Seharian penuh benar-benar menyebalkan. Aku seperti sosok baru yang terasing di rumah ini. Laki-laki itu, Om Bram, seperti enggan merespons hampir semua tanya dan sapa yang kuucapkan. Berubah dingin serta selalu berusaha menghindar. Ada apa dengannya? Gara-gara kejadian semalam? Ah, dia tak senaif itu. Lama bersama keluarga baru ini, sudah banyak mengenal karakter setiap penghuninya. Tapi untuk hal yang sedang terjadi sekarang, masih misterius.
“Del, Papahmu mana?” tanyaku iseng pada Della. Gadis itu tengah duduk di sofa, membuka-buka lembaran majalah langganannya. Dia menoleh, lalu menjawab, “Tadi ada di depan. Kenapa emang?”
Kupalingkan muka menghindari tatapan Della. “Ah, ndak. Cuma tanya saja.”
“Elu butuh duit, Cuy?”
“Endak! Bukan itu, Del.” Lekas kumenoleh ke arahnya.
“Lalu?” Della meletakkan majalah di atas meja. Serius memperhatikanku. “Sekadar ingin tahu saja. Seharian ini, tumben ndak kumpul sama kita, ya, Del? Kan, sama-sama lagi libur.”
“Gak tahu. Bete kali pengen hiburan. Cuma, gak tega aja ninggalin kita berdua di rumah,” jawab Della ganti meraih remote, lalu menyalakan pesawat televisi.
“Masa, sih?” Kugeser duduk mendekati gadis itu. “Apanya?” Della mengernyit heran. “Om Bram pengen hiburan ke luar rumah,” jawabku antusias.
Dia tersenyum kambing. “Kali aja, begitu,” jawabnya apatis.
“Masa sebagai anak kandung, kamu ndak paham kebiasaan Papah kamu sendiri, Del?”
“Elu itu kenapa, sih? Kepo amat ama Papah gue?” Della menyelidik. “Gara-gara dicuekin Papah Bram, ya? Ngaku lu!”
“Sok tahu!” kilahku. Khawatir isi kepala ini terbaca olehnya.
“Tadi pagi elu curhat begitu ama gue. Gak inget?” goda Della. “Tahu, ah.” Aku bergegas bangkit dari duduk.
“Mau ke mana lu, Cuy?”
“Angkat jemuran!” jawabku tanpa menoleh sedikit pun. Mulut Della memang asam. Pikiran serta ucapannya selalu berbunyi sama. Paling menyebalkan, namun sekaligus memberi nilai lebih. Jujur, walaupun terkadang jarang mau memahami perasaan lawan bicara.
Sejenak kuintip area depan rumah dari lantai atas, sebelum keluar mengangkat jemuran. Kosong. Tak tampak ada seseorang di sana dari jendela dan pintu terbuka. Mungkin saja Om Bram ada di dalam kamarnya? Sedang apa dia? Ah, mengapa aku harus sibuk menerka. Apa pun itu, tak harus selalu tahu urusan orang. Tapi ... aduh, sikap laki-laki itu seharian ini sungguh menyiksa. Wajar saja timbul rasa penasaran, 'kan?
‘Eh, bener ndak, sih, Om Bram ada di depan sana? Apa perlu aku datangi langsung? Penasaran,’ kataku dalam hati.
Perlahan kuturuni anak tangga. Berusaha selembut mungkin menjejakkan kaki ini di lantai. Mengintai sebentar ruang tengah. Siapa tahu masih ada Della di sana. Benar saja ....
“Ngapain lu ngintip-ngintip begitu?” Suara gadis itu nyaring begitu kepalaku menyembul di balik tembok. Sialan! Ketahuan juga.
“Endak! Siapa yang ngintip?” Terpaksa menampakkan wujudku seutuhnya. “Aku mau—“
“Ngangkat jemuran? Di atas, Cuy! Bukan di depan,” sahut Della masih dengan tingkat suara sama.
“Iya, aku tahu, Del,” jawabku tiba-tiba merasa sebal.
“Masih mau nyari Papah Bram?” tanya Della diiringi tawa khasnya. “Apaan, sih, kamu itu, Del.” Aku jadi serba salah.
Tiba-tiba, gadis itu berteriak keras sekali, “Papaaahhh! Ada yang nyariin Papah, nih!”
Aku melotot. Kaget. “Della!”
Yang dipelototi malah tambah keras tertawanya. “Papaahh! Alya kangen sama Papah!”
“Della! Kamu gila, ih!” Buru-buru aku lari ke atas. Menapaki anak tangga dengan cepat. Tak peduli walau jempol kaki terantuk ujung keramik dengan keras.
Sialan! Jangan sampai laki-laki itu menghampiri, lalu bertanya-tanya. Bingung. Jawaban apa yang hendak kuberikan kelak. Sementara suara tertawa Della masih terdengar membahana dari ruang bawah.
Aku menghambur ke luar ruangan lantai atas. Mengangkat jemuran yang sudah kering, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Berharap tak ada suara langkah kaki mendekati pintu, mengetuk, memanggil namaku dengan suara berat, dan ... ah, sekian lama hening. Hanya ada dengkus napas sendiri disertai detak jantung kencang. Kelakuan Della tadi benar-benar mengejutkan. Bikin malu saja.
Ya, Tuhan! Serba salah jadinya kini. Masih penasaran dengan sikap Om Bram, namun sekarang malah tak berani keluar kamar. Takut bertemu dengan laki-laki itu.
Masih terbayang dengan jelas. Malam tadi, Om Bram memelukku. Mencium. Membelai. Lengkap dengan aroma wewangian khas yang sudah kuhapal. Bahkan ... bau alkohol itu.
Alkohol? Om Bram semalam setengah mabuk. Mungkinkah dia melakukan semua itu di bawah kesadarannya. Jangan-jangan memang tak ingat. Makanya sejak pagi tadi tak menampakkan tanda-tanda apa pun. Cuek. Seakan tak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Sayang sekali. Masih jauh perjalanan hidup ini untuk meraih impian menjadi Nyonya Bram yang penuh cinta membara.
Kuhempaskan pakaian kering ke atas kasur. Kesal. Pikiran ini buntu harus berbuat apa. Sikap dingin si Om Bram masih menggila di pelupuk mata. Menari-nari geli memancing penasaran untuk segera mengetahui jawaban.
‘Tenanglah, Alya. Kamu itu sedang dimabuk cinta. Apa pun yang kamu lihat tentang lelaki itu, semuanya terlihat indah dan terasa manis. Sadarlah! Kontrol emosimu. Jangan mau diperbudak cinta. Itu hanya akan menggelapkan semua angan normalmu, Alya,’ bisik cermin di hadapanku. Pantulan bayangan yang ada di sana seperti tengah mengejek.
“Kamu belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta! Apalagi orang yang kamu kehendaki ada di depan mata, Cermin! Kamu hanya bisa menasihatiku tanpa sedikit pun membantu mencarikan solusi!” sahutku seraya menudingkan telunjuk ke depan. “Sekarang apa jawabanmu? Ndak ada, 'kan? Kamu sendiri bingung, kan?”
Ah, kupalingkan wajah. Kemudian menghempaskan tubuh ini ke atas kasur. Berbaur dengan pakaian kusut di sana. Menatap langit-langit kamar. Di situ malah terlihat samar-samar ada seraut wajah berbrewok tipis, bola mata kecoklatan, serta perlahan tersenyum menggoda.
“Om Bram .... “ bisikku lirih. “Kaukah itu? Mengapa ada di atas internit? Eh .... “
Hanya halusinasi. Aku harus bertahan untuk mengontrol diri. Pejamkan mata serapat mungkin, hingga gelap menyelimuti pandangan. Tapi raut wajah itu kembali hadir dalam gulita. Masih tetap sama dengan senyuman menggoda.
“Ya, Tuhan! Siksaan apalagi ini? Di mana-mana selalu ada dia!” bisikku perlahan. Khawatir ada yang menguping di balik daun pintu luar sana. Della. Jangan sampai dia tahu bahwa seorang Alya tengah tergila-gila pada papahnya.
“Aku harus nyetrika! Gila rasanya jika ndak ada hal yang bisa mengalihkan ingatan ini!” sahutku seraya bangkit. Merapikan onggokan pakaian, lalu mengambil setrika listrik di atas lemari.
TING!
Ponselku berbunyi. Suara pemberitahuan. Ada pesan masuk. Om Bramkah? Bukan. Ternyata dari Andre.
[Halo, Alya. Apa kabar? Siang ini ada waktu senggang gak?]
Hhmmm, laki-laki setengah bule itu masih berusaha dan berharap rupanya. Segera kubalas.
[Aku lagi di rumah. Mau nyetrika.]
Tak lama, Andre kembali mengirimkan pesan.
[Kalo ada waktu, aku pengen ngajak kamu jalan. Bisa, kan? Sekali ini saja. Please, Alya.]
Benar, kan, dugaanku? Ujungnya pasti mengajak bertemu. Dalam situasi seperti sekarang ini, rasanya aku memang butuh penyegaran otak. Masalah si Om Bram tadi benar-benar menguras energi. Tapi bagaimana caranya? Tak mungkin memberi tahu Della.
[Ndak tahu, Ndre. Di rumah ada Della. Lagipula, beneran aku mau nyetrika pakaian.]
[Biar nanti aku yang kerjain, deh. Sumpah. Aku juga udah biasa nyetrika. Bahkan masak nasi di magicom pun, aku bisa.]
[Aku ndak nanya.]
Andre membalas dengan emoticon tertawa. Dilanjut dengan pesan berikutnya.
[Aku, kan, anak kos. Kerjaan begitu, sih, kecil. Apalagi buat kamu, Alya. Apa pun akan aku lakukan. Asalkan, kamu bersedia jalan sekali ini saja denganku. Mau, kan, Lya? Please.]
Aku berpikir sebentar. Tak ada salahnya memenuhi ajakan Andre kali ini. Toh, sekarang ini memang butuh refreshing. Urusan Della, nanti dipikirkan.
[Ya, sudah. Tapi aku mau mandi dulu, Ndre.]
[Oke. Satu jam lagi aku jemput kamu, ya.]
[Jangan ke rumah. Nanti Della tahu.]
[Oke. Aku tunggu kamu di gang depan dekat minimarket. Gimana?]
[Baik. Nanti aku ke sana. Beri tahu saja kalo kamu sudah ada di sana, ya.]
[Siap.]
Hhmmm, aku tak tahu harus memberi alasan apa pada Della nanti. Pergi sendiri di tengah hari, tanpa kejelasan. Berbohong? Tak mungkin. Cukuplah tindakan bodoh itu terjadi saat bertemu Andre di perpustakaan kampus lalu. Artinya, aku harus keluar tanpa sepengetahuan Della.
Satu jam berlalu tak terasa. Aku sudah bersiap dengan setelan kasual dan santai. Cukup standar untuk ukuran acara jalan-jalan biasa. Setidaknya tak akan menimbulkan kecurigaan lebih jika berpapasan dengan Della.
[Aku sudah sampai di depan gang, Lya. Kamu sudah siap, kan?]
Andre mengirim pesan. Langsung kubalas.
[Baik. Aku sudah siap. Tunggu di sana sebentar.]
[Oke.]
Perlahan kubuka pintu kamar. Lalu melangkah pelan-pelan. Mengendap-endap sebentar di balik tembok, sambil memperhatikan situasi sekitar ruangan. Tak ditemukan sosok gadis itu. Lanjut menuruni anak tangga satu per satu dengan hati-hati. Hingga melewati ruangan tengah tempat Della tadi bersantai di atas sofa. Kosong. Tak ada siapa-siapa di sana. Aman.
Pintu depan dalam keadaan tertutup. Sosok Om Bram yang semula kupercaya ada di depan sana pun, sama-sama tak tampak. Diakhiri menutup pintu, aku pun berjalan secepat mungkin melewati pintu gerbang pagar. Kedua orang tadi tak mengetahui kepergianku.
“Maaf agak lama, Ndre. Maklum harus ekstra hati-hati keluarnya,” kataku begitu tiba di tempat tujuan.
Anak muda itu terlihat gagah. Duduk menunggu di atas sepeda motor besarnya. Bercelana jin dipadu dengan warna serta bahan jaket senada. Tampan rupawan sebagaimana umumnya peranakan orang bule. Tapi, auranya tetap kalah jauh dari Om Bram.
Hhmmm, Om Bram lagi!
“Tak apa-apa, Alya. Aku malah senang, akhirnya kamu mau diajak jalan sama aku,” ujar Andre sambil memperhatikanku, bersetelan celana jin yang membungkus ketat.
“Lihat apaan, sih, Ndre?” Aku merasa risih dengan tatapan laki-laki itu. Dia tersenyum, lalu menjawab, “Kamu cantik sekali, Lya.”
“Ndak usah merayu, deh. Atau kita ndak jadi jalan?” ancamku padahal sejujurnya suka banget dengan pujian Andre. Artinya ada modal kuat memikat hati Om Bram dengan parasku.
Ya, tuhan! Bram lagi! Bram lagi!
“Eh, jangan dibatalin, dong! Ayo, kita jalan,” seru Andre memintaku segera naik motornya. “Ini, pake helm buat perlindungan area kepalamu, Lya.” Dia menyodorkan helmet mungil berwarna merah muda. “Helm itu sengaja kupilihkan untukmu, Alya.”
Aku tersenyum. Andre membantu memasangkan di kepalaku. “Terima kasih, Ndre.”
“Gimana? Pas dan nyaman, gak?” Andre ingin memastikan terlebih dahulu. “Sudah pas, kok,” jawabku singkat.
“Oke, sekarang kita jalan, ya,” ucap Andre memberi kode agar aku bersiap-siap. “Pegangan ke pinggangku.”
“Jangan ngebut, lho, Ndre.”
“Tenang saja. Aku bawanya santai, kok. Yang penting kita berdua tiba di tujuan dengan selamat.”
“Memangnya kita mau ke mana?”
“Kamu punya ide yang bagus, baiknya kita ke mana?”
“Ya, terserah kamu. Kan, kamu yang ngajak.”
Andre tertawa kecil. “Bagaimana kalau kita ke pelaminan?”
“Andre, ih!” Kucubit kecil pinggangnya hingga anak muda itu meringis kesakitan. “Aduh ... sakit, Alya,” ujar Andre.
“Lagian kamu, sih,” balasku diiringi senyum.
Andre segera menyalakan motor. Kemudian perlahan kami meninggalkan tempat tersebut.
Ya, ampun! Aku baru sadar. Barusan mencubit kecil laki-laki itu. Diiringi rasa panas yang menjalar di wajah ini. Juga senyuman. Segenit itukah aku kini?
Ya, Tuhan! Jangan biarkan hati ini mendua, Tuhan. Laki-laki di depanku ini memang sudah nyata menampakkan cintanya. Tak seperti Om Bram yang masih misterius. Mungkinkah suatu saat kelak akan luluh menerima Andre sebagai calon pendamping masa depan?
Perlahan, aku memeluk laki-laki itu dari belakang. Diiringi terpaan angin di sepanjang jalan.
BERSAMBUNG