“Lah kenapa jadi tegang muka kalian berdua? Kan cuma pendapat gue aja. Hahah kenapa sih kalian berdua ini.” Seru Bianca.
“Ahh nggak kok.. Zara saya minum yahh, dikit aja.” Kata Raka lalu mengedipkan satu matanya ke Zara.
“Iyaa.. silahkan sayang.. tapi jangan banyak - banyak yahh.” Kata Zara membalas ucapan Raka dengan senyuman manis di wajahnya.
“Aduh.. nih orang makin ada aja kelakuannya. Ternyata bisa genit juga. Gue kira cowok sedingin Raka nggak akan bisa menunjukkan sikap seperti itu.” Batin Zara.
Raka, Andika, Cindy, Bianca dan Putra menikmati minuman beralkohol tersebut sambil menikmati beberapa cemilan yang di suguhkan oleh Cindy. Zara juga ikut menikmati cemilannya tapi tidak dengan minumannya.
“Jadi gimana ini kapan kalian nikah?” Tanya Bianca ke Raka dan juga Zara.
Buuuurrrrrrr (Zara menyemburkan minuman yang ada di mulutnya.)
“Zaraaaa !!!! Basahkan baju gue.” Seru Andika sambil membersihkan baju yang ia pakai.
“Sorry - sorry Andika.. gue nggak sengaja, aduh maaf yah. Sini gue bersihin.”
Zara segera mengambil tisu untuk mengelap baju Andika. Tapi saat tangan Zara ingin menyentuh baju Andika, Raka langsung menarik tangan Zara untuk menghentikannya.
“Nihh bersihin sendiri. Kamu nggak usah bersihin, Andika bisa sendiri kok.” Seru Raka lalu melemparkan tisu yang di pegang Zara ke perut Andika.
“Hahah biasa aja dong !!! Gue nggak akan curi kesempatan dalam kesempitan sama pacar Lo !!!” Seru Andika.
“Kenapa dengan pertanyaan gue? Hahah kok Lo langsung kaget gitu sih Zar?” Kata Bianca sambil meneguk minumannya.
“Yah gimana nggak kaget, pertanyaan Lo kayak gitu. Lo duluan aja deh, gue sama Raka masih lama.” Jawab Zara.
“Loh kenapa masih lama? Nggak ada yang tau kan, siapa tau aja kalian tiba - tiba nyebar undangan.” Kata Bianca lagi.
“Nggak lah.. lo duluan aja sama Putra, kan Lo sama Putra udah pacaran bertahun - tahun, udah waktunya untuk menikah. Apalagi yang kalian tunggu.” Kata Zara.
“Gue masih fokus sama karir gue di modeling, dan gue belum mau jadi ibu rumah tangga, belum mau jadi ibu muda yang harus tinggal di rumah ngurusin anak. Aduuuhh bukan gue banget itu.” Jawab Bianca.
“Loh kan semua istri memang seperti itu Bianca. Terus Lo mau yang bagaimana?” Tanya Cindy.
“Yahh gue pokoknya masih pengen have fun sama hidup gue yang sekarang. Kalau gue nggak sepenuh hati juga, jadinya rumah tangga gue nanti nggak akan bagus kedepannya untuk gue.” Jawab Bianca lalu menatap Putra yang santai saja mendengar jawaban dari Bianca.
“Yahh.. ada benernya juga sih. Kalau masih ingin fokus sama hidup sendiri, yah jangan ambil keputusan untuk menikah, yang ada Lo akan setengah hati dalam mengurus rumah tangga Lo.” Kata Zara.
“Apa Lo setuju sama Bianca Putra? Apa Lo nggak pengen nikah dulu juga?” Tanya Cindy.
“Gue sih.. terserah Bianca aja siapnya kapan, kalau mau besok yah besok juga ayo hahah.” Jawab Putra.
“Nahh.. itulah yang gue suka dari Putra. Dia selalu mendukung apa yang gue mau. Dan nggak pernah maksain kemauannya sendiri hahah.” Kata Bianca.
“Iya dong beeiiibb.. itu karena aku sayang sama kamu. Makanya aku kayak gini, dan kita juga harus selalu saling support biar nggak ada salah satu dari kita yang egois. Biar hubungan kita sehat.” Kata Putra.
“Puufftttt.” Cindy tertawa mendengar apa yang baru saja di katakan Putra.
“Kenapa Lo ketawa Cindy?” Tanya Bianca.
“Nggak.. gue teringat sama temen gue dulu. Mereka juga pacaran, dan katanya juga mempunyai hubungan yang sehat. Tapi itu semua cuma di depan kita - kita aja, di depan teman - temannya aja. Tapi di belakang mereka ngelakuin hal yang nggak - nggak. Padahal masih pacaran, dan emang mereka terlihat sangat harmonis bak sepasang suami istri hahah.” Jawab Cindy.
Cindy mengingat bahwa dulu ada salah seorang temannya yang berpacaran, yang di depan teman - temannya terlihat baik - baik saja, tapi saat mereka hanya berdua mereka melakukan hal yang seharusnya belum mereka lakukan sebagai seorang kekasih.
“Maksudnya bak sepasang suami istri?” Tanya Zara.
“Aduhh Zara.. Lo pakai nanya lagi, Lo tau kan hubungan suami istri kayak gimana?” Kata Cindy.
“Hah? Yang seperti itu?”
Cindy mengangguk pelan.
“Terus apa mereka saat ini masih sama - sama?” Tanya Zara.
“Pasti udah pisah kan Cin?” Seru Andika.
“Kok Lo tau sih?” Tanya Cindy.
“Iyaalahh .. dari ketawa Lo tadi itubsudah memandakan kalau temen Lo itu udah nggak sama - sama lagi.” Jawab Andika.
“Kok Ada yahh orang - orang yang seperti itu? Yang mau hubungan seperti itu tapi belum nikah. Heran gue.. apalagi yang cewek, udah tau cowok suka janji - janji palsu, masih aja di kasih. t***l banget sih.” Jelas Andika sambil memakan kue bolu khas Bali yang ada di depannya.
“Yahh begitulahh.. itulah orang - orang yang termakan akan namanya cinta. Cinta yang buta.” Kata Cindy.
“Terus Lo juga bakal ngelakuin itu nggak kalau misal nih yahh Lo udah ngedapetin Raka.” Tanya Andika
“Hahaha udah gila yah Lo.. nggak lahh, ngapain gue kayak gitu, cuma orang - orang yang nggak berpendidikan yang akan ngelakuin hal bodoh seperti itu. Iyaa nggak Bii??” Tanya Cindy melirik Bianca.
“Iyaa lahh.. gue sama Putra nggak akan ngelakuin hal gila kayak gitu, kita berdua masih tau batasan mana yang harus kita lakuin dan mana yang nggak harus kita lakuin.” Jelas Bianca.
“Wahhh gila juga yah, kalau kayak gitu. Ngelakuin hal yang seperti itu tapi ujung - ujungnya nggak sama - sama sampai mereka nikah. Kalau udah nikah dan pisah sih nggak apa - apa, tapi itu masih pacaran. Parah sih.” Kata Zara.
“Makanya Lo jangan sampai tergoda sama Raka kalau sampai dia minta Lo ngelakuin hal yang nggak - nggak. Hahahah.” Ujar Andika.
“Sialan Lo !!! Gue bukan orang yang seperti itu.” Seru Raka.
“Hahahah iya - iyaa.. bercanda gue, gue tau Lo kok. Lo yang sedingin es nggak mungkin ngelakuin hal yang membara. Hahahah.” Ujar Andika lagi.
“Wahh kali ini gue setuju sama Lo Andika hahaha.” Kata Cindy.
====