Bab 15

1288 Words
Waktu berjalan begitu cepat bagi Fida dan terasa begitu lambat oleh Fito. Mereka seakan berada dibelahan dunia yang berbeda. Fito tidak bisa menemui Fida dimanapun. Saat Fito datang ke kantornya, orang- orang disana menolak kedatangannya dan saat ia berhasil bertanya pada seorang oknum, Fida ternyata sudah tidak datang lagi ke kantornya sejak beberapa hari belakangan. Kediaman keluarga Hawari pun tidak luput dari pantauan Fito, tapi hasilnya tetap nihil. Fida juga tidak bisa ia temui disana. Fito sudah hampir putus asa dan frustasi menghadapinya tapi saat kembali teringat kalau apa yang ia hadapi sekarang belum sebanding dengan yang dialami oleh Fida dimasa lalu, semangatnya kembali terlecut. Fito tidak akan mungkin lupa dengan perjuangan yang telah Fida lakukan dalam mendukung karirnya selama ini. Fito juga masih ingat dengan jelas bagaimana Fida yang masih mendukung setiap ia mengikuti perlombaan bahkan setelah hubungan mereka sudah berakhir sekalipun Fida masih mendukungnya. Fida baru berhenti disaat Fito yang memintanya untuk berhenti. Tentu saja Fito melakukannya lewat anggota managementnya karena untuk berbicara langsung Fito tidak punya nyali. Fito terlalu pengecut. Karena alasan yang sama juga kenapa ia melarang Fida berhenti menonton pertandingannya, Fito tidak mungkin tidak terusik dengan kehadiran Fida disana. Bukan karena membenci kehadiran Fida yang mungkin seperti disangka oleh wanita itu selama ini. Yang sebenarnya terjadi adalah Fito tidak bisa benar- benar mengabaikan keberadaan Fida disekitarnya. Fito akui kalau ia sempat terlena sejenak dengan kehadiran Gisella. Gisella datang disaat ia lelah dengan rutinitasnya. Memberikan perhatian yang dibutuhkan oleh Fito. Menjalin hubungan dengan Gisella terasa lebih mudah dan lebih menguntungkan bagi karirnya. Tapi... Fida Hawari, cinta pertamanya tentu saja tidak mungkin semudah itu untuk digantikan. Bayangan wanita cantik dan baik hati itu terus saja mengusik ketenangan hidupnya. Lebih tepatnya bukan mengusik dalam makna yang sebenarnya karena yang sesungguhnya terjadi hati kecil Fito yang merindukannya. Bahkan jika mulut Fito berbohong dengan mengatakan kalau ia membenci Fida sekalipun hati kecilnya pasti berontak untuk menyangkalnya. Fida akan tetap menjadi wanita terpenting dalam hidupnya setelah ibu kandungnya sendiri. Jadi, sekarang belum ada apa- apa nya dibandingkan dengan harapan dan keinginan Fito untuk bisa bersama kembali. Fito bertekad akan memperjuangkan Fida sampai Fida sendiri yang menyuruhnya untuk berhenti. Dan semoga Fida tidak pernah memintanya untuk melakukan hal yang pasti tidak akan mudah baginya. Sekali lagi Fito memandang kediaman Fida dengan tatapan sendu. Dulu, bangunan megah yang ada dihadapannya kini sudah seperti rumahnya sendiri. Ia bisa datang dan pergi sesuka hati. Seisi rumah menganggapnya bagian dari keluarga Hawari. Semua yang pernah mengenalnya dimasa itu pasti tidak akan menyangka kalau Fito bisa meninggalkan Fida dengan tidak tahu dirinya. " Mas Fito..." sapa sebuah suara yang sudah lama tidak Fito dengar. Fito menoleh kearah sumber suara. Bik Karmi menatapnya dengan bingung seolah memastikan kalau dia tidak salah lihat. Asisten rumah tangga Fida itu terlihat membawa kantong belanjaan sepertinya dia baru pulang dari warung. Fito segera keluar dari mobil untuk menghampiri Bik Karmi. Diulurkannya tangannya untuk menyalami wanita yang sudah bekerja sejak lama dikediaman keluarga Fida. Bik Karmi menerima uluran tangan Fito setelah terlebih dahulu meletakkan kantong belanjaannya didekat kakinya. " Mas Fito, apa kabar?" tanya Bik Karmi sambil menoleh kearah lengan Fito yang masih dipasangi gips. " Baik, Bik... ini sudah mendingan." jawabnya sambil memaksakan tersenyum. Bik Karmi juga ikut tersenyum, dia tahu apa yang terjadi dengan mantan pacar majikannya itu tapi dia tidak bisa memasang wajah jutek pada Fito karena dia adalah penggemar sinetron yang sering dibintangi oleh sang aktor. " Mas Fito kesini mau ngapain? " tanyanya dengan kening berkerut nyata. Setelah sekian lama tidak pernah datang lagi kenapa sekarang muncul tiba - tiba disaat sang nona majikan akan bertunangan dengan orang lain. " Fidanya ada Bik?" tanya Fito. Meski sudah bertanya pada satpam sebelumnya tapi Fito masih ingin bertanya kembali. Bik Karmi menggeleng," Non Fida dan keluarganya sudah berangkat dari kemarin." " Berangkat kemana,Bik?" tanya Fito cepat berpacu dengan rasa kaget yang menderanya. " Bibik kurang tahu kemana, kata tuan pergi ke Pulau ... apa ya namanya? Bibik kurang ngerti Mas." " Mereka pergi liburan?" tanya Fito memastikan. Kembali bik Karmi menggeleng," kata Nyonya, mereka akan mengadakan lamaran non Fida dan dokter Ryan. Kami tidak diajak karena acaranya privat gitu...Hanya untuk keluarga dekat saja tapi Nyonya janji pas acara nikahan kami semua diundang." Fito tidak lagi mendengarkan dengan jelas semua penjelasan bik Karmi karena kepalanya jadi berdengung- dengung dengan kenyataan Fida yang dilamar! # Fida memandang lurus kearah cermin yang ada dihadapannya. Menampilkan dirinya yang sedang berbalut kebaya modern berwarna fuchia. Sebentar lagi acara lamaran akan diadakan. Semua orang yang akan terlibat dalam acara lamaran dadakannya sudah berada di hotel yang sama dengannya. Bertempat disebuah pulau cantik yang berada disebrang kampung halaman mamanya. Sengaja mereka membawanya jauh dari ibu kota agar tidak ada kendala yang tidak diharapkan terjadi. Untuk dokumentasi, orangtuanya sengaja mengundang beberapa wartawan dari media yang terpercaya untuk hadir. Walaupun dalam kondisi yang mendesak tapi Papanya bisa menyiapkan semuanya dengan sempurna. Kolaborasi Papanya dengan dokter Ryan tampaknya berjalan dengan baik. Tanpa sadar Fida tersenyum miris memikirkannya. Fida menarik nafas dan membuangnya secara kasar. Rasanya tidak benar apa yang sedang keluarganya lakukan padanya. Setelah terus mencoba untuk berfikir positif dan mengafirmasi dirinya sendiri jika dokter Ryan adalah orang yang tepat buatnya dan rasa cintanya akan segera tumbuh tapi tetap saja Fida merasa ada yang mengganjal didadanya. Sedikitpun ia tidak bisa melihat masa depan yang baik buatnya dan juga dokter Ryan. Fida sudah berulangkali meminta pertimbangan dari orang tuanya namun kali ini tidak ada lagi pengertian dari keduanya. Papa dan Mamanya sudah kompak satu suara kalau jalan terbaik buatnya adalah dengan menikah dengan dokter Ryan. Mamanya bahkan terang - terangan mengatakan bahwa hanya pria terpelajar yang bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Dengan kata lain, Fito yang tidak punya gelar akademis tidak cocok bersanding dengan Fida. Fida jelas tahu kalau orang tuanya sedang emosi makanya sampai berbicara tidak mencerminkan mereka yang sebenarnya. Namun mendengar secara langsung tetap saja membuat Fida merasa sedih. Benarkah Fito bukan lagi pria yang pantas untuk ia nantikan? Pintu diketuk dari luar menyentak Fida dari lamunannya. Dua orang staf EO masuk untuk membawa Fida keluar seperti dalam susunan acara yang sudah Fida baca sebelumnya. " Sudah waktunya kita keluar, mbak." ucap salah seorang dengan ramah. Fida hanya mengangguk sekilas. Harusnya ada keluarga ataupun sahabatnya yang menuntun Fida seperti pada acara lamaran kebanyakan orang tapi tidak berlaku di keluarga Fida. Sepupu jelas Fida tidak memilikinya, setidaknya tidak sepupu dekat. Kalau sepupu jauh Fida memilikinya tapi mereka tinggal berjauhan juga. Ada yang di luar pulau bahkan juga berada di luar negeri dan kondisi pertunangan Fida yang sekarang tidak memungkin untuk mendatangkan mereka semua. Khusus Sela, sahabat Fida satu - satunya sedang berada di kampung halaman suaminya untuk menengok mertuanya yang sedang sakit. Gadis tomboi yang sudah bereinkarnasi menjadi wanita anggun tersebut tentu saja sangat bahagia mendengar kabar pertunangan Fida. Dia bersyukur Fida sudah lepas dari jerat bayang - bayang Fito. Fida berjalan perlahan bersama pengiringnya. Ia tidak bisa menjabarkan apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang. Ia seolah berada didunia mimpi yang tidak jelas warnanya. Langkah kakinya tidak terasa berat untuk diayunkan namun tidak juga seringan yang seharusnya terjadi bagi wanita yang ingin menjemput masa depan bersama pria impian. Fida berada difase terbimbang yang pernah ia alami. Dari kejauhan berdiri gagah dokter Ryan dengan mengenakan kemeja batik yang senada dengan rok yang sedang Fida kenakan. Semuanya sudah dipersiapkan oleh mereka. Fida tinggal mengenakan saja bagai manekin. Bibir Fida terasa kelu saat ia paksakan tersenyum membalas senyum dari semua tamu yang hadir begitu juga dengan senyum yang teramat lebar dari dokter Ryan yang menyambut kedatangannya dengan memberikan sebucket bunga mawar merah. Fida baru benar - benar bisa tersenyum saat matanya menangkap binar kebahagiaan dari kedua orang tuanya. Haruskah Fida mengorbankan perasaannya agar senyuman itu tetap terpatri dibibir keduanya? Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD