Om Bram dan Della menghampiri kami. Sementara aku masih berdiri mematung, tak mampu bergerak. Gemetar berpeluh dingin.
"Om .... " sapaku perlahan begitu laki-laki itu mendekat. "Della .... "
Bram menatapku tajam. Seringai kecil menyeruak seketika di bibirnya. "Alya," ujar sosok flamboyan itu dingin. "Kamu lagi ngapain di sini?"
Ah, rasanya tubuhku semakin bergetar hebat. Guncangan melanda di bagian pangkal lengan kanan. Berulang-ulang. "Alya," sahut Andre sambil menepuk bahu beberapa kali. Aku menoleh. Seketika baru sadar, tepukan itu rupanya yang menyebabkan getar-getar tersebut.
"Apa, Ndre?" tanyaku dalam kejut. "Pak Bram nanya kamu," jawab anak muda itu. Aku melongo heran, lalu kembali bertanya, "Nanya apa?"
Andre menggeleng-geleng, lanjut menepuk kening sendiri. Tanpa dipinta, terpaksa dia sendiri yang menjawab pertanyaan Om Bram tadi, "Maaf, Pak. Aku ngajak Alya jalan, tanpa ijin dari Bapak."
"Saya gak nanya kamu, Anak Muda," balas Om Bram dingin.
Andre terkesiap. "Oh, iya juga, ya? Sekali lagi ... maaf kalo begitu." Bram mendengkus keras.
"Elu yang ngajak Alya?" Kali ini Della yang bertanya.
"Yang ini boleh aku jawab, 'kan?" Andre ragu. Della mendelik, langsung menyemprot galak, "Lah, iyalah. Yang gue tanya itu, elu! Bukan si Alya!"
Andre tersurut. Kaget. "Iya, gue yang ngajak. Cuma ngajak makan ama nonton. Gak apa-apa, kan, Del?"
Della gantian memandangiku dan Andre, dengan bibir mengeriting.
"Del ... Om ... maafin Alya. Ini benar-benar ndak direncanain, kok. Beneran. Sumpah!" ujarku ikut menimpali. "Tadinya Alya hanya .... "
"Ini yang namanya Andre itu, 'kan, Lya?" Om Bram memotong ucapan. Aku mengangguk perlahan.
Mata coklat berbulu lentik itu memandangi Andre dari bawah hingga ujung rambut.
"O, iya. Sampai lupa, Pak." Andre mengulurkan telapak tangan pada Om Bram. "Perkenalkan, saya Andre. Teman kuliah Alya."
"Saya tahu."
"Tahu dari mana, Pak? Kita belum pernah bertemu, 'kan?"
"Saya hanya tahu namamu saja, Anak Muda. Alya pernah cerita," jawab Om Bram datar. Andre melongo. "O, ya?" Dia melirik padaku sejenak. "Kok, Alya gak pernah cerita kalo saya pernah diceritain sama Bapak?"
"Apa untungnya Alya cerita tentang elu ke bokap gue?" sela Della galak. "Jangan caper, deh, lu!"
Andre menggaruk kepala. "Eh, iya juga, ya?"
"Geer lu!"
"Del, maafkan aku." Kutatap Della penuh penyesalan. "Ini benar-benar di luar rencana kami. Tadinya, kupikir ... kamu dan Om ndak ada di rumah. Tiba-tiba, Andre mengajakku ke luar. Aku tak punya pilihan lain, sekadar jalan-jalan dan mencari hiburan. Ndak salah, 'kan?"
Om Bram dan Della saling pandang. "Kamu udah dewasa, Lya. Bebas ke mana pun kausuka," ujar Om Bram bijak. Disusul Della berkata, "Tapi setidaknya elu bisa ngasih tahu gue, kalo elu mau ke mana-mana, Lya. Apalagi sama dia!" tunjuk gadis itu pada Andre.
"Del," Om Bram mengingatkan. Dia mengusap bahu anak gadisnya tersebut. Della berontak, "Enggak, Pah. Della sudah pernah bilang sama Alya, kalo Della gak suka Alya deket-deket sama si Andre."
"Della, Sayang." Om Bram mencolek. Gadis itu mendengkus kesal.
"Maafkan, Del. Aku khilaf," ujarku lirih. Ingin mendekat dan memeluk, tapi tak bisa. Kaki ini seperti beku menyatu dengan lantai. Sementara Andre memilih diam.
"Sudahlah. Gak ada yang mesti dipermasalahkan. Toh, Alya jalan sama orang yang kita kenal." Om Bram menatap tajam Andre. "Saya percaya, Alya bisa jaga diri. Bukan begitu, Lya?"
Serba salah aku harus menjawab. Tadinya berpikir, hanya mencari sedikit refreshing. Gara-gara laki-laki berbrewok tipis itu bersikap aneh.
"Ya, sudah. Alya ikut Om Bram dan Della saja," kataku akhirnya. "Kita gak jadi nonton, deh, Ndre."
"Eh, Lya. Kok, kamu gitu, sih? Kenapa?" protes Andre. Aku menggeleng bingung.
"Jangan, Lya. Lanjutin aja acara kamu sama Andre," timpal Om Bram, seraya mencolek lengan Della secara sembunyi-sembunyi, begitu anak gadisnya itu hendak bereaksi. "Kita gak apa-apa, kok, Lya. Bukannya begitu, Della Sayang?"
Yang diberi kode malah tambah cemberut.
"Endak, Om. Alya ikut pulang sama Om saja." Makin tak nyaman kulihat respons Della, kalau bertahan bersama Andre.
"Lya," seru anak muda di sampingku.
"Maaf, Ndre. Aku ndak bisa."
"Tapi .... "
"Aku mau pulang saja, Ndre. Maaf, ya."
"Enggak! Enggak!" Om Bram menengahi. "Alya dan Andre, lanjutkan acara kalian berdua. Silakan. Saya dan Della, pamit pulang."
"Pah .... " Della memandang papahnya. Seperti hendak protes, namun tiba-tiba terdiam setelah Om Bram mengedipkan mata.
Kode apa itu?
"Om Bram dan Della kenapa? Alya lihat—"
"Enggak!" buru-buru Om Bram memotong. "Kita gak apa-apa, kok. Hehehe. Iya, kan, Del?"
"I-iya, b-b-begitulah!" Della gagap.
Ada apa, sih, di antara mereka? Seperti menyembunyikan sesuatu. Apalagi, sejak tadi berdempetan begitu. Seakan-akan tengah ....
"Silakan. Kalian mau nonton, 'kan?" Om Bram melirik ke area bioskop. Tak jauh dari tempat mereka berada. "Saya dan Della, pulang duluan."
"Om .... " panggilku. Agak terasa janggal. Namun belum paham apa yang ada dalam benak mereka. Om Bram dan Della.
"Jadi, kami berdua gak apa-apa, nih, jalan berdua, Pak?" Andre merasa sedikit lega. Om Bram mengangguk. "Silakan. Jalanlah."
"Pah," Della merengek. Om Bram menoleh sesaat. Laki-laki itu mengejap sebelah mata. Akhirnya anak perawannya itu pun hanya bisa cemberut.
"Hanya saja, pulangnya jangan terlalu malam. Saya harap, Alya sudah kembali ke rumah sebelum petang nanti. Kamu paham, kan, Anak Muda?" Tatap Om Bram pada Andre. "Tentu, Pak. Saya paham sekali," jawabnya antusias.
"Oke, Alya. Om dan Della, pulang dulu, ya?" Om Bram pamit. "Saya percaya, Alya bisa jaga diri, 'kan?" Mata kiri laki-laki itu mengedip, diiringi senyumnya. Misterius.
Oh, Tuhan! Kode apa itu? Ini nyata. Aku yakin itu bukan halusinasi.
"Del .... " panggilku ketika mereka berdua mulai beranjak pergi. Della menoleh sesaat, kemudian berjalan mengikuti langkah papahnya. Tak ada ekspresi apa pun. Terkecuali, raut wajah muram menatap kami. Marahkah dia?
Aku hanya bisa memandang mereka. Berjalan beriringan sambil menenteng bungkus belanjaan yang lumayan banyak. Entah apa isinya.
"Yuk, Lya. Kita masuk," ajak Andre begitu Om Bram dan Della sudah menghilang di antara hilir mudik pengunjung.
"Kamu duluan, deh, Ndre," kataku masih enggan melangkah. "Lho, kenapa? Kita jadi nonton, 'kan? Film India. David Khan. Seru, Lya," sahut Andre.
"Aku ada perlu dulu sebentar."
"Mau ke mana?"
Sedikit ragu untuk mengatakan, khawatir Andre akan mentertawakan. "Kamu beli tiket saja dulu sana. Aku mau ke mini market."
"Beli camilan? Itu di sana ada penjual popcorn dan soft drink," tunjuk Andre ke satu tempat.
Bingung, harus bicara apa, ya? Kulirik ke bawah. Tepat pada tas yang sedari tadi digunakan untuk menutupi area bawah perut. Andre mengikuti arah pandangku.
"Kamu ... lagi dapet?" tanya anak muda tersebut. Aku menggeleng. "Bukan. Bukan begitu. Tapi ... aku butuh yang baru," jawabku ragu.
Ketakutanku akan Om Bram dan Della tadi, sempat membuatku tak kuat menahan berkemih. Untung selalu menggunakan pelindung tambahan. Jadi tak akan merembes ke luar.
"Yang baru apaan, sih, Lya? Aku bingung," desak Andre. "Kamu gak bermaksud menyusul Pak Bram dan Della, 'kan?"
Aku mendengkus kesal. "Ya, endaklah, Ndre. Ini perihal keperluan perempuan."
Andre mengangguk-angguk. Entah paham atau bersikap mengalah. "Ya, sudah. Aku tunggu atau nganter kamu?"
"Tunggu saja di sini. Nanti bakal kembali, kok."
"Oke. Tapi ... kamu ... beneran mau ke sana sendiri?" Andre memaksa. "Keperluan apa, sih?"
'Beli pembalut, Andre! Kenapa, sih, kamu kepo amat ama urusan perempuan? Atau sekalian berminat bantu aku memasangkannya? Astaga!' geramku dalam hati. "Sialan! Bisa-bisa urusan akan lebih repot nanti."
"Sudahlah. Tak perlu banyak tanya. Aku bilang juga, ini urusan perempuan," kataku kesal.
"Okelah, kalau begitu," ujar Andre akhirnya. "Aku tunggu di sini, ya?"
Aku bergegas meninggalkan sosok anak muda itu. Berkeliling sebentar mencari-cari tempat yang dimaksud. Setelah mendapatkan, kemudian masuk ke dalam toilet.
Akhirnya, tuntas sudah kini. Keluar dari sana. Lalu ....
"Udah beres?"
Ya, Tuhan!
"Andre?" Aku terkejut. Andre berdiri tepat di samping pintu toilet. "Kamu ngapain di sini?"
"Nungguin kamu, Lya," jawab anak muda tersebut, diiringi tawa kecilnya.
"Kenapa nyusul? Kamu ngikutin aku dari tadi?"
Kembali Andre tertawa. "Hanya ingin memastikan, kalau kamu tak akan pergi dariku, Lya."
"Kamu gila, Andre!"
"Maaf," ujarnya senyum-senyum. "Aku khawatir, Lya. Serius."
Akhirnya, kami pun bergegas masuk ke dalam bioskop. Andre memilih tempat duduk jauh di belakang. Berdua, ditemani camilan dan minuman dingin segar.
Entahlah, sepanjang pemutaran film, aku tak bisa menikmati. Mungkin karena tak suka film kegemaran Andre, juga bayangan Om Bram dan Della, terus menghantui. Pikiran ini selalu tertuju ke rumah.
Satu hal yang kuperhatikan sejak Om Bram melihat kehadiran Andre, laki-laki setengah baya perlente itu, seperti tak suka. Entah belum mengenal dekat, bisa juga Om Bram ... cemburu.
Cemburu? Ya, Tuhan! Indah sekali kata itu. Si Brewok Tipis cemburu padaku. Maknanya ada celah untuk maju beberapa langkah agar impian ini tercapai. Bersanding dengan ....
"Eh, Ndre," desahku kaget. Jemari Andre tiba-tiba menyentuh lengan ini.
Anak muda itu tersenyum di antara keremangan. "Lya .... " panggilnya perlahan. Hampir menyerupai bisikan, disertai usapan yang menyusuri lenganku ke bawah.
"Ada apa?" Aku mengibaskan tangan Andre. Anak muda itu tak mau menyerah. Dia mendekatkan wajah, lalu berkata, "Aku mencintaimu, Lya."
"Fokus ke layar, Ndre. Idola kamu sedang beraksi tuh," ucapku seraya menunjuk layar.
"Aku tak suka filmnya. Aku lebih suka lihat kamu," balas Andre semakin mendekat. Napasnya menghajar wajahku seketika. "Aku benar-benar tergila-gila sama kamu, Lya. Aku ingin kamu jadi kekasihku."
Aku mendorong tubuhnya. "Aku tidak ingin berbicara masalah itu, Ndre. Ingat ... kita sedang berada di dalam ruangan gelap."
"Lalu?"
"Setahuku, jika ada manusia berlainan jenis berada dalam satu ruangan gelap, maka yang lainnya adalah siluman." Tiba-tiba aku merasa seperti tokoh rohaniawati di televisi.
"Ehem! Ehem!" Terdengar beberapa dehaman di sekeliling kami. Penonton di sebelahku menyikut. Juga yang ada di depan, serentak menoleh tak ramah.
Duh, jadi tak enak hati. "Maaf, Mas-Mbak. Maksud saya bukan Anda sekalian."
Andre ikut meminta maaf. Kemudian mencolekku seraya berkata, "Hati-hati kalo bicara, Lya."
"Iya, maaf. Aku keceplosan," balasku kembali mendorong muka Andre. "Lagian tangan kamu kelayapan terus, sih, Ndre. Kamu pikir aku cucian, pake diremes-remes begitu."
"Maaf, Lya. Biar lebih romantis saja. Aku pikir—"
"Romantis apanya? Nonton film eksen, kok, kamunya gerepean? Jangan macam-macam, deh, Ndre!" Tak sadar suaraku membahana.
Seketika terdengar nada protes di sana-sini. "Woy! Berisik!"
"Iya, sorry, Bro!" Andre memohon maaf.
Ya, Tuhan! Mengapa jadi begini? Kuharap bisa menyamarkan kondisi yang galau, kenyataannya seperti ini. Mendadak menjadi badut di tengah kegelapan.
"Aku pulang!" seruku seraya bangkit dari duduk.
"Lya." Andre menahan. "Tunggu!"
"Antar aku pulang ke rumah Om Bram, atau kamu temani aku sekarang kembali ke tempat tinggal Della!" seruku tak peduli. Beberapa pasang mata memandangiku, kesal.
"Sama saja, Lya," Andre menimpali.
"Sekarang!"
"Oke, kita pulang!"
"Sekarang, Andre!"
"Iya, sekarang juga aku antar kamu."
"Tapi matamu masih fokus ke layar!"
Andre bangkit. "Ayo, pulang."
Kami pun segera jalan. Melewati deretan penonton yang terganggu dengan kelakuan aku dan Andre.
Terdengar beberapa suara mengaduh, mengumpat, dan menyumpahi, "Kalo jalan lihat-lihat ngapa, Setan!" Rupanya beberapa kali langkah kami menginjak kaki mereka. "Sorry! Abisnya gelap, Bro!" seru Andre sambil menyeruak.
Kupercepat langkah, begitu keluar dari dalam gedung bioskop. Ingin segera tiba di rumah dan bertemu Om Bram serta Della. Hari ini juga, semua harus tuntas apa yang mengganjal di hati.
"Tunggu, Alya," Andre menahan langkahku. "Kita beli martabak dulu buat Pak Bram dan Della, ya. Atau kalo kamu mau, seblak di ujung sana enak juga, lho."
Kupandang mata anak muda itu. "Ndak usah macam-macam, deh, Ndre. Antar aku pulang sekarang juga!"
"Aku hanya menawarkan—"
"Andre!"
"Oke, kita pulang sekarang."
Andre memberikan helm padaku. Membantu mengenakannya, kemudian bersiap-siap berangkat. "Pegangan, Lya," ujar anak muda itu begitu roda dua kendaraan mulai melaju.
Kali ini perjalanan pulang dilalui dengan cepat. Andre memacu motornya bagai kesetanan. Hingga terpaksa aku merapat erat, memeluk tubuhnya.
"Sudah sampai, Lya. Turunlah," seru Andre begitu laju motor berhenti. Aku enggan turun. Kaki ini masih gemetaran disertai gemuruh perut mual. "Lya ... sudah sampai."
"Aku pusing, Ndre," keluhku masih memeluk erat punggung Andre.
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya anak muda itu di atas motor. Kujawab, "Kamu bawa motornya kayak setan. Rasanya aku ... kesurupan. Hoeeekkk!"
Hampir saja tumis buncis tadi siang berhamburan kembali ke luar. Tapi masih bisa kutahan.
"Bertahan, Lya. Aku bantu kamu masuk ke dalam rumah, ya." Perlahan Andre turun, lalu membantuku menuruni step kendaraan. Berjalan memasuki rumah dipandu anak muda tersebut.
"Kamu tahu rumah Om Bram?" tanyaku heran di antara rasa pusing yang melanda. Andre menyeringai. "Tentu saja. Sebelum mengenalmu, aku sudah tahu tentang Della."
"Oohh."
Hari sudah mulai merangkak petang. Sementara rumah dalam kondisi gelap. Tak ada nyala lampu satu pun. Ke mana Om Bram dan Della?
"Pak Bram gak ada di rumah?" Andre menyelidik. "Ndak tahu, Ndre. Tapi ... rumah dalam keadaan tak terkunci," balasku begitu memutar handle pintu dan menariknya ke luar. "Ndak mungkin mereka belum pulang. Bukankah tadi siang sudah duluan?"
"Coba kamu telepon, Lya. Siapa tahu mereka masih di luaran sana."
"HP-ku lowbat, Ndre. Coba saja pake ponsel kamu."
"Gak punya pulsa, Lya."
Aku mendelik. "Pake w******p, kan, bisa."
"Kuotaku habis."
Ya, Tuhan! Laki-laki macam apa si Andre ini. Mengajakku makan dan nonton film bisa, tapi mengurus HP sendiri, kok, cekak.
"Ya, sudah. Antar aku ke sofa saja. Aku masih pusing." Andre membopongku ke ruang tengah, lalu membaringkan di atas kursi. "Cukup, di sini saja, Ndre. Terima kasih, ya."
"Aku temani kamu sampai Pak Bram dan Della datang, ya, Lya?" Andre melihat-lihat sekeliling ruangan yang gelap gulita. "Aku coba nyalain dulu lampunya."
"Ndre, aku takut." Kucekal pegelangan tangan Andre. Menariknya kian mendekat. "Jangan tinggalin aku."
"Lya .... " Andre tertarik hingga jatuh tepat menimpaku. Beberapa saat, kami terdiam dalam sesak. "Lya, aku ... ah!"
"Ndre!"
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba lampu di dalam ruangan menyala terang. Aku dan Andre terkesiap. Kaget. Tak jauh di sana, berdiri Om Bram dan Della, memandangi kami penuh kejut.
Segera kudorong tubuh Andre menjauh. Lalu bangkit, berdiri, dan menghambur ke arah mereka berdua. "Om Bram! Della!"
Dua sosok itu menatap tajam. Kilatan mata mereka begitu menakutkan. Marah? Aku tak tahu.
BERSAMBUNG