"Aku mencintaimu, Om. Sudah lama aku mencintaimu,” kataku tiba-tiba setengah menggeram. Rasanya sudah tak tahan lagi untuk mengatakannya.
Della dan Bram saling pandang. “Alya .... “ ujar mereka dengan mulut menganga. “Kenapa?” tanyaku heran. “Ada yang salah dengan ucapanku?”
Bram dan Della menggeleng.
“Lalu?” Aku bingung. “Maksud elu tadi apaan, Cuy?” Della masih ternganga. “Yang mana?” Heran, deh, dengan dua orang ini. “Yang tadi .... ” seloroh Della kembali. Bram hanya termangu, ada gurat gamang di wajah laki-laki flamboyan berbrewok tipis itu.
“Cinta-cintaan, maksud kamu?” tanyaku pada Della. Gadis itu mengangguk. “Ada apa? Kok, bingung?” lanjutku disambut.
“Just tell me, Cuy. Do not telmi (telat mikir/lemot),” balas Della gemas. “Susah amat, sih, ngomong. Repotnya dari tadi bolak-balik kagak jelas!”
Tiba-tiba aku tertawa. Lucu sekali. Bagaimana tidak? Melihat ekspresi kedua orang tersebut. Bram dan Della.
“Lya! Bisa waras gak, sih, lu?” seru Della kesal rupanya. Bram mendelik. Tawaku terhenti perlahan.
“Bisa ... bisa banget!” Aku menepuk paha Della keras-keras. Dia sampai meringis seraya mengusap-usap. “Aku cinta sama Om Bram sebagaimana aku mencintai kedua orangtua sendiri, apa itu salah?”
Della dan Bram menarik napas panjang. Lega kini, mungkin. Laki-laki itu menggelengkan lesu. “Enggak. Gak ada yang salah, kok, Lya. Kamu benar,” ujarnya dengan bibir gemetar menahan haru.
“Hhmmm ... gue pikir laen, Cuy. Haduh! Apa otak gue aja yang kebanyakan makan sikap telmi elu,” seru Della seraya menyandarkan punggung di kursi. “Memangnya kamu mikir apa, sih, Del? Kok, bisa sampai mengira yang macam-macam begitu?” Aku kini yang tak habis heran melihat sikap mereka berdua. “Kagak! Gue sehat! Waras!” jawab gadis itu kesal.
“Terus sekarang bagaimana?” Kulihat Bram melihat-lihat ke arah lain sambil garuk-garuk kepala. Seketika dia menoleh dan menodongkan telunjuknya padaku. “Kitaaa ... Aha, kita makan sekarang. Tuh, pesanannya sudah datang!”
Seorang pekerja kantor berpakaian serba biru masuk ke dalam ruangan, setelah sebelumnya mengetuk pintu. “Maaf, Pak. Agak lama,” kata pegawai tersebut. Dia menaruh makanan di atas meja.
“Lama amat, sih, Mas?” Della cemberut menatap pegawai tersebut. “Iya, maaf, Mbak. Tadi di belakang agak repot,” jawabnya diiringi senyum. “Tapi masih untung juga Mas datang,” lanjut Della. “Kalo enggak, bisa jantungan kita di sini.” Mata gadis itu melirik sejenak padaku.
“Del .... “ Bram mengingatkan.
“Maksudnya bagaimana, sih, Del?” Aku menebak-nebak.
“Udah, gak usah dibahas,” Della berkilah. “Kalo gak segera makan, kita semua bisa jantungan di sini.”
Bram tiba-tiba tersedak. Hampir saja tawanya pecah. “Papah batuk?” Spontan kusodorkan minuman.
Papah? What! Garing banget kesannya dan tak sedap didengar. Della sempat menoleh sejenak. Memperhatikanku sedemikian rupa.
“Terima kasih, Sayang,” ujar Bram dengan wajah bersemu merah. Tersenyum manis menerima minuman yang kuberikan.
Duh, Tuhan! Entah mengapa tiba-tiba aku merindukan saat-saat dulu. Kala di mana laki-laki itu memperlakukan diri ini dengan sensasi yang sanggup membuatku mabuk kepayang. Sekarang? Ah, terasa biasa saja.
“Iya, Pah,” jawabku datar. Terus terang tak ingin balas menatap mata itu untuk kedua kali. Tidak dan tak akan mau.
Della menyikutku. “Papah? Gak salah, kan, apa yang gue denger!” Dia tertawa di balik tangannya. Terheran-heran aku bertanya, “Lho, kenapa? Katanya tadi—“
“Aneh aja kedengerannya, Cuy.” Della tergelak.
“Del .... “ Bram mengingatkan.
Pekerja yang mengantarkan makanan tadi sempat ikut tersenyum. “Saya permisi dulu, ya, Pak dan juga Mbak-Mbak.”
“Terima kasih, ya, Mas,” ujar Della di antara sisa tawanya tadi.
Hhmm ... sandiwara macam apa ini? Aku harus kelihatan tegar sementara hati ini ingin berteriak kuat. Memaki dunia yang tak berlaku adil. Adakah hal yang lebih pantas kudapatkan selain keadaan saat ini?
“Alya gak makan?” Suara Bram menghentak lamunan. “Aku sedang makan, Om eh, Pah!” kutepuk mulut ini seketika. Salah sedikit.
Della dan Bram saling pandang. “Makan apaan, Cuy? Dari tadi elu cuma ngaduk-ngaduk minuman,” seru Della mengejutkan.
“Masa, sih?” Aku memperhatikan minuman di tangan. Tak ada yang aneh. Kecuali putaran air dingin dalam gelas. “Minumanku tidak pakai es batu, ya?”
Della memutar bola matanya diiringi cibir sedemikian rupa. Sementara Bram hanya tersenyum lucu memperhatikanku. Lama laki-laki itu menatap seperti itu, sampai-sampai aku jadi merasa tak enak sendiri. “Ah, Papah ... jangan lihatin Alya seperti itu, dong? Malu, Pah!”
Bram lagi-lagi tersenyum. “Ternyata kamu lucu juga, Alya.”
“Ah, Om Bram ini. Eh, Papah .... “ Mendadak seperti kehilangan gaya gravitasi bumi. Kulihat kedua kaki masih menapak di lantai. Lantas rasa apakah yang terbang? Leher inikah yang memanjang?
Sial! Jujur, sih, aku tersiksa sekali harus memanggil laki-laki itu ‘Papah’. Lebih nyaman dan indah seperti dulu, Om Bram. Bram, Om Bram, Bram, Om Bram! Panggilan ‘Papah’ seperti hendak menjauhkan asa ini. Ataukah justru dengan status sekarang ini, aku bisa bergerilya dengan aman tanpa harus khawatir kecurigaan Della? Bisa lebih dekat dengan Bram bertamengkan hubungan anak-bapak, misalnya.
“Cuy, makan!” Della menyentak.
Aku menoleh. “Apaan, sih?”
“Makan! M-a-k-a-n!” Della memperagakan jarinya menyuap ke mulut.
“Iya, Del. Ini juga mau makan, kok.” Kuambil sesendok nasi dari tempat nasi. Dan .... “Uhuk! Ya, ampun!”
“Kenapa lagi, sih?” Della terkejut.
“Nasiku dingin?!”
Della memperhatikan makananku. Kemudian beralih pada segelas minuman yang sudah habis seperempatnya. Tak lama gelaknya pecah membahana. Bram pun tak dapat menahan tawa.
“Oh, maaf. Rupanya .... “ Aku segera berlari ke toilet yang ada di dalam ruangan Om Bram. Kumuntahkan semua makanan yang masih berada dalam mulut. Dingin.
Sial! Mengapa aku bisa seceroboh itu, sih? Rasanya tak ingat sama sekali pernah menuangkan isi gelas minuman itu ke tempat nasi. Faktanya seperti itu. Hhmmm ... ini pasti gara-gara Om Bram. Sebisa mungkin melakoni akting berpura-pura bahagia, nyatanya masih saja ambyar.
Kulihat wajahku di balik cermin. Pantaskah cinta ini kubiarkan melebur sendiri, ataukah layak untuk dipertahankan? Lebih pantas mana jika harus bersanding di samping Bram, sebagai anak atau pasangan tak seumuran?
‘Hai, kaca! Berilah aku jawaban! Please!’
Lama termenung menatap diri di sana. Bimbang harus melangkah seperti apa. Sekarang ragu ke luar ruangan toilet ini, akibat kekonyolan yang diperbuat tadi. Di saat-saat seperti ini ingin rasanya berteriak sekencang mungkin. Yakin sekali, penyanyi sekelas Whitney Housten maupun Mariah Carrey akan kalah beradu oktav.
“Alya, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Bram begitu aku kembali ke ruangan semula. “Ndak apa-apa. Om,” jawabku singkat. “Serius, Cuy?” Della turut perhatian.
Aku menganngguk pelan.
“Gue barusan pesenin makanan tambahan. Elu makan dulu, deh, gih.” Della menambahkan.
“Ndak usah, deh, Del. Aku kenyang.”
“Kenyang apaan? Elu, kan, belum makan.”
“Nanti saja di rumah.”
Bram menengahi. “Ya, sudah. Bawa aja makanan ini ke rumah, ya. Papah masih lama pulangnya. Malam ini ada jadwal pertemuan dengan klien kerja.”
“Gak pulang lagi, Pah?” Della cemberut. Bram tersenyum. “Mungkin agak maleman. Soalnya akan berlanjut makan malam bersama nanti.”
“Oke. Kita pulang sekarang, deh,” ujar Della akhirnya. “Gimana, Cuy? Kita balik sekarang, ya.”
“Aku bilang juga masih kenyang, Del. Nanti saja makan di rumah, deh,” jawabku setengah malas menjawab. Della dan Bram melongo.
“Beneran, ya. Elu kayaknya butuh istirahat panjang, deh.” Della menggeleng-geleng.
“Memangnya kenapa?” Aku bersiap-siap mengambil tas di atas kursi.
“Sudahlah. Lupakan. Kita pulang sekarang!”
Della memeluk Bram. Mencium pipi kanan-kiri berpamitan. “Kita pulang dulu, ya, Om,” akupun ikut pamit.
“Eh, gak kasih peluk dulu buat Papah, Alya?” Bram mengembangkan kedua lengan. Aku ragu. Menolak ataukah menerima tawaran tersebut.
Menolak, berarti akan kehilangan kesempatan untuk merasakan dekapan yang sangat dirindukan tersebut. Namun jika menerima, khawatir akan lepas kontrol seperti awal tadi bertemu di ruangan ini. Akhirnya ....
“Jangan sungkan untuk menganggapku sebagai papahmu sendiri, Alya,” kata Bram begitu kami berpelukan erat. “Aku juga sangat mencintai kamu, Sayang.”
‘Apa?’ Ingin sekali kutampar muka berbrewok tipis itu. Sebenarnya mau dia apa, sih? Cinta sejenis apa yang dimiliki untukku, Bram? Tapi enggan ditanyakan. Karena kehangatan itu jauh lebih menyejukkan ketimbang harus melepas diri secepatnya.
“Ehem!” deham Della mengejutkan. Serempak kami melepas diri. Tersipu dalam bentuk pura-pura batuk kecil.
“Kami pulang dulu, Om ... aeh, Pah,” kembali aku pamit pergi. Laki-laki itu mengangguk.
“Sudah, Pah!” sahut Della seraya menggandeng tanganku keluar dari ruangan.
“Sudah, Sayang!” balas Bram.
Kutatap Bram sebelum benar-benar hilang di balik daun pintu. Laki-laki itu masih berdiri di tempatnya. Tersenyum manis sambil melambaikan tangan.
Ah, Om Bram. Dia belum begitu tua jika dilihat dari usia sebenarnya. Badan tinggi dan terawat, rasanya masih cocok bersanding denganku. Hanya saja postur tubuh yang tak sebanding. Tapi dalam kondisi lain, kami pasti berimbang. Eh, pikiran macam apa pula itu?
Terus terang, saat ini pikiranku masih belum bisa diajak sebagaimana mestinya. Disebut normal, justru semakin gila. Mengapa tidak? Perjalanan kepura-puraan ini akan terus berjalan tanpa tahu kapan akan berakhir.
Untuk sementara, mungkin saja bisa bertahan. Menerima keputusan Bram menganggapku sebagai anak. Entah, lain waktu. Mungkinkah vonis ini masih bisa berubah. Kuncinya tentu saja ada pada Della. Selama ada gadis itu, hubunganku dengan Bram akan tetap demikian. Bapak-anak? Menyebalkan!
Di sisi lain, aku harus tetap menghormati keluarga ini. Mereka sudah banyak menanamkan jasa. Kebaikan yang tak mungkin dibalas sekejap mata. Apalagi Della. Dari dialah, aku menemukan cinta sejatiku.
Andre, sosok lain yang tepat kujadikan sebagai pelarian. Melabuhkan cinta semu ini untuk sementara waktu, sampai tiba saat-saat di mana harus jujur mengungkapkan rasa. Ah, tapi apakah ini juga tak akan turut menyakiti Della. Di balik keganjilan dia menghadapi si cowok setengah bule itu, ada rahasia tersendiri yang masih mengandung misteri. Ragu kalau Della benar-benar tak menyukai Andre. Lalu maksud dia menghindar dari Andre selama ini apa? Perlu ditelusuri lebih jauh.
Laki-laki itu masih kerap mengajakku. Makan malam, jalan-jalan, atau sekedar nongkrong di cafe menikmati wifi gratisan.
[Maaf, Ndre. Aku tak bisa keluar. Della sendiri di rumah. Papahnya belum pulang.]
[Ya, sudah, kalo begitu, aku datang aja ke situ, gimana?]
[Jangan, dong. Lagian mau apa, sih? Udah, kamu di rumah saja. Diam. Kalo maksa keluar, nanti kamu kena Corona, lho!]
Lama percakapan tak dia balas. Begitu menjawab, malah hanya berupa emoticon tertawa. Laki-laki aneh! Padahal aku sudah berusaha mengingatkannya.
Percakapan kami terhenti, karena di depan rumah kudengar suara deru mesin kendaraan memasuki garasi. Itu pasti Om Bram. Dia baru pulang. Kulihat jam di dinding, sudah hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Della pasti sudah tertidur lelap. Tak mungkin bangun memburu pintu depan.
Terpaksa aku sendiri yang turun. Mengendap-endap dalam temaram cahaya ruang tengah. Lalu ...
KLIK!
“Alya? Kamu belum tidur, Sayang?” tanya Bram begitu mendapatiku membukakan pintu. Aku tersenyum tawar. “Belum, Om. Kebetulan saja denger suara mobil Om, jadi langsung ke sini,” jawabku mulai merasakan detak jantung tak beraturan.
“Padahal gak usah nungguin saya, Lya. Toh, saya juga bawa kunci sendiri, kok.” Bram menutup pintu rapat-rapat. Aku sendiri bermaksud kembali ke kamar, namun tertahan cekalan tangan kekar milik laki-laki itu. “Sebentar, Lya.”
“Ada apa, Om?” Aku berhenti tanpa berani membalik badan. Berhadapan dengan Bram berjarak beberapa sentimeter saja. Uh, tidak!
“Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kamu,” ujar Bram. Napas laki-lakinya hangat menerpa leherku. Ada aroma bau alkohol yang terendus. “Della sudah tidur, kan?”
“Sudah, Om.” Aku tak berani membuka mata. Helaan napas serta suaranya semakin mendekat. Yakin sekali, kami nyaris menempel satu dengan lainnya. “M-m-e-m-ang ... k-e-n-apa, O-o-m?”
Dia tak segera menjawab. Namun jemarinya mendarat lembut di pundak. Kemudian menarik putar. Aku terpaksa menurut. Membalik posisi badan dan kini berhadapan langsung dengan tubuh laki-laki tersebut.
“Om Bram mabuk?” tanyaku memberanikan diri begitu aroma alkohol makin jelas menyertai setiap dengkusan napasnya. Laki-laki itu menggeleng. “Tidak. Tadi hanya sedikit ikut minum untuk menghargai klien. Saya tak pernah mabuk, kok,” jawab Bram sambil memegang kedua bahuku.
“Syukurlah,” gumamku perlahan. “A-pa ya-ng ma-u Om bic-ara-kan?”
Bram tersenyum. Dia menarik daguku hingga naik dan beradu pandang denganku. “Mengenai tadi siang itu, Alya. Jujur saja, saya tak bermaksud benar-benar seperti tadi. Aku berharap ucapan kamu itu tidaklah seperti yang kamu maksud itu, Lya.”
“Maksud Om ucapanku yang mana, ya, Om?” Aku benar-benar tak tahan diperlakukan seperti ini. Mata laki-laki itu semakin tajam menghujam. Entah sampai kapan akan berlangsung.
“Kamu benar-benar mencintai saya, kan, Alya?”
Ya, Tuhan! Tak kusangka dia akan mempertanyakan hal itu. Sekarang jawaban manalagi yang harus terucap. Tak cukupkah aku bersandiwara seharian tadi?
Aku bingung menjawabnya. Tapi kembali berpikir, sepertinya ini salah satu saat yang tepat untuk mengungkapkan kejujuran.
Tanpa pikir panjang segera kuhambur tubuhnya dengan erat. Kupeluk sedemikian rupa sambil berucap, “Ya, aku memang mencintaimu, Om. Bukan sebagai anak terhadap orangtuanya. Tapi ... aku cinta sama Om karena aku berharap ingin mengabdikan hidupku ini padamu, Om.”
Tangisku meledak di dalam dekapannya. Jemari Bram mengusap-usap punggungku. “Sudah kuduga, Lya. Aku sudah memperkirakannya sejak lama.”
“Maksud Om apa?” Aku mendongakkan kepala sambil tetap mempertahankan pelukan. Laki-laki itu tersenyum. Dia tak menjawab, namun perlahan membungkukkan wajah serta mendekat.
“Om .... “ Tiba-tiba aku ingin mengangkat tubuh ini dengan menaikkan pijakan kaki. Lalu ....
BERSAMBUNG