Pernikahan

1435 Words
Aku memuntahkan bubur itu tepat mengenai tangan Clarissa yang dari tadi memaksa membuka mulut ku. Dasar kurang aja* pyar Clarissa dengan tega menuangkan bubur itu ke atas kepala ku, tampak kepuasan tergambar jelas di wajahnya. jika bukan karena kaki ku sakit, aku sudah berdiri dan menarik rambut panjang itu. Aku memang belajar di pesantren, tapi aku bukan orang yang akan diam saja saat ada yang menindas ku. mungkin itu terdengar tak baik karena kita tak boleh memusuhi orang yang membenci kita, seharusnya kita harus baik pada mereka agar mereka tahu akan kebaikan dan mau berubah. Tapi ini beda, kesakitan yang ku alami selama ini membuat ku menjadi seorang wanita yang sedikit keras, keras pada tempatnya seperti saat ini. Menurut ku terlalu baik tak membuat efek baik, malah menimbulkan keburukan yang berakibat fatal seperti bunda ku. Dia rela di madu , rela menjadi pembantu diam ketika di siksa dan hingga ajal menjemput nya, dia tetap masih berada dalam tekanan manusia tak berhati ini. “Ayo keluar Risa, biarkan saja anak ini disini. Sebentar lagi pak samsul akan datang, selamat jadi istri kedua ya," ucapnya sambil tersenyum sinis dan pergi. “Ya allah bagaimana ini, tak mungkin aku bertahan disini," gumam ku mulai panik. Aku melirik ke sekeliling gudang ini rapat bahkan tak ada celah untuk bisa melarikan diri. Mataku terfokus pada lemari tua, aku menyeret kaki ku mendekati lemari itu. ah pantas saja aku kenal, lemari ini milik bunda. Aku terus menyeret tubuh ku mencari celah yang tepat untuk bisa keluar dari dalam gudang ini. “Bukankah gudang ini dulu memiliki satu jendela? Tapi dimana pikir ku." Aku berteriak saat tak sengaja kaki ku menyenggol barang, Akk astagfirullah ini sangat sakit rintih ku. Aku terus memaksakan diri untuk dapat berdiri dengan menjangkau celah yang mampu menahan berat tubuh ku. “Ya pasti disini," gumam ku saat pengintip ke celah belakang lemari . “Bismillah" Aku mendorong sekuat tenaga lemari itu, semoga saja belum di pasang tralis jika tidak habislah aku. “Dia ada di dalam!" “Deg? Siapa itu apakah itu calon yang mereka katakan tidak aku harus lari dari sini." Aku berlari sekuat tenaga, menghindari kejaran anak buah ayah setelah aku berhasil melompat dari lantai dua itu. rasanya kaki ini seperti ingin terlepas dari tempat nya. Huh huh deru nafas ku kian tak beraturan, lelah dan tak sanggup kini membuat aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Aku melirik kesana kemari, aman tidak ada siapapun disini setidaknya aku bisa beristirahat sejenak. “Kenapa jadi seperti ini hiksss, aku memukul d**a ku untuk sekedar mengeluarkan sesak yang menghimpit disana. Apa salah ku ya Tuhan," ujarku. “Kenapa, kenapa tak engkau ambil saja nyawa ku? Kenapa harus aku yang merasakan ini? Aku tak sekuat itu hiks hiks." "Bunda, ajak aku bersamamu kenapa bunda meninggalkan ku. lihat aku tak bahagia semua orang selalu meminta ku untuk sabar, lalu hingga kapan bunda hingga kapan aku harus bersabar? Tak adakah bahagia ku sedikit saja, aku tak setegar yang mereka kira aku hanya berpura-pura kuat menjalani takdir yang tak adil ini." Aku meraung di kegelapan malam, bak seorang anak kecil yang kehilangan mainannya. hatiku pilu sakit perih hancur tak tergambarkan rasanya, di usia ku yang 25 tahun ini, kenapa rasanya kebahagiaan itu semakin tak ada.apa salah ku sebenarnya? Aaaaaaaaa aku benci pada diriku!! Jihan !!! Aku berbalik saat seseorang memanggilku. Ya Tuhan mereka menemukan ku. Aku langsung berlari saat melihat anak buah ayah menemukan ku, “berhenti jihan!" teriak mereka. “Tolong tolong," aku terus berteriak meminta tolong berharap ada orang yang mendengar ku, rasanya aku sudah tak sanggup untuk berlari dengan kondisi kaki seperti ini ya Tuhan tolong berikan pertolongan. Brakkk Akkkk Aku tersungkur terjerembab ke atas tanah setelah kayu besar itu menghantam tubuh ku dari depan. Masih dapat ku dengar suara mereka yang tertawa, karena berhasil melumpuhkan ku saat ini. “kita bawa, gila ini cewek udah kaki cidera aja tenaga nya masih kuat," ujar mereka. ☘️☘️☘️☘️ “Heh bangun !" Aku gelagapan saat ada air yang di siram secara kasar tepat di wajahku, saat aku melihat ternyata pelakunya adalah Clarissa. “Bangun!" bentak nya. “Lepaskan saya," teriak ku sambil mencoba melepaskan ikatan di kaki dan tangan ku. “Bisa enggak sih lo diem hah? Mau lo apa? Bebas gitu? Asal lo tahu aja lo itu udah di jual buat hutang," ujarnya sembari tertawa meremehkan. “Kalian tak berhati," teriak ku. “Terserah, masih untung papa masih bawa dokter kesini buat ngobatin kaki lo itu," ucapnya sambil melirik kaki ku. Mendengar hal itu spontan aku langsung melirik ke arah kaki ku yang kini sudah berbalut perban. “Mana ayah saya mau bicara! " “Udah kayak orang hebat aja lo, udah diem ya jangan sampe gue emosi, gue cincang lo disini," ancam nya. Clarissa pergi dengan enteng nya, padahal bagaimana pun aku ini adalah kakaknya tak adakah rasa kasihan dan prihatin sedikit saja untuk ku? “Bagaimana ini sudah pasti aku tidak bisa keluar," gumam ku. Ceklek Ayah datang dengan tatapan tak enak di pandang, “apa yang ingin kamu bicarakan?" ujar nya dingin sambil duduk di salah satu kursi kayu berhadapan dengan ku. “Tolong lepaskan saya!" Dia tersenyum sinis, “melepaskan kamu sama saja melepaskan uang, sudahlah lagian kamu akan menjadi perempuan kaya. ya meskipun jadi istri kedua, hahahahaha," ujarnya tertawa renyah. “Anda mengatakan bahwa saya bukan anak anda, lalu apa ini? Anda memaksa saya berbakti atas dasar apa?" Ayah menghisap rokoknya, “dasar apa ya?" Ujarnya sambil seolah sedang berfikir. “Ckk, kamu orang miskin enggak bakal ngerti apa yang tengah saya lakukan. intinya apapun saya lakukan demi uang, anggap saja kamu membayar hutang saat kamu dulu saya beri makan." “jika pun Clarissa saya jodohkan seperti ini pasti saya akan mencari laki-laki muda dan kaya. Jika tua bangkotan seperti itu lebih baik untuk kamu saja." “Apa salah kami?" Ucapan itu terlontar saja dari mulut ku, aku ingin tahu kenapa dia begitu membenci ku. Dia menatap ku, “kamu mau tahu?" “Ya jelaskan apa salah ku dan ibuku," jawabku. “Karena ibu kamu miski* , bod*h sok alim dan kamu anak yang tidak saya harapkan," ucapnya singkat. “jika anda tidak mengharapkan saya, lantas kenapa anda berbuat seperti itu pada ibu saya. Tidak mungkin saya akan lahir di dunia ini tanpa ada andil dari anda!" “Sudahlah tidak perlu berlagak sok al*m." “jadi apa hubungan anda dengan ibu saya, katakan!" “Ya tidak ada, entah kenapa saya suka ketika melihat ibu kamu meneteskan air mata. Dan ingat ya Amelia, jangan sampai karena kamu menolak keinginan saya nasib kamu akan sama dengan ibu kamu itu. " “apa maksud anda?" “kamu mau tahu?" “Ya katakan apa yang selanjutnya ?" “Saya memperkos* ibu kamu, hahahahahaha dan asal kamu tahu kamu itu hasil dari perbuatan itu," prok prok prok. Dia bertepuk tangan seolah apa yang barusan dia katakan adalah sebuah kehebatan, padahal sama sekali tidak ada hebat nya perbuatan itu. Aku menatap nya nyalang, benci dan marah bercampur satu. kini aku tahu status ku memanglah tidak bernasab padanya, aku mengira dulu dia hanya mengucapkan saja, namun nyatanya itu adalah sebuah fakta. “Anda tidak memiliki hak apapun atas saya karena saya adalah anak tak bernasab," ucapku. “Kamu kira saya perduli? saya hanya butuh kamu menikah dengan samsul, dan setelah itu hutang saya beres. mau kamu tak bernasab itu bukan urusan saya, siapa suruh ibumu itu dulu bod*h mau saja di jebak." “Anda tak bermoral!" teriak ku namun, tak di hiraukan malah kini dia tersenyum bahagia seolah sudah berhasil membuat ku seperti ini. “Nih rias dia," tunjuk Clarissa ke arah ku. Aku menatap Clarissa yang langsung masuk setelah kepergian ayah, namun tidak sendiri melainkan bersama seorang wanita yang membawa kotak besar yang entah berisi apa. “Ada apa ini kenapa kamu seperti seenaknya pada saya?" Ujarku. “Apa sih lo ribut banget, nurut sekarang lo mau nikah ya meskipun sebenarnya enggak perlu pake ginian segala. Tapi yah gitu, gue juga ngasi ini sebagai ucapan Terima kasih lah ya mau gantiin gue jadi istri si pak tua," katanya. Mataku berembun, tak percaya sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri dari pria yang sama sekali tak aku kenali. Aku pasrah tak lagi melawan ucapan Clarissa, aku lelah jika ini menjadi takdir ku maka aku terima. “Ini bajunya mbak tolong di pakai ya," ujarnya dan aku hanya membalas nya dengan anggukan . Tak berselang lama hanya polesan tipis yang dia berikan, kini aku duduk di atas kursi kayu tepat berada di belakang laki-laki yang kini berhadapan dengan wali hakim. “Saya Terima nikah dan kawin nya Amelia binti Siska dengan mas kawin Berhenti!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD