Tiga tahun berlalu sejak kepergian Nara ke London. Sejak hari itu juga, Nara sama sekali gak ada mengirim kabar atau apapun kembali ke Indonesia. Diana dan Reno sudah bertunangan dan keduanya berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UI. Sedangkan Revan yang tetap jadi idola mendapat saingan dari anak FK yang bernama Dheo Anggara, cowok yang sepertinya jauh lebih populer dibanding Revan, masih berada di universitas yang sama. Cowok yang notabene adalah pimpinan Revan dalam drag race itu sebenarnya tidak terlalu menyukai kepopulerannya. Revan mengambil Teknik Pembangunan. Di lain pihak, Raka akhirnya langsung menikah dengan Wina tepat sebulan setelah kepergian Nara.
Siang itu Revan menjemput Diana dan Reno dikampusnya. Revan ingin mengajak kedua sahabatnya itu untuk makan siang. Mereka bertiga sedang berjalan ke parkiran mobil Revan saat sebuah Peugeot 908RC berhenti tepat di depan mereka, dan agak menyerempet Revan sedikit, tapi cukup membuat Revan terjatuh. Seorang gadis berambut hitam panjang yang dikuncir kuda turun dari mobil. Gadis itu mengenakan blazer warna krem yang membuatnya seperti eksekutif muda.
“Heh!! Gila lo ya!! Berhenti seenak jidat lo!! Kalau gw ketabrak tadi gimana??”bentak Revan yang sama sekali gak memperhatikan gadis yang baru turun dari mobil itu.
“Van… Van… Itu…”ujar Diana gugup sambil menarik-narik jaket Revan setelah melihat siapa gadis itu.
Gadis itu tersenyum,”Tumben kamu marah-marah sama aku, Van??”tanya gadis itu lembut.
Revan langsung mencari asal suara setelah berhasil bangun dari jatuhnya,”Vela??!!”ucap Revan setengah teriak.
Diana langsung memeluk Nara sekuat tenaga,”Gila lo, Vel! 3 tahun lo gak ada ngasi kabar. Lo tau gimana kangennya gw sama lo?? Dan sekarang lo tiba-tiba muncul di depan kami kayak hantu.”ucap Diana hampir menangis.
“Lo seneng banget buat sensasi.”ujar Reno sambil tersenyum.
Revan memandang Nara lega. Gak ada yang kurang dari gadis yang berdiri di hadapannya ini, bahkan gadis yang statusnya masih pacar Revan itu tampak lebih menarik dari yang terakhir kali,”Lo kemana aja, Vel?? Gw hampir gila lo gak ada.”ucap Revan.
“Sebelum aku jawab pertanyaan kalian semua, kita cari tempat makan dulu yuk? Aku laper banget nih. Belum ada sarapan.”ucap Nara disertai senyum penuh misterinya.
Akhirnya Diana pergi bersama Nara dan Reno pergi bersama Revan. Walaupun Revan sempat ngotot kalau dia yang akan pergi bersama Nara. Keempat orang itu pergi makan siang ke sebuah restoran Perancis.
Saat menunggu pesanan mereka tiba, Revan membuka pembicaraan.
“Vel… Ini gak kayak lo. Lo gak pernah mau makan di restoran yang mahal gini. Lo sendiri yang bilang ke gw waktu itu.”ujar Revan pelan.
“Itu dulu, Van... Saat itu, berhemat adalah hal yang wajib aku lakukan. Aku bener-bener minta maaf atas apa yang selama ini kulakukan. Aku udah banyak banget bohongin kalian.”ujar Nara sungguh-sungguh.
Diana, Reno, dan Revan saling berpandangan, bingung.
“Maksud lo apa, Vel??”tanya Revan.
“Yang pertama aku mau bilang kalau aku selama 3 tahun ini ada di London. Maaf kalau aku gak ada ngasi kabar apapun pada siapa pun. Aku benar-benar sibuk. Dan aku benar-benar ingin berkonsentrasi pada apa yang aku kerjakan disana.”
