Aku tak sanggup bergerak. Kaki ini seperti terpaku menyatu dengan lantai ruangan. Bahkan hampir jatuh sempoyongan jika tak segera direngkuh tangan kekar berbulu halus itu. “Kamu kenapa, Lya?” tanya Om Bram heran.
Aku terdiam sambil menyeringai. ‘Rasanya aku sedang sekarat, Om,’ jawabku dalam hati, setelah menelan sisa liur yang tiba-tiba mengering.
Della ikut menghampiri. “Elu kenapa, sih, Lya? Tadi sehat-sehat aja? Elu sakit?” tanya gadis itu membantu memapah berjalan, lalu mendudukkanku di kursi. Tangannya berayun hendak memeriksa kening, tapi cepat-cepat kutolak, “Jangan!”
“Kenapa?” Della makin heran. “Ndak apa-apa. Aku ndak apa-apa, kok. Sehat dan baik-baik saja,” jawabku berusaha kuat dan terlihat segar. Padahal maksudnya agar kening bekas ciuman Om Bram tadi jangan sampai tersentuh tangan lain. Bila perlu hari ini tak perlu mandi.
Gila! Tak sewaras itukah aku? Tapi sungguh. Jujur saja. Aku sedang menikmati sensasi aroma bibir laki-laki itu mendarat sempurna di kulit wajah ini.
Om Bram hanya tersenyum seraya menggeleng-geleng melihat sikapku. “Kalian mau minum apa? Atau ... belum makan siang?” Dia menawari kami.
“Makasih, Om. Alya sudah kenyang,” jawabku dengan mata terpejam. Membayangkan kembali adegan tak disangka tadi. Ingin sekali rasanya mengulang dan terus mengulang sampai akhirnya aku yakin, kali ini bukanlah lamunan maupun impian.
“Kenyang apaan, sih, Cuy? Dari kampus tadi kita belum makan apa-apa, kok,” protes Della heran.
‘Maksudku, pelukan papahmu tadi itu sudah cukup membuatku kenyang, Della. Haduh, masa segitu saja ndak paham, sih, Non?’ gumamku dalam hati dengan mata masih terpejam. Reka adegan tadi masih rajin ku-replay dalam memori kepala. Sampai tak sadar tersenyum sendiri dengan indah.
“Ya, sudah kalo begitu. Papah pesan makanan dulu, ya.” Om Bram berjalan menuju meja kerjanya. Lalu menghubungi seseorang melalui pesawat telepon kantor.
“Cuy!” seru Della setengah berbisik di dekat telingaku. “Apa?” Aku membuka mata. Mendapati gadis itu tengah memperhatikan dengan sorot tajam matanya. “Elu kenapa, sih?” tanya dia kemudian. “Kenapa apanya? Aku ndak apa-apa, kok, Del,” jawabku bingung.
“Elu gila atau kesurupan, sih?” Wajah Della tampak tegang. Antara ingin memastikan aku sadar dan khawatir terjadi sesuatu di luar nalar. Mungkin maksudnya begitu.
“Ya, ampun, Del. Aku sehat, kok. Memangnya ada yang aneh, ya, sama aku?” Hampir saja kuraba wajah ini, namun urung dilakukan. Ada bekas spesial yang tak akan diganggu gugat di sana. Uh, mudah-mudahan tak akan lupa.
“Ya, anehlah. Elu cengangas-cengenges sendirian. Itu maksudnya apaan coba?”
“Kapan?”
“Au, ah!” Della cemberut.
“Maksudnya barusan atau kapan, sih?” Benar-benar bingung dengan sikap Della ini. Padahal aku tak pernah merasa melakukan hal apa pun seperti yang dia sangkakan. “Kamu kalo ngomong yang bener, dong, Del. Yang jelas gitu. Jadi aku bisa jawab bener dan jelas juga.”
Mata Della makin membelalak dan galak. “Elu kalo gue siram pake saos cabe kayaknya enak, deh, Cuy. Krispy gimana gitu. Gemes gue pengen ngunyah-ngunyah elu.”
PLAK!
Bahu Della menjadi sasaran empuk tepukanku. “Kamu itu kalau ngomong, kok, sembarangan saja. Memangnya aku lobster?”
“Sakit, Lya!” ringis Della sambil mengusap-usap lengannya. “Ups, sorry, Del. Kelepasan. Hihihi,” jawabku tak bisa menahan tawa melihat reaksi gadis itu.
Om Bram kembali dari meja kerja. Duduk berhadapan memandang kami satu per satu. “Ada apa? Kalian dari dari ketawa-ketawa terus? Ada yang lucu di sini?” tanya laki-laki itu dengan senyum khasnya.
Seketika tawaku langsung berhenti. Sesaat memandang wajah Om Bram dan langsung menunduk. Khawatir saling beradu tatap. Tapi sempat memperhatikan bulu-bulu halus di wajah itu. Tadi sempat menggelitik dan hampir membuatku jatuh pingsan.
“Biasa, Pah. Si Alya tuh,” jawab Della merengut manja. “Kok, jadi aku, sih?” Kusikut lengan gadis itu. “Ya, jelaslah kamu, Cuy. Tiap kali deket sama Papah, pasti, deh, kelakuan kamu aneh,” timpal Della. Kembali kusikut lengannya. Kali ini dia berhasil menghindar.
Om Bram terkekeh. “Papah senang kalian terlihat akrab dan rukun. Semoga hubungan persaudaraan kalian berdua tetap terikat dengan kuat selamanya, ya, Sayang-sayang Papah.”
Hubungan persaudaraan? Aku dan Della? Jadi selama ini benar adanya kalau Om Bram menganggapku sebagai anak angkat? Kok, begitu? Jangan sebagai anak, dong, Om! Please. Angkat aku sebagai selain dari itu atau apalah.
“O, iya, Lya .... “ sahut Om Bram beberapa saat kemudian. “Saya minta maaf telah mengambil foto kamu buat di simpan di ruangan kerja saya. Karena saya pikir, toh, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Makanya saya berinisiatif untuk memajangnya. Tak apa, kan, Lya?”
Ya, Tuhan! Kerongkonganku serasa tercekat. Aku sudah dianggap sebagai keluarga Om Bram. Menjadi anak angkatnya. Apakah tak ada kesempatan lain untuk menjadi lebih daripada sekedar seorang anak, Om?
“Lya .... “ panggil Om Bram.
“Eh, iya, Om. Ndak apa-apa, kok,” jawabku akhirnya. “Aku malah seneng punya keluarga baru di sini.”
“Beneran elu seneng, Cuy?” tanya Della menyela. “Iyalah, aku seneng banget. Memang seharusnya bagaimana?” Aku menoleh menatap gadis itu.
“Gak berharap menjadi yang lain, mungkin?”
“Maksud kamu?” Aku tertegun. Jangan-jangan dia tahu kalau aku berharap ....
“Elu jadi kakak gue, misalkan. Secara, kan, umur elu lebih tua ketimbang gue. Cuma beda beberapa bulan,” ujar Della diiringi gelaknya seperti biasa.
Sialan! Dia paling bisa, deh, membuatku jantungan. Khawatir sekali Della akan berkata yang bukan-bukan. Hafal banget, mulut dia itu ‘ngember’.
Gadis itu buru-buru beringsut menjauh ketika sikutku bersiap-siap mendepak lengannya.
“Bisa saja, deh, kamu, Del.”
Om Bram ikut tersenyum. “Saya juga senang sekali. Semenjak Alya bersama kami, Della berubah menjadi sosok yang periang.”
“Memang sebelumnya bagaimana, Om?” Aku penasaran. “Dia itu tipe anak pendiam. Tak begitu suka bergaul dan tak banyak teman yang dia miliki,” jawab Om Bram.
“Pah!” seru Della protes. Tak ingin Om Bram membuka masa lalunya. Laki-laki itu malah semakin lebar tersenyum.
“Sikap Della memang terkesan jutek, sombong, atau apalah. Tapi aslinya seperti yang Alya kenal selama ini. Ketawa-ketiwi atau bahkan gemar bercanda. Saya sangat mensyukurinya. Anak kesayangan Papah telah kembali ceria .... “ Om Bram tak mempedulikan rengutan Della. “Terserah kalian akan menganggap kalian seperti apa. Siapa yang merasa kakak atau adik. Bagi saya itu tak begitu penting. Pokoknya, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan saya juga.”
“Pah! Udah, dong!” rengek Della.
“Dan buat kamu Alya .... “ Om Bram menatapku dalam-dalam.
“Iya, Om,” jawabku cepat.
“Mulai saat ini, kalau kamu mau memanggil saya ... Papah juga gak apa-apa.”
“Maksud Om bagaimana? Alya belum paham.”
“Sudah lama ... saya menganggapmu sebagai anak kandung sendiri, Lya,” ujar Om Bram akhirnya. “Apalagi saya dengar, kamu sudah tak mempunyai orangtua, kan, Lya?”
Apa? Tak salah dengarkah? Nyatakah ini? Aku ingin memastikan bahwa ini bukanlah sedang bermimpi. Kucubit keras-keras paha sendiri, dan ....
“Aduh!” Tak sadar aku menjerit keras.
“Kenapa lu?” tanya Della terkejut. “Ndak apa-apa. Aku hanya kaget saja,” jawabku asal, sambil meringis mengusap-usap paha.
“Bagaimana, Lya?” Om Bram bertanya. “Apanya, Om?” Aku bingung harus bahagia ataukah sedih. Jelasnya kalau mau jujur, justru seperti patah hati. Cintaku berbalas hubungan bapak-anak.
“Kamu boleh memanggil saya Papah, Lya,” jawab Om Bram. “Atau kalo lebih senang dengan panggilan Om juga, tak apa-apa. Saya tetap senang, kok.”
Tidak! Yang kuharapkan bukan itu, Om! Hubungan seperti itu justru akan semakin membuatku tersiksa. Selamanya? Entahlah. Cintamu, Om! Cintamu!
“Alya .... “
“Iya, Om. Eh, Pah! Eh?“
Om Bram menatapku dengan saksama. “Kamu, kok, malah terlihat murung?”
“Elu gak seneng ama berita ini, Cuy?” Della ikut bertanya. Mereka berdua memandangiku sedemikian rupa. Ya, Tuhan! Aku bingung harus menjawab apa, ya?
“Bukan begitu, Del, Om,” jawabku tercekat. Tenggorokan ini kembali mengering. Sakit sekali rasanya saat menelan liur. Kecewa, itu penyebabnya. “Aku hanya tak menyangka saja, ini terjadi begitu cepat. Aku tak pernah berharap lebih ketika Om Bram dan Della berkenan menerimaku hadir sebagai orang baru di tengah-tengah keluarga. Sekarang .... “
“O, iya. Saya minta maaf. Mungkin ini terlalu terburu-buru, Alya.” Buru-buru Om Bram menimpali. “Tidak seharusnya secepat ini, kan, Alya? Saya .... “
Tidak, Bram! Aku mencintai kamu, Pria Berbulu! Mengapa kamu tak mau memahami aku, sih? Aku cinta setengah gila sama kamu, Bramanditya!
Kalau saja tak ada Della di sana, ingin rasanya menghambur peluk ke arah tubuh Om Bram. Menangis tersedu dalam dekapannya. Lalu berteriak histeris bahwa sebenarnya aku sangat mencintai dia. Tak peduli apa pun risiko yang akan dihadapi. Itu akan lebih melegakan sesak paru, ketimbang harus terus-terusan memendam rasa menyiksa ini.
“Lya, elu nangis?” Della meraih pundakku. Kemudian menarik tubuh ini ke dalam pelukannya. “Kenapa, Lya? Kamu sedih?”
Benar, aku butuh tempat untuk menumpahkan rasa kecewa ini. Bukan Della yang diharapkan, tapi laki-laki yang ada dihadapan. Tapi tak mungkin, aku masih waras. Apalah jadinya jika tetap berkeras hati melakukan hal itu. Tentu akan melukai gadis itu, kan?
“Maafin gua, Lya,” kata Della. “Gue emang sengaja ngajak elu ke sini buat ngomongin masalah ini. Semua udah kami rencanakan. Elu pernah nanya, kan, ama gua dulu? Tentang hal ini.”
Aku belum sanggup berkata. Hanya bisa menangis dan menangis dalam pelukan Della. Sementara Om Bram memilih diam seribu bahasa.
“Gue ingin elu jadi keluarga gue sendiri, Lya. Karena gue suka ama elu. Berulangkali gue ngomong ama Papah, tapi sering ditolak. Papah tahu ini terlalu cepat. Sampai akhirnya gue berhasil meyakinkan Papah, kalo gue gak salah pilih. Elu emang pantas mendapat kebahagiaan, Lya. Bersama kami. Gue dan Papah,” ujar Della menambahkan.
Tapi tetap bukan itu yang diinginkan, Della. Aku mengharapkan papahmu! Sekarang, semuanya perlahan sirna. Om Bram hanya menganggapku sebagai seorang anak.
Setelah beberapa lama saling terdiam, akhirnya Om Bram angkat bicara. “Baiklah, jika memang kamu belum siap, gak apa-apa, Lya. Kami menghargai apa pun keputusan kamu. Bagi saya pribadi, kamu adalah keluarga baru kami.”
Aku melepas pelukan Della. Lalu menatap Om Bram tajam. “Aku mencintaimu, Om. Sudah lama aku mencintaimu,” kataku tiba-tiba setengah menggeram. Rasanya sudah tak tahan dari tadi berusaha untuk tak mengatakan kalimat itu.
Della dan Om Bram saling berpandangan.
“Alya .... “ Om Bram terkejut dengan mulut ternganga. “Maksud Alya apa?”
“Alya mencintai Om Bram,” kataku kembali mengulangi dengan jelas.
“Cuy, elu .... “ Della ikut terheran-heran.
Aku tersenyum puas karena telah mampu mengungkapkan separuh dari isi hati ini. Sekarang terserah, apa pun yang terjadi, aku siap menerimanya.
BERSAMBUNG