Cindy yang berada di tengah - tengah Raka, Putra, dan Bianca juga menjadi canggung.
“Eheemm.. kenapa bertanya seperti itu Raka? Itu kan udah lama banget, dan sekarang juga Zara udah bahagia kan sama kamu.” Kata Cindy mencoba mencairkan suasana.
“Maaf yahh Cindy.. gue nggak bermaksud apa - apa, gue penasaran aja kenapa Bianca merebut pacar temannya sendiri saat itu, kalau nggak mau di jawab juga nggak apa - apa kok. Gue cuma mengungkapkan pertanyaan yang gue pendam semenjak kita pertama kali ketemu. Dan dengan bangganya kalian memamerkan kemesraan kalian di depan Zara, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun kepada Zara.” Jelas Raka lalu berdiri dari kursinya dan menghampiri Zara yang keluar dari pintu toko dengan beberapa papper bag di tangannya.
“Ihh apaan sih tuh orang !!! Nggak jelas banget, ngapain coba dia ngomong kayak gitu? Maksudnya apa? Mau membuat gue merasa bersalah atau gimana? Ihh kok gue jadi kesel gini sih.” Seru Bianca sambil memukul sedikit meja di depannya.
“Nggak usah di fikirin dehh.. Raka orangnya emang kayak gitu, suka ngomong tanpa mikirin apa yang di rasain sama orang lain.” Kata Cindy.
“Tapi kan—“
“Udahlahh beb.. biarin aja dia mau ngomong apa, nggak usah di bahas lagi, toh dia juga nggak mungkin nanya kita lagi. Pacarnya udah datang, udah sibuk pasti itu. Nggak akan ngulang pertanyaannya lagi.” Kata Putra kemudian berpindah tempat duduk di samping Cindy dan merangkul Cindy.
“Ihh tetep aja aku nggak suka beeibbb.” Seru Bianca.
“Hahah.. Lo kenapa sih Bi.. kenapa lo nggak suka? Emangnya ada yang salah sama pertanyaannya Raka? Nggak ada kan? Lo emang ngerebut Putra dari Zarakan? Lucu banget sih Lo sampai nggak mau mengakuinya seperti itu.” Ucap Cindy sambil meminum minumannya.
“Ahh.. kok Lo sama aja sih sama Raka Cin.. Lo belain gue kek. Lo kan temen gue.” Ucap Bianca.
“Gimana gue mau belain Lo Bi.. kan emang itu kenyataannya , masa iya sih gue ngomong kalau yang apa yang barusan di omongin Raka itu nggak bener.” Jawab Cindy sesekali melihat Zara dan Raka yang benar - benar seperti sepasang kekasih.
“Kenapa apanya yang nggak bener?” Kata Andika yang tiba - tiba datang dengan grasak - grusuk di samping Cindy.
“Ihh ngagetin aja sih.” Seru Cindy menjauh dari Andika.
Andika yang penasaran dengan ucapan Cindy, duduk di samping Cindy dan mempertanyakan ulang pertanyaannya.
“Nggak ada apa - apa kok Andika. Nggak usah kepo deh. Bukan urusan Lo juga.” Seru Cindy.
Sementara Raka sibuk dengan belanjaan - belanjaan yang di oleh Zara.
“Kok nggak nelvon sih kalau udah selesai? Baju saya gimana? Kan mau di bayar.” Kata Raka sambil mengambil belanjaan Zara di tangannya.
“Udah aku bayar dong.. nggak apa - apa kan, kan udah ada gaji yang udah di bayar sama kamu. Itung - itung aku traktir kamu, karena udah bantuin aku pura - pura jadi pacar aku.” Jawab Zara.
“Ya Ampun.. nggak usah kayak gitu deh, sini berapa total baju - baju saya tadi.” Tanya Raka.
“Iihh di bilangin nggak usah. Udah aku bayar, udah yuk ke sana gabung sama yang lain.” Kata Zara menunjuk meja yang di tempati Cindy, Bianca, Andika dan Putra.
“Hmm.. ya sudah kalau kayak gitu, makasih yahh.. ntar saya ambil aja bajunya yah. Kasih ingat saya kalau udah sampai di hotel.” Kata Raka.
“Iyaa.. tenang aja.. kalau kamu lupa juga nggak apa - apakan rumah kita juga sebelah - sebelahan, kantor kita juga sama. Dan aku sekertaris kamu, jadi nggak ada alasan kamu nggak ambil baju ini. Hehe.” Kata Zara lalu berjalan ke meja Cindy.
Raka mengikuti langkah Zara, dan berjalan berdampingan dengan Zara.
“Ada apa? Kenapa dengan Andika?” Tanya Raka yang datang bersama Zara.
“Duduk sini Zara, saya pesankan minum dulu yah.” Sambung Raka.
“Sssttt.. nggak usah di bahas lagi.” Kata Putra.
“Emang ada apa?” Tanya Zara yang juga penasaran dengan Apa yang cindy dan yang lainnya bahas.
“Ini nihh tadi Raka nanya ke gue kalau kenapa gue bisa ngerebut Putra dari Lo.” Jawab Bianca dengan wajahnya yang kesal.
“Lahh ternyata masih ngebahas itu yah.” Kata Raka berbalik dari counter pesanan.
“Iyaalahh !!! Lo mau tau kan alasannya, jadi gue tetap mau membahasnya, biar Lo puaaaass !!!” Seru Bianca.
“Hahaha.. nggak usah kyak gitu, kok Lo marah sih.” Seru Raka tertawa dengan tatapan sinis ke Bianca dan Putra.
“Raka kenapa kamu nanya ke mereka? Kan bisa nanya ke aku.” Kata Zara.
“Nggak.. saya mau tau aja alasannya dari mereka, sapa tau aja alasannya lebih bisa di terima sampai Bianca mau ngerebut pacar temannya sendiri.” Kata Raka yang lagi - lagi sengaja memojokkan Bianca.
“Raka dengar yahh.. Lo jangan ngomong kayak gitu, ini semua juga bukan salah Bianca semua, gue yang salah.” Kata Putra.
“Terus apa dong alasannya? Jelasin dong. Gue pengen tau.” Kata Raka.
“Raka kenapa sih, nggak usah di bahas - bahas lagi. Ini sudah lama.” Kata Zara.
“Nggak.. nggak apa - apa Zara.. gue juga pengen kasih tau kok, kenapa Putra bisa jatuh ke pelukan gue.” Kata Bianca.
“Sayang nggak usahh yahh.” Kata Putra sambil memeluk Bianca dari samping.
“Yaudah jelasin kalau kayak gitu. Gue pengen denger.” Seru Raka dengan membawakan minuman untuk Zara.
“Makasih yah Raka sayang.” Ucap Zara dengan memberikan senyuman ke Raka.
“Aduuuhh jadi obat nyamuk lagi gue di sini.” seru Andika.
“Nggak kok, nihh buat Lo juga .. Lo belum pesen juga kan?” Tanya Raka dengan membawa satu minuman lagi di tangannya.
“Makasih yahh sahabatku yang paling gue sayang.” Seru Andika.
“Iyyuuhhhh.. kalian berdua juga kayak orang pacaran tau nggak sih !! Jijik.” seru Cindy.
“Ya udah mau denger alasan gue nggak? Kalian mau dengerkan cerita gue, Cerita cinta segitiga gue bersama Putra, Zara dan gue?” Tanya Bianca.
“Hmm silahkan Bianca, gue juga sebenarnya pengen denger alasan Lo , yang nggak sempat gue tanyakan dulu.” Ucap Zara.
====