“Tolong tolong!"
Adijaya berteriak dari luar pagar rumah membuat komplek yang tadinya sepi karena sudah malam mendadak heboh, semua keluar dari rumah ingin melihat siapa gerangan yang berteriak seperti itu.
“Kenapa pak adi?” Tanya seorang ibu.
“Itu buk itu,” adijaya berlagak seperti orang yang panik yang bicara nya tidak jelas, sambil menunjuk – nunjuk ke arah rumah.
“Ngomong yang jelas pak,"ujarnya ibu itu yang membuat warga yang lain mengangguk.
“Amelia itu Amelia membunuh ibunya."
Semua Terbengong mendengar nya, seperti tidak mungkin dan tidak ingin percaya.
“Ayo kita lihat."
Mereka berjalan berbondong-bondong masuk ke dalam rumah, dan disana mereka melihat Amelia yang terus berteriak membangunkan ibunya.
“Ih serem ya, anak kecil udah jadi psikopat.” ujar mereka berujar lirih.
"Gini nih kalo enggak jelas asal- usulnya, udah anak hara* enggak di didik lagi. Masih untung bukan pak adi yang di bunuh."
“Udah pak usir aja anak ini dari komplek kita, takutnya malah anak-anak kita yang jadi korban."
Adijaya memasang wajah sedih, “Ibu bapak jika saya mengusir anak ini siapa yang merawat nya? Kasihan dia, saya yakin ini hanya kecelakaan."
Amelia menatap adijaya dengan hati sakit, ayahnya itu benar-benar manipulatif, pintar mengambil simpati siapapun untuk keuntungan pribadi.
Para warga itu memuji adijaya, mereka terus menghardik Amelia tanpa memberinya ruang untuk membela diri, bagi mereka anak yang katanya adalah anak seorang wanita malam memanglah anak yang buruk, seperti kelakuan orang tuanya.
Padahal tanpa mereka tau bahwa orang yang mereka banggakan dan mereka puji, adalah iblis berbalut jasad manusia.
Entah apa yang merasuki adijaya, sikapnya itu bermula saat dulu ia bertemu dengan Siska wanita penurut yang sangat menjaga kehormatannya.
Adijaya berfikir mana ada wanita di dunia ini yang masih menjaga tubuhnya, hal itu membuat nya merasa tertantang akan sosok Siska.
Hingga malam itu ia menjebak Siska saat warga desa sedang mengadakan tahlilan di salah satu rumah warga.
Akibat dari perbuatan itu Siska di usir karena hamil, awalnya adijaya mau bertanggung jawab dengan menikahi Siska namun hanya siri.
Ia memboyong Siska pergi ke kota menjanjikan akan di nikahi secara negara, namun janji tinggal angan adijaya tak pernah menepati janji itu malah dia menjadikan Siska pembantu di rumahnya.
Jika ada yang bertanya perihal Siska dan Amelia padanya dia selalu mengatakan jika Siska adalah mantan seorang wanita malam.
☘️☘️☘️☘️☘️
Tak lama berselang sebuah mobil ambulans yang berisi tenaga medis dan juga polisi datang kesana.
Mereka melirik ke arah Amelia yang tubuh nya penuh akan luka dan darah yang berasal dari tubuh Siska.
“Bawa dia perintah seorang laki-laki yang memakai pakaian polisi itu."
Amelia manut dia tak melawan saat petugas polisi membawa nya, Dan juga ibunya namun mereka di bawa ke tempat yang berbeda.
“Uuuuu, sorakan keras mengiringi kepergian Amelia.
Selepas malam itu Amelia di tahan sementara di rumah tahanan karena kondisinya yang masih berada di bawah umur, apalagi kurangnya bukti membuat mereka tak yakin soal kesaksian adijaya yang mengatakan kalau Amelia yang telah membunuh Siska.
Namun, itulah kekuatan dari seorang Adijaya, kasus Amelia tak lagi di tindak lanjuti dan dia tetap menjadi orang yang di salahkan atas kepergian Siska.
Sementara itu Siska kini telah di makam kan, adijaya menolak semua saran untuk visum, dia beralibi untuk apa di visum jika tidak dapat mengembalikan nyawa Siska, kalaupun mereka menemukan pelaku dan itu bukan Amelia semua itu sudah tak ada artinya.
Mendengar hal itu semua setuju apalagi adijaya seorang pengusaha sukses siapa yang berani melawan nya, bahkan Amelia langsung di bebaskan saat adijaya mencabut laporan nya, padahal kasus itu adalah kasus besar.
“Nah kamu sekarang harus nurut perintah saya, ibu kamu itu sudah tidak bisa melindungi kamu jadi turuti mau saya sebelum saya murka paham !"
Amelia kecil hanya mengangguk patuh tanpa berkata.
Amelia kini semakin sedih hidup nya, dulu pekerjaan seperti mencuci dan memasak adalah tugas bunda nya, kini di ambil alih oleh dirinya.
Amelia tak di izinkan sekolah, adijaya mengatakan pada Amelia seharusnya Amelia sadar diri dan berterimakasih padanya, karena telah diberikan makan dan tempat tinggal.
Adijaya juga kembali menegaskan bahwa dirinya bukan ayah dari Amelia, Adijaya mengatakan pada Amelia bahwa nasab nya terdapat pada ibunya yaitu Siska.
☘️☘️☘️
““Heh Amelia," panggil Adijaya dengan nada keras.
“Iya ayah?"
“Panggil aku Tuan bukan Ayah," teriak nya.
“cepat bersihkan kamar utama, saya akan menikah dengan sonya. Dan saya mau kamu membersihkan seluruh ruangan di rumah ini, ingat jika belum bersih kamu tidak dapat jatah makan hari ini!" ancam nya.
“Tidak ayah, ayah tidak boleh menikah. Amelia engga mau punya ibu tiri yah," ujarnya untuk pertama kali menentang kehendak sang ayah.
Adijaya yang mendengar hal itu sedikit terkejut, karena tak biasanya Amelia membangkang seperti itu .
“Saya tidak butuh izin kamu, memang kamu siapa? Pembantu saja belagu kamu," cibir nya.
“Aku anak ayah!" teriak Amelia.
Adijaya menatap Amelia dengan tatapan tajam, dia bangkit dari kursi yang dia duduki dan langsung menyambar kayu rotan yang biasa dia gunakan untuk memukul Amelia.
Cetar !
“Aaa sakit ayah!" teriak Amelia.
“Kamu kira kamu siapa bisa melarang saya hah! ini hidup saya kamu hanya menumpang disini.Saya tuan kamu dan kamu adalah pembantu saya," makinya.
Hah, adijaya pergi dari sana meninggalkan Putri nya yang ketakutan akan perangai kasarnya itu, tampak bekas merah yang terdapat di tubuhnya akibat pukulan dari adijaya.
Namun itu sudah biasa, ia dan ibunya sudah terbiasa mendapatkan hal itu, namun ibunya sudah menuntaskan ujian itu kini giliran nya, giliran menunggu kapan Tuhan akan mengakhiri semuanya.
Pelan-pelan Amelia bangkit menatap sekeliling rumah untuk memastikan situasi.
“Ayah tidak ada, aku lapar" ucapnya sambil memegang perutnya yang kian berbunyi karena tak di isi dari pagi tadi karena ia hanya di jatah makan selama satu kali dalam sehari.
Dia berjalan berjingkrak takut menimbulkan suara yang membuat ayah nya tahu akan aksinya.
“Kalau mencuri sedikit makanan nya apa allah marah ya?" gumam nya sambil melirik nasi di dalam magicom.
“Amelia!"
prang!!
Teriakan itu membuat Amelia kaget hingga menjatuhkan piring yang tadi di pegang nya.
“Udah berani mencuri kamu iya," teriak adijaya berang.
“Maafkan amel ayah," ucapnya gemetar.
Adijaya tak mengindahkan ucapan sang anak dia emosi hanya karena Amelia hendak makan, padahal perut sang anak benar-benar kosong tidak di isi apapun dari pagi .
Byur
Aaa aaa, Amelia tergagap saat ayahnya itu menyiram nya dengan air es yang ada di dalam kulkas.
“Ayah dingin," ucapnya gemetar sambil berusaha memeluk tubuhnya yang kini telah basah.
“Sudah saya bilang kamu jangan makan, ot*k kamu dimana sampai tidak bisa mendengarkan apa yang saya maksud hah!"
Adijaya layak nya orang kesetanan saat ini tak perduli akan Amelia yang tubuhnya saja sekecil itu dan Sekurus itu.
Amel lapar ayah hiks, lirih Amelia.
“Mas mas!"
Adijaya melirik ke arah luar sepersekian detik tiba-tiba muncul senyum merekah di bibir nya.
“Awas kamu berani nyuri lagi," ancam nya pada Amelia.
Adijaya keluar dari kamar mandi itu menghampiri seorang wanita seksi berbadan ramping, yang kini sedang menggendong seorang bayi mungil.
“Anak papa," ucap adijaya sambil mencium bocah yang ada dalam gendongan seorang wanita bernama sonya.
Mata Amelia basah saat melihat hal itu, di usianya yang kini memasuki 10 tahun dia sudah mulai berfikir layaknya orang dewasa, dia tahu ayahnya tak menyayangi nya bukan hanya saat ini tapi juga dulu saat bunda nya masih ada.
“Heh! "
Amelia tersentak saat mendengar bentakan dari wanita itu.
“Iya tante," jawabnya takut.
“Mas kamu usir aja sih dia mas aku jengah lo ngeliat nya mual tahu enggak," ujarnya kepada adijaya dengan ekspresi jijik.
Adijaya menatap sang putri entah apa yang di pikirkan nya.