Bab 8

1535 Words
Fida memandangi ponselnya yang sedang tergeletak diatas meja kerjanya. Layarnya masih menyala setelah tadi ada panggilan masuk dari nomor yang sudah sangat lama tidak pernah terlihat. Tidak ada nama kontaknya karena sudah dihapus sejak lama olehnya. Dua kali nomor yang sama menelfonnya tapi Fida tidak punya keberanian untuk menerima panggilan darinya. Panggilan yang dulu sempat begitu dinantikan olehnya. Orang tua Fito sudah kembali, tidak ada lagi alasan Fida untuk berurusan dengan pemilik nomor tersebut meski terbersit rasa penasaran untuk menanyakan maksud Fito menelfonnya tapi tidak sampai membuatnya melanggar tekadnya untuk menjauhi Fito. Sudah lumayan berhasil sejauh ini, jangan sampai Fida gagal dan kembali ketitik awal lagi. Fida menyadari bahwa dirinya terlalu lemah untuk move on dari Fito. Pesan masuk mengusik lamunan Fida. Ini nomor aku, Fito Fida tidak tahu maksud Fito mengiriminya pesan seperti itu. Bingung antara mau membalas atau mengabaikan saja. Fida menatap ponselnya bergantian dengan monitor laptopnya. Berharap dapat ilham dari kegiatan anehnya saat sedang bingung seperti itu. Apa yang bisa ia harapkan dari memandangi layar laptop yang sedang mati. Sejak pagi Fida belum menyalakan laptopnya sama sekali. Fikirannya terbagi dengan banyak hal. Gamang dengan perasaannya sendiri, dan juga dengan pembicaraanya dengan orang tuanya tadi pagi saat sarapan. " dokter Ryan meminta izin pada papa untuk mendekati kamu " ujar Papanya menatap Fida serius ," kamu tidak sedang dekat dengan seseorangkan ? " Fida menggeleng ragu, tidak sedang dekat dengan orang lain bukan berarti Fida mau menerima dokter Ryan yang ingin serius dengannya. " Papa mengizinkan kalau dia mendekatimu, begitupun dengan mamamu " Fida menoleh pada Mamanya sedikit terkejut. Mama Fida mengangguk menyetujui ucapan suaminya ," Kami sepenuhnya menghargai keputusanmu, tapi sebagai orangtuamu, kami juga berharap agar kamu menikah " ujar dokter Jelitasari dengan wajah keibuan ," Mama dan Papa juga kepengin punya cucu " sambungnya dengan binar penuh harap. " Tidak lama lagi kami akan pensiun. Jadi kami harap saat waktu itu tiba sudah ada cucu yang menemani hari - hari kami " Tidak seperti yang biasa Fida lihat sehari - hari, kali ini orang tuanya tidak lagi berambisi dengan karier dan bisnisnya. Sejak beberapa tahun belakangan mereka memang sering membahas soal pemindahan tanggung jawab Rumah sakit kepada Fida. Mereka sedang bersiap menyambut hari tua yang jauh dari keramaian. Fida memaklumi keinginan orang tuanya. Sudah terlalu lama mereka berkutat dengan semua itu. Wajar rasanya jika mereka ingin menikmati hari tua dengan lebih santai dan bahagia. Kerja keras mereka selama ini juga telah membuahkan hasil. Namun, Fida tidak berani menjanjikan apa - apa kepada orangtuanya. Orangtuanya tidak pernah memaksakan kehendak mereka selama ini dan tidak juga menuntut apapun padanya. jika sekarang mereka menginginkan cucu hadir diantara mereka, kenapa tidak ia usahakan. Tapi jelas tidak semudah itu buatnya yang belum punya perencanaan apapun tentang masa depannya. Belum ada gambaran ideal tentang rumah tangga yang ingin ia bangun, makanya selama ini Fida belum mencari ataupun menerima pria yang datang padanya. " Kamu maukan mencoba melakukan penjajakan dengan dokter Ryan ?" tanya Mama Fida lembut. Fida mengangguk. Mama dan Papanya tersenyum senang. # Ponsel Fida kembali berdering. Kali ini bukan dari Fito, tapi dokter Ryan. Dengan setengah hati Fida mengangkatnya. " Halo " sapanya pelan. " Nanti siang makan bareng ya " ucapnya tanpa basa basi sehingga membuat dahi Fida mengerut. " Jam dua belas aku tunggu di lobi " putusnya sebelum mendapat balasan dari Fida. Apa dokter Ryan sedang menunjukkan kuasanya atas diri Fida karena sudah mendapat izin dari orang tuanya ? Belum apa - apa dia sudah mengatur Fida. Fida menandai poin minus dari calon yang sepertinya mendapat nilai plus dari orang tuanya. Fida berusaha mengusir prasangka buruk yang mampir dibenaknya. Saat jam makan siang tiba, Fida keluar dari ruang kerjanya untuk menemui dokter Ryan. Fida sudah berjanji untuk mengenali sang dokter lebih dekat lagi jadi ia rasa harus dimulai dari hal kecil dulu, seperti makan siang kali ini Fida niatkan untuk memenuhi janjinya pada kedua orangtuanya. " Mbak Fida mau saya pesankan makan siang ? " tanya Nurul, sekretaris Fida. Fida menggeleng sambil tersenyum ramah," saya akan makan siang dengan dokter Ryan " ujarnya memberitahu. Nurul mengangguk mengerti ," Setelah jam makan siang Mbak Fida tidak punya jadwal lagi, jadi tidak apa - apa kalau terlambat " sebutnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Nurul pasti sedang menggodanya karena setelah sekian lama mau juga diajak makan diluar oleh dokter Ryan. " Kamu mau ikut ? " tawar Fida balas menggoda. Nurul menggeleng cepat. " Kenapa nggak mau, bukannya kamu suka sama dia ? " tanya Fida tersenyum geli. Dari awal dokter Ryan masuk kerja Nurul sering menggodanya namun tidak pernah digubris oleh sang dokter yang berpenampilan dingin dan cenderung kaku. Terkecuali pada pasiennya, dokter Ryan teramat jarang memberikan senyumannya. Bila biasanya Nurul yang ceriwis dan sedikit ganjen selalu direspon dengan candaan dan godaan dari kaum adam lainnya tidak berlaku pada dokter Ryan. Lama - lama Nurul jadi sungkan sendiri bercanda dengan dokter Ryan, terlebih saat Nurul tahu kalau dokter Ryan bukan orang sembarangan. Ditambah lagi orang yang diincar oleh dokter Ryan adalah bosnya sendiri. Nurul mengakui dokter Ryan dan Fida adalah pasangan yang sesuai karena dari kalangan yang sama. Fito sedang melihat - lihat keadaan dirumah sakit. Bosan berdiam diri terus dikamar membuatnya ingin keluar. Jadilah Fito duduk di kursi roda dengan didorong oleh ibunya. ketika sang ibu pergi untuk membeli air mineral ke minimarket rumah sakit tinggallah Fito sendirian. Matanya menangkap sosok Fida yang sedang berjalan melintasi koridor yang ada diujung tempatnya duduk. senyum manis langsung terbit dibibir Fito. Fidanya tidak pernah gagal untuk tampil anggun dan berwibawa. Tanpa orang tahu apa jabatannya, orang pasti sudah menduga kalau Fida berasal dari kelas yang berbeda dari orang kebanyakan. Tanpa memandang apa yang ia kenakan tapi lebih melihat kepada gesture yang ia tampilkan. Pintar, terdidik dan cantik, adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan seorang Fida Hawari dimatanya. Langkah kakinya terlihat yakin dan penuh percaya diri. Sesekali Fida tersenyum membalas sapaan dari orang yang berpapasan dengannya. Fito sudah berharap langkah kaki Fida akan sampai ke tempatnya berada, tapi gagal karena Fida membelok menuju seseorang yang memanggilnya. dokter Ryan. Fito mengeja nama orang tersebut dalam hati dengan kepala mendadak pening menahan gejolak rasa yang tidak mengenakkan. " Aku fikir kita akan bertemu di lobi, ternyata malah ketemu disini " sapa dokter Ryan sembari berjalan bersama Fida ke arah tangga menuju Lobi. " Iya, kebetulan aku pakai lift sampai lantai ini saja " jawab Fida. Ia sendiri bingung kenapa tidak langsung turun ke lobi saja. " Sengaja mencari akukan ? " tanya dokter Ryan bercanda. " Mungkin " jawab Fida asal. Dokter Ryan berhenti mendadak mendengar jawaban Fida. walaupun ia yakin kalau Fida juga bercanda sama seperti dirinya, namun hatinya jadi berbunga karena dengan Fida yang mau bercanda dengannya seolah pertanda Fida sudah mulai membuka diri padanya. Fida terus saja berlalu meski ia tahu dokter Ryan berhenti dibelakangnya. Dengan senyum simpul dokter Ryanpun menyusul Fida. Fito meraba d**a kirinya, ada yang menusuk disana. benda tak kasat mata. " d**a kamu kenapa ? sakit ? " tanya bu Ratih melihat sang anak menahan kesakitan sambil memegang dadanya. Tidak mendapat respon dari Fito, bu Ratih segera memutar kursi roda untuk kembali ke kamar. " Kita masuk dulu, nanti ibu panggil dokter " katanya sambil berjalan dengan muka khawatir. Fito melepaskan pegangan tangan dari dadanya, disentuhnya tangan ibunya yang sedang berpegang dibelakangnya kursi rodanya. " Tidak usah memanggil dokter bu " cegahnya. " Kamu harus dicek, kamu kesakitan gitu " " Tidak perlu bu. dokter tidak akan bisa mengobati sakit yang sedang aku rasakan " Bu Ratih berhenti berjalan. Kursi roda yang sedang diduduki Fito pun terhenti. Ia berjalan kedepan sang anak. Ditatapnya wajah Fito prihatin. " Kamu sudah putus asa ? " tanyanya hati- hati. Fito menggeleng " Jadi kenapa tadi kamu ngomong seperti itu ? " " Karena dokter tidak tahu apa yang aku rasakan bu " " Itu namanya kamu berputus asa " " Mungkin, karena kondisiku sekarang tidak ada yang bisa aku banggakan lagi " Bu Ratih berfikir keras mencerna maksud ucapan Fito. Untuk kembali ke Lapangan, Fito memang butuh waktu sampai setahun untuk pemulihan. Tapi untuk kembali kedunia keartisan tidak akan selama itu. Sekarang saja ada beberapa kontrak baru yang sedang ditawarkan padanya. Tim management tempatnya bernaung sedang mempertimbangkan proyek yang tepat untuknya kembali setelah sembuh nanti. Jadi menurutnya, tidak perlu Fito menjadi putus asa begitu. Harusnya Fito mengambil hikmahnya, Anggap saja ia sedang beristirahat sejenak. " Fida tidak akan melihatku lagi " ucap Fito sambil mengalihkan pandangannya dari sang ibu. Tidak berani menatap wajah bu Ratih yang menatapnya dengan wajah kaget. " Kamu ... sedang memikirkan Fida ? " Fito mengangguk lemah. bu Ratih membawa tubuh Fito kedalam pelukannya. ia merasa sangat terharu mendengar pengakuan Fito. anaknya sudah kembali, tentu saja ia bahagia. " Selalu ada jalan bagi mereka yang mau memperbaiki diri " nasehat bu Ratih bijaksana. Ia akan membantu Fito lewat doanya agar Fida mau menerima anaknya kembali. Fito berharap ucapan ibunya akan jadi kenyataan suatu hari nanti. Semoga, Tapi ... Akankah Fida mau menerimanya kembali setelah semua yang terjadi. kilasan bayangan tentang apa yang terjadi dimasa lalu seolah menamparnya. Ia sudah menyia - nyiakan Fida selama ini, bahkan meninggalkan Fida demi wanita yang baru ia kenal. Apa ia masih pantas mendapatkan Fida? tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD