Part 15

2121 Words
Tangisku meledak dalam dekapan Bram. Laki-laki itu mengusap-usap punggungku. “Sudah kuduga, Lya. Aku sudah memperkirakannya sejak lama.” “Maksud Om apa?” Aku mendongakan kepala sambil tetap mempertahankan pelukan. Dia tersenyum. Tak menjawab, namun perlahan menurunkan wajah serta mendekat. “Om .... “ Ingin sekali kunaikkan pijakan kaki ini. Memejamkan mata serta menunggu hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemudian, laki-laki itu menempelkan telunjuknya di bibirku yang terbuka. Dia menggeleng perlahan diiringi senyuman manis menggoda. “Kenapa, Om?” tanyaku heran di antara dengkus napas yang mulai memburu. Yakin sekali, degup jantung ini terasa hingga menyentuh tubuh bidang berbulu itu. Sekali lagi Bram hanya tersenyum. Dia mengecup lembut keningku. Lalu melepas pelukan erat ini. “Tidurlah, Alya. Sudah larut malam,” ujarnya setengah berbisik. “Aku khawatir Della terbangun dan mendapati kita seperti ini .... “ Tidak! Aku masih tetap ingin berada dalam pelukan laki-laki itu. Rasa ini sungguh menyiksa. Sialnya, sikap Bram penuh misteri. Entah, cinta apa yang dia miliki. Mengangangku sebagai anak angkat? “Om .... “ Kembali kupeluk Bram lebih erat. Sembari menumpahkan tangis kedua yang lebih hebat dari sebelumnya. Kali ini sungguh tak bisa mengontrol emosi. Kesadaran akan statusku benar-benar lupa. “Alya,” dia menyebut namaku berulang-ulang. “Kamu ini .... “ “Aku mencintaimu, Om,” pekikku dalam tangis.”Alya sangat mencintai Om Bram.” Tak peduli lagi apa pun yang akan terjadi. Hal tabu bagi seorang perempuan mengungkapkan cinta terlebih dahulu, hanya sebuah pepatah kuno. Nyatanya aku harus memperjuangkan sendiri. Sekaligus berharap Bram bersedia untuk jujur. “Lya, dengarkan aku,” ujar Bram, “aku .... “ “Aku ndak peduli apa pun yang akan terjadi setelah ini, Om.” Kuangkat wajah. Menatap tajam bola mata kecoklatan itu. “Aku hanya ingin Om tahu, bahwa rasa ini bukanlah sebagai bentuk cinta seorang anak terhadap orangtua. Tapi aku berharap Om bisa menjadi lelaki pendamping hidup. Karena aku sangat mencintai dan tergila-gila padamu, Om Bram.” Bram menempelkan telunjuknya di bibirku. “Ssttt ... dengarkan aku dulu, Alya,” pintanya lembut, “ada hal lain yang perlu kamu ketahui tentang aku.” “Hal apalagi, Om?” Aku tak ingin laki-laki itu berkelit. “Aku ndak peduli apakah Om juga mencintaiku atau ndak. Aku hanya menginginkanmu.” Tangisku kembali meledak. Bram berusaha menenangkan, namun jiwa ini masih enggan untuk mendengar. Rasanya belum siap harus menerima kenyataan pahit atau juga kecewa di saat lonjakan hasrat ini mulai membara. “Alya .... “ “Endak, Om. Jangan katakan bahwa Om hanya mencintaiku sebagai seorang anak. Itu teramat menyiksa untukku.” “Dengarkan aku, Alya.” “Endak.” “Alya.” “Endak, Om. Aku mohon!” “Dengarkan aku dulu.” “End—“ Bibirku tak mampu lagi berucap. Gendang telinga tak sudi untuk menerima sanggahan. Napas ini seperti mendadak hilang. Tiba-tiba Bram mendaratkan ciumnya dengan lembut. “Om?” Tak percaya kubuka mata ini lebar-lebar. Memastikan bukan lagi jari telunjuk itu yang mengatup bibir ini untuk berhenti berucap. Jelas sekali, bulu halus di atas bibir laki-laki itu yang tadi mendarat. Menggelitik hingga mendidihkan darah di seluruh urat nadi. Bram tersenyum. “Kamu menginginkan jawabanku, kan?” Aku masih tak percaya. Apakah ini hanya mimpi? Jangan. “Aku belum mengerti, Om.” Kuusap wajah laki-laki itu. Bulu-bulunya terasa nyata memarut telapak tangan. “Barusan Om--“ Aroma alkohol kembali tercium menyengat. Bukan dari hembusan napasnya, namun langsung dari mulut lelaki itu. Begitu hangat menyentuh bibir. Mengulang untuk kedua kali, sekaligus menghentikan ucapanku yang belum tuntas. Hanya sesaat, kemudian terlepas dan menjauh. Aku berusaha mengejar dengan menaikkan tumit lebih tinggi. Namun ditahan dengan telunjuk menempel di bibirku. “Mengapa, Om? Aku—“ “Tidak, Alya,” ujar Bram seraya menggeleng. “Sudah cukup untuk menjawab pertanyaanmu tadi, kan?” Bram melepaskan pelukanku. Aku berusaha mencerna ucapannya, “Maksudnya ... Om Bram juga mencintaiku?” Laki-laki itu tersenyum manis. Dia mencolek ujung hidungku dengan lembut, lalu bergegas masuk ke kamarnya setelah mencium hangat kening ini. “Tidurlah, Alya. Hari sudah larut malam,” kata Bram kemudian menghilang di balik pintu. Hhmmm ... dia belum juga mau menjawab jujur pertanyaanku. Ciuman tadi? Ah, mungkinkah hanya sekadar untuk menenangkanku belaka? Mustahil dia tak merasa tertarik dengan perempuan yang sudah rela menyerahkan diri sepenuhnya. Ataukah karena aku terlalu berlebihan. ‘Ingat, Alya. Kamu itu seorang perempuan yang masih suci. Serendah itukah kamu rela menyerahkan kehormatanmu pada lelaki tak jelas dan belum tentu mencintaimu? Dia itu orang lain dan bukan siapa-siapa bagimu. Jangan pernah dibutakan dengan bisikan syahwat, dengan bersikap murahan seperti tadi!’ bisiknya dalam cermin. Diriku di balik pantulan kaca. Ah, aku tak peduli. Bukankah dulu juga pernah nyaris kehilangan kehormatan pada seorang laki-laki bernama Ryan. ‘Tak cukupkah kejadian itu kaujadikan peringatan bagimu, Alya? Beruntung sekali Ryan tak pernah meneruskan niat busuknya. Tuhan sedang mempersiapkan sosok yang tepat untukmu kelak.’ Siapa? Bram? Nyatanya hatiku hanya tertuju pada dia. Bukan yang lain, apalagi Andre. Andre? Hari ini banyak pesan masuk yang belum k****a dari laki-laki blasteran itu. Juga panggilan tak terjawab turut menghiasi daftar notifikasi. Ada apa? [ Alya, aku ingin ketemu kamu. Pembicaraan kita di perpus tempo hari belum kita tuntaskan. Kamu ada waktu luang gak? ] Itu salah satu bunyi pesan yang dia kirim. Tak tertarik untuk menjawab. Rasanya jawaban waktu itu sudah cukup. Aku tak ingin menjanjikan apa pun padanya, apalagi hubungan yang lebih dekat. Karena Della? Bukan hanya itu. Hati ini lebih ingin meraih impian bersama Bram. Apalagi tadi .... Ya, Tuhan! Baru tersadar sekarang. Secara tidak langsung, aku sudah menabuh genderang perang dengan Della. Seandainya dia tahu kejadian baru tadi, mungkin saat ini juga gadis itu akan mengamuk dan mengusirku. Bagaimana ini? Ah, sekarang aku hanya ingin tidur dan bermimpi indah. Berharap pagutan bibir Bram berlanjut ke alam lelap. Lalu ... sial! Lupa, sebelum memejam mata, harus ganti celana dalam dulu. Kemudian berlanjut mendekap erat guling di samping. Anggap saja, itu Bramanditya. Gila! Benar saja. Benakku masih dipenuhi angan-angan semu tentang laki-laki itu. Dia hadir dengan semua pesonanya. Memanjakan sedemikian rupa, hingga jejak kaki pun terasa melayang mengitari angkasa. Bram ... Bram ... Bram ... hanya nama itu yang ada. Datang tak sekedar mendaratkan ciumnya, namun juga memenuhi setiap rongga yang terbuka. Membelitku dengan peluk hangat, sampai tak mampu berkata-kata. Karena lisanku terkunci lidahnya .... “Alya .... “ Dia menyebut namaku berulangkali. Disertai hentakkan menjejak bumi. “Om Bram.” Aku menjerit lirih disertai peregangan sendi dan juga gelitik nadi yang terbakar membara. “Alya.” “Mmmffhh!” Aku tak mampu balas menyebut nama, karena terkatup rapat bibirnya. “Alya!” “Mmmffhhh!” “ALYA! Bangun!” Hah? Itu .... “Cuy!” Kubuka mata. “Della?” Gadis itu berdiri tepat di pinggir tempat tidur. “Kebluk amat, sih, tidur elu?” “Della?” Aku bangkit dari golekku, seraya menjauhkan guling yang tadi dipeluk erat. “Sejak kapan kamu ada di kamarku?” Ah, aku merasa ada lelehan dingin menghiasi ujung bibir. Juga bercak basah yang menghiasi sarung guling. “Ih, jorok banget lu!” seru Della dengan suara khasnya. Melengking memekakkan telinga. Dia bergidik begitu memperhatikan lelehan basah di dekat daguku. “Apaan, sih?” tanyaku malu, lalu melap ujung bibir dengan punggung tangan. “Ternyata, di samping telmi, elu juga jorok, ya?” kata Della kembali bergidik jijik. “Gue langsung cucilah!” jawabku cepat-cepat melepas sarung guling tidur. Della tertawa terbahak-bahak. “Gue?” Dia mengerutkan kening usai tawanya berhenti. “Kenapa?” “Elu nyebut diri elu ... gue? Udah berubah lu?” “Kapan?” “Barusan!” “Endak, ah.” “Tadi bilang begitu, Cuy!” Della menegaskan. “Masa, sih? Salah denger mungkin kamu,” kilahku. “Kuping gue masih sehat dan normal.” “Endak, ah. Aku ndak merasa bil—“ “Terserah elu deh,” kata Della akhirnya. “Hari ini mau masak atau gue panggilin Bi Mamas?” “Siapa masak?” Sukmaku belum sepenuhnya menyatu dengan raga akibat terkejut dibangunkan tadi. Makanya agak sulit mencerna ucapan Della yang cepat seperti penyanyi rap. “Elu, Cuy!” jawab Della keras. Aku terkekeh. “Oh, iya. Baru ingat, Del. Masak sarapan, ya?” Della menepuk jidatnya. “Om Bram sudah bangun, kan?” Tiba-tiba teringat kembali laki-laki itu. “Udah. Papah lagi ngopi tuh di depan rumah,” balas Della cepat. “Ya, Tuhan!” “Apalagi?” Buru-buru aku turun dari tempat tidur. Bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga, menuju dapur. Diikuti Della seperti tengah bertanya-tanya. “Beneran Om Bram sudah ngopi?” Aku melirik ruangan depan. “Enggak tahu. Tadi gue lihat cuma duduk-duduk doang di depan,” tandas Della cuek. “Emang kenapa, sih?” Aku tak menjawab. Entah mengapa, pagi ini begitu semangat ingin membuatkan kopi juga sarapan untuk laki-laki itu. Efek semalam? Mungkin. Tak sabar rasanya ingin segera melihat sosok itu. Semoga saja .... “Eh, mau ke mana lu?” Della menatapku hendak mengantar secangkir kopi ke depan rumah. “Nganter kopi buat papahmu,” jawabku tanpa menoleh. Benar saja, Bram memang sedang duduk di beranda rumah. Menikmati udara pagi sendiri di sana. “Om .... “ panggilku begitu mendekat dari belakang. Bram menoleh. “Eh, Alya. Sudah bangun rupanya,” ujar laki-laki tersebut. “Ini kopinya, Om,” kataku agak gemetar melirik-lirik Bram sesaat. “Terima kasih, Alya. Tapi saya sudah buat sendiri tadi. Nih, masih tersisa.” Bram menunjuk cangkir kopi di sampingnya. Masih tersisa setengahnya. Hhmmm, aku ketinggalan momen. Seharusnya tadi bangun lebih awal. Agar ada waktu lebih untuk melayani laki-laki pujaan tersebut. Sekarang sudah terlambat. Bram menatapku. “Ya, sudah. Saya minum juga, deh, sini.” Dia sedang berusaha menghibur. Aku tahu itu. “Jangan, Om,” sergahku. “Kenapa?” Bram heran. Aku tersenyum. “Nanti Om kelewat manis. Hihihi.” Laki-laki itu tersenyum kecut. Malah cenderung dingin. Hhmmm, garingkah leluconku tadi? Ah, sejak dulu memang tak berbakat melawak. “Om .... “ “Ya, ada apa, Alya?” Bram menoleh. “Kopinya. Bagaimana?” Aku bingung. “Sini. Nanti saya minum, deh,” jawab Bram datar. “Terima kasih, ya, Alya.” Dia menerima sodoran cangkir kopi yang kubuat. Tak ada ekspresi lain. Hanya itu? Terima kasih saja? Tak ada hal lain selain itu? Tersenyum manis atau mencolek ujung hidungku seperti semalam, misalkan? “Alya kembali ke dapur, ya, Om,” pamitku sekedar basa-basi. Sengaja membalik badan sepelan mungkin. Berharap Bram memberi respons mengejutkan atau apalah. Mirip saat bersikeras menawar harga, lalu pergi dengan langkah perlahan. Berharap tukang dagangnya luluh dan mau menjual dengan harga yang diinginkan. “Oh, iya. Silakan, Lya,” kata Bram pelan tanpa menoleh sedikit pun. Aneh, tak seperti biasanya. Ada apa ini? Mungkin dia sedang ‘gabut’. “Om mau dimasakin apa pagi ini?” Kucoba bertanya lagi sebelum benar-benar meninggalkan sosok laki-laki tersebut. “Terserah Alya saja. Kamu, kan, pandai masak. Apa pun yang kamu masak, pasti enak dan saya lahap,” katanya kembali. Lagi-lagi tanpa menoleh seperti tadi. Pandangannya lurus ke depan. Tak ada apa-apa di sana, kecuali taman hijau menghiasi pekarangan rumah. “Baiklah. Kalau begitu, Alya pamit kembali ke dapur, ya, Om.” “Iya, silakan, Alya.” Dih, ada apa dengan dia? Kok, jadi cuek begitu? Semalam begitu ‘hot’. “Iya, Om. Permisi, ya, Om.” Aku masih belum juga beranjak dari tadi. Berharap dia menjawab dengan senyuman manisnya. “Iya, Alya.” Tak menoleh. “Om .... “ Kali ini Bram menengok. “Ada apalagi?” “Alya mau masak,” jawabku tiba-tiba merasa tak enak hati. Dia memang tersenyum kali ini. Hanya sesaat dan dingin, lalu berkata, “Kan, dari tadi juga saya bilang ... silakan, Alya. Oke?” Dih, menyebalkan! Ada apa, sih? Cowok aneh! Bahkan saat yang sama pun terjadi saat makan bersama dalam satu meja. Dia asyik sendiri menikmati sarapan sambil sesekali mempermainkan ponselnya. Tak banyak bicara ataupun memuji-muji hasil olahanku. Hanya celoteh Della saja yang berkicau sejak berada di dapur tadi. “Del, Om Bram kenapa, sih?” tanyaku pada Della usai laki-laki itu menghabiskan sarapan, kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya. “Kenapa apanya? Papah gue, kan, sehari-hari juga begitu. Gak ada yang aneh, Cuy,” jawab Della. “Lagi bete atau bagaimana, ya?” Aku masih penasaran. “Biasa aja tuh,” balas Della. “Ah, tapi aku merasa ada yang aneh. Ndak seperti biasanya Om Bram cuek begitu, Del,” desakku pada Della. “Jangan-jangan masakanku ndak enak, ya?” Gadis itu menatapku heran. “Elu aja kali yang baperan. Papah gue dari dulu emang begitu. Kenapa, sih, lu tanya-tanya?” Dih, jadi malas menjawab. Aku bergegas membereskan bekas sarapan. Mencuci peralatan masak kotor. Berlanjut merendam sarung guling yang tadi pagi ‘ternoda’ menjijikan. Menyebalkan! Om Bram, ada apakah dengan dirimu, Om? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD