Della berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka. Berkacak pinggang disertai kilatan murka. Menatap tajam, aku dan Bram. Dengkus napasnya menggema diiringi geram menggidikkan. Kemudian perlahan melangkah mendekati kami.
"Della .... " Aku bangkit. Beringsut ke tengah kasur. Menjauhi Bram, juga Della.
"Sayang .... " Bram mencoba menahan langkah anak gadisnya. Berdiri dan menghalangi.
"Apa yang Papah lakuin sama Lya di sini?" Mata Della membelalak hebat. "Sudah berapa kali Papah berbuat seperti ini?"
"Della, kamu ngomong apa, sih, Sayang?" Bram memegang bahu putrinya. "Papah dan Alya gak ngelakuin apa-apa, kok."
"Bohong!" teriak Della tak percaya. "Pasti kalian berdua sudah sering ngelakuinnya, kan?"
Bram menggeleng. "Enggak, Sayang. Tadi Alya pingsan, lalu Papah bawa ke sini," jawab Bram berusaha meyakinkan. "Kalo di bawa ke kamarnya, berat."
"Pingsan? Kenapa?" Della tiba-tiba menatapku penuh curiga.
Kembali Bram menggeleng. "Ya ... Papah gak tahu. Tadi tiba-tiba aja pingsan."
"Della tanya, kenapa Lya pingsan? Kenapa gak ngebangunin Della atau .... "
"Della .... " Aku ingin ikut menjelaskan, walau dengan rasa takut gadis itu akan semakin murka.
"Diam!" bentak Della sambil menudingkan telunjuk padaku. "Gue belum beres ama bokap gue! Nanti giliran elu yang gue maki-maki!"
"Della."
"Diam!"
"Sayang .... " Bram menengahi. "Lya gak salah apa pun. Dia sama sekali gak tahu apa yang terjadi setelah pingsan tadi."
Kening Della mengerut. "Jadi ... sebelumnya Papa dan dia saling bertemu? Ngobrol? Keluar kamar bersamaan? Atau ... memang sudah kalian rencanakan?"
"Della, Sayang." Bram mengusap-usap wajah putrinya. "Dengarin dulu. Papah akan jelasin--"
"Jelasin apalagi, Pah?" Della mulai histeris. "Sudah jelas Della lihat sendiri, Papah dan dia, berduaan malam-malam begini di kamar Papah. Arti macam mana yang bisa ngejelasin ... kalian berdua gak ngapa-ngapain? Atau keburu kepergok sama Della? Hohoho, kasihan sekali!"
"Della! Dengerin dulu Papah!" Suara Bram meninggi. Cengkeraman jemari di bahu Della semakin menguat.
"Tidak! Della gak mau dengerin apa pun dari Papah! Termasuk dia!" Tunjuk Della ke arahku. Tangisnya mulai pecah, disertai gerakan memberontak hendak melepas cekalan papahnya. "Della benar-benar kecewa sama kalian berdua!"
Aku merangsek mendekati Della. Bermaksud untuk ikut menenangkannya. Tapi urung melanjutkan, begitu gadis itu menoleh dengan sorot menggidikkan.
"Tenanglah, Sayang. Apa yang kamu pikirin tadi itu, sama sekali gak benar," ujar Bram masih berusaha menenangkan.
"Tidak! Della gak percaya!" teriak Della histeris. Tiba-tiba gadis itu menarik paksa bajunya sendiri. Melepas dan mencampakkannya begitu saja di depan Bram. Menyisakan balutan penutup d**a. Itu pun tak luput hendak ditanggalkan tanpa rasa malu. "Kalo memang Papah sudah gak tahan dengan kesendirian Papah, lakuin aja sama Della, Pah. Jangan sama Lya ataupun perempuan lain! Della gak terima! Della gak suka!"
"Della! Tenanglah! Sadar! Kuasai dirimu!" Bram menahan tangan Della yang hendak merenggut penutup area d**a.
"Della gak mau Papah jatuh ke pelukan perempuan mana pun! Papah milik Della! Akan selamanya menjadi milik Della!" Gadis itu berhasil menarik paksa balutan bra. Membiarkan gelantung kembar keindahan terpampang di depan papahnya. "Lakuin sama Della! Renggut kesucian anakmu sendiri, Pah! Della rela daripada Pap--"
"Della!"
PLAK! PLAK!
"Om Bram!" Serta merta aku berteriak memanggil laki-laki itu, dengan tangan menjulur hendak menggapai. Namun rasa takut akan amarah Della, menahan laju tubuh ini mendekati sosoknya.
Suara keras telapak tangan mendarat di pipi, terdengar mengiris hati. Bersamaan dengan itu, amukan Della terhenti. Gadis itu terdiam mematung sambil mengusap wajahnya yang memerah. Panas dan perih.
"Della .... " Bram menatap Della dengan tangan bergetar hebat. Suara beratnya menyerak. Seperti tertahan di ujung tenggorokan, disertai rasa perih dan mengering. "Maafin Papah, Sayang. Maafin Papah."
Buru-buru lelaki flamboyan itu meraih selimut di atas kasur, lalu menutupi d**a Della yang terbuka polos. Segera menarik tubuh putri semata wayangnya itu ke dalam pelukan. Memeluk dengan erat sambil mengelus-elus kepala.
"Papah khilaf, Sayang. Maafin Papah." Tangis lirih pun pecah dari laki-laki gagah yang selama ini kulihat tegar. "Papah menyesal."
Della masih terdiam dengan pandangan kosong. Air mata meleleh, menyusuri pipinya yang putih. Tak ada suara isak maupun jerit kesakitan akibat dua kali tamparan keras papahnya tadi. Seumur hidup, mungkin baru pertama kali merasakan. Itu pun dari orang yang selama ini dia sayangi.
"Della .... " Ingin sekali turut memeluk sahabatku itu. Mengusap air matanya. Bahkan tak akan kulepas hingga dia lupa akan peristiwa menyedihkan malam ini. Tapi ....
Tangan Bram bergerak. Memberi isyarat agar aku tak mendekat. Mungkin khawatir Della akan kembali memberontak. Karena masalahku dengannya belum sempat usai.
"Papah menyukai Alya, kan?" tiba-tiba gadis itu berucap. Masih dengan kondisi tubuh kaku dan tatapan hampa. Bram melepas pelukannya. "Apa maksudmu, Sayang?" tanya laki-laki heran.
Della tersenyum kecut. "Sejak pertama kali Alya tinggal di sini, Della sudah lama memperhatikan. Ada perasaan lain yang Papah sembunyikan."
"Perasaan apa, Sayang? Papah gak menyembunyikan apa-apa," tutur Bram sambil mengusap genangan bening di kelopak putrinya.
Terus terang, mendadak hatiku bergemuruh. Entah mengapa. Menanti jawaban Bram atas pertanyaan Della barusan. Ada asa tersembunyi dari diamku menyimak obrolan dua orang tersebut.
Della kembali tersenyum kecut. "Bohong! Papah kembali bohong!"
"Della ... lalu Papah harus ngomong apalagi?" Bram menatap lekat wajah Della. Gadis itu tak mau membalas. Pandangannya masih terarah pada satu titik. Bukan pada Bram, ataupun padaku.
"Orang yang Papah anggap sebagai anak pun, mempunyai perasaan yang sama," lanjut Della berucap. "Maksudmu Lya?" Bram melirikku.
"Siapa lagi?" Della mencibir. "Entah pesona apa yang Papah miliki, hingga hampir setiap perempuan yang mendekat, selalu menaruh perasaan yang sama. Tak terkecuali Lya. Dia juga sudah lama jatuh cinta sama Papah, kan?"
Aku terperanjat. Hampir saja beringsut mendekati Della. Lagi-lagi isyarat tangan Bram yang menahan. "Della," aku hanya bisa menyebut namanya.
"Apa yang kamu omongin ini, Sayang? Papah sama sekali tak mengerti. Papah--"
"Akting kalian berdua, payah. Buruk sekali." Della kembali mencibir. "Apa dikira Della gak punya mata dan pikiran untuk membaca bahasa mata kalian masing-masing? Jelas sekali Alya sangat menyukaimu, Pah. Dia jatuh cinta sama Papah."
"Della?"
"Papah juga begitu, kan?" Kali ini Della bersedia menatap mata Bram. "Betapa egoisnya Della selama ini, Pah. Membiarkan laki-laki tampan hidup dalam kesendirian. Puluhan tahun bukan waktu yang sebentar untuk menahan hasrat yang Papah miliki. Papah butuh pendamping hidup, kan, Pah?"
"Della ... kamu--"
"Ataukah mungkin Papah sudah memilikinya di luar sana, tanpa sepengetahuan Della?"
Bram mengalihkan pandangannya. Tak ingin beradu tatap dengan Della, hingga gadis itu sanggup membaca bias tersembunyi di balik itu. Namun bagiku justru ingin sekali mendengar sendiri. Mungkinkah laki-laki itu menaruh rasa yang sama?
"Enggaklah, Sayang. Papah ini masih seperti laki-laki yang sama, sebagaimana saat mendiang Mamahmu masih hidup," jawab Bram dengan suara bergetar. "Papah hanya punya kamu. Gak ada perempuan lain selain anak Papah satu-satunya ini."
Della tersenyum. Ada rasa bahagia namun sekaligus kecut yang menyertai. "Jangan bohong, Pah."
"Papah gak bohong."
"Alya bagaimana? Bukankah dia cantik, Pah?" Della melirik sejenak padaku. Ah, lekas aku menunduk. Khawatir rahasia hati yang selama ini terpendam, akan mampu terbaca secara gamblang baginya. Malu atau takutkah?
"Kamu ini ngomong apa, sih, Della? Papah hanya merasa menyesal telah menyakiti kamu, Sayang." Bram berusaha mengalihkan pembicaraan. Jemarinya mengusap lembut pipi Della yang masih merah. Lebih tepatnya memar. Bisa dibayangkan, betapa keras tamparan yang mendarat di wajah anak perempuan itu tadi. "Papah minta maaf. Papah khilaf dan berjanji ... itu tak akan pernah terulang lagi, Sayang."
"Kalau begitu, jawab dengan jujur kalo memang Papah tak akan menyakiti Della lagi."
"Pertanyaan apalagi?"
Della menoleh ke arahku. "Papah menyukai Alya, kan?"
"Del .... " kembali aku terperanjat. Tak menyangka dia akan mendesak Bram seperti itu. Namun sekaligus semakin mendekatkan rasa penasaran ini pada puncaknya. Semoga aku kuat dan tak lagi kehilangan kesadaran.
Bram ikut menoleh. Memandangku sedemikian rupa. Lalu perlahan membuka mulut. "Papah memang--"
"Sayang sekali, Pah .... " potong Della sebelum Bram menyelesaikan ucapannya.
Sial! Mengapa, sih, Della harus berbuat itu? Biarkan saja Bram mengungkapkan isi hatinya tentangku. Jantung ini seketika berdegup kencang. Rasanya seperti hendak merobek paksa lapisan daging yang menutupi rusuk. Napas memburu mengguncang hebat gelayut d**a ini.
" .... perempuan itu lebih memilih laki-laki lain ketimbang membalas rasa yang Papah miliki itu," kata Della diiringi seringai aneh. Menatapku dengan tajam.
"Maksudmu apa, Sayang?" tanya Bram penasaran.
"Del .... " Aku mencoba menyapa gadis itu.
Della tersenyum. "Laki-laki yang selama ini kuharapkan akan menjadi pengganti rasa cinta Della pada Papah," kata Della kembali. "Perempuan yang gue anggap sebagai sahabat sekaligus saudara gue sendiri, tega merebut laki-laki yang gue inginkan!"
"Maksudmu Andre, Del?" Aku terkejut. Benar dugaan selama ini. Della memang menyukai laki-laki itu.
"Siapa lagi?" Suara Della kembali meninggi. "Elu tega ngerebut dia dari gue, Lya! Dan setelah elu dapetin Andre, elu juga bermaksud ngerebut Papah dari gue, kan?"
Aku beringsut mendekat. "Itu ndak benar, Del. Aku sama sekali belum menerima dia. Karena aku tahu, kamu suka sama Andre, kan? Dia sendiri yang menginginkan aku menjadi pacarnya."
"Bohong!" teriak Della memecah kesunyian. Tubuhnya sampai bergetar hebat. Bram menahan agar Della tak menyentuhku. "Elu emang suka keduanya, kan? Jawab, Lya, jawab!"
Aku seperti tersulut. Mendadak kontrol pertahanan ini jebol. Lalu merangsek ke dekat Della. "Aku hanya menyukai papahmu! Om Bram! Aku tergila-gila sama Om Bram! Aku tak ingin Om Bram menganggapku sebagai anak, tapi berambisi untuk menjadi istri Om Bram! Ibu tirimu sendiri, Del! Puas kamu sekarang? Puas, hah?!"
"Lya .... " Bram menatapku. "Kamu .... "
"Dengar sendiri, kan, pengakuan dia, Pah?" Della tersenyum picik. "Siapa sebenarnya dia? Perempuan lugu yang diperbudak cinta!"
"Aku ndak sejahat yang kamu kira, Del!" balasku tak ingin kalah. Biarlah semua rahasia hati ini pecah berantakan. Tak peduli apa pun yang terjadi setelahnya. Pergi dari kehidupan mereka berdua ataukah ....
"Kamu menyukai saya, Lya?" tanya Bram seraya melepas cekalan di bahu Della. Laki-laki itu mendekat dan menahan tubuh Della agar tak mengikuti. "Benarkah itu, Lya?"
"Om Bram ... aku ... aku .... " Mendadak lidahku kelu. Sulit berbicara apalagi bergerak menghindar. Dia semakin mendekat dan memegang tanganku.
Ya, Tuhan! Drama apalagi yang sedang Engkau berikan untukku? Mimpikah ini? Bukan. Karena cekalan jemari itu begitu kuat menahan limbungku sesaat.
"Jawab, Lya. Benarkah kamu menginginkanku?" tanya ulang Bram sambil menatapku.
"Pah!" seru Della seakan tak menghendaki papahnya mendekatiku.
"Diam kamu, Sayang," ujar Bram tegas. "Kamu tak ingin Papah menua sendirian, kan? Kamu juga ingin Papah bahagia, kan? Kamu juga harus mengerti, Papah laki-laki normal yang masih punya keinginan."
"Pah?"
"Papah juga sangat menyukai Alya," kata Bram akhirnya. Kalimat yang sanggup membuat keseimbangan tubuhku hilang. Kaki serasa tak menjejak. Melayang tinggi terbawa hembusan angin beraroma semerbak. Lalu .... "Dia gadis yang baik dan sangat cocok untuk mendampingi hidup Papah. Dia juga yang sanggup membuat Papah bertahan dari godaan dan rayuan perempuan-perempuan di luar sana."
"Om .... " Aku terpana. Seisi d**a ini tiba-tiba seperti runtuh. Turun dan berserak di dalam perut. Kemudian menyentak aliran syaraf di sepanjang punggungku. Bergerak menggelitik, berkumpul pada satu titik sensitif. "Benarkah itu, Om?"
"Lya .... "
Tubuhku mengejang. Bergidik tanpa dipinta. Memaksa angan ini untuk memberi perintah pada kelopak mata agar mengatup. Terpejam bersama sensasi yang teramat sulit dilukiskan.
Tidak! Aku sudah tak sanggup lagi. Kaki melemah hingga tak mampu menopang beban tubuh. Ambruk disertai lenguhan pelan disepanjang perjalanan waktu yang mulai mengelam.
BERSAMBUNG