Mina memuntahkan isi perutnya mungkin rasa jijik ucapan dari Mas tadi membuat dia menjadi mual. Air matanya tidak berhenti mengalir deras di pipinya. Tubuhnya luruh ke lantai. Kepalanya menunduk, menatap cincin pernikahan yang melingkari jari manisnya. "Kenapa kali ini ujiannya sangat berat sekali harus aku lewati?" Pertanyaan itu melayang. "Kenapa Mas Sabil tega sekali mengkhianati cinta ku. Janji pernikahan yang diucapkan, nyatanya janji yang sebenarnya (tentang cinta) tidak pernah ada. Kenapa dia tega sekali menduakan aku. " Air mata terakhir mengalir perlahan, membawa serta kebingungan. Dunia terasa berhenti berputar, dan ia terperangkap di tengah badai keraguan dan keputusasaan. "Aku harus bagaimana, Tuhan ?" Suara itu begitu lirih, nyaris tak terdengar. "Non Mina, ini Mbok Non"

