Part 15 : Perasaan

2033 Words
  “Aku tidak sabar after party event musim panas.” Seru Emma seraya tersenyum lebar. “Ya ... Meskipun party itu harus kita bayar dengan kerja keras.”   Ilona mengerutkan kening seraya mengunyah makanannya. After party ya? Memang apa spesialnya?   “Apakah itu semacam pesta penutupan?” Tanya Ilona.   “Tidak. Bukan. Pesta penutupan dan after party di perusahaan kita ini berbeda. Pesta penutupan biasanya lebih formal, di gelar sore sampai malam. Kalau after party lebih private hanya untuk karyawan dan biasanya ada teman dekat Mr. Dalbert. Akan di gelar setelah pesta penutupan sampai dini hari.” Jelas Emma penuh semangat. “Kamu harus hadir Ilona, pasti ada yang akan menarik perhatianmu. Teman-teman Mr. Dalbert benar-benar seperti dewa yunani semua. Sangat tampan.”   Ilona terkekeh kecil. “Benarkah?”   Sayangnya seluruh perhatian yang ia punya hanya untuk Edward seorang.   “Jangan dengarkan Emma Ilona. Buat apa cari yang tidak pasti kalau ada lelaki pasti di depanmu?” Sanggah Felix.   Emma mendesis. “Kamu terlalu percaya diri Felix. Memang kamu siapa?”   “Aku? Felix! Lelaki mandiri dengan pekerjaan tetap dan mapan, memiliki rumah sendiri, kendaraan sendiri, bahkan investasi dan dana masa tua pun aku sudah punya. Apa? Mau apa?” Tantang Felix pada Emma.   Ilona kembali terkekeh melihat dua orang yang tidak pernah bisa akur itu. Tapi memang benar ... untuk apa mencari laki-laki lain kalau sudah ada Edward dalam hidupnya?   “Kamu datangkan Na?” tanya Felix.   “Mungkin?”   “Datang saja, kita bisa jadi partner.” Tawar Felix seraya menaik turunkan alisnya.  “Mau ya jadi partnerku?”   Ilona tergelak melihat wajah Felix dengan kedua alis yang naik dan turun. “Biar aku pikirkan dulu Felix.”   “Miss Eva pasti datang kan? Akhir-akhir ini Miss Eva terlihat sangat sibuk sekali. Bahkan aku tidak pernah melihat dia ke kantin. Selalu pesan makanan dari luar.”   “Pasti. Penanggung jawab acara akan datang di pesta utama dan after party. Dia pasti akan menjadi pasangan Mr. Dalbert lagi. Sudah jadi rahasia umum. Tidak perlu di tebak.” Jelas Emma.   Ilona terdiam. Benarkah Edward lagi-lagi akan memilih Eva sebagai pasangan? Jika kondisi sekarang ... bukankah seharusnya Edward mengajaknya? Edward ... sudah berjanji memberinya kesempatan. Tentu saja ... harus mengajaknya bukan?   “Gosipnya dia baru saja putus, dia ditinggalkan, makanya sekarang lebih sibuk. Bahkan sangat sering sekali lembur. Bekerja tidak kenal waktu.” Emma menghela napas. “Kasihan sekali, padahal selain cantik ... Miss Eva sangat baik. Tapi masih saja di tinggalkan begitu.”   Ilona terkesiap, apa katanya? Putus?   “Aku tidak akan heran kalau setelah ini dia menjalin hubungan dengan Mr. Dalbert. Aku merasa Mr. Dalbert tertarik pada Miss Eva sejak lama tapi tidak bisa melakukan apapun karena Miss Eva memiliki kekasih. Apa-apa selalu Miss Eva. Bahkan kalau ada dinas ke luar kota dalam waktu lama saja dibanding dengan sekretaris. Miss Eva selalu ikut.”   “Tidakkah merasa aneh?”   Hening.   Diam-diam Felix melirik Ilona yang kini terdiam.  Gurat ketakutan terlihat jelas di wajah cantik itu. Felix menghembuskan napas sesaat kemudian ia berdehem kecil. “Jangan berspekulasi begitu. Mungkin saja hanya Miss Eva yang Mr. Dalbert percayai.”   “Tetap saja, aneh. Sekretaris Mr. Dalbert itu tidak hanya satu tapi ... selalu Miss Eva.”   “Sudahlah. Bukan urusan kita juga.” Tegas Felix pada Emma. “Jangan terlalu ikut campur, jangan sampai ucapanmu menjadi gosip yang tidak-tidak. Mr. Dalbert pasti tidak akan nyaman.”   “Aku pergi dulu ya ... .”   Felix menoleh pada Ilona yang tiba-tiba berdiri kemudian beranjak pergi meninggalkan keduanya. Felix menghembuskan napas.   Ilona ... pasti sakit hati dengan ucapan Emma.   ***   Ilona berjalan cepat menuju tempat yang lebih sepi dengan kedua tangan yang sibuk mengotak-atik ponsel sebelum menempelkan benda itu di telinga. Tangannya bergetar, berkeringat dingin, dengan jantung yang terasa semakin berpacu, panik, penuh ketakutan.   Ia takut. Ia sangat takut semua yang Emma katakan benar-benar terjadi. Ia takut Edward ternyata menunggu hubungan Eva dengan kekasihnya berakhir. Ia takut ... Edward akhirnya mengubah keputusan, membatalkan kesempatan yang telah ia dapatkan.   Ia takut ... sungguh. Ia takut hubungannya dengan Edward berakhir ... bahkan sebelum dimulai begini.   “Edward.”   “Kenapa?”   “Edward ... katakan padaku kamu akan pergi ke pesta dan after party itu besamaku kan?”   Edward tidak langsung menjawab.   “Edward ... katakan ya ... .”   “Jika ingin datang, datang saja dengan temanmu. Aku tidak akan melarang.”   “Bukan begitu. Edward ... katakan. Kamu akan pergi denganku bukan?”   Edward menghembukan napas perlahan. “Aku akan pergi dengan Eva.”   Deg!   Eva ... benar-benar Eva?   Ilona meringis sakit, seraya mengepalkan tangannya. Seharusnya ia tidak bertanya, seharusnya ia tidak perlu ingin tahu ... karena hatinya pasti terluka. Pasti kecewa. Memang benar kata Emma, Edward pasti pergi dengan Eva dan itu ... sudah menjadi rahasia umum.   Ilona menahan napasnya sesaat sebelum duduk lalu menghembuskan napasnya perlahan. “Kamu tahu ... Miss Eva sudah berpisah dengan kekasihnya?”   “Tahu.”   Dan kamu akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Eva? Tangan Ilona meremas roknya seraya menggigit bibir erat, menahan diri untuk tidak melontarkan kalimat itu dan membuat hatinya semakin sakit.   Tok tok!   “Masuk. Oh Eve ... ada apa?”   Ilona menahan napas. Eve? Eva? Untuk apa dia ke ruangan Edward jam istirahat begini?   “Antar aku membeli gaun baru.”   Seketika tubuh Ilona meremang mendengar kalimat itu. Eva bilang hubungan mereka tidak lebih dari partner kerja. Kenapa ... sekarang sampai membeli gaun saja harus meminta bantuan Edward? Mengapa mengajak Edward seperti itu?   Rahang Ilona mengatup.   Tut!   Brak!   “Argh!”   Ilona menutup wajah dengan kedua tangan. Kesal. Marah. Semua perasaan tercampur aduk dalam dadanya. Ia pikir setelah semua yang Eva katakan padanya ia bisa mempercayai perempuan itu, Ia pikir Eva tidak akan menjadi ancaman besar untuknya.   Tapi nyatanya?   Sial! Seharusnya ia tidak perlu pelan-pelan dalam mendekati Edward jika kenyataannya akan jadi seperti ini!   ***   Tidak pernah sedikitpun dalam benak Ilona bahwa niatnya mengerjar Edward akan terasa seperti menaiki rollercoaster, hari ini dibuat bahagia, lalu besok dibuat sedih, hari berikutnya bahagia lagi dan seterusnya. Sikap manis Edward tidaklah konstan, terkadang memuji bahkan memanjakannya, tapi sering kali pria itu membuatnya bingung dengan tingkah tak acuh dan juga dingin.     Sebenarnya apa mau Edward? Kenapa pria itu terasa begitu plin-plan?   Bodohnya ... Ilona tidak bisa berbuat apapun lagi, bahkan untuk sekedar mengonfirmasi tentang hubungan dan perasaan mereka. Ia terlalu takut Edward akan menjaga jarak lagi dengannya, terlebih ia belum bisa membaca isi hati dan pikiran Edward.   Setelah hari itu Ilona bahkan belum berbicara dengan Edward lagi, Edward sangat sibuk dengan event musim panas yang membuatnya jarang sekali bertemu kecuali saat sarapan. Jangankan bertemu, pria itu bahkan tidak pernah menghubunginya sama sekali. Dia sibuk. Entah sibuk bekerja atau sibuk dengan Eva.   Ia tidak peduli!   Di saat seperti ini ... ia sadar. Ternyata setelah membicarakan tentang kesempatan yang Edward katakan hari itu, sampai detik ini hubungan mereka tidak berkembang sama sekali. Ilona justru merasa hubungan mereka mundur, berangsur kembali pada titik awal mereka saling kenal.   Ilona menghembuskan napas seraya menikmati wine di tangan kanannya, termenung menatap cairan merah itu lalu sedikit demi sedikit diteguk sampai kemudian tandas.   Di tengah pesta yang ramai ia merasa sendiri. Termenung dengan sesekali melihat Edward yang malam ini terlihat lebih tampan, berdampingan dengan Eva.   Ya ... Eva. Edward benar-benar pergi dengan Eva dan ia memilih untuk pergi sendiri.   Awalnya ia pikir untuk tidak pergi. Tapi Mia tiba-tiba datang memberinya sebuah gaun malam, lalu memintanya pergi. Itulah alasan ia ada di sini. Hanya untuk terlihat baik-baik saja di depan anak-anak. Meskipun hatinya benar-benar sakit, dadanya terasa begitu sesak.   Apa yang salah? Kenapa Edward begitu kejam padanya?   Jika memang Edward belum bisa memberinya kesempatan. Kenapa pria itu harus memberinya harapan? Jika memang Edward inginnya bersama perempuan lain, mengapa pria itu membuka peluang?   “Ilona ada apa?”   Ilona terjengit, ia menoleh ke arah Eva yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.   “Kamu tidak menikmati after party-nya?”   Ilona menarik ujung bibirnya. Memang apa pedulimu?   “Aku melihat kamu terus memperhatikan Mr. Dalbert.” Eva mengulurkan tangan, mengelus pundaknya. “Katakan. Bukankah kamu bilang kita berteman?”   “Kau putus dengan pacarmu saja aku tidak tahu.”   “Ah ... itu.” Eva menghembuskan napas. “Aku hanya belum siap. Dan ... aku malu.”   “Tapi kau langsung memberitahu Edward.”   Eva mendesah pelan. “—aku diputuskan di depan banyak orang, di vanue saat persiapan event musim panas.”   Ilona membulatkan mata, terkejut mendengar hal itu.   “Karena itulah aku memberitahu Mr. Dalbert terlebih dahulu. Aku meminta maaf, aku sudah membuat malu dan kacau.”   “Lalu tentang gaun?”   Eva mengerjapkan mata. “Gaun?”   “Kenapa kau meminta Edward untuk mengantarmu belanja?”   “Ah ... itu. Mr. Dalbert sangat ketat, dia benar-benar pemilih, kalau aku membeli pakaian tidak sesuai seleranya atau tidak serasi, Mr. Dalbert akan membelikannya lagi. Jadi aku harus membeli pakaian sesuai dengan keinginannya.” Eva menghembuskan napas. “Aku tidak pernah bisa membayangkan menjadi kekasihnya. Dia pasti akan banyak menuntut ini dan itu ... .”   “Kau tidak tertarik menjadi kekasih Edward?”   Eva mengerutkan kening. “Untuk apa? Sekalipun Mr. Dalbert kaya raya. Tidak menarik di mataku. Lebih baik aku tidak memiliki kekasih kalau seperti Mr. Dalbert.”   “Sungguh?”   Kening Eva mengerut. “Kenapa kamu bertanya seperti ini? dan ... ada apa dengan gaya bicaramu? Aku sudah katakan aku tidak tertarik pada Mr. Dalbert. Aku juga bukan type ideal Mr. Dalbert. Sekalipun aku sudah putus dengan kekasihku pilihanku tetap sama. Aku ... tidak akan tertarik. Aku lebih tertarik dengan uang hasil bekerja dengannya.”   Ilona menghembuskan napas. Lega ... setidaknya ia tahu bahwa Eva tidak tertarik pada Edward.   “Jangan bilang ... kamu cemburu lagi padaku?”   Ilona mengangguk kecil.   “Selain itu aku bingung.”   “Kenapa?”   “Edward mengatakan akan memberikan kesempatan untukku. Tapi sampai detik ini aku tidak melihat peluang yang Edward berikan.” Ilona menatap Eva. “Untuk datang ke pesta ini pun ... aku sendiri. Seharusnya dia mengajakku sebagai pasangan, bukan lagi-lagi denganmu.”   Eva mengerjapkan mata. “Ah itu. maafkan aku Ilona, aku tidak bermaksud mengambil tempatmu. Hanya saja Mr. Dalbert yang meminta, tentu saja aku tidak memiliki kesempatan menolak sama sekali. Aku pun awalnya berpikir Mr. Dalbert akan mengajakmu karena dia tidak memberitahuku jauh-jauh hari seperti biasanya. Tapi ternyata hari itu mendadak dia menghubungiku dan memintaku menjadi partner-nya lagi.”   “Begitu ya? Hm ... Aku tidak menyalahkanmu Miss, yang aku kecewakan itu sikap Edward. Kalau memang belum bisa memberikanku kesempatan tidak masalah ... tapi kenapa dia mengatakan memberiku kesempatan dan kemudian menjauh dariku?”   “Aku rasa tidak begitu Ilona.”   “Hm?”   “Saat aku memilih gaun. Aku melihat designer langganan Mr. Dalbert membawa sebuah gaun mendekat, lalu mengatakan bahwa gaun pesanannya selesai, awalnya aku pikir mungkin itu untukku, tapi ternyata ... bukan.”   Eva terkekeh kecil. “Kamu tahu gaunnya?”   Ilona menaikkan satu alis. Bingung.   “Gaun yang kamu pakai.”   “Apa?”   Eva mengangguk kecil. “Aku rasa sepertinya Mr. Dalbert sudah berencana untuk pergi denganmu.”   “Tapi kenapa ... ? Edward bahkan tidak mengatakan apapun padaku.”   “Itu yang aku tidak tahu.”   Eva tersenyum tipis. “Coba ajak dia berbicara. Aku yakin ... ketika dia ingin memberimu kesempatan, dia benar-benar serius. Perbaiki komunikasi kalian. Jangan selalu miss seperti ini.”   “Tidak apa-apa aku membocorkan pembicaraan kita pada Edward?”   “Tidak masalah. Toh dia tidak bisa mengelak lagi. Aku tahu persis gaun yang kamu kenakan. Aku yakin sekarang dia pun tahu aku mengetahui sesuatu tentang kalian.”   “Bicaralah. Tuh lihat ... dia berjalan kemari.”   “Hah?”   Ilona berbalik ke arah tempat Edward berdiri, dan ternyata benar saja. Edward sedang berjalan ke arahnya dengan langkah pelan.   “Kemana?” Ilona menahan lengan Eva.   Eva mengurai genggaman tangannya. “Kalian harus berbicara.”   Eva kemudian menoleh ke arah Edward yang sedang menatapnya. “Bicaralah baik-baik Mr. Dalbert. Selesaikan jika memang ada masalah.”   “Biar aku pergi.”   Hening. Keduanya tidak langsung berbicara.   Jantung Ilona mulai berdebar kencang. Gugup sekaligus takut. Udara bahkan terasa semakin menipis ketika detik demi detiknya terlewati dalam keheningan.   Semakin menegang.   “Ilona ... we need to talk.”   ***   Bersambung ...    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD