- RUMAH RAKA -
“Assalamualaikum.” Kata Raka pelan sambil membuka pintu rumahnya.
“Walaikumsalam.. ehhh Mas Raka.. Ya Ampuunn.. Bibi kangen sekali sama Mas Rakaaaa..” teriak Bi Asni sangat heboh, melihat Raka.
Raka memang baru datang lagi ke rumahnya setelah dua bulan. Dan Bi Asni yang juga dekat dengan Raka sangat kesepian saat Raka tidak berada di rumah.
“Husshh Bibi berisik banget sih. Hahah.. Raka juga kangen sama bibi.” Balas Raka tertawa kecil.
“Mas Raka mau minum? Bibi ambilkan yah? Bibi panggilkan Ibu juga dulu.” Kata Bi Asni.
“Rakaaaa..” seru ibu Fara yang mendengar kedatangan Raka, karena suara Bi Asni yang heboh.
“Ehh Ibu.. saya baru mau panggil ibu.” Celetuk Bi Asni.
“Nggak usah.. ibu sudah dengar kamu heboh sekali teriak - teriak.” Ujar Ibu Fara.
“Heheh.. maaf yah bu.. kalau gitu saya ke dapur dulu ambilkan Mas Raka minum.” Ujar Bi Asni lalu berjalan ke dapur.
“Kamu sudah makan Nak? Mama kangen sekali sama kamu. Mama selalu datang ke kantor kamu, tapi katanya kamu lagi meeting, terus kamu juga katanya biasa lagi keluar kota. Mama nggak pernah bisa ketemu sama kamu. Mama senang sekali kamu pulang nak.” Ujar Ibu Fara sambil memeluk Raka.
“Aku cuma mampir, ada barangku yang mau aku ambil di kamar.” Ujar Raka melepaskan pelukan Ibu Fara.
“Ohh iya ambil aja dulu.” Kata Ibu Fara.
Raka naik ke kamarnya, di ikuti dengan Bi Asni yang membawa minum untuk Raka.
“Mas Raka minumnya.” Ujar Bi Asni.
“Eh ya Ampun Bibi.. kenapa di bawa keatas, ngerepotin bibi aja.” Kata Raka sambil mengambil gelasnya.
“Nggak kok Mas Raka.. Bibi kan mau temu kangen sama Mas Raka.” Ujar Bi Asni sembari menyenggol badan Raka.
“Hahah apasih Bibi ini.. maaf Raka nggak bisa lama Bi, Raka ke sini cuma mau mengambil sesuatu lalu pulang ke rumah Raka.” Ujar Raka sambil membuka pintu kamarnya.
“Ishh Mas Raka maahh.. ehmm Mas Raka.. maap nih yahh sebelumnya.. apa Mas Raka nggak mau tinggal di sini lagi? Kasian ibu Mas, dia kelihatannya kesepian sekali.” Tanya Bi Asni mengikuti Raka masuk ke kamarnya.
“Hmm.. Bii.. bibi tau Raka kan? Emangnya Mama nggak ke kantor? Mama kerja lagi kan Bi?” Tanya Raka.
“Iya sih Mas.. tapi ibu selalu pulang cepat Mas Raka, nggak seperti dulu. Terus kalau pulang suka merenung gitu di ruang tamu, dia selalu bilang kangen sama Mas Raka, sama mba Rivka. Bibi juga selalu melihat ibu menangis sendirian di kamar Eyang Lili.” Jelas Bi Asni.
“Memangnya papa di mana kalau mama seperti itu?” Tanya Raka lagi.
“Yahh bapak ada juga Mas.. tapi bapak kan biasanya pulang lebih lama dari ibu. Yang bibi dengar - dengar sih katanya kantor lagi ada sedikit masalah, jadi bapak pulangnya agak lama dari ibu.” Jawab Bi Asni.
“Hmmmm.”
“Ishh Mas Raka.. kok cuma hmm sihh, gimana Mas nggak mau tinggal di sini lagi? Nggak kasian sama ibu?” Tanya Bi Asni lagi.
“Bi.. Raka bukannya nggak kasian sama Mama.. Tali Raka juga masih butuh waktu Bi, Raka nggak bisa tinggal di sini terus dengan bayang - bayang masa lalu. Raka belum bisa memaafkan Mama dan Papa Raka Bi.” Jawab Raka lalu duduk di sofa kamarnya.
“Yaahh.. iya deh Mas Raka.. Bibi cuma ngasih tau Mas Raka aja soal gimana keadaan Ibu. Tapi Mas Raka sayang kan sama Ibu sama Bapak?” Tanya Bi Asni lagi.
“Bi Asni banyak nanya nih ihh. Udah ah, Raka mau pulang. Besok kerja lagi.” Ujar Raka berdiri mengambil satu berkas yang ada di mejanya.
“Ihh jawab dulu Mas Raka? Sayang kan sama Ibu dan Bapak?” Tanya Bi Asni penasaran.
“Iyaa iyaa Raka sayang kok sama Mama sama Papa Raka Bii.. Raka seperti ini bukan berarti Raka udah nggak sayang sama Mama dan Papa Raka.. Raka cuma butuh waktu sendiri saja kok Bi.” Jawab Raka.
“Alhamdulillah Ya Allah.. kalau sama Bibi sayang nggak Mas?” Tanya Bi Asni lagi menggoda Raka.
“Nggak.. nggak sayang hahahah..” kata Raka sambil tertawa.
“Ohhh awas yah Mas Rakaaa.. Bibi pulang kampung aja deh.” Seru Bi Asni.
“Hahahah jangan donggg.. Raka sayang kok sama Bibi, sayang bangeetttt.” Kata Raka sambil merangkul Bi Asni.
Ibu Fara yang diam - diam mendengar percakapan Raka dan Bi Asni sangat senang mendengar jawaban Raka. Dan sangat senang bisa mendengar Raka tertawa lagi, meskipun Raka tertawa saat sedang tidak bersamanya.
Ibu Fara cepat - cepat turun kembali ke ruang tamu, sebelum di lihat oleh Raka. Setelah mengambil barang di kamarnya Raka dan Bi Asni juga turun ke ruang tamu kembali.
“Udah?” Tanya Ibu Fara.
“Udah.. aku pulang dulu.” Jawab Raka.
“Kamu nggak mau makan dulu? Mama buatkan makanan yah nak?” Tanya Ibu Fara lagi.
“Nggak usah, aku sudah makan.”
“Ehhh buatin dong tanteeee.. Andika lapar banget ini, kita belum makan kok tante, dari tadi kerja terus. Yahh tante yahh.” Teriak Andika dari luar. Timing kedatangan Andika sangat pas, Andika sengaja membuat Raka tinggal lebih lama lagi di rumahnya.
“Apa - apaan Lo, dari mana datangnya? Udah kita makan di luar aja.” Kata Raka cetus.
“Tanteee.. Assalamualaikuummm.. maaf yah Andika main masuk aja, soalnya pintunya terbuka, terus tadi Andika udah manggil - manggil tapi nggak ada orang. Jadi Andika masuk aja heheh.. Hai bi Asni makin awet muda aja nih.” Seru Andika mencairkan suasana.
“Walaikumsalam.. Nak Andika sudah lama sekali yahh kamu baru kesini.” Balas Ibu Fara.
“Mas Andika juga makin guantengg pooolll.” Seru Bi Asni.
“Hehe.. iya tante..” kata Andika sambil senyum - senyum.
“Ya udah Mama masakin yah, ayo bi kita buatkan makanan yang enak.” Ujar Ibu Fara melihat ke arah Bi Asni.
“Nggak usah.. aku sama Andika makan di luar aja.” Kata Raka.
“Aduhh gue laper banget tauuu.. tante nggak lama kan? Ini aku nggak di kasih makan, kerja terus dari tadi. Sekarang jadi kelaparan hikss.. ayo tantee, Bibi.. Andika bantuin yahh.” Seru Andika sambil menggandeng Ibu Fara dan Bi Asni berjalan cepat menuju dapur.
Raka sangat kesal dengan Andika, tapi Raka tidak bisa berbuat apa - apa karena dia datang bersama Andika. Raka pasrah menunggu diruang tamu karena perbuatan Andika yang sengaja membuat Raka untuk tinggal lebih lama lagi di rumahnya.
“Makasih yah Andika. Tante tau kamu sengaja ngelakuin ini untuk Tante.” Ujar Ibu Fara, satu tetes air matanya sudah membasahi pipinya.
“Ishh tante kok nangis sih. Jangan nangis dong, Andika jadi merasa bersalah nih.” Kata Andika.
“Mas Andika memang the best pokoknya.” Celetuk Bi Asni sambil memotong - motong sayur.
“Nggak kok tante.. Bii.. Andika tau pasti Raka juga kangen sama masakan tante, cuma dia nggak mau bilang aja.” Kata Andika menghibur Ibu Fara.
“Gimana Raka dikantor nak?” Tanya Ibu Fara.
“Tante nanyain apanya nih? Keadaannya Raka atau sikapnya Raka tante?” Tanya balik Andika.
“Eh iya tante.. tadi tuh ada kejadian heboh di kantor, si Zara tetangga tante yang di sebelah ini ngelamar di kantor tante, terus pas ketemu Raka eh mereka berdua malah bertengkar di kantor.” Kata Andika berbisik.
“Zara? Zara yang di sebelah? Kok bisa?”
“Iya tante.. Raka kan marah banget sama Zara, tante masih ingatkan dulu mereka sempat bertengkar juga. Eh, bukan bertengkar sih, si Rakanya ajakan tante yang marah sama Zara dulu?” Tanya Andika.
“Ya Ampun.. soal yang dulu? Iya sih dulu memang Raka sangat marah sama Zara. Tante ingat sekali kejadian itu meskipun sudah kurang lebih lima tahun berlalu.” Ujar Ibu Fara.
“Memangnya Mas Raka sama Mba Zara bertengkar kenapa mas Andika?” Bisik Bi Asni.
“Bi Asni kepo juga yah hahaha.. hmm.. Kayaknya Raka kaget aja tadi pas ngeliat Zara, jadi terbawa emosi. Raka bahkan mengusir Zara tante, parah banget sih. Sampai di liatin satu kantor.” Jelas Andika.
“Hah? Masa sih? Terus gimana? Kasian sekali Zara? Ini semua gara - gara tante. Tante yang membuat sikap Raka jadi seperti itu.” Ujar Ibu Fara kakinya mulai lemas. Ibu Fara teringat akan kejadian meninggalnya Rivka.
“Hushh ibu nggak boleh ngomong seperti itu lagi. Itu bukan salah ibu ataupun salah bapak. Semuanya sudah jalan yang terbaik yang di berikan Tuhan bu.” Kata Bi Asni memegangi ibu Fara.
“Iya tante.. jangan berfikir seperti itu, kita semua nggak ada yang tau gimana rencana Tuhan. Nanti pasti Raka akan baik sendiri kok tante. Memang cuma perlu waktu yang lebih aja.” Kata Andika yang ikut menenangkan Ibu Fara.
Ibu Fara masih di bayang - bayangi rasa bersalah terhadap meninggalnya Rivka, Ibu Fara berfikir bahwa yang di katakan Raka saat hari kemarian Rivka ada benarnya, dia merasa sangat bersalah.
Setelah Andika menceritakan semua yang terjadi di kantor, Ibu Fara dan Bi Asni menyajikan makanan untuk Raka dan juga Andika. Akhirnya Raka makan bersama dengan Ibu Fara karena Andika menahannya untuk pergi.
Tidak lama kemudian suara mobil Pak Gibran terdengar. Raka selesai makan langsung mengambil kunci mobil dari tangan Andika.
“Jangan berani - berani Lo nahan gue lagi.” Bisik Raka mengancam Andika.
“Iya - iya.” Sahut Andika. Andika takut kalau Raka akan marah lagi di rumahnya saat itu.
Pak Gibran keluar dari mobil dan melihat Raka yang baru saja keluar dari pintu rumahnya.
“Raka.. kamu sudah lama nak? Kamu sudah mau pulang?” Tanya Pak Gibran sembari berjalan masuk.
“Ada papa kamu nak.. apa kamu nggak mau tinggal sebentar lagi?” Tanya Ibu Fara pelan.
“Raka mau istirahat.” Jawab Raka.
“Raka masuk dulu lagi nak, papa mau ngomong sama kamu. Sudah lama kita tidak bertemu Raka.” Kata Pak Gibran memegang pundak Raka.
“Aku harus pulang, banyak kerjaan yang harus ku selesaikan.” Kata Raka tanpa melihat ke wajah Pak Gibran.
Andika yang berada di situasi itu, tidak tau harus berbuat apa. Andika tidak mau ikut campur lagi, karena sudah di beri peringatan oleh Raka tadi.
“Sebentar saja Raka.. kamu juga bisa istirahat di sini kan nak?” Kata Ibu Fara.
“Aku tadi sudah tinggal untuk makan sama mama. Aku nggak bisa tinggal lebih lama lagi, ada banyak hal yang harus Raka selesaikan.” Ujar Raka.
“Raka.. tapi papa mohon kamu datang ke sini lagi, papa kangen sama kamu, kapan kita bisa makan malam bersama lagi?” Tanya Pak Gibran.
“Nanti.” Jawab singkat Raka.
“Ayo Andika. Aku pulang.” Kata Raka sembari berjalan menuju mobil Andika.
“Tante.. Om.. Andika pamit yahh, makasih banyak makan malamnya tante. Nanti aku bujuk Raka lagi untuk kesini.” Bisik Andika.
“Iya makasih banyak Andika. Sehat - sehat yah, salam buat orang tua kamu.”
Saat sebelum Raka memasuki mobilnya, Zara mendatangi rumah Raka membawa cake coklat buatan Mamanya untuk Ibu Fara.
“Assalamualaikum.. permisiiii..” teriak Zara dari balik pagar.
“Walaikumsalam..” balas Bi Asni yang baru saja keluar untuk sampah.
"Walaikumsalam.. Zara sini masuk nak..” teriak Ibu Fara.
"Bi ini bawa masuk dulu yah.. ntar Zara masuk." Ujar Zara sambil memberikan cake coklat yang di bawanya ke Bi Asni.
"Siap mba Zara cantik."
Semua langsung melihat ke arah Zara.
Zara melihat Raka, dan Raka melihat Zara. Mereka saling bertatapan tanpa mengatakan sepatah katapun. Andika lagi - lagi tidak ingin membuat suasana semakin panas, ia hanya memberikan senyuman ke Zara.
“Ohh.. Lo masih ada di sini yah? Kirain udah pulang dari tadi.” Tanya Zara ke Andika. Tapi karena Andika dan Raka berdiri berdekatan, jadi Raka mengira dia yang di tanya oleh Zara.
“Ohh? Hah? I.. i..” Raka tidak menyelesaikan ucapannya karena di potong oleh Andika.
“Iya nih, baru aja mau balik. Habis makan malam sama tante.” Jawab Andika.
“Ohh ya udah hati - hati yahh.. sampai ketemu besok.” Ujar Zara.
Raka sangat malu langsung mengalihkan pandangannya, berbalik ke pintu mobil.
====