Fito menatap orang yang lalu lalang di koridor dari jendela kamarnya. Ia sedang duduk diatas kursi roda sendirian. Ibunya sedang di kamar mandi sedangkan ayahnya lagi keluar membeli makanan untuk mereka. Dari tadi Fito tidak bosan duduk dengan posisi yang sama. Bukan cuma hari ini, sejak kemarin Fito sudah melakukan hal yang sama. Menunggu seseorang akan muncul dihadapannya. Menyadari mereka yang berada digedung yang sama tapi tidak bisa bertemu dengan mudah membuat d**a Fito jadi sesak oleh sesal. Inikah yang Fida rasakan saat melihatnya bertanding ketika mereka sudah putus. terlihat dekat namun terasa begitu jauh ?
Fito menatap tangan dan kakinya yang masih dibalut perban. Andai kakinya bisa ia gerakkan seperti biasa, pasti Fito sudah mencari Fida ke kantornya. Banyak hal yang ingin Fito bicarakan pada Fida. entah Fida akan percaya atau tidak.
Atau, bisa melihatnya dari kejauhan saja sudah cukup baginya kini. Namun belum juga ada tanda - tanda kehadirannya. Sudah tiga hari Fito tidak melihatnya, sejak Ayah dan Ibunya kembali dari tanah suci Fida tidak pernah lagi datang ke kamar perawatannya. Fito tahu Fida orang yang sibuk. Beberapa hari menjaganya pasti membuat pekerjaannya jadi terbengkalai.
" dokter Ryan kayaknya belum nyerah juga ya " ucap seorang perawat yang berjalan sambil mendorong kursi roda seorang pasien pada temannya yang ikut berjalan bersamanya.
" habisnya mbak Fida cantik sih mana baik lagi " balas temannya yang jelas terdengar ditelinga Fito.
Fito merasa jantungnya jadi mencelos mendengar gosip dari dua orang perawat yang baru saja melewati dirinya. Fito tahu siapa orang yang sedang dibicarakan oleh mereka. Tentu saja orang itu Fida Hawari nya. Dua bentuk perasaan dominan yang bertolak belakang sedang mengisi fikirannya. Antara senang dan sedih yang berusaha saling menguasai emosinya. Senang mendengar Fida yang masih atau sedang jomblo tapi juga sedih karena sedang didekati oleh seorang Pria yang berprofesi sebagai dokter pula. Fito memang pernah merasa minder dengan mereka yang berprofesi sebagai dokter. Bukannya apa, Fito hanya merasa jodoh yang paling cocok untuk Fida pasti orang dengan latar belakang seperti itu. Pasti lebih diinginkan oleh kedua orang tuanya. Tidak seperti dirinya yang tidak menonjol dalam bidang akademis. Kuliah saja sampai Do karena terlalu sibuk didunia keartisan.
" Ayah kamu belum datang ? " tanya Ibu Fito begitu keluar dari kamar mandi. Mengusik lamunan Fito tentang Fida.
" Belum " jawab Fito sambil menatap Ibunya lekat. Rasa sesal menyesaki dadanya teringat selama ini sering membantah ucapan sang Ibu saat menasehatinya, terlebih saat membahas hubungannya dengan Fida. Ibunya sampai mendiamkan Fito berhari - hari saat ia putus dari Fida.
" Kamu mau Ibu panggilkan dokter ? "
" untuk apa Bu ? " tanya Fito bingung.
" Wajah kamu terlihat pucat, apa kamu merasa ada yang sakit ? " tanya Bu Ratih berjalan mendekati anaknya. Dirabanya kening Fito. Suhu badan Fito terasa normal, tidak menunjukkan tanda - tanda akan demam.
Fito menggelengkan kepalanya. diraihnya tangan wanita yang sangat dikasihinya itu dengan tangan kirinya yang tidak diperban. dibawahnya kedepan mukanya. sebuah kecupan takzim ia hadiahkan pada sang Ibu.
" Fito nggak apa - apa bu, nanti kalau ada yang sakit Fito beritahu sama Ibu "
Bu Ratih mengangguk sambil mengelus kepala anaknya dengan sebelah tangannya yang bebas. Senyum hangat tersungging dibibirnya. Begitu besar rasa syukur yang ia panjatkan pada yang maha kuasa karena Fito masih diberikan umur yang panjang.
Ketukan pintu dari luar membuat Ibu dan anak tersebut melepaskan pegangan tangan mereka. bu Ratih berjalan menuju pintu, melihat siapa yang datang berkunjung.
" tante " sapa Gisella ramah yang dibalas oleh bu Ratih dengan senyuman tipis.
" sendirian saja ? " tanyanya begitu mempersilahkan Gisella masuk.
" sama team tan, mereka menunggu di bawah "
bu Ratih mengangguk. Bukan itu yang ia maksud. Yang ia tanyakan adalah orang tua gadis tersebut. Fito dan Gisella sudah resmi bertunangan jadi sangat wajar rasanya kalau mereka ikut menjenguk tunangan anak mereka yang sedang dirawat di Rumah sakit. Bahkan dokter Hawari manaf dan isterinya dokter Jelitasari, orang tua Fida sempat menjenguk Fito saat bertemu dengan tidak sengaja dengan ayah Fito di loby rumah sakit. bu Ratih dan pak Muh. Hussein sampai kehilangan kata - kata saat mereka berkunjung. Fito yang kebetulan sedang tidur setelah minum obat tidak bertemu langsung dengan mereka. Kebetulan yang sangat disyukuri oleh mereka.
" Apa yang membawamu kesini ? " Fito bertanya dengan nada datar.
" Kok kamu nanyanya begitu ? " Gisella balik bertanya dengan nada tak nyaman karena ada Ibu Fito disitu.
Fito memperhatikan Gisella dengan lekat. Gadis glamour ini bukanlah tipe idealnya. tapi kenapa ia bisa terjerat dalam sebuah hubungan dengannya begitu lama.
" Ibu akan tinggalkan kalian berdua, tolong bicarakan masalah kalian dengan sebaik mungkin "
Fito mengangguk pada ibunya.
Keluar dari kamar Fito, bu Ratih berjalan - jalan di taman yang dilapisi dengan rumput sintetis. Kamar Fito yang berada dilantai lima belas membuatnya bisa memandang lepas keluar gedung. Bu Ratih sangat Ingin bertemu dengan Fida. tapi tidak enak jika menelfon minta bertemu. cukuplah ia menerima kebaikan hati Fida dengan mengurus Fito selama ia masih umroh kemarin.
" tante Ratih ? " sapa Fida begitu melihat Ibu sang mantan berjalan sendirian di areal taman.
" Fida ! " sebut tante Ratih riang. wajah murungnya berganti cerah melihat Fida yang berjalan menghampirinya. Mereka bersalaman sambil berpelukan sebentar.
" Tante kenapa ? apa Fito baik - baik saja ? "
Bu Ratih mengangguk dengan seulas senyuman.
" Terus kenapa tante diluar ? "
" Fito sedang menerima tamu "
Fida mengangguk mengerti ," Bagaimana kalau kita ngopi dibawah, apa Tante keberatan ? " tanya Fida tanpa tertarik untuk menanyakan siapa tamu Fito yang membuat ibunya undur keluar kamar.
" Tentu saja tidak, Tante malah senang sekali bisa ngopi bareng kamu lagi. sudah sangat lama dari terakhir kita hang out barengkan ? "
Fida tersenyum mengiyakan.
" Ayo " ajak Bu Ratih langsung menggandeng tangan Fida.
Fida mengajak tante Ratih ke cafe yang ada di seberang Rumah sakit.
***
" Aku tidak ingin kita berakhir ... " ucap Gisella nyaris berbisik ," Aku tidak mau kita putus. tidak akan pernah mau "
" kenapa ? " tanya Fito tidak sabar.
Kondisi badan Fito yang sedang sakit dan mengantuk membuatnya tidak ingin berdebat dengan siapapun terlebih dengan wanita yang Fito tahu orangnya sangat cerewet dan penuh drama. pencitraannya terlalu manis sehingga tidak ada orang didepan layar yang tahu tabiat sebenarnya. Fito lelah menghadapi dua pribadi yang berbeda dari orang yang sama.
" Hubungan kita tidak bisa diteruskan lagi, tidak akan baik akhirnya karena kita tidak berada dijalan yang sama sejak dulu " ujar Fito mengingatkan.
Setetes air mata jatuh dipipi bening Gisella yang Fito yakini penuh dengan kepalsuan. tidak sulit untuk mengeluarkan air mata untuk seorang Gisella, si ratu drama medsos.
Fito menghela nafas lelah ," Aku yakin kamu juga tahu bahwa hubungan kita tidak bisa dipertahankan lagi. jadi bersikaplah dewasa dan realistis. jangan ada drama lagi "
" Aku mohon "
" Aku juga mohon sama kamu untuk
tidak mempersulit keadaan kita " potong Fito sebelum Gisella melanjutkan aktingnya. terlalu sering dia lakukan sehingga Fito hapal jadinya.
" Pergilah " usir Fito pelan.
Gisella bergeming. memandangi Fito tak percaya. kenapa Fito jadi serius begini. Apa keterlambatannya menjenguk membuat Fito jadi marah dan memutuskan hubungan mereka dengan mudahnya.
" Sepertinya mood kamu sedang tidak baik, aku pulang dulu. besok aku kembali lagi " pamit Gisella mengalah.
Setelah mendaratkan sebuah kecupan dipipi pria yang masih berstatus tunangannya itu Gisella pun berlalu meninggalkan Fito yang menatapnya jengkel.
Fito benci dengan situasinya kini. Bukan karena kondisinya yang sedang tidak baik - baik saja. Tapi karena masalahnya dengan Gisella yang tidak pernah bisa ia akhiri dengan mudah. Gadis itu, entah apa yang membuatnya bertahan sejauh ini.
tbc