Fito mengurung dirinya di kamar sendirian. Sejak berita pertunangan Fida dan dokter Ryan disiarkan sore kemarin sampai hari menjelang sore kembali, Fito masih mengunci diri. Panggilan dari Ayah, Ibu dan juga Aldi tidak ia pedulikan. Mereka yang memintanya untuk makan juga tidak ia indahkan. Jangankan untuk makan, untuk bernafas saja rasanya sangat sulit ia lakukan tanpa merasa sakit. Sungguh sakit sekali rasanya. Bahkan air matanya yang mengalir tidak mampu mengurangi rasa sakitnya sedikitpun. Lebih sakit lagi saat ia kembali teringat dengan malam perpisahan mereka dulu. Fida pasti juga menangis karenanya. Apa Fida juga merasakan sakit yang sama seperti yang Fito rasakan sekarang?
Nafas Fito tercekat, dadanya kembang kempis menahan beban berat tak kasat mata. Sesal dan sesak ini kenapa begitu menyiksanya?
Apa Fida disana merasa senang karena sudah menemukan pria yang lebih baik darinya? Fidanya terlihat tersenyum disana, bahagiakah dirinya?
Harusnya cinta sejati bisa merelakan kebahagiaan orang yang mereka cintai meski dengan orang lain tapi Fito tidak bisa seperti itu. Ia tidak bisa merelakan Fida bersama pria lain. Fito adalah pria egois yang tidak akan melepaskan Fida pada pria lain. Fida adalah cintanya... begitupun keyakinan Fito pada Fida.
Fito memandangi lagi foto Fida yang ada ditangannya. Foto yang biasanya terletak diatas nakas disamping tempat tidurnya. Di foto itu Fida tersenyum manis kearah kamera yang sedang memotretnya. Fito yang mengambil foto tersebut dengan kamera baru yang Fito beli dari honor iklan yang ia bintangi. Masa itu masa yang sangat membahagiakan bagi mereka berdua. Fito sudah mulai membintangi iklan tapi belum mendapatkan tawaran untuk bermain sinetron kejar tayang. Selain menjadi bintang iklan Fito sesekali menjadi bintang tamu diacara variety show saja. Sekarang Fito jadi bertanya pada dirinya sendiri, Apa jika ia berhenti di sana hubungan mereka akan baik - baik saja? Fida sering mengingatkan Fito untuk tidak terlalu ngoyo dalam mengejar karirnya karena alasan yang bagi Fito hanya berdasar kecemburuan Fida semata. Siapa sangka kalau ketakutan Fida benar terjadi. Fito yang sebelumnya sesumbar akan tetap setia tetap saja akhirnya tergoda.
Panggilan dari tiga orang terdekatnya masih saja terdengar dari luar. Fito tidak ingin menyiksa mereka tapi untuk kali ini biarkan Fito menanggung rasa sakitnya sendirian. Fito sadar ia pantas menerimanya.
#
Fida masih berada di pulau meski keluarganya dan para tamu sudah meninggalkan pulau setelah acara lamaran usai. Orang tuanya dan orang tua dokter Ryan akan mengurus acara pernikahan mereka yang rencananya akan digelar besar - besaran berbeda dengan acara lamaran yang lebih intimate.
" Aku bahagia kita sudah punya status yang jelas." kata dokter Ryan sambil menikmati soft drink yang ada di meja yang memisahkan kursi yang sedang mereka duduki.
Fida tidak menanggapi ucapan Ryan. Matanya masih asyik memandangi laut lepas didepannya. Tadinya Fida berharap dokter Ryan ikut pulang bersama rombongan namun ternyata setelah mengetahui kalau Fida masih tinggal untuk dua hari mendatang, dia pun membatalkan kepulangannya demi bisa bersama Fida. Alasan agar mereka bisa lebih mendekatkan diri terdengar ampuh ditelinga para tetua.
" Kamu sudah lihat berita tentang pertunangan kita yang jadi trending topik?" tanya dokter Ryan dengan nada bangga.
Fida cuma mengangguk sekilas. Apa hebatnya menjadi trending dengan mengusung berita bermuatan sensasi.
" Sekarang tidak akan ada lagi yang berani menudingmu sebagai orang ketiga."
Fida tidak tahu akan kemana arah pembicaraan dokter Ryan. Dirinya tidak nyaman masih membicarakan perihal gosip yang sudah berlalu.
" Kamu bisa lihat kan kalau berita hoax memang cepat menyebar tapi berita sensasi juga tidak bisa dipungkiri sangat menarik animo netizen. Harusnya dari awal kita melakukannya agar berita buruk itu tidak terus menyebar. Tapi aku senang pada akhirnya kamu bisa membuat keputusan yang tepat."
Fida jengah mendengar perkataan dokter Ryan yang panjang dan lebar. Ingin membantah namun ia urungkan karena pasti akan sangat menguras emosinya. Niat hati ingin menenangkan fikiran kenapa yang terjadi malah tambah ruwet.
" Dengan apa yang sudah aku lakukan untuk membersihkan namamu didepan publik apa masih belum cukup untuk membuatku mendapat tempat dihatimu?."
Pertanyaan sulit itu terlontar juga dari mulut dokter Ryan. Fida tidak bisa menjawabnya dengan benar. Mulutnya terkunci seketika. Hanya matanya yang menatap pada bola mata dokter muda itu...yang sudah lebih dulu mengunci tatapannya pada Fida.
" Aku ..." Fida tergagap.
" Aku bisa lihat jawabannya dimatamu,Fida. Tidak perlu menjawabnya karena aku akan tetap menunggu sampai kamu sendiri yang mengucapkannya tanpa aku minta."
" Tta...pi aku..." Fida tidak punya riwayat gagap sebelumnya tapi kini tiba - tiba saja ia menjadi gagap.
dokter Ryan menggeleng. Ia bangkit untuk kemudian mengulurkan tangannya pada Fida.
" Mumpung kita masih disini mari kita bersenang - senang sejenak. Anggap saja kita sebelumnya sudah mengenal lama. Fida hawari, ayo kita berenang!"
Fida menyambut uluran tangan dokter Ryan. Saatnya Fida harus melupakan sejenak masalah yang sedang ia hadapi. Berenang memang kegiatan favoritnya.
#
Kedatangan kedua orang tua Fito tidak pernah diduga sebelumnya oleh dokter Hawari dan dokter Jelitasari yang merupakan orang tua kandung Fida Hawari. Mereka tidak bisa dikatakan dekat, terlebih setelah hubungan anak mereka kandas. Tapi tidak juga tidak saling mengenal. Setidaknya kurang dari lima kali mereka pernah bertemu. Biasanya mereka bertemu pada acara syukuran yang dihelat oleh keluarga Fida. Entah itu syukuran hari lahir atau sebagainya, mereka pasti datang atas undangan dari Fida. Selebihnya mereka tidak pernah bertemu. Orang tua Fida lebih dekat dengan Fito begitu juga sebaliknya. Mereka saling menerima kedekatan anak mereka tanpa melibatkan diri terlalu jauh kedalam hubungan mereka. Seperti Fito yang diterima baik di rumah Fida begitu juga penerimaan orang tua Fito kepada Fida.
" Silahkan duduk ..." ucap dokter Hawari yang terpaksa menunda kegiatan membacanya selepas maghrib.
" terima kasih, pak." balas bu Ratih dan pak Muh bersamaan.
" Ada tujuan apa bapak dan Ibu mendatangi rumah kami?." tanya dokter Jelitasari to the point. Dia tidak mau beramah tamah disaat tidak diperlukan seperti saat ini. Bukannya ingin sombong pada tamu yang datang namun menjaga jarak rasanya lebih tepat bagi mereka semua.
Bu Ratih dan Pak Muh saling berpandangan dengan perasaan tidak enak, sadar diri jika kehadiran mereka tidak diharapkan oleh tuan rumah.
Pak Muh berdehem sebelum berkata," Kami datang dengan maksud ingin meminta maaf dengan apa yang terjadi pada nak Fida."
dokter Jelitasari tersenyum sinis," Apa bapak dan ibu tidak merasa terlambat datang sekarang? "
" Tentu saja seharusnya kami datang dari jauh hari." angguk bu Ratih ," Namun kami terlalu malu untuk datang kesini. Semua hal buruk yang terjadi pada nak Fida adalah kesalahan anak kami jadi kami meminta kelapangan hati bapak dan ibu untuk memaafkan kesalahan putra kami yang masih sangat labil."
" Kenapa tidak anak ibu dan bapak saja yang datang menemui kami?" cecar dokter Jelitasari.
Bu Ratih dan Pak Muh kembali saling berpandangan. Merasa serba salah mau menjawab jika sebenarnya Fito sudah berulangkali mendatangi kediaman mereka tapi tidak pernah diterima.
" Masalah diantara anak kita sudah terjadi dan kita tidak bisa merubahnya lagi, jadi kita anggap saja semuanya telah selesai. Jika permintaan maaf yang kalian inginkan akan kami berikan dengan senang hati. Tapi kami juga punya permintaan pada putra kalian untuk tidak mendekati putri kami lagi. Fida sudah bertunangan sekarang, begitu juga dengan Fito. Biarkan mereka menjalani hidupnya masing - masing tanpa saling mencampuri satu sama lain."
Wajah Pak Muh dan bu Ratih tidak terlihat baik saat mendengar penuturan dokter Hawari. Meskipun mereka dimaafkan tapi mereka juga menyadari kalau keduanya sudah membangun tembok yang ditinggi diantara mereka. Fito tidak punya harapan lagi untuk kembali kesisi Fida. Satu sisi mereka tahu kalau itu pantas buat Fito tapi disisi lain, sebagai orang tua mereka tetap ingin melihat anaknya bahagia. Dan sekarang kebahagiaan anaknya semakin menjauh dari jangkauan.
Haruskah mereka menyuruh Fito untuk berhenti berharap?
Bersambung