Kebahagiaan Ilona terus mengalir bahkan sampai keesokan harinya. Senyuman cantiknya terus merekah, mata bulatnya pun terus berbinar, tanpa sanggup menyembunyikan perasaannya.
Letupan kebahagiaan itu masih terasa, euphoria yang tersisa bahkan masih terasa sama.
“Good morning!”
“Kamu terlihat bahagia sekali hari ini Ilona. Apakah sesuatu yang baik terjadi?”
Senyuman Ilona mengembang malu-malu membuat Mia yang melihatnya ikut tersenyum lebar, penuh rasa ingin tahu.
“Apa yang terjadi? Ayo katakan. Ada apa semalam?”
Ilona menghembuskan napas sesaat menahan senyumannya agar tidak terlalu melebar. “Tidak banyak. Tapi aku rasa tidak buruk untuk di sebut dengan langkah pertama.”
Senyuman Mia pun mengembang kembali. Gadis itu kemudian memeluknya, menggoyangkan tubuhnya sesaat.
“Thank you Ilona … thank you, kamu sudah mau memulai dan memperjuangkan.” Mia mengurai pelukannya. “Aku senang mendengarnya dan aku berharap bisa semakin berkembang dengan cepat.”
“Ini juga berkat kamu dan Max, kalian yang membuka jalan untukku. Mengembalikanku dari langkah yang menyesatkan.” Ilona terkekeh.
“Lalu apa langkah selanjutnya?”
“Tidak ada, aku ingin begini saja dulu. Tidak perlu terburu-buru bukan? Aku rasa tidak akan nyaman bagi Daddy-mu kalau aku terlalu agresif. Cukup perlahan … tapi pasti.”
Mia mengangguk antusias lalu menatap Ilona lagi dengan erat. “Apapun itu, aku akan mendukungmu, sungguh ... aku berharap yang terbaik Ilona.”
“Aku pun ... .”
“Mia!”
Mia terjengit, begitu juga dengan Ilona. “Ah itu Dad. Daddy pasti ingin memilihkan dasi atau memasangkannya. Lakukan untukku Ilona, aku akan beralasan untuk menolak.” Bisik Mia. “Good luck.”
Ilona hanya mengangguk kecil. Setelah itu Mia berlari terburu-buru menaiki tangga. Menghampiri Edward.
“Pilih lalu ikatkan.”
“Dad sorry, I’m late. Aku belum mandi sama sekali jadi aku sedang sangat buru-buru. Max saja ya? Atau … Ilona? Aku lihat dia sedang santai di meja makan.”
Ilona menahan napas saat namanya di sebut, ia memejamkan mata sesaat sebelum kemudian bangkit lalu mendekat ke arah ayah dan anak itu dengan jantung yang mulai kembali berdetak dengan kencang.
“Kenapa Mia? Kamu memanggilku?”
“Ini Daddy minta tolong. Aku harus segera mandi. Tolong ya.”
“Dad sama Ilona dulu ya.” Ujar Mia pada Edward lalu mencium pipi ayahnya itu sebelum meninggalkan tangga.
Ilona menahan napas saat sudah berada di hadapan Edward, wangi maskulin dari pria itu lagi-lagi menusuk indera penciumannya, membuat jantungnya semakin tidak terkendali lagi, diiringi dengan riak remang dari bulu kuduknya.
“Bernapas Ilona.”
Mata Ilona mengerjap, tatapan mereka bertemu. Lalu perlahan mulai menghembuskan napasnya kembali sebelum berdehem kecil, iris matanya kemudian bergulir, menatap kedua tangan pria itu.
“Aku rasa … yang ini lebih baik.” Ilona meraih dasi di tangan kiri Edward kemudian naik satu tangga lagi untuk menyejajarkan tinggi mereka. Lalu tanpa diminta lagi Ilona mulai mengikat dasi tersebut secara perlahan.
Ilona mendorong simpul terakhir dasi tersebut lalu merapihkannya sesaat sebelum memberikan tie clip pada dasi tersebut.
“Ide-mu bisa digunakan untuk event musim semi.”
“Hm?” Ilona mengangkat pandangannya, menatap Edward.
“Buat perencanaannya dari sekarang, tambah detail penting lain dan tema yang kuat. Perhatikan juga semua hal yang aku katakan semalam. Pastikan acaranya sukses besar seperti rasa percaya dirimu, karena ini akan menjadi event pertama perusahaan yang dilaksanakan secara outdoor.”
Senyuman Ilona merekah, saat letupan kebahagiaan dan desiran hangat penuh kenyamanan itu mulai merangsek memasuki dadanya.
“Terimakasih.”
“Gunakan kesempatanmu sebaik mungkin.”
Ilona mengangguk penuh semangat lalu mengulurkan tangan hendak mencium Edward, tapi gerakannya tertahan, ia memundurkan tubuhnya lalu hanya menyentuh telinga Edward sebelum menarik kedua tangannya itu.
“Maaf aku melewati batasku lagi.”
Edward berdehem sesaat sebelum beranjak pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
***
Jika senyuman mampu merobek bibir, maka bibir Ilona seharusnya sudah compang camping karena senyuman perempuan itu tidaklah luntur barang sedikitpun. Wajahnya merona, matanya berbinar, menjadi saksi atas kebahagiaan tak terbendung yang menyergap relung hatinya.
Bahkan ketika rapat pun sama, Ilona mengikuti rapat seolah tanpa beban sementara anggota lain banyak yang mengeluh tentang pembagian tugas ini dan itu. Tapi Ilona hanya menerimanya dengan senang hati.
“Aku tidak mau lagi menangani model utama, apalagi jika modelnya masih model yang sama.” ujar Emma. “Kecuali kalau modelnya diganti. Aku akan sangat senang hati menerima bagian itu.”
“Emma kau harus profesional. Sudah bagus kau tahu kondisi modelnya. Jika orang lain akan semakin sulit diatur.”
“Miss Eva. Please. Biasanya ada rotasi.” Sanggah Emma lagi. “Biarkan yang lain ... atau mungkin Ilona?”
“Hm? Aku?” tanya Ilona. “Tidak masalah, aku akan menerima tugas apapun.” Jawab Ilona seraya tersenyum.
Emma tersenyum lebar, perempuan itu kemudian memeluk Ilona sesaat. “Thank you Ilona, kamu memang terbaik.”
Eva menghembuskan napas. “Baiklah, Ilona kau yang akan menangani model utama, segala keperluannya untuk event termasuk keinginan pribadinya.”
“Hanya model utama sajakan?”
Eva mengangguk.
“Lalu model lain?”
“Untuk model lain diserahkan kembali pada designer-nya. Model utama ini khusus untuk pemenang design pilihan langsung Mr. Dalbert. Bisa dibilang design terbaik yang akan menjadi puncak acara. Jadi modelnya sendiri ditangani langsung oleh perusahaan. sementara model lainnya diserahkan pada designer masing-masing. Adapun list model-nya. Nanti tetap akan diserahkan padamu.”
Ilona mengangguk kecil. “Baik Miss.”
“Ada yang ingin ditanyakan lagi?”
Tidak ada yang menjawab.
“Oke. Kalau begitu rapat hari ini selesai. Pahami tugas masing-masing dan segera siapkan semua keperluannya. Jika ada kendala atau memerlukan solusi cepat segera hubungi aku.”
Rapat untuk event musim gugur pun selesai.
Oh ya ... perusahaan ini memang baru beberapa tahun menggelar pagelaran busana untuk designer-designer perusahaan, karena memang baru beberapa tahun juga perusahaan meluncurkan brand fashion pakaian-pakaian eksklusif yang setiap tahunnya hanya di luncurkan satu sampai lima belas buah saja. Sehingga pagelaran setiap musim dianggap perlu untuk memperkenalkan design yang akan diluncurkan.
“Bibirmu akan robek Miss Ilona kalau terus tersenyum.”
Senyuman Ilona semakin mengembang mendengar kalimat itu, ia segera memutar kursi menghadap Eva yang masih berada di ruangan rapat, hanya berdua bersamanya.
“Jangan memanggilku dengan sebutan Miss, Miss Eva. Panggil saja seperti baisanya.”
Eva terkekeh kecil. “Okey. Ayo kembali ke ruangan kita.”
“Tunggu Miss ... ada yang ingin kusampaikan.”
“Tentang?”
Ilona terkekeh kecil. “Tentu saja pekerjaan.”
Eva kembali duduk di tempatnya. “Apa tentang pagelaran musim gugur ini? Kau tersinggung karena baru minggu lalu rancanganmu ditolak, tapi hari ini kita sudah mempersiapkan acaranya dengan rancangan baru?”
Ilona terkekeh lagi dengan kepala menggeleng kecil. “Tidak masalah Miss. aku juga tahu tidak mungkin ada event yang digelar dalam waktu singkat sementara rencananya belum ada.” Ilona menarik ujung bibirnya. “Tapi akan masalah jika aku tahu hal itu sebelum kamu menjelaskan hubungan kalian Miss Eva.”
“Itu tidak akan terjadi jika kau tidak tiba-tiba memarahiku.”
Senyuman Ilona luntur, bibirnya mencebik. “Oh! Please. Lupakan itu Miss. Aku sangat malu jika mengingatnya.”
Eva tergelak. “Lagipula kau benar-benar lucu Ilona. Oh aku tidak tahan jika mengingatnya.”
“Cukup Miss. Aku bukan ingin membicarakan itu. Tapi hal lain.”
Eva terkekeh kecil lalu berdehem sesaat sebelum menatap kearahnya lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih serius. “Katakan.”
“Edward mengatakan aku boleh bertanggung jawab untuk event musim semi. Aku ingin mengatakannya padamu karena aku rasa itu perlu, bagaimanapun kau adalah atasanku Miss.”
Eva tersenyum tipis. “Terimakasih Ilona kamu sudah mengatakannya dan sudah mau mengambil bagian itu, aku lega akhirnya ada yang Mr. Dalbert percayai untuk event ini. Karena selama ini hanya aku yang akan memimpin, tidak pernah ada yang mau mengganti.”
“Memang ... biasanya bagaimana Miss? Tidak ada yang berani untuk memimpin event itu?”
“Tidak, bukan begitu. Tapi Mr. Dalbert tidak mudah untuk mempercayai seseorang. Pernah satu event akan di tangani Hanan, tapi nyatanya aku lagi yang menanganinya. Mr. Dalbert sangat ketat Ilona, dengan membiarkanmu menangani satu event, itu merupakan prestasi yang sangat luar biasa dan kesempatan yang sangat besar untukmu, kamu akan tahu sendiri nanti bagaimana ketatnya Mr. Dalbert.”
“Ini saja ... event musim panas di depan mata, aku sudah harus menangani persiapan event musim gugur.”
Ilona tersenyum tipis. “Semangat Miss Eva. Tapi kenapa event musim gugur dipercepat?”
Eva mengangguk tipis. “Karena akan adanya perubahan waktu untuk event-event selanjutnya, biasanya kami akan merilis produk bersamaan dengan adanya event, dengan pertimbangan ini dan itu tapi sekarang kami pikir dengan populernya sistem pre-order kami akan mulai dengan mengeluarkan produk besar ke berbagai store klien kita di luar negeri, disamping produk eksklusif yang selama ini kita produksi. Karena salah satu perencanaan itulah membuat para petinggi memerlukan waktu banyak untuk membahasnya sampai kemudian mufakat dan berakhir dengan keterlambatan event musim panas dan terlalu cepatnya event musim gugur.” Eva tersenyum anggun.
“Jadi dalam waktu singkat ini bersemangatlah! Kedua event ini digelar dengan jarak terpendek, aku harap kita bisa menanganinya dengan baik, aku percaya padamu Ilona.”
Ilona tersenyum tipis. “Anda sangat hebat Miss. Terimakasih atas kepercayaannya.”
Eva terkekeh kecil. “Terimakasih pujiannya. Sudah. Jangan terlalu formal padaku jika bukan di ruang rapat. Santai saja”
“Ayo kita makan siang.”
...
“Kalian bicara apa? Kakiku hampir berakar menunggu kalian di sini.”
Ilona memutar bola matanya lalu terkekeh kecil. “Berlebihan. Kalau lama kenapa kamu tidak duluan saja Fel? Aku juga tidak memintamu menunggu.”
“Kamu membuatku tersinggung Na.” Felix menghembuskan napas. “Kamu harus tahu ... ini adalah bentuk rasa peduliku. Bukan begitu Miss Eva?”
Eva terjengit kecil lalu mengalihkan tatapan dari ponsel ke arah Felix. “Kalian membicarakan apa?”
“—maaf ya aku tidak bisa makan di kantin siang ini. seseorang menungguku di lobi.”
“Siapa?” tanya Ilona.
Eva terkekeh kecil dengan alis yang naik turun. “Siapa lagi? of course ... my boyfie.”
“Ah ... ya. Lain kali kenalkan padaku Miss Eva.”
“Dengan senang hati. Kalau begitu aku duluan ya ... bye.” Pamit Eva kemudian beranjak pergi, meninggalkan Ilona hanya bersama dengan Felix.
“Sebelum makan sebaiknya kita simpan dulu dokumen di tanganmu.” Felix mengulas senyumannya.
Ilona mengangguk kecil.
“Kira-kira menu makanan kita hari ini apa ya? Aku berharap seperti hari itu ... makanan enak. Tapi ternyata tidak pernah tuh ada steak lagi.”
Ilona terkekeh kecil. “Kalau mau steak yang beli sendiri ke restoran? Kenapa mengandalkan kantin perusahaan? dasar aneh.”
“Ya ... selama kita bisa memanfaatkan yang gratis kenapa harus cari yang berbayar?”
“Benar juga ... .” ujar Ilona lalu tergelak dengan tangan kiri yang merangkul lengan Felix, tanpa menyadari seseorang tempat lain tak jauh dari sana memperhatikan gerak-gerik keduanya.
***
Edward menghentikan langkahnya, menatap bagaimana Ilona dan lelaki bernama Felix itu berinteraksi. Saling memberi sentuhan dan saling melembar senyum juga tawa. Helaan napas panjang mendadak terdengar, begitu berat.
“Cari tahu lebih detail tentang kehidupan orang itu.”
Jack menoleh. “Orang itu?”
Jack kemudian mengikuti arah pandangnya “Ah ... Felix Rery Dalton?”
“Ada apa Mr. Dalbert?”
Edward tidak menjawab.
“Dari ekspresi wajah anda ... Sepertinya anda cemburu.”
“Tidak.” jawab Edward seraya melemparkan tatapan tajam padanya. Tatapan yang seperti biasa ia dapatkan, tajam, datar dan dingin.
Namun Jack justru tersenyum tipis. “Dekati jika memang tertarik. Jangan sampai menyesal saat terlambat.”
Edward mendelik. “Jaga ucapanmu Jack. Aku tidak mengatakan aku tertarik. Aku hanya ingin memastikan, dia dekat dengan orang yang tepat.” ujar Edward kemudian beranjak pergi.
Mendengar jawaban itu Jack kemudian menarik ujung bibirnya lagi, tersenyum simpul, penuh arti.
***
Bersambung ...