Sosok yang berbeda

1215 Words
“Jangan nge bantah ya Clarissa, kamu mau kita bertiga masuk penjara? lagian kalau kamu mau nikah sama tuan samsul, hidup kamu enak. Dan enggak bakal lama, bisa aja dia udah di panggil duluan nanti," ujar sonya. “Tapi Risa enggak mau mah,Risa punya masa depan Risa punya pacar mah beda sama si Amelia itu. Udah kolot masa depan suram,"cibir nya. “suut diem mama enggak butuh penolakan kamu,kalo kamu enggak mau nikah sama samsul mama kasih kamu pilihan." “mama jangan aneh-aneh deh ma." “Enggak aneh, mama cuma minta pacar kamu lunasin hutang kita. Atau kamu bawa Amelia untuk di nikahi tuan samsul." “Terus papa gimana?" “Kita bakal sewa orang hebat buat selamatin papa," ujar sonya. “Tapi biayanya mahal mah," keluh Clarissa yang tidak habis pikir dengan ide sang mama, padahal kondisi keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja. Adijaya di Instrogasi perihal kasus Amelia, adijaya di anggap telah meresahkan, membuat keributan, memaksa seseorang untuk mengikuti kehendak nya, juga atas kepemilikan senjata api. Atas semua itu akhirnya adijaya di tahan untuk penyelidikan lebih lanjut, dan untuk Clarissa juga sonya dibebaskan karena kurangnya bukti. “Akhhh sial-sial," teriak adijaya sambil memukul dinding ruangan yang dia tempati saat ini. “Awas kamu Amelia, akan saya buat hidup kamu lebih sengsara daripada ibu kamu itu. itu janji saya," gumam nya dalam hati. ☘️☘️☘️☘️☘️ Abah tak kuasa menahan tangis nya saat melihat anak angkat nya kembali pulang kepada mereka, “kamu jangan pergi lagi ya nak abah khawatir," ucapnya dengan tatapan sendu. “Iya abah, abah sehat kan selama jihan pergi?” tanyaku . “Alhamdulillah abah sehat nak , tapi abah sakit lihat kamu seperti ini." Matanya yang sudah tak secerah dulu menatap ku dengan tatapan sendu , air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. “Setega itu ayah mu nak," abah terus menyeka air matanya prihatin karena ayah begitu nekat melukai ku. “Azam jangan sampai pak adi bebas, abah benar-benar tidak ikhlas anak abah diperlakukan seperti ini," pintanya pada mas azam. “Ya allah, begitu besar nikmat mu. beruntung nya mas azam dan mbak Fatimah memiliki ayah seperti beliau, namun, aku juga beruntung bisa menjadi bagian dari mereka meskipun hanya saudara angkat." “Sudah sudah," aku melirik mbak Fatimah yang kini tampak tersenyum dari sebalik cadar nya. “Abah mau makan apa biar Fatimah buatkan?" tawarnya. Abah menatap ku, “nak bolehkah kamu membuat abah nasi goreng," pintanya. Memang abah sangat menyukai nasi goreng buatan ku. Namun, abah harus mengurangi makanan berminyak karena bisa membuat batuk nya kambuh. Aku melirik ke arah mbak Fatimah meminta persetujuan darinya, dan ia mengangguk. “Baiklah bah tunggu sebentar ya jihan buatkan." ☘️☘️☘️☘️☘️ “Setelah makan kita akan bicara ya, mbak mau ngomong sesuatu," kata mbak Fatimah saat ia menata piring di meja. Kami semua mengangguk, “baik mbak" jawabku. Setelah makan dan semua beres aku dan mas azam tidak diperkenankan pergi dari sana. “Ada apa mbak?" ujar mas azam. “Mbak ingin kalian segera menikah, bukan begitu bah?" jawabnya melirik abah. Abah mengangguk, “iya nak lebih cepat lebih baik, lagian kalian sudah mengenal lama kan? Sepertinya tidak perlu jika harus di tunda lagi," ujar nya. “Nanti azam pikirkan lagi ya mbak," jawabnya membuat ku menatap nya heran. “Kenapa mas?" Tanyaku. “Tidak ada, sebaiknya pernikahan di pikirkan matang-matang daripada menyesal akhirnya," jawabnya dengan tatapan lurus. Aku mengernyit mendengar nya, “bukankah semua itu sudah di pikirkan? bahkan sudah hampir 6 bulan, kenapa harus di pikirkan lagi?" “Azam permisi." Mas azam berlalu masuk ke dalam kamar menyisakan kami yang terbengong melihat nya. “Dek kamu jangan khawatir," mbak Fatimah merangkul diriku dan menenangkan ku, “azam hanya kaget mendengar kamu hampir di nikahkan," ujarnya lagi. ☘️☘️☘️☘️☘️ Hari ini seminggu setelah pasca kejadian itu aku sudah melakukan kegiatan di pesantren seperti biasanya. “Angel," sapaku pada salah satu sahabat yang ada di pesantren ini. Angel yang tengah memasak berbalik menatap ku , “kenapa jihan?" “Masak apa?" tanya ku sambil melirik ke arah kompor yang sedang menyala. “Oh ini tumis kangkung sama sambal," ucapnya sambil menunjukkan masakan milik nya. Aku menyenderkan tubuh di meja dapur umum, hal itu membuat angel melirik ke arah ku. “Kenapa ada masalah?" Ujarnya sambil meletakkan hasil masakan nya di meja. Aku menggeleng karena tak tahu ada apa dengan diriku. Namun, semenjak bicara terakhir kali dengan mas azam rasanya sudah tidak terlalu bersemangat. “Wahh berarti bakal ada yang nikah dong, kira-kira kita bakal di undang enggak ya?" ujar dua orang santri yang asik berbicara saat masuk ke dalam dapur. Kami saling berpandangan mendengar itu , apalagi setelah mendengar ada yang ingin menikah. “Maaf siapa yang menikah?" tanya angel. “Oh itu si mbak Rahma masak mbak enggak tahu kan se angkatan," jawab mereka. Aku menatap angel yang kini juga menatap ku dengan raut wajah bingung, “bagaimana mungkin informasi sepenting itu bisa kami lewatkan?" “Dapat kabar darimana?" tanya ku. “Eh mbak jihan juga enggak tahu? Hari ini mbak Rahma udah pulang ke kampung nya baru aja tadi naik kendaraan umum," jawab mereka. Semakin tercengang kami pasalnya Rahma tak pamit sama sekali , bukan berharap ingin di undang. Tapi, selayaknya sebagai santri sepertinya kurang layak jika seperti itu. “Aneh," gumam angel. Aku tak terlalu memusingkan hal itu mencoba berfikir positif, mungkin saja Rahma ada keadaan mendadak tiba-tiba jadi tidak sempat berpamitan. “Yasudah aku balik ke rumah dulu ya," pamit ku pada angel yang kini sedang menyuap nasi. Angel hanya mengangguk karena mulutnya sudah penuh dengan makanan. Aku berjalan menyusuri kawasan santri untuk bisa sampai di rumah kiyai. “Nah ini orang nya," ujar mbak Fatimah saat aku baru saja tiba di depan rumah. “Ada apa mbak ?" “Kami sedang bicara soal pernikahan kamu jihan," ucap mbak Fatimah antusias. Mendengar hal itu aku langsung melirik mas azam yang sedari tadi hanya diam dan fokus pada handphone nya. “Azam," panggil mbak Fatimah. “Kenapa mbak?" “Kamu setuju kan rencananya tadi? Tak apa ini demi kalian, berikan saja uang itu pada keluarga jihan. Setelah itu kalian tak perlu pusing soal masalah itu lagi," ujarnya. “Uang apa mbak ?" “Ah benar mbak lupa memberitahu mu dek, jadi begini," ujar mbak Fatimah sambil merubah posisi duduk nya untuk berhadapan dengan ku yang ada di samping nya. “Ayah kamu ngirim pesan dia bakal lepasin kamu kalau kamu bisa ngasih dia uang 500 juta," ucapnya. Sontak ucapan itu membuat tubuh ku mematung. jangankan memberi, melihat saja tak pernah. lalu harus dengan apa memberikan uang itu? “Jangan berikan mbak," jawabku memberikan keputusan. “Tidak nak," tak apa abah langsung memotong ucapan ku, “abah bisa menggadaikan sertifikat tanah dan rumah semoga saja mereka mengabulkan pinjaman kita," ujarnya. “Kamu setuju kan zam?" ujar mbak Fatimah melirik sang adik yang hanya diam tak berkutik . “Azam terserah pada kalian saja, permisi azam masuk dulu." Mas Azam masuk ke dalam kamar tanpa memberikan saran atau apapun, padahal ini menyangkut hubungan kami kedepannya. Abah dan mbak Fatimah saling pandang, dalam pikiran abah bertanya – tanya kenapa anaknya menjadi dingin seperti itu, “apakah karena cemburu? Apalagi sekarang abah hendak menggadaikan rumah dan tanah untuk jihan." “Yasudah kamu masuk saja mbak mau masak dulu," ujar mbak Fatimah menghilangkan kecanggungan yang sempat terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD