernah merasakan itu Mia, rasanya sakit ... dan luka yang Daddy terima ... bahkan sampai saat ini masih berbekas.”   “Daddy sangat mencintainya, dia adalah semesta, pusat kehidupan Daddy, Daddy sampai menggantungkan semua harapan dan kebahagiaan padanya hingga Daddy merasa bahwa kebersamaan kami akan kekal.”   “Tapi dia memilih pergi dengan orang yang selalu dia jaga, meninggalkan Daddy begitu saja. Bahkan tanpa salam perpisahan yang jelas dan ... kamu tahu Mia ... di tengah pencarian Daddy karena ingin berjuang. Selembar undangan pernikahan justru sampai ke tangan Daddy.”   “Dad ... .” mata Mia mulai berkaca-kaca. “I’m sorry ... .”   “Seharusnya Daddy tahu ... tidak akan ada kata selamanya untuk makhluk fana seperti kita.”   Hiks.   Edward menghembuskan napas lalu memeluk Mia, mengelus punggung putri kecilnya itu yang kini mulai bergetar.   Edward memang belum menceritakan apapun terkait masa lalunya pada si kembar. Bukan belum ... tapi sebenarnya ia tidak berniat menceritakan itu. Sebab menceritakan masa lalu sama saja dengan membuka luka lama yang bahkan masih sangat berbekas dalam hatinya.   Tapi sepertinya ... sekarang ia harus mulai menceritakan itu. Anak-anaknya tentu perlu tahu pandangan-pandangan kehidupan yang terkait dengan masa lalunya.   “Kehilangannya membuat Daddy kehilangan rasa percaya diri Ilona. Terutama tentang cinta. Daddy sampai saat ini masih bertanya-tanya. Apa salah Daddy? Apa yang salah dalam diri Daddy sampai Dad di tinggalkan begitu saja? Kenapa dia memilih bersama orang lain? Apa yang kurang?”   “Dad ... stop. Sorry Dad ... I’m really sorry.”   Edward tersenyum tipis lalu menyeka air mata Mia sesaat. “Kamu tidak perlu berkata seperti itu sayang ... Ini bukan apa-apa. Daddy memang harus menghadapinya.”   Air mata Mia masih mengalir deras, membuatnya harus memeluk putri kecilnya itu lagi. “Tenang saja ... Dad bersumpah akan memperbaiki hubungan kami jika dia datang sendiri.”   “Aku akan membuatnya datang sendiri.”   “No ... jangan lakukan apapun. Biarkan dia bertindak sesuai kata hatinya. Kamu tidak ingin Daddy terluka lagi bukan?”   Mia mengangguk ribut. “Okay Dad ... o—okay. Tapi ijinkan aku memberikan gaun itu. Ya?”   ***   Hati Mia sakit, sungguh sakit hanya dengan mendengar cerita dari sang ayah. Ia bisa merasakan betapa dalamnya luka sang ayah dari tatapan ayahnya itu. Ketakutan, keputus asaan, ketidak berdayaan. Semuanya bercampur menjadi satu, menjadikan luka mendalam yang ... ia rasa masih basah sekalipun sudah berlalu begitu lama.   Di balik kekuatan yang selama ini ayahnya tunjukan, di balik sikap tanggung dan tubuh kokoh yang ayahnya miliki, di balik senyuman lembut yang hangat, sekarang ia menyadari ada luka yang selalu di tutupi. Tatapan ayahnya kini begitu jujur, tidak akan pernah bisa berbohong lagi.   Ayahnya terluka. Ayahnya benar-benar menderita. Mia bahkan ... tidak bisa membayangkan seberapa sakit ayahnya, dan seberapa kuat ayahnya itu sampai bisa menutupi luka itu.   Ayahnya ... sangat mencintai orang itu. Ayahnya pasti sangat mendambakan masa depan yang indah dengan orang itu.   Tok tok tok   Mia mengetuk pintu kamar Ilona. “Ilona ini aku, Mia.”   Clek.   Ilona muncul seraya tersenyum tipis. “Hi Mia.”   “Sedang sibuk ya?”   “Tidak Mia. Hanya sedang membaca buku. Ada apa?”   “Ini.” Mia mengulurkan tangannya. “Untukmu. Aku belum melihat gaun untuk pesta malam ini.”   “Hm? Tidak perlu Mia.”   “Terima saja, pergilah bersenang-senang. Jangan cuma bekerja. Pasti lelah bukan?”   Ilona tersenyum tipis. “Terimakasih Mia, aku pasti akan memakainya nanti.”   Mia mengangguk. “Kamu ... pergi dengan siapa?”   Jantung Mia berdebar kencang melihat Ilona yang tampak berpikir keras. Come on Ilona datanglah sendiri. Jangan berulah.   “Akan kupikirkan nanti.”   Sesak. Kenapa Ilona bahkan tidak bisa memberikan jawaban pasti padanya? Apakah ini yang dirasakan ayahnya? Sesak. Sakit hati. Merasa tidak di prioritaskan.   “Kamu ingin masuk? Ayo.”     Mia menggeleng kecil. “Aku akan ke kamarku lagi. Ada beberapa tugas yang belum kuselesaikan.”   ***   Edward melihat Ilona benar-benar datang sendiri. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat Ilona datang bersama sopirnya saja, tanpa ada orang lain lagi.   “Ternyata gaun itu benar-benar untuk Miss Ilona. Seharusnya anda datang bersama Miss Ilona saja Mr. Dalbert. Kalian tampak serasi.” Ujar Eva.   Edward menatap Eva yang berdiri di sampingnya.   “Saya tidak tahu sebenarnya hubungan macam apa yang ada diantara kalian berdua. Tapi saya harap hubungan kalian bisa berjalan lebih baik lagi.”   “Jangan terlalu gengsi untuk mengakui Mr. Dalbert. Denial tanpa henti pada akhirnya bisa melukai hatimu.”   “Aku tidak denial.”   Eva terkekeh kecil. “Okey anggap saja seperti itu.”   “Aku berharap yang terbaik untuk hubungan kalian berdua.”   “Kau sudah seperti Jack saja. Sok tahu.”   Eva mendesis kecil. “Baiklah aku memang sok tahu. Kalau begitu aku pamit ambil makanan ya.”   Edward mengangguk kecil sebelum kembali memperhatikan Ilona yang sedang duduk termenung dengan segelas wine di tangan. Perempuan itu tidak menatapnya, dia hanya melamun, menatap ke arah DJ yang sedang memainkan music.   Helaan napas panjang Edward keluarkan. Perempuan itu ... perempuan mungil, cantik, dan cerdas. Siapapun akan sangat menyukai Ilona dan tertarik pada perempuan itu, apalagi di tambah dengan peringainya yang dipenuhi energi positif.   Ya ... Edward akui itu. Ilona memang menarik dan mudah untuk di sukai. Tapi baginya sulit. Sangat sulit. Sebab ... untuk menyukai perempuan itu ia harus melakukan banyak hal dan meluruskan semua kebimbangan yang mulai mengganggu perasaannya.   “Cantik ya Ed?”   Edward menoleh, di sana sahabatnya yang beberapa bulan ini tidak ia temui datang. Theodore—Theo. Seorang sahabat yang lebih seperti saudara kembar untuknya, karena kemiripan yang mereka miliki.   “Dia yang di ceritakan Max?”   Edward terkekeh kecil. “Max menceritakannya padamu?”   Theo mengangguk. “Aku datang karena ingin melihatnya, perempuan seperti apa yang pada akhirnya berhasil mengganggu perbatasan yang seorang Edward bangun?”   “Ternyata ... cantik. Tapi cukup mungil. Menggemaskan.”   “Kau menyukainya?”   “Sudah kukatakan aku lebih menyukai perempuan yang selalu kau bawa ke pesta Ed. Sayangnya kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk berkenalan, dasar posesif.”   “Aku hanya berusaha menjaga orang-orangku. Lagipula dulu dia memiliki kekasih.”   “Berarti sekarang tidak?”   “Tidak. Dia baru saja di tinggalkan.”   Theo tersenyum simpul. “Itu artinya aku bisa masuk mendekat?”   Edward menatap sahabatnya itu lalu menghembuskan napas. “Terserah. Tapi jangan menyakitinya lagi. Jangan pernah menyakiti perempuan jika kau memang laki-laki sejati.”   “Iya deh lelaki sejati yang tidak pernah menyakiti perempuan.”   “Jangan meledekku.”   Edward kemudian mengalihkan pandangan lagi pada Ilona yang masih berbicara dengan Eva. Ia sudah berjanji pada Mia akan memperbaiki hubungan jika memang Ilona datang sendiri. Lalu ... apakah ia harus melakukannya sekarang?   “Ada masalah?”   “Aku tidak tahu ini masalah atau bukan tapi kami tidak berbicara belakangan ini.”   “Dekati, ajak bicara. Lalu perlakukan dia seperti ratu. Mendekati perempuan harus dengan cara yang lembut Ed, kamu juga harus bisa memulai pembicaraan jika ada masalah, karena perempuan cenderung ingin laki-laki peka. Berikan dia afeksi, tunjukkan persaanmu padanya. Sentuh dia dengan love language yang tepat. Dia pasti akan luluh.”   Edward tidak menanggapi ucapan Theo, iris matanya masih menatap Ilona yang tampak berbicara dengan menggebu-gebu.   “Sulit ya Ed? Tapi kalau ingin ... cobalah. Tidak ada salahnya mencoba.”   Edward kemudian berdiri. “Aku akan berbicara dengannya.”   Theo tersenyum tipis. “Good luck.”   Edward berjalan ke arah Ilona tanpa melepaskan pandangannya dari perempuan itu, sampai akhirnya mereka saling berhadapan.   “Ilona ... we need to talk.”     ***   Ilona tidak bisa menghapus rasa gugupnya. Tangannya mulai bekeringat dingin, jantungnya yang terus berdegup nyaris jatuh, kedua kakinya bahkan terasa begitu lemas.   Terlebih mereka kini berada di salah satu kamar VIP di bar elite itu.   Ilona menundukkan kepala, seraya membasahi bibir ketika merasakan aura dingin menguasainya, terasa semakin tegang dan mencekam. Di tambah dengan aroma maskulin Edward yang begitu menguar, menusuk indera penciumannya hingga dadanya terasa begitu penuh, sesak dipenuhi oleh kegugupan.   “Awalnya aku ingin mengajakmu datang ke pesta. Tapi aku mendengar kau sedang mempertimbangkan ajakan seseorang. Karena itulah aku membatalkannya.”   Mata Ilona mengerjap, ia kemudian mendongak menatap Edward. “Aku mempertimbangkannya karena menunggu ajakan darimu.”   “Aku tidak tahu. Karena menurutku jika memang kau ingin pergi denganku seharusnya kau menolaknya dengan tegas. Pertimbangan hanyalah bentuk keraguan Ilona.”   “Tidak. Aku tidak ragu.”   “Hanya ingin menjaga perasaannya?”   Ilona tidak menjawab.   “Aku tidak suka kalau kau masih memikirkan perasaan orang lain di saat kau menginginkanku.”   Mata Ilona kembali mengerjap, menatap iris mata Edward yang kini terasa lebih lembut dari biasanya. “Kamu ... cemburu pada Felix?”   Ilona menahan napas menunggu jawaban Edward.   “Ya.”   “Hah?”   “Aku tidak suka melihatmu bersamanya.”   “Tapi kami hanya berteman. Aku bersumpah.”   “Ilona ... aku pria posesif, aku tidak suka berbagi. Jika kau memang ingin bersamaku, pahami itu. Jika memang kau berubah pikiran pergi.”   “Tidak. Aku tidak akan pergi Edward. Aku ... tidak akan pergi. Aku mohon jangan mengusirku begitu. Aku mencintaimu dengan tulus. Percayalah ... .”   Suara Ilona tercekat kala Edward mendekat seraya menangkup kedua belah pipinya. Mengelus perlahan sebelum salah satu tangan pria itu menarik tengkuknya.   Seketika Ilona menutup mata. Terkejut saat wajah Edward mendekat.   Beberapa saat tidak ada apapun, hanya deru napas hangat yang terasa menerpa wajahnya. Ketika ia hendak membuka mata untuk melihat situasi, bertepatan dengan itu sesuatu yang hangat menyentuh keningnya, beberapa detik namun begitu dalam.   Sesaat Ilona merasakan kembali waktu di sekitarnya berhenti, setiap gerakannya melambat. Bahkan ciuman dalam itu diiringi dengan tiga kecupan lain terasa begitu lambat, hingga hangatnya mampu merambat masuk dengan cepat memenuhi relung dalam jiwanya.   Euphoria dalam dadanya terasa begitu nyata, layaknya langit pada malam tahun baru. Permukaan perutnya pun terasa tergelitik, layaknya bunga di terbangi banyak kupu-kupu kecil. Terasa mendebarkan, bahagia ... juga penuh suka cita.   Sampai keduanya tidak menyadari sosok lain berdiri di balik pintu, mengintip dari celahnya. Mengatupkan rahang dan menatap penuh kebencian.   ***   Bersambung ...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD