bc

Dicintai Ugal-Ugalan Sama Ayah Mantan

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
one-night stand
family
HE
time-travel
age gap
badboy
kickass heroine
mafia
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
kicking
campus
city
secrets
affair
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Bagi Avena Ardelia Waluyo, pengkhianatan bukanlah hal baru.

Sejak kecil, ia menyaksikan ayah kandungnya menghancurkan keluarganya demi wanita lain.

Setelah itu, kasih sayang sang ayah perlahan berpindah kepada istri baru dan putri sambungnya, meninggalkan Ave hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri.

Saat mengira hidup tak mungkin lebih menyakitkan, kekasih yang dicintainya justru memilih berselingkuh dengan saudari tirinya.

Dalam satu hari, Ave kehilangan keluarganya sekaligus cinta.

Lalu, malam itu, ia memilih mengasingkan diri di sebuah hotel. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria asing yang bersimbah darah, dikejar orang-orang tak dikenal. Tanpa tahu siapa pria itu, Ave mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya.

Satu keputusan yang mengubah seluruh hidupnya.

Paginya, pria itu menghilang, begitu pula Ave.

Tak ada nama dan identitas, yang tersisa hanya kenangan akan satu malam yang tak pernah mereka rencanakan.

Hingga takdir mempertemukan mereka kembali dan Ave dibuat membeku oleh kenyataan bahwa pria yang kini mengejarnya tanpa kenal lelah, rela melindunginya dengan segala cara, bahkan tak segan mengobarkan perang demi dirinya adalah Lucien Varez.

Ayah dari mantan yang telah menghancurkan hatinya.

"Aku pernah membenci seorang ayah karena menghancurkan hidupku. Tapi, siapa sangka, aku justru dicintai habis-habisan oleh ayah mantanku."

chap-preview
Free preview
Bab 1 šŸ‡
Suara alunan biola memenuhi aula megah Kediaman Waluyo. Lampu kristal menggantung indah di langit-langit, memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal para tamu yang datang silih berganti. Para pebisnis, pejabat, hingga kalangan sosialita memenuhi pesta ulang tahun perusahaan milik Damian Waluyo. Di atas panggung, sebuah spanduk besar bertuliskan. 25 Tahun Waluyo Group Berkarya. Semua orang tersenyum dan tampak bahagia, kecuali satu orang. Avena Ardelia Waluyo berdiri di sudut ruangan mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Rambut hitam panjangnya digerai rapi, wajah cantiknya hanya dipoles riasan tipis. Ave nama panggilannya, memang cantik, tapi tak pernah berusaha mencuri perhatian. Baginya, datang ke pesta ini hanyalah kewajiban. Kalau bukan karena ibunya memintanya menjaga nama baik keluarga, Ave bahkan tak sudi menginjakkan kaki di pesta ini. "Ave." Suara tajam itu membuat bahunya menegang, ia menoleh dan mendapati Ratika berjalan mendekat sambil membawa senyum tipis yang begitu dibuat-buat. "Kenapa cuma berdiri di sini? Bukannya bantu menyambut tamu?" Ave tersenyum sopan. "Aku baru datang, Tante." Ratika langsung menghela napas panjang. "Kalau datang jangan cuma numpang makan. Belajar sedikit seperti Utami. Dia tahu bagaimana menjadi anak yang membanggakan." Ucapan itu terdengar pelan, tetapi cukup menusuk dan tanggapan Ave hanya mengangguk. Ave sudah terlalu sering mendengar kalimat seperti itu. Tak lama kemudian, Utami datang dengan gaun merah marun yang mewah, wajahnya dipenuhi senyum anggun. "Mama, Om Damian lagi nyari Mama." Ratika langsung berubah ramah. "Iya, Sayang." Sebelum pergi, Ratika melirik Ave dari ujung kepala hingga kaki. "Lihat gaunmu. Sederhana sekali. Untung tamu-tamu tidak tahu kalau kamu anak kandung Pak Damian." Ratika berlalu begitu saja, sementara Utami masih berdiri di tempat, tatapannya turun ke gaun Ave. "Kamu masih pakai model lama?" Ave menarik napas pelan. "Aku nyaman." Utami tertawa kecil dan menggelengkan kepala. "Pantas saja Papa lebih suka mengajakku ke acara-acara penting." Kalimat itu membuat d**a Ave sesak ketika Utami menyebut sebutan Papa yang sebenarnya itu adalah papanya Ave. Sudah bertahun-tahun Damian lebih sering memperkenalkan Utami sebagai putrinya daripada dirinya sendiri. Lucunya, Utami bahkan tidak memiliki setetes darah Waluyo. "Damian!" Seorang pengusaha tua menghampiri ayahnya. "Wah, dua putrimu cantik sekali." Damian tertawa bangga. "Iya. Yang ini Utami." Tangannya merangkul bahu Utami dengan penuh kasih. "Gadis yang selalu membantu perusahaan." Semua tamu memujinya. "Cantik sekali." "Anggun." "Cocok jadi penerus." Sementara Ave berdiri beberapa meter dari mereka, ia menunggu. Mungkin saja, kali ini ayahnya akan memperkenalkannya. Namun Damian hanya melirik sekilas. "Oh ... kalau yang itu … dia cuma anak saya." Senyum Damian berubah tipis. Kata ā€˜cuma’ itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan. Para tamu hanya mengangguk sambil tersenyum canggung, mereka tak ada yang bertanya lagi, seolah keberadaan Ave memang tidak penting. "Ave." Seorang pelayan menghampiri. "Nona diminta membawa minuman ke meja VIP." Ave mengernyit. "Aku?" "Iya. Pak Damian yang meminta." Tanpa berpikir panjang, Ave mengambil nampan berisi gelas-gelas wine. Baru beberapa langkah, seseorang menabraknya dari samping. Wine merah tumpah membasahi gaunnya sendiri. "Astaga!" Utami menutup mulutnya pura-pura terkejut. "Ave! Kamu ceroboh sekali!" Semua mata langsung tertuju kepada mereka. "Aduh." "Lihat bajunya." "Memalukan sekali,ā€ ujar salah satu tamu. Ave menggenggam ujung gaunnya, ia yakin barusan Utami yang sengaja menyenggolnya, namun sebelum sempat menjelaskan apa pun, Damian datang. "Avena!" Suara keras itu membuat seluruh aula mendadak sunyi. "Kamu tahu berapa harga karpet ini?" Ave menatap ayahnya tak percaya. "Yah ... bukan aku,ā€ geleng Ave. "Diam!" Damian membentaknya di depan ratusan tamu. "Kamu selalu membuat malu keluarga!" Ave menggigit bibirnya. "Yang menabrakku—" "Cukup!" Damian menunjuk pintu keluar. "Kalau tidak bisa menjaga sikap, lebih baik pulang!" Semua tamu menyaksikan kejadian itu, beberapa orang bahkan mulai berbisik. "Itu anak kandungnya?" "Kasihan." "Tapi, memang kelihatan tidak sekelas." Mata Ave mulai memanas, bukan karena gaunnya melainkan karena harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh ayah kandungnya sendiri. Di tengah keramaian itu, Utami menatapnya, lalu tanpa ada yang melihat, sudut bibir wanita itu terangkat membentuk senyum kemenangan. "Ave." Sebuah suara pelan memanggilnya saat ia berjalan menuju taman belakang, Ave menoleh. Ibunya, Serena, berdiri di sana. Wanita itu memang datang sebagai tamu undangan, bukan sebagai bagian dari keluarga Waluyo lagi. Serena memegang lengan putrinya dengan lembut. "Ibu lihat semuanya." Ave memaksakan senyum. "Aku nggak apa-apa.ā€ "Kamu bohong." Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Ave runtuh dan air matanya mulai menggenang. "Aku capek, Bu." Serena mengusap pipi putrinya. "Ibu tahu." "Apa salahku sampai Ayah membenciku?" Serena terdiam cukup lama. "Bukan kamu yang salah, Ave." "Lalu, kenapa dia selalu memilih mereka?" Serena menarik Ave ke dalam pelukannya, karena terlalu lama menahan sakit, akhirnya gadis itu menangis tanpa suara. Tangis yang selama ini selalu ia sembunyikan. Beberapa menit kemudian, Serena melepaskan pelukannya. "Kalau kamu sudah tidak bahagia di rumah itu … pulanglah ke rumah Ibu kapan pun kamu mau." Serena mengusap rambut putrinya pelan. Ave mengangguk pelan, namun ia tahu semudah apa pun ibunya membuka pintu, luka yang ditinggalkan ayahnya tidak akan pernah benar-benar sembuh. Dan, tanpa ia sadari, dari balik jendela lantai dua, sepasang mata sedang memperhatikan dirinya, yaitu Naldo Varez. Pria yang selama dua tahun terakhir menjadi kekasihnya, namun alih-alih menghampiri Ave yang sedang menangis, tatapan Naldo justru beralih kepada seseorang yang baru saja keluar dari aula yaitu Utami. Wanita itu membalas tatapan Naldo dengan senyum tipis, lalu diam-diam berjalan menuju lorong samping rumah, tanpa ragu, Naldo mengikuti langkahnya. Sementara Ave masih sibuk menghapus air mata, tidak menyadari bahwa malam itu bukan hanya harga dirinya yang dihancurkan, tapi orang yang paling ia cintai sedang bersiap memberikan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
749.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
982.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
361.7K
bc

Not just, the Beta

read
349.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook