Di bawa pulang

1329 Words
Perih, sangat perih tapi tak sehancur melihat bunda di sakiti oleh nya. Mas azam menarik ku hingga tepat berada di belakang tubuhnya, “Anda jangan coba-coba bermain kekerasan disini," teriak nya. “Kalian tak becus mendidik putri saya," teriak nya tak tahu malu. “Seharusnya anda yang mendidik anak anda, bukan malah membuangnya. cepat pergi dari sini atau saya akan melaporkan anda pada pihak berwajib," ucap mas azam. Dia diam tak menjawab namun, “Cepat kamu ikut ayah Amelia atau isi kepala mu akan keluar sekarang," ujarnya sambil mengarahkan pistol ke dekat kepala. Aku diam mematung tak menyangka akan hal ini, ayah benar-benar manusia ambisius yang akan melakukan apapun demi tujuan nya. Dia menarik ku paksa lalu menyeret secara kasar hingga beberapa kali kaki ku tersandung oleh kerikil yang tajam. “Buka gerbang nya!" teriak nya. Namun, tak ada yang mau membukakan gerbang mereka semua berdiri di depan gerbang. Aku masih sempat melihat mas azam berlari ke arah ku, pria yang menjadi abang angkat ku selama 15 tahun itu terlihat sangat khawatir saat ini. aku pun sama, aku takut tak dapat bertemu dengan mereka apalagi sebentar lagi aku akan menikah dengan nya. “Buka gerbangnya! " Teriakan abah terdengar memberikan perintah pada para santri yang berjaga di gerbang , akhirnya dengan berat hati aku melihat mereka membuka gerbang itu dengan tatapan sedih ke arah ku. “Masuk,"ucapnya mendorong ku kuat masuk ke dalam mobil mewah milik nya. Aku menatap jendela tak menghiraukan ucapan kasar yang terlontar dari mulutnya. Aneh sekali, dia yang membuang ku dia juga yang kembali mencari ku. Tak lama hanya sekitar 1 jam aku telah tiba di tempat aku di lahirkan, tak banyak berubah dari tempat ini hanya penghuninya saja yang berubah. “Akhirnya papa pulang Clarissa takut pa," ujar seorang wanita memeluk laki-laki yang membawa ku ini dengan erat. “Ini siapa?" Ujarnya sambil melirik ke arah ku dengan tatapan intimidasi. “Dia Amelia sayang dia yang akan membantu kita," jawabnya sambil mengelus kepala anak nya itu dengan lembut seperti ingin menunjukkan dimana posisi ku saat ini. Oh jadi dia Clarissa, bocah kecil dulu itu kini sudah beranjak dewasa. “Yasudah ayo masuk," ucapnya girang. Mereka berjalan bergandengan masuk ke dalam rumah, meninggalkan diriku yang berdiri di sebelah mobil layaknya seperti sopir. “Cepat ikut,"ucapnya tanpa menoleh, ah memang seperti pembantu. “Sayang aku pulang! " sambil memeluk istri nya yang sangat cantik meski usianya telah lanjut, sangat beda dengan bunda ku dulu, wajarlah dia di fasilitasi dengan uang. “Dia?” “Iya dia Amelia, sudah kamu tidak perlu khawatir sebentar lagi kita akan terbebas dari hutang ini. Dan Clarissa tidak perlu kita nikah kan dengan tuan samsul. " Hatiku perih seperti di sayat dan di basahi oleh perasan cairan asam mendengar penuturan itu, jadi inikah alasannya dia datang hanya demi menyelamatkan anak nya, dan mengorbankan anak nya yang lain? Ya Tuhan apa yang ku harapkan,dari dulu dia tidak pernah menginginkan ku jadi rasanya mustahil bila kini dia mencintai ku. “Maaf tuan, saya mengikuti anda kemari bukan berarti saya mau mengikuti perintah anda. Jangan membahas cara berbakti pada saya, sedangkan anda sebagai orang tua lalai akan tanggung Jawab. Dan parahnya anda adalah manusia yang menyebabkan ibu saya tiada." “Terus kamu mau apa? Berontak? Lapor polisi? Ingat ya Amelia apapun yang saya inginkan pantang untuk tidak saya dapatkan, termasuk menjadikan kamu alat untuk mendapatkan uang." “Dasar laki-laki tak bermoral," teriak ku. Tak tak tak Hell’s cantik itu berjalan menghasilkan bunyi yang khas saat menginjakkan kaki di sebuah lantai marmer, Mata itu menatap ku lurus dengan senyuman sinis yang terlihat jelas. “Kamu tidak akan kemana pun Amelia, karena kamu akan segera menikah. kamu bangga kan di jodohkan dengan orang kaya? Pasti bangga dong kan dari dulu miskin," cibirnya. Wanita itu mengelus pucuk kepala ku seolah aku ini adalah seorang anak kecil , namun ucapan nya layak nya dia sedang berbicara pada seorang musuh besarnya sekarang. Aku menepis halus tangan mulus itu, “saya lebih bangga jadi orang miski* namun kaya akan tanggung jawab nyonya," jawabku sambil melirik ke arah pria yang kini sedang bersenda gurau dengan putri tercinta nya. “Cihh anak kecil tahu apa? mas kamu kurung aja deh," ucapnya sambil melirik ke arah suaminya, ternyata kalau udah takdir miskin tetap aja tingkahnya miskin, “Dengar ya Amelia, kalau kamu nikah sama tuan samsul hidup kamu berubah. Enggak bakal miskin, pakaian kamu yang kolot ini bakal berubah," ucapnya sambil membolak-balikan tubuhku. “Apakah mata anda sakit nyonya melihat saya? jika sakit maka coba ganti mata anda, tidak ada yang perlu di ubah dari cara berpakaian saya. Karena inilah manusia modern, bisa berubah dari yang zaman dulu tidak berpakaian kini bisa berpakaian lengkap, jadi anda tahu kan siapa disini yang modern dan ketinggalan zaman?" Aku berbalik badan jengah menanggapi semua sandiwara ketidakjelasan mereka. Pyar ! Akkk astagfirullah. Aku terkelungkup saat benda keramik itu menghujami kaki ku, “sakit sekali ya allah." “Kan sudah saya bilang, kamu nurut kenapa harus bandel? Kamu kira saya tidak berani menyakiti kamu begitu?" Sini, pria bergelar mantan ayah itu menarik ku seperti barang, aku di seret masuk karena tak dapat berjalan melewati lorong rumah yang luas itu dan masuk ke dalam sebuah gudang. “Kamu tunggu disini, sebentar lagi calon suami kamu datang. kalian akan menikah, dan setelah itu kamu tidak perlu mengakui saya keluarga. karena saya pun enggan mengakui kamu sebagai anak," ucap ayah sambil menepuk wajahku dan tertawa renyah. “Tidak , anda jangan seenaknya saja. Anda sendiri yang membuang saya!" aku berteriak tepat di depan wajahnya. “Melawan kamu ya!" dia menarik ikat pinggang milik nya dan langsung memukul tepat di kaki yang terkena pecahan itu. Cetarrr Suara menggema keluar saat ikat pinggang itu bersentuhan dengan tubuh ini, sakit perih sudah menjadi satu. Dia menatap ku dengan tatapan emosi, nafasnya memburu, “kamu itu nurut kenapa? sudah untung saya menikahkan kamu dengan orang kaya, supaya hidup kamu tidak selalu miskin seperti ibu kamu itu," berangnya. “Jangan bawa ibu saya dalam hal ini, dimana pikiran dan nurani anda hah! saya ini anak anda, bukan musuh yang harus di lenyapkan. jika anda memang membenci saya maka bunuh saja saya sekarang!" “Saya tidak suka kamu menyebut dirimu anak saya bod*h, anak saya hanya Clarissa hanya Clarissa," teriak nya. Ingat ya Amelia saya bisa lebih jahat daripada ini jika kamu tidak menuruti keinginan saya. Cetarrrrr Aakkkk Ikat pinggang itu kembali mengenai bagian tubuh ku tapi kali ini tepat berada di wajahku. Aku menutup wajahku sakit, meskipun aku menggunakan cadar. Namun, kain tipis itu tidak bisa menahan pukulan itu. Sakit, lirih ku. “Dasar bod*h," umpat nya sambil menonyor kepala ku. Tak lama setelah kepergiannya masuklah ibu dan anak itu seraya membawa makanan di atas nampan. “Nih makan," ucap wanita bernama Clarissa itu. Aku melirik ke arah nampan itu tampak bubur yang warnanya sudah aneh, dan baunya juga aneh itu mereka hidangkan untuk ku. Basi, itulah kondisi bubur itu saat ini. Aku menatap mereka, “apa kalian kekurangan uang sehingga harus makan dengan makanan basi?" “Ya tentu enggak lah, ucap Clarissa sambil meniup-niup kuku tangan nya. Lo aja yang makan itu, kalau kita mah makan nya ayam. enggak level kalo bubur apalagi Cuma bubur nasi," cibirnya dengan lirikan sinis. “Saya tidak mau makan, silahkan bawa saja mungkin kalian butuh karena kekurangan uang," ujarku sambil mendorong nampan itu. Tampak mata ibu tiri ku itu melotot, “heh kamu itu di kasih hati minta jantung ya," Şrek dia langsung menarik cadar ku hingga penutup wajah yang sudah lama ku gunakan itu terlepas. “Percuma pakai pakaian alim ot*k minim," katanya sambil menonyor kembali kepala ku. “Kenapa tidak kalian saja yang makan? kalian butuh uang kan makanya ingin menjual saya? kalau butuh uang jangan mubazir jangan suka buang makanan," ujarku membuat wajah keduanya merah padam. “Makan ini makan," teriak nya sambil memaksa mulut ku untuk terbuka. Mereka terus memaksa ku memakan bubur basi itu sampai beberapa sendok masuk, namun aku tidak menelan nya. Huekkk
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD