Chapter 43

2011 Words

“Ini kenapa ya, Van?” tanya Bram. Meskipun akrab dengan Bayu, lelaki itu tetap merasa berdebar bila dipanggil seperti ini ke ruangannya. Pasalnya semenjak bekerja disini, Bram tidak pernah dipanggil langsung oleh Bayu untuk masuk ke ruangannya. Dipanggil ke ruangan CEO seperti ini membuat Bram merasa heran dan berdebar. Meskipun ia dipanggil bersama Devan sekali pun.   “Paling makan siang bareng,” ujar Devan terdengar santai.   “Pantesan lo bilang nggak usah bawa bekel. Lo juga nggak bawa bekel.”   “Itu tadi karena Elsa lagi sibuk ngurusin Andra.”   Bram pun memilih hanya mengangkat bahunya acuh.   Begitu pintu lift terbuka, Devan kemudian melangkah keluar. Langkahnya terdengar tegas dan lelaki itu terlihat santai.   Seorang resepsionis rupanya telah menanti mereka dan langs

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD