Di Tangkap

1341 Words
Teriakan itu sontak menghentikan ucapan ijab qobul dari pria itu, yang setelah nya dia seperti ketakutan saat melihat seorang wanita yang kini datang dengan beberapa orang laki-laki bertubuh kekar. “Jadi seperti ini kelakuan mu hah?" “Maksudnya apa kamu ingin menikah lagi begitu dasar tak tahu diri !" Dua laki-laki itu memegangi tuan samsul erat membuat nya terkunci tak dapat bergerak, setelah nya wanita itu melemparkan hidangan kue yang tersaji disana tepat di wajah tuan samsul. “Mau nikah lagi aja sok – sok an kamu, kalau memang mau nikah lagi minimal punya harta ya kamu. udah numpang hidup sekarang kamu malah mau bawa wanita lain," berang nya. “Mah enggak gitu mah ini permintaan adijaya, "ujarnya menatap ayah. “Dia minta anaknya di nikahi untuk menutup aib," jawabnya . “Bohong!" teriak ku. Kini semua mengarahkan pandangan padaku, “dia berbohong saya disini di paksa untuk menikah dengan laki-laki ini untuk melunasi hutang," teriak ku. Pak Penghulu nampak melirik ke arah ayah, “apa benar pak?" Ujarnya. “Anda tidak perlu tahu nikahkan saja mereka," titahnya. “Bawa semua perhiasan dan seserahan itu ke mobil, itu di beli dengan uang saya artinya itu milik saya. sekarang kalau ingin menikah silahkan, saya juga tidak mau mempertahankan laki-laki kere seperti ini," tunjuk nya pada tuan samsul. “Dan soal hutang," ujarnya melirik ayah. “Anda tetap harus membayar meskipun anak anda menikah dengan mantan suami saya ini, karena uang yang dia berikan pada Anda adalah milik saya." Beliau pergi dari sana setelah mengacaukan semua acara, membawa semua perhiasan seserahan bahkan mengacak acak dekorasi sederhana yang telah disediakan. Clarissa dan tante sonya berteriak histeris karena seserahan berisi uang dan emas itu di bawa pergi. “Maaf saya tidak bisa menikahkan mereka karena disini ada unsur paksaan, apalagi menyangkut mempelai wanita yang tidak setuju. Dan dalam islam memang tidak ada menikah karena hutang," ujar sang penghulu dan langsung pergi membuat ayah emosi luar biasa. “Ini semua karna kamu, memang dasar tidak tahu di untung," tante sonya mendorong ku hingga jatuh dari kursi yang ku duduki, bahkan dia kembali mengeluarkan sumpah serapah dari mulut nya itu. “Pokoknya kita harus menikah saya tidak mau rugi untuk kedua kali," ujar pak samsul. Ayah dan pak samsul mendekat ke arah ku yang kini terduduk di lantai. “Bawa saja dia, terserah kalian mau menikah atau tidak aku tidak perduli. Tapi, aku mau kamu memastikan hutang ku lunas," ujar ayah. Aku langsung bergerak cepat mengambil pisau buah yang tergeletak sembarang arah karena perbuatan istri tuan samsul tadi. “Angkat tangan!" Aku mengacungkan, pisa* ke arah leher ku sendiri. “Heh kamu gila," maki tante sonya. “Iya saya gila, dan itu disebabkan dengan kalian. Sekarang kalian pilih membebaskan saya atau saya akan benar-benar menekan pisa* ini, dan kalian akan menjadi tersangka setelah ini." “Heh mana bisa begitu, kamu harus taat pada perintah orang tua Amelia. Jangan bertindak bod*h," maki ayah. “Kau, cepat pesankan sekarang taxi, " pada Clarissa. “Kau Amelia," geram ayah membuat gigi nya gemertuk. “Letakkan pisau itu atau aku akan meledakkan kepala mu Amelia," teriak nya. “Silahkan, dengan begitu anda sendiri yang menjebloskan diri anda ke dalam jeruji." “cepat tunggu apa lagi? kenapa lelet sekali? apa aku harus berteriak agar semua orang di komplek ini tahu? " aku menatap Clarissa yang hanya diam tanpa melakukan apa yang ku suruh. Tak lama kemudian datang segerombolan orang yang heboh di luar pagar, tak heran kawasan ini ramai meskipun kawasan elit tapi tidak ada jarak rumah sama sekali. Rumah mereka di bangun dengan satu pembatas dinding. “Cepat, atau aku benar-benar menggoreskan leher ku dan warga itu yang menjadi saksinya," sengaja aku mengeraskan suara ku berharap tetangga yang di luar mendengar. “Pesankan Clarissa," titah tante sonya. Aku terus dalam mode waspada, gila mereka benar-benar tidak punya hati dan perasaan, entah apa salahku hingga harus menjadi bagian dari mereka. Tin tin Aku bergerak jalan mundur tetap mengawasi ayah yang sedari tadi memegang pistolnya. Saat aku keluar ternyata mereka semua adalah rombongan ibu-ibu . “Neng kenapa pegang pisau, eh kamu siapa kenapa ada di rumah pak adi?" ucap mereka bersamaan. “Saya anaknya dan pisau ini untuk perlindungan diri, pak adi ingin menjual saya." Aku segera masuk setelah mengatakan itu, saat aku berbalik aku melihat para tetangga itu masuk ke dalam pekarangan ayah, sepertinya ingin klarifikasi. ( kediaman adijaya) “Pak apa benar yang tadi itu anak pak adi? Terus ibunya mana pak?" tanya mereka penasaran. “Oh anu itu hanya salah paham," ujar adi kikuk bisa habis dia jika para masyarakat tahu bagaimana perangai nya sebenarnya. “Loh ini kok berantakan ruang tamunya pak, habis di acak-acak gitu," sahut yang lainnya membuat mereka menatap adi penuh selidik. “Bapak ini siapa? Eh bapak mau menikah?" Mereka melihat Samsul yang kebingungan sendiri disana, sedetik kemudian samsul berbisik pada adi kemudian melangkah pergi. ““Ibu-ibu sudah ya ini benar-benar hanya salah paham dan untuk wanita tadi itu..... anu," sonya mengelus tangan nya dan gugup dia bingung harus mengatakan apa. “Udah pak jujur aja, jangan buat komplek ini resah pak," desak mereka. “Dia anak pembantu saya yang meninggal dulu, ingat kan namanya Amelia yang dulu sering main sama dio bu ," jawab adi sambil melirik ke arah ibunya dio. “Oh itu saya ingat, tapi bukannya setelah ibunya wafat dia itu kabur ya pak, kok malah disini sekarang?" “Heh sudah-sudah kenapa kalian jadi seperti polisi saja, kami ini tidak ada salah apapun mereka tadi ingin menikah. Dan kami berinisiatif membantu pernikahan sederhana nya disini," bela Clarissa. Mereka mengangguk, “baiklah kami permisi maaf mengganggu waktunya," mereka pamit menyisakan keluarga adi yang kini bernafas lega. ............................................ Aku tiba di pesantren ternyata disana sudah banyak orang berkerumun. “Terimakasih ya pak," ujarku menyerahkan uang pecahan 50 ribu pada sopir. “Loh mbak kenapa disini?" Aku melirik ke arah suara, ternyata ada adik tingkat ku disana. “Ini ada apa dek kok rame ada acara? Nah itu saya kaget mbak, itu polisi datang kesini kabar nya sih mau nyari mbak, eh malah mbak sekarang disini," ujarnya. Aku langsung berlari setelah mendengar penuturannya, assalamu’alaikum . “Ya allah dek," teriak mbak Fatimah yang sedari tadi duduk di pojokan. “Mbak ini kenapa mbak?" tanyaku mengurai pelukan nya. “Mbak inisiatif buat nyari kamu dek, mbak enggak tenang waktu ayah kamu bawa kamu." “Mbak bisa minta keterangan nya sebentar?" ujar salah seorang polisi. Aku mengangguk dan menarik mbak Fatimah untuk ikut masuk ke dalam. Aku di tanya seputar apa yang terjadi, dan apa saja yang mereka lakukan padaku. Dan aku tentunya tidak menutupi aku menceritakan segalanya, bahkan aku menunjukkan perban yang masih basah karena lukanya belum kering. “Ya allah nak jadi kamu di lukai ayahmu?" Abah panik bukan main melihat kondisi ku, apalagi saat para aparat itu menyarankan aku untuk pergi ke RS, sekedar mengecek kondisi takutnya ada keretakan tulang. “Baiklah pak terimakasih atas bantuan nya," ujar mas azam menyalami para aparat. Mereka pergi keluar dari pesantren dan akan segera memproses kasus ini. ☘️☘️☘️☘️☘️ “Lepas pak!" teriak adijaya. “Silahkan duduk pak adijaya tolong kooperatif dengan kami," ujar petugas. Adijaya di bawa ke kantor pihak berwajib bersama dua orang lainnya, yaitu Clarissa dan sonya yang saat itu berada di tempat. Sonya dan juga Clarissa terus melirik ke sekeliling yang tampak jeruji besi yang berisi beberapa orang dalam satu tempat. “Enggak kebayang mah kalau kita di tahan disini," ujar Clarissa. “Mama juga enggak mau, pokoknya kalian harus cari cara buat lunasin hutang itu," pinta sonya. Mendengar hal itu Clarissa menatap mama nya, “kenapa jadi kami sih mah? Yang make uang itu kita bersama.Jangan kami aja dong di suruh tanggung jawab, mama lupa mama minta mobil sama papa? terus mama lupa minta berlian mikir dong ma," teriak nya. “Tolong tenang," teriak petugas. “Udah kamu sekarang mikir, ingat ya risa kalau kamu enggak bisa bantu mama buat nangkap si Amelia itu. Mama mau kamu yang nikah sama tuan samsul," putusnya tidak bisa di protes. “Mama gil* ?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD