Tubuhku mengejang. Bergidik tanpa dipinta. Memaksa angan ini memberi perintah pada kelopak agar mengatup. Terpejam bersama sensasi yang teramat sulit dilukiskan. Tidak! Aku sudah tak sanggup lagi. Kaki melemah hingga tak mampu menopang beban tubuh. Ambruk disertai lenguhan pelan di sepanjang perjalanan waktu yang mulai mengelam.
"Lya!" Panggilan itu terus menggema. Menarik sadarku antara dua dimensi. Nyata dan maya. Entah mana yang harus dituju. Sementara gelap masih membutakan netra.
"Alya!" Kudongakan wajah mencari asal suara. Fokus meniti langkah dalam gulita, berpijak pada raba serta rasa. "Alya .... "
"Della?" Samar kukenali pemilik suara itu. Seperti gaung sahabat yang selama ini paling dekat. Mungkinkah dia atau hanya sekedar tipuan halusinasi belaka?
"Bangun, Alya!"
BUK!
Ah, sebuah tepukan mengenai mukaku. Keras namun terasa empuk. Dari aroma yang sempat tercium, itu wangi pelembut kain. Itu pasti ....
BUK!
"Woy, bangun!"
Suara gelak tawa segera mengiringi, setelahnya. Hhmmm, perlahan sukmaku pun meraga. "Della ... kamu itu, ih!" sungutku masih memicing. Menatap sosok itu tengah duduk bersandar di tepian tempat tidur, menggenggam ponsel. Sesekali melayangkan pandang ke arahku. "Udah pagi! Mau sampe jam berapa elu tidur?" tanya gadis itu sambil mengusap-usap layar.
"Memangnya sekarang jam berapa?" Aku malah bertanya balik. Mengucek-ngucek mata sesaat. Pandangan masih terasa mengabur, terhalang kotoran yang menempel ketat di sudut kelopak. Cahaya dari luar jendela menerobos masuk membutakan, dari tirai yang tersingkap lebar. "Astaga! Sudah siang, ya, Del?"
Della menyeringai. "Iya, makanya elu gue bangunin juga," sahutnya. Gadis itu sudah kelihatan segar. Mengenakan celana pendek dan kaos santai, membungkus kulit putih. "Masih ada waktu buat mandi ama sarapan, sebelum kita berangkat kuliah."
"Kuliah?" Aku malah lupa kalau hari ini bukan libur akhir pekan. "Ya, Tuhan!"
"Apa?" Della melirik kaget.
"Aku ... ndak sempat buat sarapan buat Om Bram. Papahmu, Del." Buru-buru aku turun dari tempat tidur.
"Mau ke mana, Cuy?" tanya Della sebelum sempat kehilangan sosokku di balik pintu kamar. "Masaklah. Apalagi?" jawabku perlahan.
"Papah udah lama berangkat, Cuy. Ngapain elu masak?" Gelak suara Della kembali terdengar. "Tadi gue udah masakin. Jatah elu ada di atas meja tuh."
Aku memutar badan. Menatap Della yang masih menyisakan cengengesnya. "Kamu masak, Del?"
"Iya. Emang kenapa? Gak boleh?" Dia meletakkan ponsel di atas kasur, lalu balas memandangku sedikit aneh. "Kalo cuma bikin nasi goreng, sih, gue udah mahir. Tenang aja. Hihihi."
Bukan! Bukan itu maksudku. Tapi ... ah, sial! Pagi ini momen melihat sosok laki-laki itu terlilit handuk, terlewat sudah. Padahal mimpi semalam itu ....
"Om Bram ndak nanyain aku, kan?" Tiba-tiba aku merasa tak enak hati. Sudah numpang hidup, malah keenakan tidur sampai kesiangan begini.
Della merengut. "Emangnya siapa elu, Cuy? Ngapain Papah gue nanyain elu?"
"Maksudnya bukan begitu, Del. Tapi .... "
Seringai Della menyeruak di ujung garis bibirnya. "Iya. Papah tadi nanyain elu, 'Kenapa belum bangun' katanya. Ya, gue jawab aja, 'Si Alya lagi males ketemu Papah'. Hihihi."
"Ih, jahat kamu, Del," semprotku dilanjut cemberut.
"Enggaklah. Gue gak ngomong kayak gitu, kok. Tenang aja. Hihihi."
Ah, sialan! Della memang paling susah diajak bicara serius. 'Yang bener bisa ndak, sih, Del? Apalagi kalau sedang ngomongin Om Bram. Aku tuh paling ndak mau digituin, tahu!'
"Kenapa malah bengong di situ? Mandi!" seru Della melihatku masih mematung di ambang pintu kamar. " ... atau kita telat ngampus, nih?"
Aku tak menjawab. Segera bergegas dari sana. Mandi lalu dilanjut sarapan nasi goreng ala Chef Della.
"Gimana rasa nasi goreng buatan gue tadi?" tanya gadis itu begitu kami melaju di dalam kendaraan yang dikemudikannya. "Enak, kan?"
Aku berpikir sejenak. "Lumayan."
"Lumayan?" Della menoleh. "Cuma itu?"
"Memangnya aku harus jawab apa?"
"Berarti masakan gue gak enak, dong?"
Aku sedikit menyeringai. "Lumayan enak maksudku, Del. Hanya sedikit kurang garam saja. Over all, it's nice."
"Bohong!" jawab Della diiringi gelaknya seperti biasa. "Lagian itu bukan gue yang masak, kok. Bi Mamas tadi yang bikin. Gue sengaja minta dia datang buat bikin sarapan. Hahaha."
Aku mendecak. "Mengapa kamu ndak bangunin aku saja, sih, Del? Aku, kan, jadi ndak enak sama Om Bram." Rasa itu kembali menggelayut dalam hati. "Aku juga ingin berbakti sama keluarga kamu, Del. Minimal bisa bantu-bantu sedikit melayani kamu dan Om Bram. Ya, kayak Tante dulu saat masih ada .... "
Eh, cepat-cepat aku menutup mulut. Kalimat terakhir tadi rasanya tak ada dalam rencana. Mengapa meluncur begitu saja tanpa disadari? Itu juga berefek pada sosok di sebelah. Tiba-tiba dia menginjak pedal rem. Menghentikan laju kendaraan secara mendadak.
"Del .... " Perlahan aku memanggil gadis itu. "Aku ... aku ... aku tak bermaksud .... "
Della memejamkan mata tanpa menoleh sedikit pun padaku. Dia menarik napas sesaat. Meratakan posisi punggung dengan sandaran jok kendaraan.
"Del .... " panggilku kembali. Menatap gadis itu yang masih terdiam. Menakutkan. "Kamu marah sama aku, Del? Maafkan aku, ya. Tadi ndak bermaksud--"
"Ngapain gue harus marah sama elu, Cuy?" Tiba-tiba Della menyahut.
"Tapi ... tadi kamu ngerem mendadak begitu ... maksudnya apa?" Aku penasaran. "Karena omonganku tadi, kan?"
Della menoleh. Perlahan seringai di bibirnya menyeruak lebar. "Omongan apaan, sih? Tadi elu gak lihat apa, gue hampir aja nabrak kucing, Lya!"
"Kucing? Mana?" Aku melihat-lihat ke arah depan kendaraan. "Sebentar ... aku turun dulu. Mau lihat-lihat."
"Gak usah! Kucingnya selamat dan kabur ke arah sana!" seru Della memekakkan telinga. Gendang teligaku sampai berdenging. "Lagian elu ngobrol mulu, sih! Gak lihat apa gue lagi bawa mobil, Cuy!"
Aku menjauh sedikit. Suara cempreng gadis itu benar-benar membuat sakit gendang telinga. "Oh, begitu, ya? Maaf."
Della tertawa keras. Aku sampai menutup kuping rapat-rapat dengan jemari. Benar-benar tak bisa mengontrol volume, nih, anak. Apa tidak bisa bicara lemah lembut, atau setidaknya bersikaplah sebagaimana umumnya perempuan biasa. Pantas saja selama ini tak ada yang bertahan lama dekat dengan dia. Bahkan termasuk Andre sekalipun.
"Yakin bukan karena omonganku tadi, kan, Del?" Aku masih penasaran. "Kagaklah! Emang tadi elu ngomong apaan, sih?" tanya Della kemudian.
"Ya, ampun ... Della. Jadi kamu ndak dengerin aku ngomong apa dari tadi?"
Gadis itu tertawa terbahak-bahak.
"Ditanya malah ketawa lagi kamu, ah." Aku merengut. "Ya, udah. Kenapa masih belum jalan juga? Kita bakal kesiangan, Della."
Della menoleh. Menatapku aneh. "Jalan? Jalan ke mana?"
"Ke kampuslah, Del. Emang ke mana lagi?"
"Eh, kita udah nyampe parkiran kampus! Kalo gue injak gas, malah nabrak tembok parkiran. Hahaha!"
"Apa?" Aku melihat-lihat sekeliling. "Ya, ampun. Kok, aku sampe ndak nyadar, ya?" Kulit wajah ini mendadak terasa panas.
"Gila! Jadi selama elu ngomong tadi, elu gak fokus juga?" Della menggeleng-geleng. "Lya ... Lya ... elu kenapa, sih?"
Aku tak menjawab. Segera melepas lilitan seatbelt dan bergegas membuka pintu kendaraan, namun tertahan oleh seruan Della, "Eh, jangan dulu ke luar, Cuy!"
"Memangnya kenapa?" tanyaku heran.
"Diem dulu sebentar. Di depan sana ada si Andre."
"Mana?"
"Itu .... " tunjuk Della ke arah salah satu sudut parkiran. Aku melihat sosok yang dimaksud gadis itu.
"Memangnya kenapa, Del? Kok, kamu jadi menghindar dari dia, sih?"
Della mendelik. "Males ketemu ama cowok itu!"
"Kenapa memangnya?"
Dia mendengkus. "Kenapa ... kenapa ... dari tadi pertanyaan elu 'kenapa' terus."
"Lah, kan, wajar aku nanya. Ingin tahu alasannya, apa? Memangnya .... "
"Memangnya lagi! Haduh, Lya ... Lya .... " Della menepuk keningnya sendiri. "Bisa gak, sih, kamu sebentar aja gak usah nanya."
Aku berpikir sejenak. "Bisa. Memangnya kalau ndak bisa bagaimana?"
"Aaarrggghhh!" Della menggeram. Buru-buru keluar dari dalam kendaraan sebelum kepalanya memanas.
"Kamu itu kenapa, sih, Del?"
"Au, ah!"
"Lho, tadi kata kamu ... aku ndak boleh keluar duluan. Sekarang malah kamu yang keluar. Memangnya kalau keluarnya bareng-bareng, kenapa?"
"Diam!"
"Kamu marah, Del?"
"Diam, Lya!"
"Oke!"
Della menggandeng tanganku. Berjalan beriringan menuju ruang kelas. Tapi tak ada jalan lain, kecuali harus melewati tempat di mana sosok Andre saat itu masih berada.
"Hai .... " sapa laki-laki itu begitu melihat kedatangan kami.
Della cemberut. Mempercepat jalannya seraya menarik lenganku.
"Pagi juga, Ndre," balasku disambut delik galak Della.
"Diam!" ujarnya terus menarik lenganku dan semakin mempercepat langkah.
Andre mengikuti dari belakang. "Lya! Tunggu! Aku .... "
"Entar aja! Kita lagi buru-buru!" seru Della galak.
"Gue ada perlu sama Lya, bukannya sama elu, Del," jawab Andre berusaha memepet langkah kami.
"Gue bilang juga 'kita', Ndre. Berarti gue ama Lya," sungut Della seraya menoleh sesaat pada Andre. "Udah, jangan ngikutin."
"Elu kenapa, sih, Del? Gue cuma ada perlu sama Lya. Sebentar aja," kata Andre tak mau mengalah.
"Gue bilang juga lagi buru-buru. Elu mau telat masuk kelas?"
"Dosennya gak bisa datang. Ngapain buru-buru ke kelas?" Andre memotong langkah kami. Mau tak mau aku dan Della berhenti.
"Apa elu bilang?" tanya Della sambil mengasongkan daun telinganya ke arah Andre.
"Dosennya gak datang, Del," jawabku tiba-tiba.
"Iya, gue denger," sahut Della. "Elu pikir gue budek?"
"Kalau dengar, kenapa tanya lagi?" sambungku kembali. Della mendelik. "Diem dulu. Gak usah nanya atau ikut bantu jawab. Oke?" balasnya kemudian.
Andre tersenyum karena merasa menang. "Sekarang, gak ada alasan buat buru-buru ke kelas, kan, Del? Gue ada perlu ama Lya. Gak lama, kok. Paling ... tiga jam."
"Tiga jam? Elu pikir durasi film India? Haduh!" Della menepuk kening dilanjutkan gelengan kepala. "Gue bilang juga ... lagi buru-buru. Elu jangan gangguin kita, deh."
"Buru-buru ke mana? Ke kelas? Ngapain? Dosennya kagak ada, Del," kata Andre tetap tak mau membiarkan buruannya lepas.
Della melirik sebentar padaku, lalu beralih memandang Andre dengan sedikit seringainya. "Mau ke kantin. Gue ama Lya belum sempat sarapan. Minggir lu, Ndre!"
"Perfectly!" seru laki-laki itu girang. "Gue juga belum makan. Boleh, dong, gue ikut gabung?"
Della berpikir sejenak. "Gak jadi, deh. Mendingan kita balik lagi ke rumah, yuk, Cuy." Dia menarik kembali lenganku. "Kita pulang."
"Eh, kok ... malah pulang? Kenapa--" Belum sempat kutuntaskan tanya ini, Della memberi kode melalui kedipan mata. "Diam, Cuy. Ayo, kita balik aja lagi," katanya siap-siap memutar badan.
Andre menahan laju langkah kami. "Oke, gue pending dulu keperluan gue ama Lya. Tapi elu, Del, jangan dulu pulang. Sebentar lagi asdosnya datang ngasih tugas."
"Serius?" tanya Della menatap tajam Andre. Laki-laki itu mengacungkan dua jarinya. "Oke, kalo gitu kita mau ke kantin saja sambil nunggu. Tapi elu jangan ngikut!"
"Fine! I won't!" jawab Andre akhirnya. Dia segera memberi jalan. Membiarkan kami bergegas menuju ruang kantin.
"Kamu ini kenapa, sih, Del? Tadi Andre--"
"Diam dulu, Lya!" potong Della sebelum aku selesai bicara. "Gue lagi gak pengen deket-deket sama cowok itu."
"Kenapa?"
"Gak usah nanya dulu," jawab Della tegas. "Kita ke kantin saja, yuk."
"Tapi aku masih kenyang, Del," balasku. "Lagian kata Om Bram ... aku harus bisa merawat tubuh agar .... " Aku tak meneruskan kata-kata. Merapatkan bibir sekuat mungkin agar tak kembali keceplosan. Sial, apa harus kugigit saja lidah ini supaya bisa mengontrol penuh. Hhmmm ... semua gara-gara Om Bram. Laki-laki itu benar-benar mampu menghilangkan setengah kewarasan ini. Eh, kok ... jadi nyalahin dia?
Della melepaskan cekalannya pada tanganku. Perlahan langkah gadis itu melambat. "Papah ngomong gitu sama kamu? Kapan?"
Duh, gara-gara tak bisa mengatur otak. Jadi begini urusannya. Dijawab ragu, tapi kalau diam malah khawatir menimbulkan pikiran lain di benak gadis itu. "Maksud Om Bram ... bercanda, Del."
"Gue nanyanya kapan?"
Tiba-tiba aku seperti ingin menggaruk-garuk kepala ini. Tak gatal tapi mendadak tergelitik melakukannya. "Eh, enggak. Maksudku .... "
"Kapan, Lya?" Della mengulangi pertanyaannya.
"Waktu kita makan di resto beberapa pekan yang lalu."
"Waktu gue gak bersama kalian, kan?"
"Kamu lagi ke toilet, Del."
Della tak menyahut. Dia berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Entah apa yang sedang dipikirkannya? Yang pasti untuk saat ini, aku hanya ingin diam dan terdiam. Sebagaimana keinginan gadis itu, tadi.
BERSAMBUNG