Laju kendaraan bermotor melambat, kemudian berbelok memasuki area parkir. Sebuah pusat perbelanjaan besar dan megah di tengah hiruk pikuk keramaian kota.
"Kita mau ngapain, Ndre?" tanyaku usai turun dari motor. Andre tersenyum, seraya membantu melepas pelindung kepalaku, kemudian membuka helmnya sendiri. "Kita makan dulu, yuk," ajak anak muda itu setelah mengamankan kendaraan. "Habis itu, terserah. Mau nonton atau—."
"Ya, sudah. Kita makan dulu, deh," timpalku memotong. Andre mengangkat alis, lalu balas berucap, "Oke. Kita cari tempat yang bagus, ya."
Dia terlihat semringah dan semangat. Sesekali berusaha meraih lengan ini, namun saat bersamaan kutepis takzim. Rasanya tak harus seperti itu. Kami hanya berkawan, 'kan?
"Maaf," ujar Andre begitu mendapat penolakan. Wajahnya menyala seketika. Entah malu atau marah. "Hanya spontanitas. Aku .... "
"Kita makan di sana saja. Bagaimana, Ndre?" Aku mengalihkan pembicaraan. Sekadar menghambarkan suasana yang mendadak kaku. "Oke. Di sana juga menunya bervariasi dan lumayan enak," timpal Andre tanpa menoleh ke arahku.
"Kamu sering ke sini?" selidikku hanya bermaksud menambah durasi percakapan. "Sesekali. Bersama teman-teman. Kamu sendiri, Lya?" Dia bertanya balik. Kali ini disertai lirikan sesaat. Aku menggeleng. "Kenapa? Kamu jarang keluar rumah?"
Aku tak ingin menjawab.
Jujur saja, selama tinggal bersama keluarga Om Bram, aku memang jarang hangout layaknya anak muda lain. Della sendiri termasuk gadis rumahan. Apa yang dia butuhkan, hampir semuanya tersedia. Om Bram, apalagi. Laki-laki itu lebih suka menghabiskan libur kerjanya dengan berdiam diri di rumah. Kecuali jika sedang dinas luar kota, aku kurang tahu. Hanya saja, dalam dua pekan sekali dia kerap pergi selama tiga sampai empat hari. Urusan pekerjaan, demikian kata Della.
"Aku kurang nyaman saja kalau berada di tengah keramaian seperti ini, Ndre. Makanya sering kali menolak ajakan Della keluar rumah. Terkecuali pergi ke kampus," tuturku berbohong.
"Pantas saja. Di kampus pun kalian berdua lebih suka menghabiskan waktu di ruang perpustakaan," timpal Andre.
Kami memasuki ruang kuliner terbuka. Tanpa sekat pembatas seperti area makan yang ada di bandara. Banyak berjajar kursi kosong di depan kedai penyedia berbagai jenis makanan.
"O, iya. Kamu mau pesan apa?" tanya Andre begitu kami duduk berhadapan di barisan bangku paling depan. Membuka-buka sebentar lembar daftar menu di atas meja. "Idem kamu saja, deh, Ndre. Nama makanan di sini ndak begitu familiar bagiku," jawabku seraya meletakkan kembali carik tersebut.
"Kalo fried chickpea, bagaimana?" tawar Andre. Keningku berkerut. "Apa itu?"
"Sejenis olahan buncis atau kacang panjang yang digoreng gitu, deh," jawab anak muda itu usai berpikir sejenak. "Tumis buncis?" Kucoba menebak. Andre menyeringai, lalu berkata, "Seperti itulah kira-kira."
"Cuma buncis?" Aku bingung. Tempat makan sebesar dan sehebat ini, ternyata menyediakan olahan yang biasa ditemukan dalam paket nasi kotak. Apakah rasanya sama dengan isi besek?
"Ada tambahan bahan lain tergantung selera. Ikan cumi, daging sapi yang dipotong kotak-kotak, daging ayam suwir, atau juga mushroom untuk kaum vegetarian. Cocok buat orang yang ingin tetap menjaga berat ideal badan. Kadar lemak rendah, dan non cholesterol. Kamu bukan vegetarian, kan, Lya?" tanya Andre setelah panjang lebar menjelaskan. Aku menggeleng. "Aku omnivorous."
"Oh, syukurlah. Jadi gak terlalu sulit buat nyari menu di sini, ya." Anak muda itu terkekeh.
"Ada Jengkol sweet sauce, ndak, Ndre?"
Andre melongo. "Apaan tuh?"
"Semur jengkol."
Andre terbatuk-batuk. Hampir saja tawa dia pecah dan menyembur deras liurnya. "Eehhmm. Kayaknya gak ada, deh," jawab anak muda itu setelah berusaha mengontrol diri. "Tapi kalau kamu mau, kita cari saja tempat makan lain yang menyediakan menu itu."
"Ndak usahlah. Yang ada di sini saja." Aku kecewa. "Beneran?" Andre ingin memastikan. "Iya, Ndre," balasku.
"Oke. Aku pesankan juga ayam bakar, ya. Sama minumnya ... ice tea."
"Boleh juga."
"Thai tea atau lemon tea?"
"Ih, jorok!"
"Jorok apanya?"
"Itu tadi, minuman yang kamu sebut pertama."
Andre meneliti kembali daftar minuman yang tadi dilihat. "Thai tea, Lya. Maksudnya teh thailand."
Aku mengangguk-angguk. "Oh, kupikir tadi .... "
"Ah, sudahlah. Jangan dibahas," kata Andre sambil celingukan ke tempat sekitar. "Pake nasi, ya? Sebentar, aku pesankan dulu ke sana."
Tanpa menunggu jawabanku, Andre bergegas menuju kedai terdekat.
'Rasanya, lebih enak di rumah makan nasi padang. Kuahnya saja sedap luar biasa. Apalagi tetelannya,' kataku dalam hati.
Sambil menunggu Andre kembali, kubuka layar ponsel. Memeriksa beberapa notifikasi yang ada. Hanya pesan biasa. Obrolan tak penting dari WAG kampus, alumni sekolah dari SD sampai SLTA, dan kelas kuliahku. Tak ada pesan dari Della maupun Om Bram.
Sejauh ini mereka berdua, pasti belum mengetahui kepergianku ini. Entah sedang apa sekarang di rumah.
Jujur, sih. Ingin sekali rasanya menghubungi Om Bram. Sedang apa, ada di mana, mau apa, atau mungkin juga mengapa sikap dia berbeda hari ini. Lebay! Tak sepatutnya aku berbasa-basi seperti itu? Hanya akan membuat malu. Childish. Norak. Tapi aku ... merindukannya.
Sialan! Ke mana, sih, kamu, Bram?
"Makanan datang!" seru Andre tiba-tiba datang.
"Eh, kamu. Bikin aku kaget saja, Ndre."
"Ayo ... kamu lagi ngelamun, ya?" canda Andre seraya menyodorkan pesananku tadi. "Mikirn Della, 'kan? Tenang saja, nanti aku yang akan bicara kalo dia ngamuk-ngamuk."
"Apaan, sih? Aku lagi mikirin Om .... " Ucapanku terhenti. Andre menatapku tajam. "Om? Om siapa? Om kamu? Atau jangan-jangan Om Bram papahnya si Della?"
"Om aku di kampung, Ndre!" kilahku buru-buru membalas. Andre mengangguk-angguk dengan bibir membulat. "Oohhh!"
"Gimana, sehat Om kamu itu?" lanjut Andre bertanya. "Ndak tahu. Sudah lama lost contact dengan dia. Sejak kepindahanku ke kota ini buat kuliah," jawabku berbohong.
Bohong? Kebohongan yang keberapa? Akhir-akhir ini, jadi sering tak jujur. Terutama pada Della. Padahal aku paling benci kebiasaan yang satu itu. Apakah diri ini telah bermutasi menjadi manusia munafik? Sejak lama. Tepatnya ketika rasa cinta ini mulai bersemi, pada sosok laki-laki bernama Bramanditya. Perlahan namun pasti, dia membuatku berubah. Linglung, bodoh, gila, pendusta, serta sering jatuh pingsan.
Begitu beratnya siksaan batin yang kerap kuterima. Berusaha menahan diri agar tak terlihat murahan, di depan lelaki berusia empat puluhan lebih tersebut. Walau kadang lost control jika bara asmara ini mulai bergejolak. Gilanya, aura manusia satu itu sanggup membuat raga ini tak berfungsi secara normal. Tak masuk akal memang. Tapi itulah yang terjadi. Ada apa denganku?
Sayangnya, masaku banyak terbuang percuma. Hanya bisa terus berharap, tanpa berani bertindak. Peduli, respek, hangat penuh kasih, dingin, misterius, berkarisma, bahkan senantiasa berkesan hot daddy. Semua ada pada diri Om Bram.
Selama aku mengenalnya, tak sekalipun aku mendengar dia mempunyai hubungan khusus dengan wanita. Padahal sejak mamah Della meninggal, lama sekali Om Bram menikmati kesendiriannya. Hhmmm, lelaki mana yang sanggup bertahan seperti itu. Mapan, single, tampan disertai bentuk fisik berbeda dari kebanyakan pria-pria pribumi. Lawan jenis macam apa yang tak akan meleleh jika jatuh dalam pelukannya. Termasuk aku.
Hhmmm, aku yakin Om Bram itu laki-laki normal. Buktinya, terlahir sosok seorang Della, karena dia, 'kan? Lalu apalagi? Apakah perlu kupancing gairahnya agar ragu ini menguap seketika, jika Om Bram bukanlah AC-DC.
Ya, aku harus lebih agresif. Genit. Manja. Transparan. Bila perlu, Om Bram akan kuperko ....
"Kamu, kok, gak makan, Lya?" Suara Andre mengejutkanku. "Eh, iya. Aku harus berdoa dulu sebelum makan. Maaf," sahutku lekas menikmati sajian di atas meja.
"Selama itu?" Andre merasa heran. "Iyalah. Perempuan memang lebih lama, ketimbang laki-laki. Makanya harus rajin jaga stamina," jawabku asal.
Kening Andre berkerut. Alisnya pun naik sebelah. "Apa hubungannya doa dengan stamina?"
"Haaahh?" Kaget aku. "Memangnya tadi kamu nanya apa, Ndre?"
"O, my God, Lya!" Andre menepuk kening sendiri. "Kamu ini kenapa, sih? Aku tanya, kamu belum makan makananmu!"
Oh, itu. Gelagapan aku menjawab, "Baiklah. Sekarang, mari kita makan."
"Aku sudah habis sepertiganya, Lya. Sesuap pun, kamu belum."
"B-baiklah. A-aku makan sekarang," kataku disertai seringai malu. Andre menggeleng-geleng.
"Kamu masih memikirkan Della, 'kan?" selidik anak muda berkulit putih tersebut. "Khawatir dia akan marah, karena diam-diam kamu jalan denganku. Begitu, 'kan?"
"Jangan dibahas dulu, Ndre. Aku sibuk," jawabku sambil mengunyah fried chickpea. "Sibuk apaan? Kamu lagi makan, kok," protes Andre agak kesal.
"Justru itu. Aku mau membandingkan antara makanan ini ... euumm ... tumis buncis metropolitan dengan olahan buncis ala isi besek seperti di kampungku."
Andre tertawa.
"Ada yang lucu?" tanyaku heran mendengar gelegar gelaknya.
Andre lekas menghentikan tawanya. "Maaf, aku lepas kontrol. Suka-suka kamu, deh, Lya. Hehehe. Lanjutkan makannya."
Sesaat kemudian, kami pun terdiam. Fokus mengisi perut, menikmati makanan hingga habis tak tersisa.
"Gimana? Enak, 'kan?" Andre tersenyum memandangiku. "Lumayan. Hanya sedikit. Kurang mecin," jawabku jujur.
"Lain kali aku akan ajak kamu keliling kota, sekalian berburu jajanan lokal. Lebih enak dan mengasyikan, pastinya," janji Andre setelah mereguk minuman dingin.
"Sekarang kita ke mana?" Aku bersiap-siap beranjak. "Bagaimana kalo nonton film, yuk. Setahuku, hari ini ada jadwal penayangan film baru," ujar Andre.
"Film Bollywood. India. Judulnya TARA MERE BHARI HARESE SARE. Aktornya keren punya, lho," tutur Andre. Anak muda ini memang penggemar berat film-film Hindustani.
"Siapa?"
"David Khan. Keren, 'kan?"
"Oohh, terserah kamu, deh."
Kami pun bergegas meninggalkan tempat makan. Berjalan beriringan dengan langkah perlahan. Entah mengapa, kali ini aku tak berusaha mengelak ketika Andre memegang lengan. Menuntunku menuju sebuah tempat yang berada di lantai paling atas.
Ah, biarkan saja dia menyentuhku. Mungkin bermaksud hendak melindungi, dari desak pengunjung yang berjalan dari arah berlawanan. Sesekali memang harus berjalan miring, agar bahu ini tak bertabrakan dengan tubuh mereka.
Tiba-tiba, langkahku terhenti. Memandang lekat pada satu titik arah, dengan mata dan mulut terbuka lebar. Jantung pun berdebar kencang, diikuti aliran darah yang terpompa deras di dalam kepala.
"Ayo, jalan, Lya. Kenapa berhenti?" sahut Andre berusaha menarik tanganku.
Aku tetap diam, tak bisa bergerak. Seperti terpaku kuat ke lantai. Ingin menjawab, namun bibir ini seperti membeku keras.
"Ayo, Lya," ajak Andre kembali. "Kamu kenapa, sih?"
Tetap, tak bisa berucap. Sampai kemudian, Andre pun berbalik badan, mengikuti arah tatapanku. Di sana berdiri dua sosok manusia yang sama-sama tengah beradu pandang.
"Della dan Pak Bram .... " gumam Andre begitu mengenali dua orang tersebut.
Ya, itu memang mereka. Om Bram dan Della. Mengapa ada di sini? Sedang apa? Aku tak tahu. Bingung. Tak mampu berkata-kata. Kecuali getar tubuh ini kian terasa. Disertai cucuran keringat dingin mengalir deras membanjiri raga.
Aku ... aku ... tiba-tiba merasa takut.
BERSAMBUNG