Della melepas pegangannya setelah memastikan Andre tak mengikuti kami. Dia mengajakku ke ruang kantin. Memesan minuman lalu duduk berhadapan.
“Ada apa, sih, sebenarnya, Del?” tanyaku setelah beberapa saat. Gadis berkulit putih itu menjawab dengan seulas senyuman. “Ditanya, kok, malah mesem-mesem begitu. Dasar kamu, Del.” Aku penasaran, mungkin ada kepentingan tertentu perihal ajakan Andre tadi. “Kamu cemburu, ya, kalo aku ketemu Andre?”
Della mendelik. Kaget. “Execuse me? What did you say?” Bukan sebuah pertanyaan, namun lebih ke arah elakan.
“Aku cuma nanya aja. Lagian ndak penting juga, kan, buat dijawab,” kataku sedikit merasa bersalah.
“Jangan-jangan malah elu yang mulai suka ama si Andre, Lya,” tukas Della tiba-tiba. “Gue pernah ngelihat elu berdua duduk berdekatan. Hhmm ... kapan, ya?” Gadis itu berpikir.
“Ya, ndaklah, Del,” jawabku buru-buru. ‘Kamu keliru, justru yang aku sukai itu ... Om Bram. Papah kamu, Del.’
“Yang gue lihat waktu itu, elu berdua ngomong serius. Pada bahas apaan, sih? Kepo gue.” Della mesem-mesem.
“Ndak ngomongin apa-apa, kok, Del. Cuma tentang materi perkualiahan.” Terpaksa berbohong. Aku tak mau Della tahu. Mungkinkah Andre ingin menanyakan responsku perihal itu ya? “Kan, selama ini kamu tahu sendiri hampir setiap saat kita bersama-sama. Jadi .... “
“Andre itu ganteng, lho, Lya. Banyak cewek kampus ini berharap bisa deket sama dia.” Della menyeruput minuman yang dipesan tadi. “Emang elu gak punya rasa gitu ama tuh cowok?”
Aku menggeleng perlahan. Masalahnya bukan itu, tapi ....
“Aku ingin fokus dulu ama kuliah, Del. Jauh-jauh dari kampung ke kota besar ini, hanya untuk mencari calon pendamping? Hhmmm, kalau sudah waktunya harus berjodoh, dimanapun juga mungkin aku bisa mendapatkannya.” Lagi-lagi aku harus berbuat tak jujur. “Aku ingin meraih cita-citaku serta membanggakan almarhum kedua orangtuaku, Del. Tak ada yang lain.”
“Serius?” Della melirik. Aku mengangguk. “Tapi tak ada salahnya, kan, sambil mempersiapkan masa depan, elu juga nyari-nyari buat jodoh elu nanti.”
Hampir saja aku tersenyum kecut. Kata-kata Della tadi mirip seperti apa yang pernah diucapkan Andre dulu. “Aku pasrahkan semua pada Tuhan, Del. Biar saja waktu yang akan menjawabnya.” Untuk mengurangi rasa jengah akan topik pembicaraan, aku turut meminum pesanan.
“Yang gue tanya itu, elu. Bukan waktu, Cuy!” Della tergelak seperti biasa. “ ... atau jangan-jangan udah ada orang yang elu taksir, ya?”
“Uhuk!”
Hampir saja sisa minuman yang masih tersisa di dalam mulut menyembur ke luar. Sebagian sudah terlanjur tertelan dan masuk ke rongga hidung. Perih sekaligus malu diperhatikan pengunjung kantin.
“Kenapa lu, Cuy?” tanya Della seraya menyodorkan selembar tisu. Menatap tajam wajahku yang memerah. “Pelan-pelan, dong, kalo minum.”
“Maaf .... “ jawabku di sela-sela mengelap bibir dengan tisu tadi. Beberapa saat lamanya hening. Terdiam dalam isi pikiran masing-masing. Entah apa yang ada dalam benak sahabatku yang satu itu. Sebentar-sebentar dia melirik ke arahku, lalu menatap ke luar area kantin. Seperti tengah mencari sosok lain di sana.
“Beneran elu gak suka sama si Andre, Cuy?” kembali Della bertanya. Membuat keningku berkerut. “Kenapa, sih, kamu bertanya tentang itu melulu, Del? Kamu suka sama dia?” tanyaku balik. Sekedar ingin menyelami apa yang ada dalam hatinya.
Della tersenyum kecut. Ada gamang yang tergambar di raut wajah gadis itu. Entahlah apa maknanya. Dia tak segera menjawab. Sampai akhirnya ....
“Menurut elu, Cuy, apakah rasa cinta itu harus diperjuangkan sampai dimiliki ataukah cukup berserah pada nasib yang akan menentukan?” Pertanyaan serius yang pertama kali terucap dari mulut Della, setelah sekian lama bersama dan mengenalnya. “Elu bakal memperjuangkan atau memilih memendam sampai waktu sendiri yang akan menjawab?”
“Itu pertanyaan tentang kamu, kan, Del?”
Della menarik napas sejenak. “Ini secara umum saja. Bisa tentang gue, maupun elu juga.”
Aku harus hati-hati menjawabnya. Khawatir justru nanti akan keceplosan membuka rahasia sendiri. Apalagi ini masalah sensitif.
“Menurutku, tergantung seberapa besar kadar cinta yang dimiliki, Del. Jika dirasa itu akan menjadi bagian terbesar dalam hidup kelak, mengapa ndak mencobanya untuk diperjuangkan? Walaupun harus siap-siap dengan segala konsekuensinya. Bahagia ataupun sebaliknya.” Aku mencoba lebih fokus dan berhati-hati. Pertanyaa Della tadi seperti tengah menginterogasi. Apalagi menyangkut papahnya.
Ah, tiba-tiba saja aku harus menjadi sosok munafik. Kerap melindungi dan membohongi diri sendiri atas asas keamanan. Padahal jujur saja, ingin kusudahi sandiwara ini sesegera mungkin. Bersama orang yang dicintai, Om Bram, atau pergi meninggalkan semua angan-angan gila ini.
Bagiku laki-laki itu begitu sangat sempurna. Tak ada kekurangan yang terlihat padanya. Semua serba menarik dan indah, karena tertutupi oleh rasa cintaku yang begitu besar. Terlalu tua dan tak sebanding? Ah, itu hanya penilaian manusia-manusia fakir nurani saja. Karena yang bisa saling melengkapi dan memberikan kenyamanan bukanlah fisik, namun batin yang kaya akan cinta.
“Kalau ternyata orang yang dikehendaki itu gak sesuai dengan angan-angan, bagaimana? Apakah akan tetap mempertahankan sisa harapan yang ada, Lya?” tanya Della kembali sambil mempermainkan gelas minuman di atas meja.
“Maksud kamu dia ndak baik atau bagaimana?”
“Dia gak menghendaki kehadiran kita, Cuy,” sergah Della tajam.
Aku berpikir kembali. Tak mudah menjawab soal seperti itu. Sama halnya jika Om Bram ternyata tak menginginkanku menjadi pengganti almarhumah istrinya. Malah benar-benar memilih adopsi, misalkan. Gila! Sungguh tak akan rela. Seumur-umur akan dihantui perasaan sendiri setiap kali bertemu laki-laki itu.
‘Aku ndak tahu, Del. Aku sendiri belum sempat berpikir ke arah sana. Mungkin akan melupakan ataukah terus mengejarnya sampai dia berkenan menerima? Tapi jika dipandang perlu, mengapa ndak bertanya langsung saja. Aku mencintaimu, Om Bram.’
“Alya .... “ panggil Della. “Eh, iya. Ada apa?” Aku terkejut.
“Ditanya, kok, malah diam?” desak gadis itu.
Aku menggeleng. “Entahlah, Del. Aku sendiri bingung.”
“Kok, malah bingung? Tinggal jawab saja. Apa susahnya, sih?” Della masih memaksa.
Kupandangi bola matanya. “Sebenarnya ini tentang kamu atau aku, sih?”
Della tersurut ke belakang setelah sesaat membuka ponselnya. Dia bergegas merapihkan tas, bersiap meninggalkan meja kantin. “Masuk kelas, yuk. Asdosnya sudah ada tuh.”
“Masa?”
“Iya. Cepetan!”
Kami segera menyudahi obrolan. Tak ada yang bisa disimpulkan. Terkecuali menyisakan beberapa pertanyaan; Della sedang curhat ataukah berusaha menyelamiku. Jangan-jangan dia curiga kalau selama ini aku menyukai papahnya? Bahaya! Ini hal yang perlu dihindari.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada notifikasi pesan masuk. Untunglah suaranya sudah di-silent. Della tak memperhatikan saat kubuka balon pemberitahuan tersebut. Dari Andre.
[Alya, kamu punya waktu sebentar gak? Aku ingin bicara langsung dengan kamu. Please, jawab ya.]
Della masih berjalan perlahan di depan. Lalu kubalas pesan itu secepat mungkin.
[Emangnya ada perlu apa sih, Dre? Aku lagi sama Della nih.]
[Sebentar saja, Lya. Please.]
Aku berpikir sesaat sebelum memutuskan untuk kembali membalas.
[Oke. Di mana?]
[Ruang perpus sekarang.]
[Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya? Takut Della curiga.]
[Oke. Aku tunggu sekarang, Lya.]
[Iya.]
Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas, kucolek lengan Della. “Del, kamu duluan, ya.”
“Mau ke mana lu?” tanya Della heran.
“Ke toilet. Nanti aku nyusul ke kelas, deh.”
“Ya, udah sana.”
“Oke, Del.”
Sial! Kembali aku harus membohongi sahabatku itu. Lagi-lagi karena alasan terpaksa.
Andre sudah ada di ruang perpustakaan begitu kumasuk. Laki-laki itu tersenyum senang. “Terima kasih, ya, kamu udah nyempetin buat datang,” ujar Andre begitu kami berhadapan.
“Tapi jangan lama-lama, ya, Ndre. Soalnya ada kelas, nih. Asdosnya sudah datang,” timpalku seraya duduk di kursi. “Ada apa, sih?”
“Tenang aja. Asdosnya belum datang, kok.” Andre menyeringai.
“Maksudmu?”
“Tadi aku nyuruh temenku mengirim pesan buat Della, kalo asdosnya sudah datang.”
“Tega amat, sih, kamu, Ndre!” Aku jadi khawatir Della akan mencari. Lalu menemukan kami sedang duduk berdua di dalam ruang perpustakaan. “Cepetan, deh. Ada perlu apa, sih?”
“Oke, sebentar .... “ Andre menarik napas. “Kamu ingat, kan, percakapan kita beberapa pekan lalu di taman kampus itu. Waktu kamu lagi nungguin Della yang katanya sedang menghadap dosen?” Aku mengangguk. Sudah mulai bisa menebak, obrolan apalagi yang akan hadir sesaat lagi. “Maaf aku, Lya. Aku hanya ingin memastikan jawaban kamu. Aku sudah berusaha bertahan dan sabar. Sampai akhirnya hari ini, aku harus bisa segera mendapatkan kepastian dari kamu. Bagaimana, Lya?”
Mendadak lidahku kelu. Rasanya sulit sekali digerakan. Entah harus bicara apa. Beberapa lamanya hanya mampu terdiam seraya mengatur tarikan napas yang sedikit sesak.
“Lya .... “ panggil Andre mengingatkan.
Aku mengangkat wajah. Memperhatikan bola mata laki-laki itu yang berwarna kehijauan. Kulit muka putih layaknya orang-orang Erofa sana. Klimis tanpa menyisakan bulu-bulu tipis sebagaimana halnya ... Om Bram.
Ya, Tuhan! Di saat seperti ini, mengapa justru laki-laki flamboyan itu yang hadir. Aku harus tetap fokus dan mengontrol indera. Bagaimanapun juga sosok yang sedang ada di depan itu bukan Om Bram. Dia Andre. Pemuda pecicilan yang tengah menantikan jawaban.
“Kamu serius ingin dekat denganku, Ndre?” tanyaku akhirnya dengan sekuat tenaga keluar dari mulut. “Tentu saja, Lya. Aku gak lagi bercanda. Ini masalah hati. Bukan untuk dipermainkan,” jawab Andre meyakinkan.
“Kamu siap dengan segala kemungkinan yang ada, jika menemukan sesuatu yang ndak kamu harapkan kelak dalam diriku?” Terus terang aku agak ragu berkata. “Tentu saja aku siap, Lya. Aku memang menyukai kamu,” tukas Andre kembali.
Aku menunduk. Rasanya tak kuasa memandang gerak mata laki-laki itu begitu tajam menusuk. Besar sekali harapan dia agar aku berkenan memenuhi asanya. “Aku bukan orang yang tepat kau jadikan seseorang untuk mempersiapkan masa depanmu nanti, Ndre. Banyak kekurangan yang kumiliki.”
“Aku tak peduli itu, Lya. Aku mencintai kamu dan aku siap untuk menerima semua yang ada padamu. Bahkan, seandainya kamu tak memiliki rasa yang sama sekalipun.”
“Maksudmu?”
“Kamu tak perlu mencintaiku, Lya. Cukup aku saja yang akan mencintaimu! Bagiku itu sudah cukup.”
Gila! Benar-benar ‘bucin’ laki-laki ini. Bahkan dia rela menghambakan diri padaku demi sebuah ambisi pribadinya. Sama seperti yang kurasakan pada lelaki lain. Om Bram. Dia lagi!
“Selama ini aku benar-benar tak bisa melupakan kamu, Lya. Aku tersiksa sebelum mengetahui jawaban kamu,” ujar Andre menekankan. “ ... atau kamu takut Della tahu tentang kita?”
Aku menggeleng. Bukan hanya itu saja.
“Kalau kamu mau, kita bisa pindah kuliah dari sini. Ke negara asal keluarga besarku di Inggris. Biar kamu tak bisa didominasi oleh temanmu itu. Kita menikah dan kuliah di sana, Lya. Bagaimana?”
Sungguh gila sekali pemikiran laki-laki ini. Dia pikir aku akan tergiur dengan semua tawarannya? Ah, Andre. Sesempit itukah caramu menilai kaum perempuan? Cara berpikir kami tidak sesederhana itu. Semua harus terencana dengan matang dan jelas. Itu pun tidak bisa dijadikan acuan untuk mengambil kesimpulan. Dalam beberapa waktu kemudian, semua bisa berubah dalam sekejap. Karena jalan kami berpikir seringkali berdasar suasana hati.
Mengingat kembali obrolanku dengan Della beberapa saat yang lalu, rasanya untuk menggenapi mimpi agar bisa bersama dengan Om Bram, sangat beresiko. Tak ingin melukai gadis itu, dengan konsekuensi kehilangan kesempatan lain yang diidamkan. Dilematis.
Sekarang di depanku ada seseorang yang menawarkan romansa sejenis. Tentu saja akan berbeda cita rasa. Itu karena hatiku tertuju pada sosok lain ....
Aku mengangguk perlahan.
“Kamu menerima aku, Lya?” tanya Andre tak percaya. Hentakan suaranya begitu kentara. Antara bahagia dan gamang. “Ya, Tuhan! Benarkah ini, Tuhan?” seru Andre berulangkali. Dia menatapku diiringi senyum sumringah. “Kamu mau .... “
“Cuy!”
Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Tak jauh dari tempat kami berada saat ini. Serempak aku dan Andre menoleh ke arah asal suara tadi datang.
“Della?”
Gadis itu berdiri mematung dengan tangan terlipat di d**a. Menatap kami dengan sorot tajam.
BERSAMBUNG