Chapter 29

1563 Words
Zara tidak menyangka kalau Raka peduli sampai seperti itu dengannya. Diam - diam membayarkan baju gantinya Zara.  "Kok bisa sih Mba? Kan dia belum tau apa yang saya beli! ? Kok udah di bayar sih?" Tanya Zara ke kasir itu.  "Nggak tau Mba, tapi kami cuma titipkan pesan aja. Katanya kalau Mba datang jangan di suruh bayar. Karena udah di bayarin sama Pak Raka. Pak Raka CEO di kantor sebelah kan mba?" Kata Kasir itu.  "Beneran Mba? Kapan pak Raka datang ke sini?" Tanya Zara ke Mba kasir.  "Dia nggak datang mba, tapi setau saya, bos saya yang di telepon langsung sama Pak Raka." Jawab Mba kasir.  "Hah? Di telepon langsung? Kok bisa?" Tanya Zara lagi.  "Iya Mba.. sepertinya pak Raka sudah sering belanja di sini dan mungkin Pak Raka dan bos saya juga sudah saling kenal." Jawab Mba kasir lagi.  "Ohh hmm.. kalau saya bayar sendiri gimana yah mba? Nggak papa kan? Soalnya saya nggak enak mba." Tanya Zara.  "Aduh maaf mba, saya hanya melaksanakan apa yang di perintahkan bos saya, nanti saya yang ke a omelannya kalau nggak menjalankan tugas yang di berikan dengan baik." Jawab Mba kasir sambil mengimput baju yang sudah di beli Zara.  "Gitu yahh mba. Ya udah kalau gitu terima kasih yah mba." Ucap Zara.  "Iya mba.. kalau saran saya sih mba jangan menyia - nyiakan cowok yang seperti itu. Dia diam - diam memperhatikan dan peduli sama Mba." Kata Mba Kasir sambil memasukkan pakaian yang sudah di beli Zara.  "Haha mba apaan sih, dia itu atasan saya, bos saya. Dan saya hanya sekertarisnya. Kita nggak ada hubungan apa - apa." Ucap Zara sambil mengambil baju yang sudah di packing sama mba kasirnya.  "Iya mba.. itu hanya saran saya saja, selebihnya tergantung mba saja. Apalagi dia CEO di perusahaan yang sangat besar Mba. Dan dengar - dengar itu perusahaannya sendiri kan Mba?" Kata Mba kasir.  "Hahah kok Mba tau sih? Apa bos saya seterkenal itu yah?" Tanya Zara.  "Terkenal banget Mba hahah terkenal karena katanya dia membangun perusahaannha sendiri tanpa bantuan modal dari orang tuanya. Dan juga Bos Mba ganteng buaaangetttt. Makanya aku bilang jangan di sia - siain. Mba beruntung banget pokoknya." Kata Mba kasir.  "Hmm harapan aku sih juga kayak gitu yah Mba, tapi aku nggak tau, dia suka sama aku atau nggak. Siapa tau aja dia seperti ini ke karyawan lain." Kata Zara lalu duduk di sofa di samping meja kasir.  "Hah? Sama orang lain siapa Mba, baru Mba loh yang di bayarin kayak gini. Selama ini nggak ada tuh Pak Raka menghubungi bos saya langsung. Dan banyak juga kok teman - teman Mba di sebelah belanja di sini, tapi mereka bayar sendiri." Kata Mba kasir sambil melayani satu persatu pengunjung yang ingin membayar.  "Ehh aduhh kok saya malah duduk di sini sih hahah.. nanti saya di cariin lagi. Ehm ruang gantinya di mana yah mba? Saya ganti baju sekarang aja deh." Ucap Zara.  "Hahah keasyikan ngobrol kita Mba. Itu di sana mba, silahkan nanti di antar sama teman saya yah." Kata mba kasir sambil menunjuk salah satu temannya.  "Makasih yah mba.. atas pelayanan dan sarannya nanti kita ngobrol - ngobrol lagi. Okeyy??" Ucap Zara sambil meninggalkan meja kasir .  "Okeyy iyaa sama - sama mba Zara , jangan bosan - bosan yah belanja di sini and have a nice nice mba Zara." Ucap Mba kasir.  Setelah Zara mengganti pakaiannya, Zara kembali ke kantor dengan wajah yang sumringah. Zara sangat senang karena pakaian yang di kenakannya saat itu di bayarkan oleh Raka dan juga Zarah memikirkan apa yang sudah di katakan oleh kasir butik.  Raka dari tadi terus melihat ke bawah dari jendela ruangannya, Raka menunggu Zara kembali. Dan tepat saja Raka melihat senyuman indah di wajah Zara.  Zara memasuki Lift dan tidak sengaja berpapasan dengan Nabila, perempuan yang menabraknya tadi.  "Ehhh hai Mba Zara, wahh sudah ganti pakaian yah Mba. Ehmm.. Maaf banget yah mba soal tadi saya benar - benar nggak sengaja." Ucap Nabila.  "Kenapa harus ketemu lagi sih." Batin Zara.  "Iya mba Nabila, nggak papa kok. Lagian saya nggak kenapa - kenapa. Cuma basah aja bajunya, dan ini sudah di gantiin juga sama Pak Raka." Jawab Zara.  "Hah? Maksudnya Mba Zara di gantiin sama Pak Raka?" ATanya Nabila heran . "Ehh nggak.. nggak papa kok." Ucap Zara.  "Loh mba Zara tadi ngomong kalau bajunya sudah di  gantikan sama Pak Raka, maksudnya gimana?" Tanya Nabila dengan tegas.  "Ehmm maksud saya pakaian ini Pak Raka yang membelikannya." Ucap Zara dengan polosnya.  "Kok bisa?" Tanya Nabila lagi.  "Kok bisa kenapa? Ehh mba Nabila nggak turun? Ini sudah lantai tiga." Ucap Zara.  Pintu lift saat tiba di lantai tiga sudah terbuka lebar.  "Nggak mba.. saya mau ke lantai lima ke ruangannya pak Raka, mau memberikan ini sebagai tanda terima kasih saya. Karena sudah membela saya tadi." Ucap Nabila sambil menunjukkan satu cup cappucino di tangannya.  "Ohhh.. gitu.. kalau gitu saya beri tahu dia dulu yah sebelum mba Nabila masuk ke ruangannya." Ucap Zara berjalan keluar dari lift bersamaan dengan Nabila karena lift sudah tiba di lantai lima.  "Loh kenapa harus di beri tahu? Saya kan cuma mau masuk sebentar dan saya juga bukan orang dari luar kantor." Ucap Nabila yang sudah mulai berbicara dengan suara yang lebih keras.  "Eh kenapa Mba Nabila marah - marah? Maaf yah mba Nabila tapi itu perintah dari Pak Raka. Saya harus memberitahu semua tamu yang mau masuk ke ruangannya, kalau tidak saya yang bisa - bisa kena marah dari Pak Raka." Kata Zara yang mencoba menjelaskan dengan penuh kesabaran.  "TAPI SAYA BUKAN TAMU !!! SAYA KARYAWAN DI KANTOR INI JUGA !!! KAMU INI NGGAK NGERTI BAHASA INDONESIA YAH ???!!!" Teriak Nabila.  "Atau jangan - jangan kamu menghalangi saya masuk karena kamu nggak mau kan ada perempuan lain yang masuk ke ruangannya Pak Raka kecuali kamu? Jangan mentang - mentang kamu sekertarisnya pak Raka, kamu bisa seenaknya seperti ini !!!!" Kata Nabila lagi.  "Loh Mba Nabila ini kok ucapannya kemana - mana sih. Di sini saya hanya menjalankan tugas saya sebagai sekertarisnya Pak Raka. Nggak ada sesuatu yang saya lebih - lebihkan." Ucap Zara.  Zara masih mencoba menahan emosinya.  Ardya dan karyawan lainnya yang berada di satu lantai dengan Zara kaget mendengar Nabila yang marah - marah dengan suara yang sangat besar. Semua mata tertuju kepada Zara dan juga Nabila.  "Ehh ehh maaf ini ada apa yah? Kenapa Zara?" Tanya Ardya. Ardya dengan cepat berlari melihat situasi yang terjadi.  "Ini mba Nabila mau masuk ke ruangannya Pak Raka mau ketemu sama Pak Raka, tapi gue bilang gue kasih tau pak Raka dulu kalau Mba Nabila mau ketemu sama Pak Raka, tapi Mba Nabila marah - marah katanya kenapa harus saya beritahu pak Raka, katanya dia karyawan di sini jadi tidak usah di beritahu." Jelas Zara.  "Loh iya kan? Salahnya dimana? Benar kan mas Ardya?" Seru Nabila.  "Jelas salah Mba Nabila, saya ini sekertaris Pak Raka, dan saya yang di tugaskan menjalankan pekerjaan seperti itu. Semuanya harus saya laporkan dulu ke Pak Raka. Mba Nabila yang nggak mengerti apa pekerjaan sekertaris itu sebenarnya." Ucap Zara yang sudah mulai terpancing emosi.  Bella juga yang berada di ruangannya, ikut keluar karena mendengar keributan antara Zara dan Nabila.  "Mba Zara benar Mba Nabila, lagian Mba Nabila kenapa sampai marah seperti ini? Memangnya hal sepenting apa sampai Mba Nabila mau bertemu dengan Pak Raka ?? sampai - sampai membuat keributan di sini? Ini sangat mengganggu konsestrasi kita yang saat ini di kejar deadline. Hal penting apa Mba Nabila ???" Tanya Bella dengan tegas.  Nabila tidak bisa menjawab pertanyaan dari Bella, Nabila terdiam tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.  "Puuffttt." Zara tertawa kecil.  "Kenapa? Kok Mba Nabila nggak menjawab pertanyaan dari Mba Bella sih? Atau mau saya yang jawabkan?" Tanya Zara sambil tersenyum seolah mengejek Nabila.  "Kenapa? KENAPA KALIAN MAU TAU URUSAN SAYA INGIN BERTEMU DENGAN PAK RAKA ??? KENAPA KALIAN SEMUA IKUT CAMPUR SIH ???" Ujar Nabila yang sudah mulai menantang lagi.  "Loh kok Mba Nabila marah sama saya juga sih? Saya ini cuma bertanya, yah kalau mba Nabila nggak mau jawab yah nggak papa. Kenapa pakai ngegas segala." Ucap Bella.  "Tapi maaf yah Mba Nabila, apa yang di katakan Mba Zara dan Mba Bella itu semuanya benar, dan terlebih lagi Zara ini sekertarisnya pak Raka, dia pasti yang lebih tau apa yang harus dia lakukan kalau ada yang ingin bertemu dengan Pak Raka. Yah bukan gimana - gimana yah Mba.. cuman kan siapa tau aja Pak Raka di dalam ada tamu atau dia lagi telvonan sama klien, kan Mba Nabila sangat mengganggu Pak Raka. Dan juga kalau Seperti itu Mba Nabila juga yang malu, kalau emang sudah masuk di ruangan Pak Raka dan tiba - tiba di suruh keluar karena ada tamu pasti Mba Nabila malu kalau harus keluar lagi." Jelas Ardya.  "Nahh.. dengerkan mba? Itu penjelasan yang paling jelas, kalau Mba Nabila tetep kekeh ingin masuk langsung ketemu Pak Raka, yah berarti Mba Nabila yang nggak mengerti bahasa Indonesia." Kata Zara sambil menyilangkan kedua tangannya.  Tiba - tiba Raka keluar dari ruangannya. Raka sudah dari tadi mencari Zara karena ingin menanyakan sesuatu ke Zara, tapi dia tidak melihat Zara kembali. Raka tidak bisa mendengar keributan yang terjadi karena ruangan Raka agak jauh dari pintu devisi. "Ada apa ini? Kenapa ramai - ramai di sini? Dan Mba Nabila kenapa ada di lantai lima?" Tanya Raka.  Semua langsung menoleh ke Raka dengan wajah yang kaget melihat Raka tiba - tiba sudah nerada di belakang mereka. ====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD