Week day semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, begitu juga Edward, Ilona, Max dan Mia. Siang hari mereka akan beraktifitas di luar dan baru akan berkumpul lagi malam, namun sayang sekali beberapa hari ini Ilona sering pulang terlambat karena event pertama yang akan segera digelar.
Seperti hari ini, Ilona kembali lembur untuk melakukan meeting dengan beberapa asisten designer dan juga manager model yang akan menjadi model utama. Setidaknya itu ... informasi yang Mia dapatkan langsung dari Ilona.
Ya ... Mia.
Memang apa yang bisa diharapkan dari Daddy? Pikir Mia sebal, sebab beberapa hari ini sekalipun mereka berdua dekat dan sering menghabiskan waktu bersama tapi Edward tetap saja terlihat seperti sangat cuek.
Mia memasuki ruang kerja Edward dengan wajah panik.
“Dad ini sudah jam 9 malam.”
Edward menatap putrinya lalu tersenyum. “Memang kenapa kalau sudah jam 9? Kamu tidak tidur Mia?”
“Ilona belum pulang Dad.”
“Ilona mengatakan ada masalah dengan event jadi hari ini dia akan pulang sangat terlambat.”
“Oh. Ilona mengabari Daddy?”
Edward menghembuskan napasnya perlahan, lalu menunjukkan percakapan singkat antara dirinya dan Ilona beberapa saat lalu.
Senyuman Mia mengembang sempurna. “Daddy menghubungi Ilona duluan? Daddy khawatir pada Ilona?” Tanya Mia penuh semangat saat melihat percakapan singkat itu.
“Iya dan ... ti—iya?”
Kening Mia seketika mengerut saat melihat jawaban ragu dari Edward. “Jadi Daddy mengkhawatirkan Ilona atau tidak? Masa ragu-ragu begitu sih!” seru Mia dengan pipi mencebik dan kedua tangan di pinggang.
“Khawatir. Tentu saja. Bagaimanapun Ilona adalah anak titipan rekan bisnis Daddy.”
Bibir Mia mencebik kembali, membuat Edward mengerutkan kening. “Kenapa dengan bibirmu?”
“Daddy tidak asik!” seru Mia, bersamaan dengan itu sebuah pesan singkat dari Max ia dapatkan.
...
Ilona sudah sampai.
...
“Yang penting Daddy sudah memperhatikannya dengan memberinya tempat tinggal layak, kendaraan layak dan juga sopir yang sangat layak.”
Bibir Mia semakin menekuk ke bawah. “Seharusnya Daddy itu jemput Ilona, pulang bersama atau ... apapun itu. jangan mengandalkan sopir saja. Ilona saja perhatian pada Daddy. Benar-benar tidak asik.”
“Ingat ... Daddy sudah katakan padamu, Dad dan Ilona memiliki perjanjian.”
“Ya tapi kan Dad ... kalau pulang larut begini memang siapa yang mau lihat? Paling hanya Jack. Tidak akan masalah. Toh Jack sudah tahu segalanya.” Rajuk Mia lagi. “Daddy tuh ya! Masa iya Daddy tidak bisa mendekati seseorang? Daddy itu tampan! Harusnya banyak kekasih bukan malah sendiri selama belasan tahun.”
Edward terkekeh kecil mendengar rajukan putrinya yang sangat menghibur. Jika Max cenderung jahil dan membuat jengkel. Mia itu cenderung diam, tapi sekalinya berbicara dan merajuk, akan terus berbicara tanpa henti sampai dia lelah sendiri.
“Sudahlah! Daddy menjengkelkan. Aku akan turun sekarang. Ilona sudah pulang.”
Edward mengangguk kecil membiarkan Mia beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya lagi.
Hampir dua minggu mereka dekat, Ilona benar-benar tidak gentar mendekatinya sekalipun dengan gerakan yang sangat pelan dan lambat. Ilona sering kali menemaninya minum, atau bahkan menemaninya bekerja. Benar-benar hanya menemani, dia tidak mengganggu waktunya sama sekali. Ilona bahkan hanya akan bicara ketika ia bertanya. Membuatnya cukup nyaman ... dan secara sadar ia mulai bisa menerima kehadiran Ilona. Juga ... secara sadar menerima sentuhan kecil dari tangan lembut Ilona yang mampu membuatnya mematung dan hanya menikmatinya dalam diam.
Tapi ... ini tidak akan mudah. Edward sangat menyadari tidak akan mudah baginya menerima orang baru. Jika mudah ... mungkin ia sudah memiliki kekasih, atau bahkan istri? Tapi ... sejak delapan belas tahun yang lalu ...
Edward memilih sendiri, tanpa ikatan dan tanpa adanya kekasih.
***
“Max jalan yang benar. Jangan mainkan ponsel saat jalan di tangga.”
Ilona menggelengkan kepala ketika melihat Max yang sedang berjalan menaiki tangga dengan tangan yang sibuk membalas pesan sambil tertawa kecil. Ia menghela napas panjang lalu meraih ponsel itu tanpa permisi saat Max berada di anak tangga teratas.
“Ilona, kembalikan ponselku.”
“Salah siapa tidak mendengarkan ucapanku hm?”
“Hah? Apa?”
Ilona menghembuskan napas. “Aku bilang jangan main ponsel saat jalan.”
“—jangan tersinggung, aku hanya khawatir kamu jatuh dari tangga kalau terlalu fokus pada ponsel.” Ilona tersenyum tipis ketika iris matanya bertemu langsung dengan iris mata Max.
“Maaf.”
Ilona terkekeh kecil lalu mengusak kepala Max sesaat. “Lain kali jangan begitu ya. Kamu bisa balas pesannya saat sudah di kamar atau sudah di tempat aman lainnya.”
Max mengangguk lalu menerima ponsel dari tangannya lagi.
“Di denger ucapan Mommy-nya. Jangan ngangguk-ngangguk saja.”
Ilona terkesiap mendengar kalimat itu. Kepalanya menggeleng kecil, matanya bahkan mengerjap tidak percaya setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Edward.
“Jadi resmi nih Ilona jadi Mommy?!” seru Max.
“Bukankah itu maumu? Kalau memang iya ... kamu harus belajar mulai menghormati Ilona.”
“Boleh memanggil Ilona Mommy?!”
“No.”
“Why Dad?”
Edward mengedikkan bahu.
“Dasar pemberi harapan palsu!”
Ilona mengerjapkan matanya lagi, lalu terkekeh sengau. Masih linglung setelah mendengar jawaban dari Edward yang begitu tiba-tiba.
“Sedetik aku hampir mikir kamu sudah bisa terima aku sebagai pasangan kamu Edward.” Ujar Ilona jujur.
Ya ... bagaimana? Sejak awal ia berharap, ketika diberi peluang begitu tentu saja harapannya melambung tinggi.
Seperti biasa ... Edward tidak menanggapi ucapannya, ia kemudian duduk di samping Edward lalu meraih gelas lain di atas meja yang sudah berisi minuman berwarna merah pekat.
“Aku pikir kau sudah istirahat.”
Ilona tersenyum tipis membiarkan cairan itu mengalir terlebih dulu disepanjang tenggorokan. “Kamu pikir aku istirahat tapi kamu menyiapkan dua gelas?”
“—kamu menungguku kan?”
Senyuman lebar Ilona luntur, saat tidak ada jawaban dari Edward. Memang apa yang bisa ia harapkan dari Edward? Seharusnya ia tidak perlu bertanya, sikap Edward yang seperti itu sudah menjadi jawaban yang seharusnya cukup jelas.
“Ya ... aku memang menunggumu.”
Deg!
Ilona menatap Edward cepat, tidak menduga Edward akan menjawab sesuai dengan harapannya. Jantungnya berdebar kencang, desiran halus dan hangat itu kali ini terasa mengalir lebih deras daripada biasanya. Sekujur tubuhnya bahkan meremang, sungguh ... ia tidak pernah berpikir Edward akan menjawab pertanyaannya seperti itu.
“Ada masalah apa di kantor? Kenapa aku belum mendengar laporannya?”
Ah ... ternyata menunggu karena urusan kantor?
Ilona mengerjapkan mata, lalu menghembuskan napas perlahan kemudian mengalihkan pandangan ke arah televisi lagi. Meredam kekecewaan setelah mendengar pertanyaan itu.
Seharusnya ... ia memang tidak perlu berharap apapun.
“Robert, Model utama kita mendadak menolak untuk menjadi model. Awalnya aku pikir bisa menyelesaikannya dengan berdiskusi dan sedikit melobi supaya model itu mau, aku bahkan sudah memberi tawaran untuk menaikan harga di kontrak tapi tetap saja dia tidak mau.”
“Alasannya?”
“Ada nama mantan kekasihnya list model untuk designer lain. Dia bilang jika mantannya itu tidak disingkirkan, ia tidak akan mau menjadi model utama.”
“Tidak profesional.”
“Aku juga berpikir begitu Ed, meeting hari ini selesai setelah aku memberikan kesempatan padanya untuk berpikir satu kali dua puluh empat jam ini. Kalau sampai tidak ada jawaban atau tetap menolak aku akan mencari model lain.”
“Cari saja model lain, jangan memberi model itu kesempatan seolah dia dewa yang sangat dibutuhkan.”
Ilona dengan cepat menoleh ke arah Edward. “Tapi Ed, dia model yang sedang sangat terkenal. Akan bagus jika—.”
“Aku tidak akan bekerja dengan orang yang tidak profesional. Jangan biarkan orang seperti itu berpikir bahwa dia segalanya. Toh mantan kekasihnya tidak masalah bukan ada dia?”
“Tidak. Dia justru mengatakan tidak ada masalah lagi.”
“Yasudah, buang saja dia dari list dan masukan dalam daftar black list. Masih banyak orang berpotensi di luar sana yang akan mengambil kesempatan. Jangan mau dibodoh-bodohi orang tidak profesional seperti itu.”
Mata Ilona mengerjap. Ia tahu, ia sudah mendengar seberapa sadisnya Edward. Tapi ia tidak menduga Edward bahkan langsung memasukan model lelaki itu dalam daftar hitam. Padahal bisa saja hanya mengganti model. Tapi ini ... Edward seolah tidak ingin memberikan kesempatan kedua.
“Ed ... apa dalam hubungan percintaan pun kamu seperti ini?”
Edward menoleh ke arahnya sesaat sebelum menarik ujung bibirnya. “Dalam hubungan?”
Ilona mengangguk kaku. “Apa kamu ... seseorang yang akan langsung meninggalkan pasanganmu jika pasanganmu itu melakukan kesalahan?”
“Dalam satu-satunya hubungan yang kujalani aku merasa aku cukup pemaaf, aku cenderung mengalah pada pasanganku. Bahkan jika saat ini dia kembali dalam kehidupanku. Aku mungkin akan dengan mudah menerimanya lagi, sekalipun dia sudah menghancurkanku.”
Ilona terkesiap. Kedua matanya membulat. Bersamaan dengan itu sebuah belati terasa menghunus tepat di atas jantungnya, mengoyak, menyisakan luka menganga yang begitu dalam.
“Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri, dengan keluarganya.”
Edward kemudian menoleh ke arahnya lalu tersenyum tipis.
“Jadi kau ... tidak perlu cemburu dan khawatir. Cukup bantu aku bangkit dan keluar dari ruangan gelap yang mengurungku.”
Ilona mengerjapkan mata, ia diam, terpaku di tempatnya hanya karena melihat senyuman tipis dan kalimat lembut yang terdengar begitu manis. Barulah ketika secara tiba-tiba tangan kiri Edward menarik tengkuknya dan memiringkan wajah, kedua mata Ilona tertutup erat.
Beberapa saat tidak ada apapun yang ia rasakan selain belaian rambut dan napas hangat yang menerpa wajahnya.
“Kenapa kau menutup mata?”
“Hah?!”
Iris mata Ilona seketika terbuka lalu memundurkan kepala saat sadar jarak iris matanya dengan mata Edward hanya sejengkal, hingga hidung mereka bersentuhan ringan.
“Kau berpikir aku akan menciummu?”
“Hah? Tidak! Tentu saja tidak!”
“Atau berharap?”
“AKU BILANG TIDAK!”
Edward menaikkan satu alisnya.
Ilona dengan cepat mengatupkan kedua belah bibirnya. “Maaf ... aku tidak bermaksud membentak. Aku hanya sebal kamu menggodaku begitu. Aku ... tidak suka.” Cicit Ilona dengan kepala menunduk dalam.
Takut. Tidak berani untuk melihat reaksi yang akan Edward berikan atas tingkahnya.
Beberapa saat Edward tidak memberikan respons. Sampai kemudian Edward berdehem kecil lalu menyimpan gelas di atas meja setelah itu bangkit, beranjak pergi meninggalkannya.
Ilona mendesah pelan. Susah-susah aku mendekatinya, sekarang hancur gara-gara tingkah impulsif. Ilona bodoh!
Namun tanpa di duga seseorang kembali datang, duduk tepat di sampingnya.
“Ed ... .”
“Berbalik.”
“Hm?”
“Rambutmu basah.” Ilona mendongak menatap Edward yang sudah membawa sebuah hair dryer.
Mata Ilona mengerjap beberapa kali, kemudian Edward menarik tubuhnya sampai duduk di lantai. “Pantas saja Mr. Hazard pusing denganmu, kau ternyata pembangkang, tidak cukup dengan satu kali perintah.”
Ilona terkesiap. “T—tidak. Maksudku tadi aku hanya terkejut. Aku tidak bermaksud membantah.” Sangkal Ilona.
Sungguh ... ia memang hanya terkejut, ia tidak menduga Edward akan memberi perhatian seperti ini. Tidak bermaksud membantah atau tidak mendengarkannya. Ia hanya ... ugh! Sungguh. Siapa yang menduga Edward akan memberinya perhatian seperti ini? bahkan ... Edward mulai berani memberinya afeksi meskipun sangat sederhana.
“Kau persis seperti Mia, sangat cocok menjadi Kakaknya.”
Bibir Ilona menekuk kebawah. Hampir dua minggu ... dan Edward masih saja menganggapnya seperti itu?
“Aku akan cocok jadi ibunya! Bukan Kakak.”
“Ibu Max dan Mia tidak seperti ini.”
“Kamu membandingkanku dengan ibunya?”
“Aku tidak bilang begitu.”
Ilona mendesah pelan lalu duduk diam menghadap televisi dengan Edward yang masih memegang bagian-bagian rambutnya yang sedang di blow.
“Aku memang jauh dari kata sempurna, apalagi untuk menjadi seorang ibu dan seorang istri. Tapi ... di dunia ini tidak ada yang mananya ibu dan istri profesional. Semua orang belajar, terus meningkatkan diri untuk menjadi ibu dan istri terbaik. Aku rasa ... aku pun begitu. Kamu pun sama ... sekalipun angka usiamu jauh lebih banyak tapi ... kamu bukan ayah profesional. Kamu tetap belajar cara mendidik Max dan Mia bukan?”
Hening. Tidak ada jawaban dari Edward. Hanya ada suara dari hair dryer yang mengisi kekosongan diantara mereka berdua.
“Ed ... beri aku kesempatan.”
“Jika aku tidak memberimu kesempatan aku tidak akan memperlakukanmu sebaik ini Ilona, aku akan tetap seperti seseorang yang kau temui di hari pertama kau tinggal di sini.”
Mata Ilona membesar. Ia kemudian berbalik menatap Edward yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut.
Sungguh? Edward ... sungguh-sungguh memberinya kesempatan?
Secepat kilat Ilona bangkit, memeluk leher Edward dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya.
“Thank you Ed ... thank you so much.”