Part 11

2184 Words
Aku buru-buru bangkit dari duduk. Lalu memburu sosok Della yang menatap tajam. “Maafin aku, Del. Ini ndak seperti yang kamu lihat. Aku .... “ “Jelasin apa?” tanya Della dingin. “Gak sengaja ketemu Andre di toilet, terus dia maksa elu buat ngobrol ngumpet-ngumpet dari gue di sini. Begitu?” Kusentuh bahu gadis itu. “Aku cuma bicara sebentar saja, kok, Del. Aku penasaran dan mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting. Itu saja.” “Lalu? Dia ngomong apa sama elu?” Della tersenyum hambar di antara tatapan yang seakan hendak mengulitiku. Aku melirik sejenak ke arah Andre. Laki-laki itu masih tetap berada di tempatnya semula. Mematung sambil memperhatikan kami. “Ndak, kok. Ndak ada omongan apa pun. Kami .... “ “Elu berduaan lama di ruang ini. Saling berhadapan begitu tanpa ngapa-ngapain?” Della tertawa kering. Lucu ataukah sengaja ingin mentertawakanku? Entahlah. “What’s going on here, Alya? Just tell me now.” Aku menunduk. Tak kuasa untuk beradu pandang dengannya. Tubuh rasanya bergetar. Keringat dingin mulai terasa membasahi sekujur badan. “Jawab aja, Alya. Why? Are you lying to me?” desak Della seraya menepiskan pegangan tanganku di bahunya. “Kalo gak ada sesuatu yang disembunyiin, elu gak bakal berat begini buat ngomong, kan? Kenapa?” Bibirku terasa berat untuk berucap. Gemetar menahan rasa takut. Khawatir Della akan marah dan tak lagi mau bersahabat. Itu artinya .... “Aku dan Alya resmi pacaran, Del,” tiba-tiba terdengar suara Andre berbicara. Laki-laki itu berjalan perlahan menghampiri kami. “Andre!” Aku terkejut. Tak menyangka dia akan berucap seperti itu. “Apaan, sih, kamu?” Mulut Della ternganga. Menatap Andre dan aku secara bergantian. “Apa?” “Ya, sudah lama gue menaruh hati sama Alya, Del.” Andre semakin mendekat. “Hari ini aku menagih janjinya untuk memberikan jawaban. Alya menerimanya.” “Andre!” seruku tak percaya. “Ndak! Aku ndak nerima kamu, Ndre. Kamu salah paham!” Andre mengerutkan kening. “Salah paham gimana maksud kamu, Alya? Sudah jelas, kan, tadi kamu--“ “Ndak! Aku ndak pernah bilang iya, kok. Aku belum menjawab apa pun. Kamu jangan bohong, Andre!” Tiba-tiba aku merasa sebal melihat laki-laki berparas blasteran Erofa itu. “Del, kamu jangan percaya omongan Andre. Aku dan dia gak ada hubungan apa-apa, kok.” “Serius?” tanya Della masih belum percaya. “Alya! Kamu tadi mengangguk saat kutanya. Apakah itu—“ Buru-buru aku memotong ucapannya, “Itu bukan berarti aku bersedia, Ndre. Aku hanya tengah berpikir. Ndak ada arti lain.” “Alya?” Andre tersenyum getir tak percaya. Mungkin tak menyangka aku akan berkata seperti itu. “Aku pikir kamu .... “ “Ndak! Kamunya saja yang salah paham,” ujarku tak ingin membiarkan laki-laki itu meneruskan ucapannya. Sementara Della hanya bengong. Beberapa kali dia berusaha menatap lekat mataku. Di saat yang sama, buru-buru aku menunduk. “Gue bingung, siapa di antara elu berdua yang lagi ngebokis? Kenapa, sih, gak pada mau jujur?” Andre mendekatiku. “Alya, mataku gak bisa dibohongi. Tadi aku benar-benar berpikir kalo kamu menerima permohonanku, kan?” “Maaf, Ndre. Berulang kali aku katakan, aku belum berniat untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Termasuk kamu. Maafkan aku.” Aku bergegas meninggalkan mereka berdua. Melangkah dengan cepat tanpa mau menoleh sejenak pun. Rasanya perutku mulai memual mendengar celotehan Andre. Tak tahu malu! “Alya! Tunggu!” panggil Andre hendak mengikutiku. Namun suara langkahnya terhenti. Aku pikir mungkin ditahan Della atau bagaimana. Tak peduli. Aku hanya ingin menjauh dan tak lagi dipertemukan dengan laki-laki tersebut. Masuk kelas? Ke kantin? Ataukah duduk sendirian di taman kampus? Ah, aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Semua tempat di area itu mendadak tak nyaman. Setiap sudut seperti ada sepasang bola mata kehijauan yang tengah memperhatikan. Sungguh menyebalkan. BRUK! Ah, sial! Tiba-tiba seseorang menubrukku. Sesaat meringis ngilu di bagian bahu. Lalu berbalik arah mencari sosok yang bertabrakan tadi. Seorang laki-laki muda dengan perawakan ceking namun bertinggi badan tinggi. Hal yang bersamaan, kami saling menatap satu dengan lainnya. “Kamu .... “ “Alya, kan?” tanya laki-laki tersebut. “Iya, aku Alya. Kamu Ryan, kan?” tanyaku sambil menudingkan telunjuk ke arahnya. Dia senyum-senyum sendiri. Benar! Laki-laki itu memang Ryan. Sosok yang dulu pernah akan merenggut kesucianku yang cara tak sejati. Hhmmm ... lama tak jumpa. Ke mana saja selama ini? “Kamu anak fakultas ekonomi, kan? Lagi ngapain di sini?” tanya Ryan heran. Agak kaku dan gugup. Mungkin malu mengingat kelakuannya dulu. “Aku ndak sengaja ke sini. Aku .... “ Melihat-lihat sekeliling. Khawatir Andre dan Della datang menyusul. “Aku .... “ “Kamu kenapa, Alya?” Ryan bingung memperhatikan sikapku. “Duh, Ryan. Tolongin aku, dong,” kataku tiba-tiba memohon. “Tolongin apa? Kamu kayak lagi ketakutan gitu. Ada apa, sih?” tanya Ryan kembali. “Bawa aku ke mana saja. Aku butuh tempat sementara untuk .... “ Kusapu lagi area sekitar. Cemas. “Bawa ke mana? Maksudmu pergi?” “Terserah kamu, deh, Ryan. Pokoknya asal jangan di sini.” “Ke mana?” “Ke luar kampuslah, Ryan,” seruku tak sadar. “ ... atau kalo bisa, ke tempat kos kamu.” “Gila!” “Mengapa memangnya?” Laki-laki itu menggaruk kepala. “Mau ngapain? Mau ngajak—“ “Jangan gila, deh, kamu. Aku ndak bermaksud mengajakmu macam-macam, Ryan,” tukasku jengah. “Aku hanya butuh tempat untuk bersembunyi sebentar.” “Ngumpet? Kenapa emangnya?” Ryan masih tak paham. “Ada orang yang mengancam kamu, Alya?” Aku menggeleng. “Bukan. Tapi .... “ “Kalo siang begini, aku gak bisa bawa cewek, Lya. Bu Bariah pasti akan marah,” jawab Ryan. “Bu Bariah? Siapa dia?” “Yang punya rumah kosan. Siapa lagi?” “Ah, pokoknya aku ndak peduli. Kamu tolong bawa aku ke mana saja, deh, hari ini,” desakku kembali. Laki-laki itu kembali menggaruk kepalanya. “Ya, gak bisalah, Lya. Aku ada kelas hari ini.” “Please, Ryan. Aku mohon.” Ryan tampak bingung. Berulang kali seringai getir menyeruak di bibir hitamnya. “Gimana, ya? Haduh, bingung.” Di saat seperti itu tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil. “Alya!” Gawat! Itu suara Andre. Benar saja saat menoleh ke arah asal suara, laki-laki itu tengah berlari kecil sambil memanggil-manggil namaku. Di ikuti Della dari belakang. Aku seperti mati langkah. Menghindar untuk yang kedua kali, rasanya tak mungkin. Mereka pasti akan terus mengejarku. “Kenapa kamu kabur, Lya?” tanya Andre setelah mendekat. Napasnya terengah-engah. Hal yang sama terjadi pada Della. “Elu gua telpon kagak diangkat. Kenapa, sih, lu?” Della turut bertanya dengan susah payah di antara helaan napas lelahnya. Aku bingung harus jawab apa. Kali ini tak boleh lari. Aku harus menghadapi sekaligus kedua manusia itu. “Aku .... “ “Siapa dia?” tanya Andre setelah beberapa lamanya memperhatikan sosok Ryan yang berdiri persis di belakangku. Aku melirik ke arah Ryan. Laki-laki kerempeng itu terdiam bingung. Tiba-tiba aku seperti mendapat ilham dalam situasi serba darurat tersebut. Keberadaan Ryan saat ini sungguh tepat. Diawali gerakan cepat, segera kuraih jemari Ryan. Tergenggam menyatu dan erat dalam kuasa penuh. Laki-laki itu kaget. Semula hendak melepaskan, namun kutahan sekuat tenaga seraya memelototinya dengan galak. “Ini ... ini ... Ryan. D-d-d-i-iaa ... pacarku.” Ryan tersentak. Itu kurasakan dari gerak repleks lengannya yang kuat. Kembali aku memelototi. Memberinya kode tertentu dengan seringai bibirku yang menipis. Meminta dia untuk tetap diam dan tenang sebisa mungkin. “Pacar?” Della menatapku heran. “Sejak kapan elu punya pacar? Kok, elu gak pernah cerita?” Lain lagi dengan Andre. Mata laki-laki menyipit, memperhatikan dengan seksama sosok Ryan yang terlihat syok dan bingung. “Serius? Kamu gak lagi bercanda, kan?” “Iya, gue ... eh, aduh! Kok, jadi gue? Maksudnya ... aku serius. Beneran serius. Ini memang pacarku. Namanya Andre. Eh ... salah! Ya, ampun! Maksudku ... namanya Ryan. Lengkapnya Adryan Malhotra.” Mendadak lidahku kelu tak bisa diajak kompromi. Mulut langsung terasa kering kerontang hingga tenggorokan. Sial! Rasanya saat ini aku butuh jus alvocado alias alpukat. Untuk melicinkan gerak lisan agar tak keseleo lagi. “Sejak kapan kalian berhubungan? Selama ini aku belum pernah lihat kalian berdua jalan bareng,” ucap Andre seperti tengah menyelidiki. Aku berusaha mengekeh sambil menoleh ke arah Ryan. Maksudnya meminta agar laki-laki itu lekas mengikuti tawa kecil hambar ini. Untunglah dia cepat paham. Kekehan kaku segera menyeruak dari bibirnya. Menyebalkan. Akting kami sangat buruk! “Iya, m-m-me-mang. D-d-d-i-ia baru t-t-tiba dari j-j-ja-uh . Sengaja datang ke sini menemuiku. B-b-b-iasa ... melepas rindu. Ehehehe!” kembali aku tertawa kecil. “Malhotra?” gumam Andre sambil berpikir keras. “I-i-ya. M-m-malhotra. Peranakan India. Dari papahnya. Iya, kan, Sayang?” tanyaku sambil menghentak lengan Ryan agar menjawab ‘iya’. “Iya, betul. Papah saya India. Mamah asli ... dari Tasikmalaya. Namaste! Kumaha demang?” jawab Ryan akhirnya. Aku menarik napas lega. Laki-laki itu cepat tanggap dan mau diajak kerjasama. “Kumaha demang?” Andre menirukan ucapan Ryan. “Elu pikir ini jaman kompeni? Demang? Damang ngkali maksud elu!” Sial! Si Andre salah memilih kata. “Iya, betul. Maksud saya seperti itu. Maklum, lama tak berkunjung ke Indonesia. Ikut Papah di India. Bantu-bantu jualan kain untuk konveksi,” jawab Ryan sekenanya. Aku menghentakkan tangan laki-laki. Maksudnya memberi kode agar dia tak berlebihan berbual-bual. “Gitu, ya?” Andre masih tampak menyelidik dengan tatapan curiga. “Kya tum jhooth nahin bol rahe ho? Aapaka ravaiya bahut sandigdh hai!” SREK! SREK! SREK! Ryan tiba-tiba menggaruk kepala. Kali ini agak lama dari biasanya. Aku memejamkan mata dengan mulut geram menahan kesal. Mampus! Tak menduga kalau Andre yang peranakan bule itu ternyata bisa berbahasa Hindi. “Eh, apa itu tadi?” tanya Ryan bingung. “Jawab saja sendiri!” Andre tersenyum sinis. “Eh, aku ... aku .... “ Ryan terbata-bata. Della yang sejak tadi memperhatikan obrolan Andre dengan Ryan ikut terheran-heran. “Elu berdua pada ngomong apaan, sih? Pake bahasa manusia ngapa!” Andre menoleh. “Elu diem aja, Del,” katanya diiringi senyum berjuta makna. Kemudian kembali menatap Ryan dan aku bergantian. “Bas maan lo! Aapane jhooth bola, hai na?” Ryan tak menjawab. Bukan apa-apa. Salah satu kuku jariku menekan daging telapak tangannya dengan keras. Gemas sekaligus sebal. Ini semua akibat kekonyolan si Ryan. Sandiwara tanpa sekenario yang tak direncanakan. “Sakit, Lya,” bisik Ryan lirih. Hih! Aku menarik tancapan ujung kuku di telapak tangannya. “Gua lihat, muka elu sama sekali gak ada aroma bumbu panipuri, Bro,” ujar Andre setelah lama memperhatikan tekstur wajah Ryan. “Elu pasti punya turunan darah Ambon, kan?” Haduh! Aku semakin merapatkan pejaman. Dusta ini rasanya akan segera berakhir memalukan. Mengapa tak berterus terang saja dari awal, kalau si Ryan berasal dari daerah Cancar, Nusa Tenggara Timur. Bila perlu ditambahkan bualan lain, seperti tetangga dekat Betrand Peto. Kepalang tanggung dan sekarang sudah terlanjur ketahuan nuansa aslinya, omong kosong! “Sudahlah, Ndre. Ndak usah kamu ungkit-ungkit biografi orang. Ndak ada untungnya buat kamu,” kataku memecah suasana. Andre terkekeh lepas. “Kenapa, Lya? Takut ketahuan bohongnya, kan? Hahaha.” Andre tertawa keras. Della mungkin berpikir keras, apa yang sedang terjadi di sini. Tiba-tiba saja dia lupa mengatur napas setelah tadi lari-lari mengejarku. Itu tergambar jelas dari raut wajahnya. “Aku ndak bohong. Ryan memang pacarku. Kami sudah lama berhubungan. Apa kamu juga ingin tahu kapan tanggal kami jadian?” Kesalku pada laki-laki itu semakin menjadi-jadi. Andre kembali tergelak hebat. “Gue baru inget sekarang,” seru Andre tak mempedulikan ucapanku. “Hei, Bro! Elu anak fakultas teknik, kan?” “Kalo iya, memangnya kenapa?” tanya Ryan menantang. “Ya, gak apa-apa, sih. Cuma heran aja. Kita sama-sama kuliah di satu area yang luas, tapi gak terlalu berjauhan. Agak janggal aja jika bener elu pacaran ama Alya, tapi gak pernah sama sekali gue atau Della ngelihat elu berdua jalan bareng.” “Sudahlah, Andre. Maksudmu apa, sih, ingin tahu urusan aku?” Makin kesal rasanya melihat laki-laki itu. Sekali lagi dia tak mengindahkan kata-kataku. Malah terkekeh dan tetap menyerang Ryan dengan pernyataan konyolnya. “Emang perlu kalo orang pacaran ditunjukkin sama semua orang?” “Ya, enggak juga, sih. Itu urusan masing-masing,“ jawab Andre semakin menyebalkan. “Gue belum lama mengenal Alya. Tapi gue dan dia udah beberapa semester satu kelas sama dia.” “Terus?” Andre tersenyum kecut. “Kalo beneran kalian udah lama pacaran, kenapa baru sekarang gue lihat elu berdua begini. Pada grogi lagi. Mirip sepasang pengantin hasil perjodohan paksa. Hahaha!” “Andre!” Dia semakin keras tertawa. Kali ini diikuti Della yang rupanya sudah mulai paham maksud obrolan laki-laki bermata kehijauan itu. Ryan melepaskan genggaman tanganku dengan keras. “Iya! Gue dan Alya memang gak punya hubungan apa-apa. Dia memaksa gue buat bersandiwara. Tapi gue gak tahan. Dari tadi tangan gue sakit ditusuk-tusuk kuku dia! Puas? Sekarang juga mau cabut dari sini. Ada yang lebih penting bagi gue, yaitu masuk kelas mengikuti jadwal kuliah. Daripada berlama-lama dengan omongan bullshits ini. Permisi! Gue mau pergi! Terima kasih!” “Ryan!” panggilku. Dia tak peduli. Tetap menjauh dengan langkah cepat. “Sialan!” BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD