Bab 9

1192 Words
Bukan makan siang biasa, itulah yang terfikir oleh Fida begitu mereka sampai ketempat makan yang dipilih oleh dokter Ryan. Terlalu berlebihan untuk ukuran makan siang disela jam kantor mereka. Jam istirahat yang singkat harusnya jadi pertimbangan saat dokter Ryan memilih tempat dimana mereka akan makan. Jarak tempuh yang lumayan jauh sudah memangkas waktu istirahat mereka nyaris tiga puluh lima menit. Membuang - buang waktu sekali. Untuk kali ini saja Fida akan mentolerir keterlambatannya nanti. Jika biasanya Fida sangat disiplin dalam bekerja, kali ini ia harus menekan ego demi memulai langkah baru dalam kemajuan hubungannya dengan dokter Ryan. Entah akan berhasil atau tidak nantinya namun yang pasti Fida memilih untuk mencobanya. Pilihan dokter Ryan adalah sebuah restorant kelas atas yang Fida sangsi baru direservasi olehnya. Fida dan dokter Ryan makan sambil mengobrol seputaran pekerjaan mereka masing - masing. dokter Ryan yang aktif bertanya pada Fida karena jika menunggu inisiatif dari Fida, mereka mungkin akan melewatinya dengan suasana mengheningkan cipta saja. Baru setelah selesai makan, dokter Ryan masuk kedalam pembicaraan yang lebih pribadi. " Ada makanan tertentu yang tidak kamu sukai ? " tanyanya pada Fida yang baru selesai dengan suapan terakhirnya. " Makanan laut dan olahan s**u " jawab Fida begitu selesai minum setelah menelan makanannya. Fida ragu apa ia perlu mengatakan hal seperti itu pada dokter Ryan. " Bukan tidak suka, tapi tidak bisa makan karena alergi " dokter Ryan mengangguk maklum, sebagai tenaga medis tentu ia sangat mengerti dengan kondisi Fida. " Ternyata selera makan kita sangat berbeda ya " ujar dokter Ryan ", Aku pecinta kerang dan kepiting." " Tapi tidak apa - apa juga sih, gampang lah. Ntar kamu juga tidak perlu masak kok. Tinggal nyuruh art sajakan? bisa juga kita Hire koki profesional " Lanjut dokter Ryan bersemangat. Fida menatap dokter Ryan gamang. Apa memang harus secepat ini mereka membahas hubungan mereka. Tidak bisakah mereka memulai dengan perlahan - lahan saja. Masih banyak yang harus mereka lalui untuk bisa saling mengenali satu dengan yang lainnya. Dan Fida percaya hanya akan terjadi jika mereka lewati dalam waktu yang lama. Hanya waktu yang bisa menjawab tanya dan ragu mereka. Waktu juga yang akan menentukan kedalaman rasa yang mereka tanam. " Sudah bisa aku menganggap hubungan kita lebih dari sekedar rekan kerja ? " tanya dokter Ryan tak sabaran. Izin dari orang tua Fida tampaknya begitu berpengaruh pada dokter Ryan. Berbeda dengan Fida yang ingin waktu tidak cepat berlalu. Hatinya sedang bimbang. Disatu sisi Fida ingin menyenangkan kedua orang tuanya, namun disisi lain Fida tidak yakin dengan dirinya sendiri. Jangan sampai hatinya masih meragu disaat ia sudah berstatus pacar ataupun isteri dokter Ryan. " Bisakah kita pelan - pelan saja ?" Dengan tidak enak hati Fida berterus terang pada dokter Ryan. dokter Ryan tidak langsung menjawab. Benar kata dokter Hawari, tidak mudah membuka hati anaknya. Fida seolah punya benteng yang begitu kokoh. Peristiwa tragis semacam apa yang telah dialaminya sampai - sampai ia menarik diri sejauh ini. dokter Ryan semakin penasaran dengan sisi lain dari anak rekan kerja orang tuanya yang nyaris tidak pernah hadir diacara yang dihelat oleh orang tua mereka. dokter Ryan cukup terkejut begitu tahu kalau dokter Hawari punya anak gadis yang sangat cantik dihari pertama ia bekerja dirumah sakit yang ternyata dipimpin oleh seorang wanita muda. Hatinya langsung bergetar melihat Fida tersenyum padanya. Maka mulai saat itu dokter Ryan memiliki keinginan untuk mendekati Fida. Tidak pernah menjadi mudah baginya yang selama ini sudah menunjukkan sinyal ketertarikan pada wanita yang usianya lebih tua darinya itu. Tidak banyak perbedaan usia mereka, sehingga tidak jadi masalah baginya dan orang tua Fida sekalipun. Terbukti dari izin yang ia peroleh setelah berbicara langsung pada orang tua Fida tempo hari. Tentu saja ia melakukan hal tersebut karena sudah mentok dengan usahanya sendiri. " Apa yang membuatmu ingin menunggu lagi ? " dokter Ryan seakan tidak terima digantung oleh Fida. Rasanya selama ini ia belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak diinginkan oleh wanita yang sangat ia sukai adalah pengalaman pertama baginya. Sebelumnya sudah banyak wanita yang bertekuk lutut padanya. Pesonanya tidak mempan kala berhadapan dengan Fida. " Aku hanya perlu waktu lebih lama lagi " sebut Fida pelan. " Baiklah kalau memang itu yang kamu inginkan " jawab dokter Ryan mengalah ," Tapi kamu harus berjanji cuma ada aku dalam penantian ini " Fida tidak bisa menganggukkan kepalanya. Berat sekali untuk menyetujui syarat yang dokter Ryan berikan. " Maafkan aku karena tidak bisa berjanji " " Apa itu artinya kamu punya orang lain ? " Fida menatap dokter Ryan menahan rasa kesal yang coba ia sembunyikan. Kenapa jadi seperti ini. Bukankah ia sudah setuju untuk melakukan pendekatan dengannya kenapa tidak cukup dengan menjalaninya saja. Masih haruskah Fida membuka hal pribadi yang tidak ingin ia bagi. Fida yakin jika waktunya telah tiba, ia akan bisa membuka diri dengan sejujur - jujurnya kelak. Fida ingin sampai dimasa itu dengan sendirinya, tanpa diburu - buru untuk segera sampai. Sejauh ini saja Fida sudah merasa kurang sreg dengan pola pendekatan yang dokter Ryan lakukan. Mungkinkah ini pertanda kalau mereka tidak berada di frekuensi yang sama? " Aku akan menunggu " Ucapan dokter Ryan membuat Fida mengangkat wajahnya perlahan. Melihat ragu pada sipemilik suara. " Aku rasa aku akan sanggup menunggu sebentar lagi " ujarnya menambah kebingungan dimuka Fida. " Aku harap aku tidak menunggu dalam kesia - siaan " " Jangan terlalu memaksakan diri " kata Fida menanggapi ," Kita perlu waktu lebih banyak untuk berbicara dengan hati kecil sendiri,agar nantinya tidak sampai salah membuat keputusan yang justru akan kita sesali nantinya " " Kamu masih ragu padaku ? " " Dibanding itu aku lebih ragu pada diri sendiri, jadi tolong beri aku waktu " dokter Ryan menghela nafasnya panjang. Tidak akan ada habisnya bila terus berdebat dengan Fida yang sangat kekeh dengan pendapatnya. dokter Ryan terpaksa mengalah supaya ada kemajuan dalam hubungan mereka. " Baiklah, aku akan menganggap kita sebagai teman dekat saja " Fida mengangguk. " Sebagai teman dekat, kamu jangan tidak mengangkat telfon atau tidak membalas pesan dari aku. itu sangat tidak sopan nona Fida Hawari " ucap dokter Ryan bercanda yang diakhiri dengan kekehan. Tidak sopan, Apakah Fida sedang berlaku tidak sopan karena telah mengabaikan Fito beberapa hari ini. Akankah caranya menghindari Fito malah membuatnya terlihat belum lepas dari belenggu masa lalu. *** Fito sedang berandai - andai dengan suratan takdirnya. Andai dulu ia tidak terpengaruh dengan dunia baru yang dimasukinya, mungkinkah Fida masih bersamanya kini? Fida Hawari, Gadis itu adalah cinta pertamanya. Fida pasti tahu dengan kenyataan tersebut. Yang Fito yakin, Fida tidak akan tahu bahwa dia adalah cinta sejati Fito. Tentu saja Fida tidak tahu karena Fito tidak pernah mengatakannya. Dulu, Fito pernah ingin kembali. Namun tidak pernah kesampaian karena ada orang yang melarangnya. Hingga pada hari terjadinya kecelakaan naas tersebut, Fito sedang berkendara menuju suatu tempat yang sangat istimewa bagi mereka. Rencananya, Fito akan menelfon Fida sesampainya disana. Fito akan membuat pengakuan ditempat tersebut. Namun sayangnya takdir baik belum berpihak padanya. Kini, Fito tidak mungkin melakukannya ... ia terlalu malu dengan kondisinya sekarang. tbc ??‍? antique : Semua cerita tidak punya jadwal update yang pasti ya, maklum penulis pemula yang masih terus belajar. untuk yang setia menunggu, terima kasih banyak???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD