Bab 17

1086 Words
Beberapa minggu kemudian... " Bagaimana kabar Gisella, kamu sudah menemui orangtuanya?" tanya pak Muh pada Fito saat sarapan. Sejak seminggu yang lalu Fito sudah beraktivitas seperti biasa. Mulai menerima tawaran untuk bermain film. Sekarang sedang masa reading makanya Fito belum terlalu sibuk. " Gisella melarang." ucapnya malas. Bu Ratih menatap putranya prihatin mengingat betapa calon mantunya itu sangat egois terhadap anaknya. Semuanya harus berjalan sesuai keinginannya. Kadangkala dibandingkan dengan mencintai Fito, Gisella terlihat lebih kepada memanfaatkan Fito untuk kepentingannya sendiri. Gisella hanya mencintai dirinya sendiri makanya dia jadi abai pada perasaan Fito. " Apa kamu tidak ingin memikirkan sekali lagi? mungkin saja hubungan kalian masih bisa dipertahankan." " Fito yakin Yah, meskipun Fida tidak bisa Fito miliki bukan berarti Fito akan kembali pada Gisella. Fito bukan bermaksud kejam terhadap Gisella tapi justru sebaliknya, dia berhak mendapatkan pria yang tulus mencintainya." Pak Muh menatap isterinya, bu Ratih mengangguk sekilas. Mencoba meyakinkan suaminya kalau apa yang diputuskan oleh anaknya sudah tepat. Memang tidak seharusnya mereka memaksakan pernikahan keduanya dengan alasan malu pada orang lain karena Fito dan Gisella sudah bertunangan sebelumnya. Beruntung jika hubungan mereka diakhiri sekarang sebelum bercerai nantinya karena terlambat menyadari perasaan mereka yang sesungguhnya setelah menikah. Hanya saja, orang yang obsesif seperti Gisella sangat sulit untuk disadarkan. Fito sudah sering mengajaknya bicara dari hati ke hati namun yang selalu berujung dengan percekcokan dan akhirnya Gisella ngambek dan menghindarinya untuk beberapa hari dan anehnya dia datang kembali menemui Fito dengan situasi yang seolah tidak terjadi apa - apa sebelumnya. Saking seringnya terjadi kejadian serupa sampai - sampai Fito sulit membedakan kapan Gisella jujur dan bersandiwara. Saat Gisella yang melakukannya, semua drama terasa alami dan nyata. Selain pandai memanfaatkan situasi, Gisella juga sangat manipulatif sehingga bisa membalikkan kenyataan dengan sempurna. Fito selalu menjadi pihak yang bersalah. " Tentang nak Fida... Ayah harap kamu mengikhlaskannya dengan dokter itu. Mungkin kalian memang tidak berjodoh." kata pak Muh dengan perasaan pilu. Sulit baginya untuk melepaskan gadis sebaik Fida. Orang tua manapun pasti menginginkan menantu yang baik dan penuh sopan santun. Fito menatap Ayahnya tidak terima namun tidak sampai membuatnya mengeluarkan suara. " Terkadang kita memang harus melepaskan apa yang kita sayangi agar bisa berada di tempat yang lebih baik." kata pak Muh berpilosofi. Fito menunduk menatapi meja dihadapannya. Dadanya sesak setiap membayangkan kemungkinan harus melihat Fida bersanding dengan orang lain. Hatinya jelas tidak baik - baik saja. " Fito masih ingin berjuang lagi meski kemungkinan berhasilnya cuma satu persen saja." Pak Muh dan bu Ratih menarik nafas bersamaan. Harapan mereka agar anaknya segera move on ternyata sia - sia. " Fito hanya ingin mendengar dari Fida langsung. Jika nanti Fida yang meminta barulah Fito akan berhenti." Apa yang bisa mereka lakukan sebagai orang tua selain mendoakan yang terbaik bagi anaknya. " Segeralah kamu selesaikan urusanmu dengan Gisella. Jangan menunda lagi." Fito melemparkan pandangannya ke luar jendela. Menghadapi Gisella tidak pernah mudah baginya. # Fito memasuki kantor management yang menaunginya dan Gisella dengan sedikit terburu. Dari kabar yang ia peroleh, Gisella sedang berada di kantor tersebut sekarang. Tidak mau membuang waktu Fito segera kesana untuk membicarakan persoalan mereka yang terlalu lama dibiarkan begitu saja sehingga orang lain mengira bahwa hubungan mereka masih baik - baik saja. " Tumben ke kantor, ada apa?" sapa Aldi ketika Fito sampai di lobi. " Gisella dimana?" tanya Fito tanpa berbasa- basi. " Diruangan bos, lagi ngomongin proyek terbaru bareng sponsor." Fito mengangguk maklum. Ia berjalan menuju ruangan bos mereka dengan santai. Ia akan menunggu di luar saja sampai mereka menyelesaikan pertemuannya. " Eh mas Fito, mau ketemu bos ya? langsung saja masuk, ada mbak Gisel juga di dalam." sapa Ajeng ramah. Wanita yang berprofesi sebagai sekretaris direktur tersebut terlihat memandang Fito kagum karena selama ini menganggap Fito dan Gisella sebagai pasangan idamannya. Meski bekerja didunia entertainment tapi rupanya Ajeng tidak terlalu faham segala macam intrik yang ada dibaliknya sehingga dia seperti para fans di luar sana yang gampang tertipu oleh settingan para pelaku bisnis tersebut. Fito mengetuk pintu dengan perlahan. Setelah mendengar perintah untuk masuk barulah ia membuka pintu dengan lebar. " Fito... kebetulan sekali kamu kesini." sambut sang direktur antusias. Berbeda dengan direktur yang menyambutnya dengan senang, Gisella justru memandang Fito dengan muka datar. Gisella tahu dengan jelas maksud kedatangan Fito. " Kenalkan ini sponsor yang akan bekerja sama dengan kita di Film terbaru kalian." kata direktur mengenalkan. Fito pun menyalami kedua orang pria berusia menjelang empat puluhan itu. " Mereka juga akan menjadikan kalian berdua sebagai brand ambassador produk mereka." kembali suara direktur terdengar senang. Fito berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan baik. Ia belum pernah diberitahu sebelumnya tentang perubahan tokoh utama wanita yang akan bekerja sama dengannya nanti. Awalnya bukan Gisella yang jadi lawan mainnya, sekarang kenapa bisa Gisella yang dipasangkan dengannya? " Kenapa bisa berubah begini?" tanya Fito setelah para sponsor pamit diri. Direktur memaksakan untuk tersenyum," para investor yang meminta dan sutradara juga setuju." jawabnya seolah lupa dengan syarat yang diberikan oleh Fito saat setuju untuk memulai proyek come backnya. " Seharusnya bapak tanya dulu sama saya." ucap Fito keberatan. " Kamu tidak boleh egois, ini tuh proyek besar yang melibatkan banyak pihak." ujar Gisella tersinggung. Fito tidak merespon ucapan Gisella, ia masih fokus pada atasannya yang duduk didepannya. " Kita sudah deal sebelumnya, bapak pasti masih ingat." Direktur tertawa sumbang mendengar nada dingin dari artis yang sudah banyak memberikan pemasukan bagi perusahaannya. " Saya tidak bermaksud melanggar kesepakatan kita tapi kamu pasti juga tahu bahwa dalam industri ini investor yang pegang kendali lebih." " Dan itu artinya bapak akan meneruskan proyek ini sesuai dengan permintaan mereka?" " Memang harus begitukan cara kerjanya?" Fito mengangguk," baiklah kalau itu maunya bapak. Tapi bapak juga pasti ingat kalau kontrak saya akan berakhir sebentar lagi?" " Apa maksudmu? kamu mau keluar dari management ini?" " Apa saya harus bertahan saat hak saya diabaikan?" " Jangan kekanakan kamu." desis Gisella emosi yang langsung dihadiahi oleh sang direktur sebuah pelototan tajam. Fito menatap Gisella untuk pertama kalinya sejak berada diruangan yang sama," Anggaplah saya kekanakan oleh karena itu saya kembali meminta putus untuk kesekian kalinya!" kata Fito ," mulai hari ini hubungan pertunangan kita berakhir." tegasnya," silahkan bapak merilisnya disitus kantor kita." Gisella memandang Fito horor. Direktur memandang keduanya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Dia tahu kondisi hubungan dua artis asuhannya tersebut cuma dia memilih pura - pura tidak tahu. Sekarang jangan salahkan naluri bisnisnya jika berita kurang enak tersebut berbuah berkah ditangannya. Bisnis tetaplah bisnis. Hasil bisnis tetaplah komoditi. Entah diolah dalam bentuk barang atau orang hasilnya tetap harus diperjualbelikan demi keuntungan yang ingin diraih. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD