“Oke besok aku buang siapa tahu ada yang mau mungut," ucap adijaya seketika.
Mata Amelia yang sedari tadi menahan air yang sudah berbendung kini akhirnya luruh juga karena ucapan itu, dia tak masalah apabila wanita bernama sonya itu memarahinya. Namun, jika itu ayahnya sendiri rasanya hancur hatinya tak berbentuk.
“Kemaskan barang kamu sumpek saya liat wajah miskin kamu itu," ucap sonya pongah.
Amelia berjalan kecil memasuki kamarnya yang selama ini menjadi tempat tangis dan tawa dirinya bersama sang bunda, sayangnya dia harus menangis seorang diri sekarang. Bila dulu mereka saling menguatkan jika sekarang Amelia harus menguatkan dirinya sendiri, tak ada sandaran yang bisa di jadikan tempat keluh kesah.
(Pagi)
“Heh,bangun. kamu kira ini hotel bisa tidur seenaknya,cepat! enggak sudi saya rumah ini kotor karena ada kamu,"maki Sonya saat membangun kan Amelia.
“Nih bawa," ujar Siska sembari meletakkan tas berisi pakaian Amelia dengan kasar.
“Enggak perlu pake makan, kebutuhan pokok mahal dan disini cuma ada kebutuhan buat keluarga bukan pembantu."
Amelia diam namun matanya tertuju pada sang ayah, berharap ada sedikit belas kasihan namun nihil.
Pagi itu adijaya benar-benar menepati janjinya, dia membawa Amelia keluar kota, menuruti keinginan sang pujaan hati yang sudah di nikahi secara siri, apalagi juga sudah memberikan buah hati padanya.
“Turun," ucapnya dingin.
Tak ada bantahan keluar dari mulut kecil Amelia, dia turun mengambil tas nya dan menutup pintu mobil dengan sopan.
Heh! panggil adijaya.
Amelia menoleh mendapati sang ayah yang kini menatapnya penuh benci tak ada raut wajah bersalah, kasihan, takut kehilangan tak ada, hanya ada wajah pongah yang sangat tercetak jelas disana.
“Saya ingin mengatakan suatu hal padamu, ingat baik-baik kalimat ini.Tanamkan di ot*k kamu yang tidak seberapa itu," ujarnya mengetuk kening amelia.
“Mulai hari ini saya bukan ayah kamu, dan kamu bukan anak saya. saya tidak mau suatu saat jika kamu belum ma*i, kamu mencari saya hanya untuk menjadi wali nikah. Saya tidak mau karena nasab mu ada pada ibumu," ucapnya.
Mata Amelia kembali basah dia tak mengerti semua ujaran adijaya, namun melihat ekspresi sang ayah dia paham kalau adijaya tak mau kalau Amelia mencari nya, apapun kondisinya.
“Baik ayah," jawabnya sopan.
Amelia mengulurkan tangannya berharap sang ayah mau memberikan usapan lembut untuk terakhir kalinya, sebagai perpisahan kenangan mereka. Namun nihil, adijaya berbalik badan dan masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.
Amelia berjalan kecil, sambil mengangkat tas berisi pakaian kurang layak pakai, yang dia bawa dari rumah sang ayah.
Amelia duduk di pojokan tempat sampah, menatap orang yang berlalu lalang, dan sesekali melirik ke arah tempat pembuangan di sebelah nya. Berharap ada orang baik yang mau membuang makanan sisa disana.
“Lapar," lirih nya memegang perut yang sama sekali tidak terisi dari semalam.
Tak lama berselang ada seorang pria yang membuang kotak khas brand makanan ayam kriuk, setelah sedikit menjauh dan melihat tidak ada hewan yang suka menggerogoti sampah. Amelia langsung mengambil kotak itu dari tempat sampah yang baunya sangat menyengat itu.
"Alhamdulillah, setidaknya ayam nya masih ada. kulit dan tulangnya," gumamnya melihat ayam yang tadi di makan pria asing tadi masih memiliki kulit dan tulang.
Dia makan begitu lahap bahkan sampai orang-orang di sekitarnya menatap nya heran, mungkin pemulung itu, gumam mereka.
“Loh adek lagi makan apa?"
Amelia menghentikan aktivitas nya sesaat ada seorang wanita yang menegurnya.
Ini, Amelia menunjukkan tulang itu pada wanita di hadapan nya.
“Ya allah, ikut kakak ya kita makan nasi," ujarnya.
Amelia mengangguk dan ikut bersamanya.
☘️☘️☘️☘️
( 15 tahun berlalu )
“Keluar, keluar kamu Amelia!"
Aku yang tengah membasuh wajah di toilet santri putri menajamkan pendengaran ku berharap apa yang aku dengar itu salah.
“Amelia!"
Teriakan itu semakin jelas ku dengar, Amelia?
Aku memakai cadar ku dan lekas keluar dari sana ingin melihat Siapakah yang sedang mencari perempuan bernama Amelia itu?
Tak ada niat turun ke bawah seperti para santri yang lain, aku fokus berdiri di lantai dua sambil melirik ke bawah.
“Kurang ajar kalian cepat berikan anak ku, teriak nya kembali."
Aku melihat para ustadz dan santri begitu kewalahan untuk membuat dirinya tenang.
Aku turun dengan tatapan biasa seolah tak ada masalah yang akan ku hadapi, aku menatap pria yang kini semakin histeris itu aneh, kenapa dia mencari Amelia bukankah dia yang membuang Amelia?
“Jihan kamu darimana?" ujar ustadzah Fatimah orang yang pertama kali menemukan ku.
“Saya dari toilet ustadzah," jawabku sopan.
Aku kembali menatap pria itu nafasnya memburu tanda dia benar-benar lelah setelah mengamuk.
Matanya menatap lurus mengarah padaku, apakah dia mengenali ku sekarang?
Aku berbalik, tak ada niat sedikitpun ingin menyapa atau sekedar bertanya mengenai keadaannya, seperti hubungan orang pada umumnya.
Tidak, dia sudah menjadi masa lalu. dia yang menginginkan seperti ini bukan aku ataupun bunda.
“Kau putri ku! "
Deg
Apakah dia mengenal ku? Rasanya tak mungkin jika dia mengenal ku.
Aku kembali berbalik badan menatap pria yang tega membuang anak nya itu.
“Kau benar anak ku kan? akhirnya aku menemukan mu," ujarnya tampak rona bahagia terpancar dari wajahnya.
Aneh, itulah yang kurasakan. kenapa dia bisa sebahagia itu bertemu dengan manusia yang dulu sangat dia benci ?
Dia mendekat ke arah ku. Namun, dengan sigap mas azam menahannya, tampak wajah mas azam yang menatap nya tajam.
“Jangan ganggu wanita itu jika anda masih ingin selamat," ujarnya.
“Ayo nak kita pulang adik dan mama mu menunggu mu di rumah ayo," ujarnya sambil melambai-lambai padaku.
Aku tak menjawab tak juga melangkah ke arahnya, aku hanya ingin melihat apa yang akan dia lakukan.
Ustadzah Fatimah mendekat ke arah ku, “jihan kamu kenal bapak ini?" Ujarnya melirik laki-laki itu.
Aku menatap nya lama, dulu saat dia menemukan ku dan bertanya soal nama aku mengatakan tak tahu siapa nama ku. Akhirnya ustadzah Fatimah beserta abah Kiyai memberikan aku nama jihan.
Saya tidak kenal ustadzah mungkin salah orang, jawabku.
Bukan aku tak mengakui bukan aku sombong, hatiku terlanjur hancur karena nya, dia yang harusnya menjadi cinta pertama bagiku malah menjadi luka terhebat bagi ku.
Jika boleh memilih, rasanya aku ingin dia menghilangkan ny*wa ku daripada membuang ku. Setidaknya dengan begitu aku bisa bertemu dengan wanita yang benar-benar mencintai ku.
Namun, angan tinggal menjadi mimpi. Harapan ku untuk tak lagi bertemu dengannya seperti ujarnya dulu kini hanya angin berlalu, dia telah datang menjemput ku entah untuk apa, tapi ku tahu dari raut binar wajahnya dia bahagia saat melihat ku.
Apakah kau telah menyesal mantan ayah?
Oh apakah bisa mengatakan dia mantan? Bagaimana pun aku menolak takdir dia tak akan menjadi mantan, karena ada darah yang sama mengalir dalam tubuh kami.
“Mari kita bicarakan di dalam !"
Pikiran ku seketika buyar, saat melihat ayah angkat ku pemilik dan pemimpin dari pesantren ini datang dengan berjalan tertatih menggunakan tongkat nya, karena telah sakit karena usia.
Pria itu menoleh, namun matanya kembali menatap ku, baiklah tapi setelah itu kalian harus memberikan anak ku padaku, ucapnya.
Aku tak panik, hidup ini pilihan bukan? Dan aku memilih tidak akan mengikuti kemauannya.
“Jadi saya mau membawa Amelia pulang, sudah cukup dia disini selama 15 tahun. Kini saatnya dia berbakti pada orang tuanya," ujarnya dengan tangan yang di lipat di depan d**a.
Abah menatap ku sendu, aku tahu laki-laki yang sudah menafkahi ku selama 15 tahun ini merasa sedih.
“Ayo," ucapnya tanpa basa-basi menarik ku.
“Lepas," ucapku menyentak penuh penekanan.
Dia menatap ku, “Ada apa Amelia kamu tidak rindu pada ayah? Atau mereka sudah mempengaruhi kamu untuk membenci orang tua mu," ujarnya melirik ustadzah Fatimah, abah dan mas azam.
“Tidak ada yang mempengaruhi, ini murni sikap seorang anak yang telah tersakiti. Siapapun orang nya tak mungkin akan bersikap baik-baik saja saat di buang bak sampah yang kotor."
“Pergilah tuan, ingat lah semua ucapan anda dulu yang mengatakan bahwa saya sudah tidak bernasab dengan anda. Jadi silahkan pintu keluar ada di sebelah sana," ujarku sambil menunjuk ke arah pintu keluar .
“Dengar Amelia, kamu harus taat pada perintah orang tua. Bagaimana pun orang tua mu kamu harus ikuti semua kemauannya, Lagipula perkataan tak mungkin bisa memutuskan sebuah hubungan.Sampai mati pun kamu akan tetap jadi anak saya bukan anak mereka," ujarnya sambil melirik ke arah abah.
“Setidaknya, orang yang Anda katakan bukan orang tua saya itu adalah orang yang menyelamatkan saya dari kemalangan. yang seharusnya saya dapatkan dari pria tak berhati yang ada di depan saya."
Plak!