“Alya .... “ panggil Andre seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. “Kok, malah melamun?”
Aku tersentak kaget. “Eh, iya. Maaf, Ndre. Aku .... ”
“Kamu kenapa, sih?” tanya Andre heran.
Aku menarik napas panjang. “Aku ... aku hanya sedang berpikir, Ndre. Maafkan aku.”
Laki-laki itu menggeleng-geleng. “Terus, gimana jawaban kamu?” tanyanya kemudian. Aku menatap Andre sejenak. “Tentang apa, ya?” Masih bingung harus menjawab apa. Bayangan akan kejadian tadi masih membekas kuat dibenakku.
“Ya, Tuhan ... Alya! Jadi dari tadi kamu gak nyimak omonganku?” Andre terlihat kesal. “Hubungan kita, Lya. Kamu mau menerimaku, kan?”
Oh, iya. Baru ingat. Andre menagih janji jawaban atas permohonannya tempo hari. Sial! Anganku masih dipenuhi bayang-bayang semu yang sangat dikhawatirkan kelak jika ....
“Maaf, Ndre. Aku ndak bisa,” jawabku akhirnya setelah beberapa saat terdiam.
“Kenapa, Lya? Kamu meragukanku? Aku--“
“Bukan masalah itu, Ndre. Maaf,” potongku sebelum Andre menuntaskan ucapannya. “Aku percaya ketulusanmu itu, tapi aku benar-benar ndak bisa. Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan mengenai itu.”
“Pertimbangan apalagi, Lya?” tanya Andre mendesak. “ ... atau kamu takut hubungan kita nanti diketahui Della? Kenapa?”
Kutatap bola mata kehijauan itu. Ada kejujuran yang terpancar di sana. Yakin sekali laki-laki itu tidak sedang bercanda maupun menggombal. Bias yang sama seperti yang kurasakan pada sosok Om Bram selama ini.
Aku menggeleng perlahan. Belum sanggup untuk memberikan jawaban sebenarnya. “Maafkan aku, Ndre. Aku ndak bisa memberikan alasan apa pun. Maaf.”
“Kenapa?”
Mendadak mulutku serasa kering kerontang untuk menjawab. Sedikit terpaksa berucap dengan lidah kelu. “Mungkin ... aku ndak pantas untukmu.”
“Maksudmu apa, Lya? Gak pantas bagaimana?” Andre ngotot. “Aku mencintai kamu, Lya. Sungguh!”
“Tidak, Ndre. Aku pikir ... mungkin ada seseorang yang lebih tepat untuk kaucintai. Tapi itu bukanlah aku.”
“Siapa?” Andre berpikir sejenak. “Della maksudmu?”
“Cari tahu saja sendiri, Ndre. Maaf, aku harus segera masuk kelas. Della memanggilku.” Aku beranjak dari tempat duduk. Meninggalkan sosok Andre yang terpaku sambil memanggil-manggil.
“Lya, tunggu. Kamu belum menjawab pertanyaanku, Lya!” seru Andre namun tak berusaha mengejarku. “Lya! Tunggu aku!”
Aku tak peduli. Terus melangkah ke luar ruangan perpustakaan dengan berat hati. Masih terdengar teriakannya membahana memenuhi sudut ruangan. “Lya, aku akan tunggu kamu sampai kapan pun! Ingat itu!”
‘Ndak, Ndre. Maafkan aku. Aku benar-benar ndak bisa menerima kehadiranmu,’ ucapku dalam ayunan langkah menuju kelas. ‘Yang kuinginkan hanya .... ‘
Della menatapku tajam, begitu masuk ke dalam kelas. Liar bola mata gadis itu memperhatikan hingga kududuk di sebelahnya.
“Elu dari mana, sih? Kok, lama amat?” tanya Della menyelidik. “Dari toilet, Del. Kan, sudah aku bilang tadi,” jawabku berbohong.
“Ngapain aja di sana? Elu sembelit?”
Kutepuk lengan Della. “Kamu ini. Ada-ada saja, deh, ah.”
“ ... atau malah ketemuan sama si Andre, Cuy?”
Aku menoleh kaget. “Apaan, sih, Del? Ya, ndaklah. Buat apa juga ketemuan sama cowok itu?” elakku mendadak gugup.
“Hhmmm,” gumam Della kemudian.
“Ya, ampun, Della. Beneran aku ndak ketemu sama dia. Percaya, deh, sama aku,” kataku meyakinkan.
“Ya, udah. Kalo enggak, ya ... enggak aja, Cuy. Gak usah salah tingkah gitu juga, ngkali,” sungut Della sambil mencibir.
Aku menunduk. Merasa bersalah karena sudah membohongi sahabat yang paling dekat itu.
Tak berapa lama muncul Andre, masuk kelas. Berjalan ke arah tempat biasa dia duduk. Pandangannya tak lepas ke arahku. Buru-buru aku berpura-pura membuka tas. Tak ingin balas menatap laki-laki itu.
Di saat seperti itu, aku juga tahu kalau Della ikut memperhatikan kami berdua.
“Ehem!” deham Della agak keras.
Aku tak peduli dan terus mengubek-ubek seisi tas. Walau sebenarnya tak tahu apa yang sedang dicari. Mendadak udara di dalam kelas menjadi panas membara. Gerah terasa memanggang sekujur tubuh. Hembusan penyejuk udara yang terpasang di dua penjuru ruangan pun, seperti tengah menggelitik geli. Ah, sial! Apa yang harus kulakukan? Hari ini benar-benar menyebalkan!
Materi pelajaran yang disampaikan asisten dosen di depan kelas, tak satu pun mampu menembus otak. Kepalaku seperti membeku. Sampai kemudian ....
“Cuy!” Della menepuk lenganku.
Aku mendongakkan kepala. Gadis itu tengah berdiri persis di samping. “Ada apa?” tanyaku bingung. “Pulang!” ujar Della sudah bersiap-siap lengkap dengan tas tersoren di pundak.
“Hah?”
“Hah apaan?”
“Kok, pulang?”
Della tergelak. “Elu mau diem terus di sini? Pulanglah. Yuk, ah.”
Sialan! Jadi selama pelajaran tadi aku tak fokus? “Oke, Del.” Kubereskan semua buku yang berserakkan di atas meja. Tak satu pun yang dibaca sejak dikeluarkan tadi. “Yuk, berangkat!”
Della menggandeng tanganku. Tak juga dilepaskan hingga kami sampai di pelataran parkir. Sepanjang langkah, aku memperhatikan area sekitar. Berharap sosok Andre tak ada di sana.
“Elu kenapa, sih, Cuy?” tanya Della begitu sudah berada di dalam kendaraan. “Kenapa apanya, Del? Aku ndak apa-apa, kok,” jawabku sekenanya. Mata ini menyapu suasana parkiran. Bersyukur sekali, karena tak menemukan Andre sejak keluar kelas tadi.
“Elu kebanyakan bengong. Kayak ada yang lagi dipikirin?” selidik Della. “Ndak ada. Aku baik-baik saja, kok, Del. Tenang aja,” kataku. Lagi-lagi berbohong.
“Serius ... gak ada apa-apa?”
Aku tersenyum hambar. “Iya. Bawel amat, sih, kamu!”
Della menyalakan mesin kendaraan, lalu perlahan melaju meninggalkan area kampus.
“Kita ke kantor Papah dulu, ya, Cuy,” ujar Della di tengah perjalanan.
“Hah? Ngapain?” Aku terkejut. Della sampai mengernyit heran. “Ngapain? Terserah gue, dong!” timpal gadis itu tak kalah mengejutkan. “Gue, kan, anaknya. Sekali-kali boleh, dong, maen-maen ke tempat kerjaan Papah gue!”
O, iya. Benar juga, sih. Sekalian mengobati rasa rindu, karena tadi pagi aku belum sempat melihat sosok laki-laki itu. Eh, mengapa pikiran itu yang muncul, ya?
“Bukan begitu, Del. Maksudku, ndak biasanya habis kuliah kamu ke kantor Om Bram,” ucapku menambahkan.
Della terkekeh. “Ya, sekalian ... elu juga harus tahu kantor Papah gue. Gak ada salahnya, kan?”
Aku mengangguk. Memang selama tinggal bersama keluarga Della, belum pernah sekalipun aku mengetahui tempat bekerja Om Bram. Entah mengapa, tiba-tiba saja hati ini serasa berbunga-bunga kalau sudah mendengar nama tersebut.
Om Bram ... Om Bram ... Om Bram ...
Berkali-kali nama itu kusebut di dalam hati.
“Hei, ngapain elu senyum-senyum gitu, Cuy?”
Ya, ampun! Gadis itu rupanya memperhatikan tingkahku. “Ndak ada!”
Mata Della menyipit. “Elu lagi ngebayangin si Andre, ya?”
Lho, kok ... jadi Andre? Aku sedang membayangkan Om Bram, Del! Mengapa harus laki-laki setengah bule itu?
“Ngaco kamu, Del.” Aku tak mau beradu tatap dengan Della melalui kaca spion tengah.
“Gue perhatiin tadi di kelas, dia terus-terusan ngelihatin elu,” kata Della kemudian. “Sebenarnya ada apa, sih, di antara elu berdua?”
“Hah?” Kali ini aku benar-benar menoleh. “Masa, sih?” tanyaku pura-pura tak tahu. “Aku ndak begitu merhatiin, Del.”
“Gak merhatiin atau pura-pura gak tahu?” selidik Della kembali. “ ... atau jangan-jangan selama ini elu ngebohongin gue?”
“Bohong apaan lagi, sih, Del?” Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Takut kalau sebenarnya Della sudah mengetahui perihal perasaan Andre padaku tersebut. “Perasaan ... selama ini aku ndak pernah bohong sama kamu.”
“Serius?”
“Beneran!”
“Elu gak ada hubungan apa-apa sama dia?”
“Dia?” Detak jantungku tambah kencang. “Dia siapa?” Jangan sampai nama papah Della yang disebut, Tuhan! Tak tahu harus menjawab apa kalau sampai gadis itu mencurigai rasa ini pada Om Bram.
“Si Andre, Cuy! Siapa lagi?” Della menegaskan. “Memangnya ada laki-laki lain dalam hati elu?”
“Ya, ndaklah, Del. Kamu ini makin ngaco, deh, ah!”
Della terkekeh. “Ya, gue pikir ... mungkin aja ada.”
“Ada apa? Maksudnya mikirin aku ada apa, begitu?” Benar-benar takut kalau sampai Della tahu bahwa aku naksir papahnya. Duh, ngeri sekali, Tuhan!
Della mengerutkan kening. “Gue pikir ... elu ada rasa ama cowok blasteran itu, Lya! Elu mikirnya ke mana, sih? Busyet, deh! Dari tadi gue ajak ngomong, elu gak nyambung, deh!”
Ya, Tuhan! Syukurlah! Tidak seperti yang kubayangkan!
“Ndak ada! Sumpah! Aku ndak bohong!” seruku sampai mengacungkan dua jari ke depan Della.
“Nah, tinggal jawab begitu aja. Apa susahnya, sih?” seloroh Della. “Capek ngomong ama elu, Cuy! Susah koneknya!”
Aku menepuk bahu Della. Kesal. Disambut gelak keras gadis itu seperti biasa.
Perjalanan kami akhirnya tiba juga. Della memarkirkan kendaraan di tempat khusus. Setelah menyapa petugas keamanan setempat, dia berjalan menuju sebuah ruangan. Kuikuti langkahnya sambil memperhatikan suasana kantor tempat Om Bram bekerja. Rapih dan bersih, juga megah.
Melewati beberapa koridor yang dihiasi beberapa jenis tanaman segar. Kemudian sampai di sebuah ruangan khusus. Di depannya ada seorang pekerja perempuan muda dan cantik, menyapa kami dengan ramah. Sepertinya dia sudah mengenali Della. Tentu saja karena Om Bram adalah salah seorang pegawai berpengaruh di sana.
“Papahnya ada, Bu?” tanya Della pada perempuan tadi. “Sedang meeting, Mbak. Sebentar lagi juga selesai,” jawabnya ramah. Sesekali dia memperhatikanku.
“Oh, iya. Kenalkan ini ... namanya Alya. Keluarga Papah juga,” ujar Della memperkenalku dengan perempuan tadi.
“Hai, Mbak. Saya Cassandra. Senang sekali bisa bertemu,” kata perempuan itu seraya menyalami. “Aku Alya, Bu,” balasku agak sungkan.
“Aku boleh nunggu di ruangan Papah, kan, Bu?” tanya Della sesaat kemudian. “Tentu saja boleh, Mbak. Silakan masuk,” jawab Cassandra. “Mau saya pesankan minuman atau .... “
“Gak usah, Bu. Terima kasih,” ujar Della. “Aku masuk ke dalam, ya.”
“Oh, silakan, Mbak. Nanti saya sampaikan pada Pak Bram, kalau Mbak Della ada di dalam ruangan,” kata Cassandra ramah.
“Oke. Terima kasih, ya, Bu.”
Aku mengikuti Della masuk ke dalam sebuah ruangan. Besar, rapih, bersih, dan sejuk. Ada meja besar yang dilengkapi komputer berlayar besar. Pesawat televisi, tempat duduk yang besar dan empuk, serta beberapa lukisan dan foto yang terpajang di dinding ruangan. Ada potret Della di sana.
Ya, Tuhan! Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah bingkai besar yang menempel dengan indah. Seorang wanita cantik mengenakan busana artistik berwarna merah marun, bersanggul lengkap dengan aksesoris yang menghiasi rambutnya. Kulitnya putih memancarkan aura eksotis. Dihiasi senyum yang begitu manis. Mungkinkah itu ....
“Itu mendiang Mama gue, Cuy,” kata Della begitu mendapatiku tengah memperhatikan foto besar di dinding. “Cantik, kan?”
“Cantik sekali Mama kamu itu, Del,” sahutku terpana.
“Dan .... “ ucapan Della terhenti. Tertegun sambil menatap sebuah foto lain yang tergantung di atas meja kerja papahnya.
“Dan apa, Del?” tanyaku ikut melirik pada arah pandang Della tadi. “Lho ... itu .... “
Ya, Tuhan! Benarkah itu? Di sana ada ada sebuah foto lain di samping potret Della. Seorang perempuan muda berkulit eksotis. Lengkap dengan senyumannya yang manis. Dia ....
“Del, itu ... kan, fotoku. Mengapa ada di meja kerja Om Bram?” Tiba-tiba jantung ini kembali berdetak kencang. Sejak kapan Om Bram mempunyai fotoku?
Seingatku, belum pernah sekalipun aku memberikan foto pada dia. Bahkan pernah diambil gambar pun. Lalu, dari mana Om Bram mendapatkannya?
“Sayang .... “ Satu suara mengejutkan muncul dari balik pintu ruangan. Sesosok laki-laki tinggi dengan perawakan padat dan wajahnya dipenuhi bulu-bulu tipis, tersenyum dengan manis menyambut kehadiran kami.
“Papah .... “ seru Della seraya menghampiri papahnya. Mereka berpelukan dengan erat. Cium laki-laki itu mendarat di kening serta kedua pipi gadis itu. “Maafkan aku, Pah. Gak ngasih tahu dulu kalo hari ini mau ke kantor papah.”
“Gak apa-apa, Sayang,” jawab Om Bram sambil mendaratkan kembali kecupnya di kening Della.
Oh, Tuhan! Seandainya saat itu aku berada pada posisi Della. Dipeluk, dicium, dan ... ah, mengapa pikiran itu harus muncul di saat-saat seperti ini, ya? Om Bram bukan siapa-siapa aku. Tentu saja hal demikian tak akan berlaku buatku. Tapi ....
“Hai, Alya,” sapa Om Bram seketika setelah melihat kehadiranku di antara mereka. Dia berjalan menghampiri.
Tidak! Jangan! Laki-laki berbulu halus itu semakin mendekat. Senyumnya mulai menyeruak dengan indah sambil menatapku dalam-dalam.
“H-ha-i, O-o-om,” balasku menyapa dengan suara terpatah-patah.
Tubuh ini tiba-tiba serasa bergetar hebat. Langkah kaki panjang itu kian mendekat. Ketuk sepatunya beradu dengan lantai seakan mewakili degup jantungku yang semakin menguat. Dia mengayunkan kedua lengan. Bersiap melahap setiap inci tubuh ini jatuh ke dalam pelukan hangat. Sampai kemudian ....
“Selamat datang di kantor saya, Lya,” kata Om Bram sambil mendekapku sepersekian detik. Kecupnya pun turut mendarat dengan lembut menyentuh kening ini. Suara bibirnya membahana beradu dengan indah di permukaan kulitku.
Aku tak bisa bergerak. Diam mematung dengan tubuh kaku. Aliran darah dalam tubuh ini tiba-tiba terasa membeku.
Ya, Tuhan! Aku ingin keadaan ini berlangsung lebih lama lagi. Berilah secercah keindahan walaupun hanya sekali ini saja terjadi. Dari dia. Laki-laki itu. Dalam dekapannya.
“Lya .... “ panggil Om Bram lembut.
“Hah?” Aku terpana mendapati wajahnya cuma beberapa senti meter dariku. Tentu saja harus mendongak lebih agar bisa beradu tatap dengan mata indah kecoklatan itu.
“Ayo, duduk dulu,” kata Om Bram kemudian.
“Hah?”
“Duduk dulu, Lya.” Om Bram mengulangi.
Aku tak sanggup bergerak. Kaki ini seperti terpaku menyatu dengan lantai ruangan. Bahkan hampir saja jatuh sempoyongan jika tak segera direngkuh oleh tangan kekar berbulu halus itu.
“Kamu kenapa, Lya?” tanya Om Bram heran.
“Rasanya ... aku sedang sekarat, Om,” jawabku setelah menelan sisa liur yang tiba-tiba mengering.
BERSAMBUNG