Fatimah kini masih setia duduk di sisi ranjang rumah sakit, sambil terus memanjatkan doa pada sang pemilik kehidupan. “Apakah ada perkembangan mbak?" Fatimah tak berbalik menatap seseorang yang amat dia kenali itu, hatinya terlanjur sakit saat melihat adiknya menyakiti adik angkat mereka itu. “Pergilah urus istrimu," jawabnya dingin. “Maafkan aku mbak," ujarnya sambil menyentuh bahu sang kakak. Fatimah menepis halus tangan itu, “Pergilah zam jangan memperkeruh suasana kehadiran mu tidak di butuhkan disini," Ujarnya. Kini rasa bersalah semakin menghinggapi hati azam, bukan ingin nya seperti ini tapi dia hanya mengikuti pikiran nya yang menganggap Rahma lebih pantas membersamai nya. “Baiklah mbak azam pamit tolong jaga jihan dengan baik," pamitnya. Namun, Fatimah tak menjawab

