Part 14 : Denial

2138 Words
  Pagi hari seperti biasa, Ilona yang pertama ada di meja makan, lalu di susul Edward kemudian Max. setelah itu Mia muncul dengan senyuman riang, memberikan mereka masong-masing satu ciuman di pipi.   “Hari ini ada kegiatan apa?” tanya Edward.   “Aku ada kelas pagi Dad sampai jam 11, setelah itu rencananya Mia akan mengajak Max jalan-jalan sebelum les piano sore.” Jelas Mia.   “Aku juga kelas pagi sampai 11 Dad, setelah itu rencana awalnya aku ingin jalan dengan temanku tapi karena Mia ingin ikut jadi kami akan jalan bersama. Sore-nya aku akan ke gym sebelum menjemput Mia les, lalu pulang.” Jelas Max.   “Hari ini Dad tidak banyak jadwal pertemuan, siapa tahu kalian ingin makan siang bersama.”   Mata Mia seketika berbinar. “Boleh?”   Edward mengangguk.   “Tapi makan siang bersama Ilona ya?”   Edward tidak langsung menjawab, ia mengalihkan pandangan ke arahnya terlebih dahulu.   “Hari ini aku akan membicarakan perihal model utama bersama Miss Eva, sebelum aku dan team semakin sibuk dan semakin rumit jika tidak langsung diselesaikan. Mungkin aku akan rapat dan menyeleksi model utama dari beberapa agensi, jadi tidak bisa makan siang bersama untuk hari ini dan mungkin aku juga akan pulang terlambat lagi.” Ujar Ilona.   Sudah menjadi kebiasaan di keluarga ini membicarakan aktifitas yang akan mereka lalui setiap harinya. Mulanya Ilona merasa aneh karena ia tidak pernah seperti itu. Kehidupannya yang lebih banyak ia habiskan di asrama, membuatnya hampir tidak bisa merasakan hangatnya sarapan bersama keluarga seperti ini, apalagi berbicara ringan tentang aktifitas sehari-hari.   Tapi Edward ... dia hebat. Pria itu selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan anak-anaknya.   Bibir Mia menekuk, kening Max pun mengerut dalam.   “Bos-nya saja santai. Kenapa kamu sangat sibuk Ilona? Pokoknya makan siang bersama ya? Aku memaksa.” Tegas Max.   “Tidak bisa Max, banyak pekerjaan penting yang harus aku selesaikan dalam waktu dekat. Sorry.”   “Tentang model.” Edward menyela. “Max ... kamu bilang temanmu model terkenal yang sedang naik daun?”   “Teman?”   Edward mengangguk. “Teman kencanmu saat di Switzerland.”   Uhuk!   Ilona membantu Max mengambil air, lalu membiarkan pemuda itu meneguk rakus air minumnya.   “Dad bukan teman kencan. Dia Nate, teman bermain game. Sebenarnya belum benar-benar terkenal, hanya saja aku merasa karirnya akan sangat cemerlang jika dia memiliki kesempatan. Aku yakin dia akan jadi spotlight.”   “Kalau dia berminat datang hari ini ke kantor, kamu bisa membawanya makan siang bersama kita Max.”   Senyuman Max merekah sempurna. “Oke, aku akan menghubunginya sekarang juga.” Seru Max kemudian meraih ponsel lalu beranjak pergi, menghubungi temannya.   “Jadi ... sudah? Teman Max saja?” tanya Ilona.   Edward mengangguk kecil. “Selera Max tidak pernah meleset dari harapanku, jadi aku rasa sudah cukup hanya dengan teman Max ... dia saja. Tidak salah memberikan kesempatan pada seseorang yang Max percayai.”   Ilona tersenyum tipis. Inilah yang ia kagumi dari Edward. Sekeras apapun pada seluruh karyawannya, tapi Edward tetap begitu lembut pada anak-anaknya.   “Kalau begitu Ilona bisa ikut makan siang bersama kita?” tanya Mia antusias.   Ilona mengalihkan pandangan pada Mia, lalu menatap Edward yang belum memberikan jawaban apapun.   “Daddy.” Panggil Mia.   “Terserah.”   ***   Ilona tidak tahu, ia harus bahagia atau sedih. Ucapan singkat Edward tidak menunjukkan sambutan baik, tapi juga tidak menunjukan penolakan seperti biasanya. Ia sedikit bersyukur ... tapi ... apakah ini cara seseorang yang berniat memberikan kesempatan untuknya?   Bukankah seharusnya lebih baik? Mengatakan iya ... boleh atau apapun itu. Bukan terserah!   “Wajah itu lagi. Kenapa Na?”   Ilona terjengit, ia kemudian menoleh lalu tersenyum tipis pada Felix yang kini memberikan satu cup kopi kesukaannya.   “Minum dulu, supaya relax.”   Ilona menerima cup kopi itu lalu mendudukan diri di salah satu sudut kantor. Menikmati pahitnya rasa kopi, meresap masuk mengaliri tenggorokannya. Menambah rasa pahit yang mendadak bersarang dalam benaknya.   “Apa yang salah?”   “Kalau seseorang menjawab terserah itu gimana?” tanya Ilona.   “Hm?”   “Menurutku terserah cuma sebuah kata tidak pasti yang menandakan sebuah kebimbangan. Tidak berarti apapun.”   “Terkadang terserah itu berarti iya yang ditutupi rasa gengsi. Denial. Ingin, tapi berusaha menyangkal keinginan hatinya.” Felix menatap Ilona. “Seseorang mengatakan itu padamu?”   Ilona mengangguk kecil.   Felix tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan, mengelus lengan atasnya sesaat disertai rematan lembut. “Kalau kamu bingung untuk memilih ...  kembalikan lagi pada kata hatimu. Menurut hatimu, kamu ingin atau tidak? Semua jawaban ada di sana.”   Ilona menatap Felix lamat, setelah itu tersenyum ketika Felix pun memberinya senyuman tipis. “Thanks Felix ... kamu memang teman terbaik yang aku miliki. Kamu selalu saja berhasil membuatku merasa lebih baik.”   “No problem Na ... jangan sungkan. Katakan apapun yang ingin kamu katakan padaku, luapkan saja. Aku ... akan selalu ada di sini untukmu. Bukan cuma itu ... tapi kalau kamu membutuhkan bantuan lain ... aku akan dengan senang hati membantumu. Ingat. Jangan sungkan. Aku akan memberikan apapun yang kamu ingin selama keinginanmu masih ada dalam kuasaku.”   Ilona terkekeh kecil. “Aku pikir segalanya. Baru saja aku akan berkata ingin bintang.”   Felix tergelak, “Aku sudah kenal tabiatmu. Sudah, sekarang saatnya bekerja. Semangat Ilona.”   Ilona mengangguk kecil. setelah itu berjalan ke arah berlawanan dengan langkah Felix.   Ilona menarik napas panjang, lalu menghembuskannya lagi secara perlahan kemudian tersenyum tipis. Ya ... benar. Aku hanya perlu mengikuti kata hatiku.   ***   “Anda baik-baik saja Mr. Dalton?”   Edward mengalihkan fokus pandangannya dari Ilona ke arah Jack.   “Tidak ada alasan bagiku untuk merasa tidak baik-baik saja.” jawab Edward seraya melangkahkan kembali kakinya.   “Saya pikir anda cemburu Mr. Dalton, terlebih akhir-akhir ini anda semakin dekat dengan Miss Ilona.”   “Jangan berbicara asal-asalan Jack, kalau ucapanmu terdengar orang lain, akan menjadi gosip yang tidak-tidak.”   “Memang kenapa Mr. Dalbert jika ada gosip? Anda khawatir pada Miss Ilona?”   Edward menghentikan langkahnya lagi lalu menatap Jack. “Kenapa aku merasa sekarang kau terlalu banyak bicara Jack?”   Lelaki itu menunduk lalu membungkuk sesaat. “Maafkan saya Mr. Dalbert, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin memberikan support kepada anda jika memang anda benar-benar tertarik. Saya bahkan siap membantu kelancaran pendekatan anda dengan Miss Ilona jika memang anda menginginkannya.”   Edward menghembuskan napasnya lagi. “Tidak. Tidak ada yang seperti itu di antara kami.”   “Lagipula ... kenapa kau bertanya begitu? Kau tahu persis tentangku Jack. Kenapa harus membahas sesuatu yang sudah jelas akhirnya akan seperti apa?”   Jack kembali menurunkan pandangannya. “Sekali lagi ... maafkan saya Mr. Dalbert.”   Edward menghembuskan napas perlahan, mengabaikan Jack lalu berjalan lebih dulu dengan langkah lebar.   ***   Tok tok tok   Ilona mengetuk pintu ruang kerja Eva, setelah mendapatkan jawaban ia kemudian masuk.   Senyuman Ilona luntur saat melihat wajah Eva yang pagi ini terlihat sangat kacau. “Miss ada apa dengan wajahmu itu?”   Eva menarik ujung bibirnya. “Sedikit masalah.”   “Sedikit? Sampai menangis semalaman?”   “Apa terlihat jelas?”   Ilona mengangguk.   Eva mendesah pelan, perempuan itu tampak lelah sekali dengan beban yang dia pikul sendiri. “Kekasihku meminta putus karena aku tidak bisa memberinya banyak perhatian. Padahal aku kurang perhatian apa lagi? pesan selalu aku balas, satu minggu satu kali bertemu, keinginannya juga aku penuhi. Aku bahkan membelikannya mobil. Tapi ... sepertinya semua yang aku berikan tidak cukup Ilona ... dia bertingkah seolah semua yang kuberikan tidak ada artinya sama sekali.”   Ilona meringis, sedih mendengarnya. “Hubungan kalian terdengar toxic Miss, tidakkah sebaiknya kamu tinggalkan saja? Masih banyak lelaki di luar sana yang pasti bisa lebih baik untuk anda.”   “Tapi hanya dia yang aku cintai Ilona. Hanya dia yang aku mau.”   Ilona menghembuskan napas lalu menepuk pundak Eva sesaat. “Yasudah tidak masalah ... pokoknya kalau ada sesuatu jangan lupa kabari aku ya? Sebagai teman ... aku rela mendengarkan curhatanmu sepanjang malam. Jangan dipikirkan sendiri.”   “Thank you ... .”   “Oh ya aku datang ingin membahas tentang model utama, Mr. Dalbert sudah memberikan solusi. Kita tidak perlu menunggu model kemarin, Mr. Dalbert justru berpesan untuk mem-blacklist model itu, sebab Mr. Dalbert mengatakan tidak suka jika bekerja dengan seseorang yang tidak profesional.”   “Lalu apa solusi yang dikatakan Mr. Dalbert?”   “Mr. Dalbert sudah memilih modelnya sendiri.”   “Siapa?”   “Aku tidak tahu nama lengkapnya dan dari agensi mana, tapi nama panggilannya Nate. Teman Max.”   Eva mengangguk-anggukan kepalanya sesaat. “Yasudah, bagus. Kalau memang pilihan Mr. Max, itu berarti sudah keputusan final.”   “Baik. kalau begitu saya pamit Miss. Saya akan mengurus pembatalan kontrak itu terlebih dahulu.”   ***   Pagi sampai menjelang siang nyatanya Edward tetap sibuk dengan beberapa dokumen dihadapannya.   “Katanya tidak sibuk.”   Edward mendongak kemudian tersenyum saat melihat Max dan Mia datang. Setelah itu ia mematikan laptopnya terlebih dahulu sebelum berdiri. “Ayo. Jack sudah booking tempatnya.”   “Ilona? Kita sudah janji akan mengajak Ilona.” Ujar Max.   Edward menghembuskan napas. “Kamu tidak lupa dengan perjanjian kami?”   “Tapi Dad ini juga termasuk pertemuan kerja, Ilona bergabung untuk membicarakan kontrak dengan temanku bukan? Eh ... Mia dimana Nate?” tanya Max saat menyadari di belakangnya tidak ada siapapun.   Mia memutar bola mata. “Kamu ini bagaimana? Tadi kan Nate bilang ingin ke toilet dulu.” Mia menatap Edward. “Ilona sudah setuju, dia akan menunggu di lobi.”   Tok tok tok!   “Masuk Nate.” Seru Max.   Tidak lama kemudian seorang pemuda masuk, lalu berdiri di samping Max. Edward terdiam, mengamati wajah dan penampilan pemuda itu. Wajahnya tampan, kulitnya putih bersih, wajah dan bibirnya pun merona. Memang sangat cocok untuk menjadi model di perusahaannya.   Tapi ... lebih dari itu.   Edward merasa ada guratan familiar dalam wajah teman anaknya itu. bentuk rahang, tulang pipi dan cara pemuda itu tersenyum.   “Dad jangan menatap Nate begitu.”   “Kamu juga Nate. Jangan menatap Daddy-ku terlalu lama. Apa-apaan tatapan kalian itu?! huh.”   Edward masih mengamati gerakan pemuda itu. matanya mengerjap kemudian tersenyum lagi setelah itu mengulurkan tangan.   “Perkenalkan Mr. Dalton ... saja Nate Aiden. Terimakasih atas kesempatan yang sangat berharga ini.”   Edward mengangguk kecil. “Aku percaya anakku, katakan terimakasihmu padanya, dan ini Jack ... asistenku. Jika kau menjadi model utama, kau akan sering berurusan dengan kami dan penanggung jawab acara.”   Nate, pemuda itu tersenyum simpul setelah menyalaminya dan Jack.   “Kalau begitu ayo. Makan!” Seru Mia sambil menggandeng lengan Edward.   ***   Max melirik Nate yang mendadak diam sepanjang perjalanan mereka menuju restoran. Langkah kakinya pun memelan, menyejajarkan dengan langkah pendek temannya itu.   “Kamu tidak menyukai Daddy-ku ya? Maaf Daddy memang sering kali terlihat sangat jahat.”   Nate terkekeh kecil. “Aku tidak berpikir begitu. Aku hanya ... mendadak gugup? Aku tidak pernah menduga karirku akan melesat secepat ini padahal belum genap satu tahun aku menjadi model.”   “Itu karena kamu mampu. Sudah jangan dipikirkan.” Ujar Max seraya merangkul bahu Nate.   “Max ... Jack sudah lama bekerja dengan ayahmu?”   Max mengangguk. “Sudah lebih dari dua puluh tahun. Ayah Jack adalah mantan asisten dari Kakek, jadi Kakek meminta Jack untuk menjadi asisten Daddy.”   “Ayahmu sangat percaya padanya?”   “Tentu. Dia adalah karyawan Daddy yang paling loyal, dia juga selalu mengutamakan perusahaan dan Daddy dibanding apapun. Jadi Daddy sangat mempercayakan apapun pada Jack.” Jawab Max. “Kenapa Nate? Kamu ingin di sampingku selamanya seperti yang dilakukan Jack?”   Nate mendelik. “Kamu dan rasa percaya dirimu tidak bisa berkurang ya Max? Geli.” Ujarnya kemudian beranjak dengan langkah cepat meninggalkan Max.   Max tergelak lalu menyejajarkan langkahnya lagi dengan Nate. “Jangan salah tingkah begitu dong! Santai.”   “Sekali lagi kamu bilang aku salah tingkah, ku tendang masa depanmu!”   “Ugh! Takut ... AW!! Iya iya ... jangan di cubit. Sakit.”   “Sukurin!”   ***   Edward menatap Ilona dalam diam. Perempuan itu tidak henti-hentinya berbicara dengan Max, Mia dan Nate, terus mengganti topik satu dan yang lain seolah tidak ada habisnya. Sementara ia sendiri tidak tertarik masuk dalam percakapan tersebut. Ia hanya berniat diam, mengawasi. Mencoba membaca situasi yang terjadi.   Rasanya tadi saat akan berangkat ke kantor wajah Ilona di tekuk. Tapi kenapa sekarang sangat cerah? Kenapa dia tampak sangat bahagia? Apakah pengaruh dari pertemuan Ilona dengan lelaki itu?   Sungguh. Edward tidak habis pikir. Bagaimana mungkin dia bisa mengubah mood Ilona secepat itu? Apakah mungkin ... dia—   “Aku tahu Ilona sangat cantik Dad, tapi gak perlu dilihat sampai sebegitunya. Ilona tidak akan hilang kemanapun.”   Edward terkesiap, ia mengerjapkan mata satu kali sebelum menoleh ke arah Max yang tersenyum penuh godaan lalu menatap Ilona yang wajahnya sudah memerah total seperti kepiting rebus.   “Jadi cantik tidak Dad? Cantik banget ya?” Goda Mia.   “Ekhem ... Ya ... tentu saja.”   “Cantik.”   . . .     “Ilona kan perempuan. Masa Daddy bilang tampan.”   ***   Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD