“Enggak boleh!" Mereka bertiga menoleh ke arah Rahma yang sedang makan sambil berdiri itu. “Mas kamu kan udah janji minta mbak Fatimah buat bantuin aku nyuci," katanya. Fatimah yang namanya disebut langsung menatap sang adik, “apa maksudnya?" “Eem begini mbak, azam mengelus leher nya gugup, bolehkah mbak mengajari Rahma mencuci baju? untuk sementara, karena Rahma belum mahir bisakah mbak saja yang mencuci," lirih nya malu. “Tidak!" Satu kata yang di jawab Fatimah membuat azam dan Rahma melongo. “Mbak jangan begini, azam tahu mbak benci pada azam. Tapi tolong mbak ini juga salah jihan, kenapa dia tidak mau jadi istri kedua? Jika dia mau maka Rahma dan jihan bisa bekerja sama, jihan memasak dan mencuci, Rahma yang mengajarkan ilmu di rumah ini." “Kamu sadar apa yang kamu ucapkan