“Gila lo, ke sana gak bilang-bilang.”sela Diana.
“Tunggu dulu… Dengerin cerita aku dulu yah?”ucap Nara agak serius.
Ketiga sahabatnya memandang Nara dengan hati-hati, mereka memutuskan untuk mendengarkan cerita Nara.
“Aku pernah bilang kan kalau aku tinggal di Jakarta gara-gara wasiat Pamanku?? Sebenarnya cerita lengkapnya tuw gini...”
Cukup lama Nara bercerita, bahkan sampai pesanan mereka datang. Nara benar-benar menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya, tanpa ada satu hal pun yang dikurangi.
“Dan terakhir aku mau bilang kalau nama asli aku Titanara Armalite Shamash, bukan Vela Carina. Aku keponakan dari Nero Triton Chamaeleon.”
“Berarti kejadian di hotel waktu itu benar??”tanya Revan.
“Ya… Mereka mengenaliku, padahal berita pemindahan jabatan belum go public. Kemungkinan besar mereka melihat photo sewaktu aku ulang tahun.”
“Lo pewaris The Shamash Company??”
Nara tersenyum,”Saat ini bukan pewaris lagi. Saat ini akulah pemilik The Shamash Company. Kalau kalian baca koran bisnis dua setengah tahun yang lalu, aku yakin berita tentang pemindahan jabatan itu ada diberitakan.”ujar Nara.
“Milyuner donk lo sekarang?”seru Reno.
“Berarti aset lo udah balik semua sekarang??”tanya Revan.
“Aset pribadi yang aku miliki udah balik ke tangan aku sejak aku menghilang selama 3 hari di Bandung waktu itu. Saat itu aku dibawa ke London oleh asisten Nero. Saat itu perusahaan sedang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Dan untungnya dengan kembalinya aku kesana selama beberapa hari, situasi itu juga turut reda. Walaupun sebenarnya kalau boleh jujur, asal semua aset pribadiku kembali ke tanganku, aku tidak membutuhkan apapun lagi. Termasuk semua nama besar ini.”jelas Nara.
“Sekarang, ngapain lo kesini??”tanya Diana agak ngerasa kecil diantara orang kaya.
“Aku merindukan kalian semua. Aku udah pindah kesini sejak seminggu yang lalu. Cuma, untuk mendapatkan informasi dimana kalian kuliah gak gampang. Lagian, kantor pusat untuk sementara aku pindahin ke Jakarta. Semua dewan direksi dan para pemegang saham udah setuju kok. Mungkin aku akan kuliah disini kalau memungkinkan.”ujar Nara.
“Lo kan sanggup, Vel.”ucap Reno,”Ups… Gw panggil Nara atau Vela??”tanya Reno menyadari kesalahannya.
“Aku sih lebih enak di panggil Nara, udah biasa. Tapi kalau buat kalian itu aneh, ya udah, panggil Vela aja.”ucap Nara santai,”Dan aku gak mau ada yang berubah di antara kita hanya karena aku bukan lagi Vela yang dulu. Aku masih menganggap kalian orang terpenting dalam hidupku.”tegas Nara kemudian.
“Kalau masalah otak sih aku sanggup-sanggup aja, tapi yang aku cemaskan itu, aku punya waktu gak buat kuliah lagi.”sambung Nara sesaat kemudian.
“Iya ya… Lo kan mesti kerja. Masa’ CEO-nya malah bolos kerja?”ceplos Reno.
“Ah… Gw ingat. Gimana hubungan lo sama Raka??”tanya Revan.
“Aku gak tau. Lagian dia benar-benar gak menyukaiku. Dia akhirnya menikah dengan Wina kan??”ujar Nara berusaha terdengar tenang.
“Lo mau jalan lagi sama gw?? Hubungan kita belum berakhir lho?”ujar Revan serius.
“Itu mah maunya lo, Van!”ledek Reno.
“Kamu gak ngelarang lagi, Na??”tanya Nara ingin melihat reaksi Diana.
Diana menggeleng pelan,”Gw gak akan ngelarang lagi. Revan bener-bener sayang sama lo. Baru kali ini gw liat Revan bisa tahan gak dekat sama cewek selama 3 tahun. Dia bener-bener nunggu lo pulang, walaupun itu gak pasti. Dia setia sama perasaannya ke elo.”ucap Diana pelan.
Nara tersenyum, dipaksakan,”Aku tau hubungan kita belum berakhir. Karena itu aku ingin mengakhirinya sekarang. Kamu tau, Van? Aku pacaran sama kamu hanya sebagai pelampiasan. Sampai saat ini yang kusukai hanya Raka dan akan selalu dia, walaupun aku hanya bertepuk sebelah tangan. Lagipula aku benar-benar gak bisa menjalin hubungan denganmu. Aku gak mau menyakitimu lagi. Gak adil buat kamu kalau hubungan ini terus dilanjutkan.”ujar Nara serius.
“Lo bener. Tapi gw gak bakal ngelepasin lo gitu aja. Lo tau gw pernah baca ini di salah satu buku ‘Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu’. Karena itu, sampai lo berhasil mendapatkan kebahagiaan lo, gw akan tetap di sisi lo.”ucap Revan dewasa.
“Aku jadi ngeri denger kamu ngomong sok dewasa gitu.”sindir Nara,”By the way, aku masih mau ngelepas kangen nih sama kalian. Nanti malam nginap di apartement aku aja yah.”pinta Nara dengan tampang sok memelas.
“Gw sih oke-oke aja. Yang lain gimana??”tanya Revan.
“Yang pasti kalau cewek gw ikut, gw juga bakalan ikut.”ucap Reno sambil melirik Diana.
“Kalian awet bener!”ucap Nara sambil tersenyum,”Ow ya, Van, gimana drag race?? Dheo??”tanya Nara kemudian.
”Wah keren lho! Drag race makin panas!! Banyak banget yang mau ngingkirin Dheo.”sahut Reno antusias.
”Ngomong-ngomong soal Dheo, ternyata seorang Dheo bisa bertepuk sebelah tangan juga lho!”sela Diana.
”Maksudnya??”tanya Nara penasaran.
”Dheo itu ternyata udah dari kecil suka sama teman masa kecilnya, tapi tuw cewek hilang ingatan, dan yang ajaibnya, yang dia lupa cuma tentang Dheo aja.”jelas Revan.
”Ya... Itu cerita berapa bulan lalu, pak. Dheo kan udah jadian sama tuw cewek. Denger-denger malah liburan semester ini mereka mau ke London, buat tunangan...”tukas Diana.
”Keren yah? Aku jadi pengen liat yang mana ceweknya Dheo.”ujar Nara semangat.
”Lusa aja!! Gw ada tanding tuh. Wakil team Dheo. Gw yakin dia pasti datang bawa ceweknya.”ujar Revan.
”Boleh!”
Setelah semua pesanan mereka datang, dari menu pembuka sampai penutup, gak ada lagi yang bicara. Semuanya menyantap makanan mereka masing-masing. Nara membayar semua pesanan mereka. Dan akhirnya Nara memisahkan diri karena harus kembali ke kantor.
Nara menyetir mobilnya sendiri. Nara gak langsung ke kantor, dia malah melewati jalan rumah Diana. Nara berhenti tepat di depan rumah yang terletak disebelah rumah Diana. Rumah Raka.
“Raka ada di rumah. Mobilnya masih yang dulu. Mungkin sekarang Wina ada disana bersama Raka.”gumam Nara sambil terus memandangi rumah Raka,”Jangan bodoh Nara, sudah pasti Wina ada di sana, mereka sudah menikah.”ujar Nara yang ditujukan pada dirinya sendiri.
Nara memandang rumah yang dulu pernah ditempatinya itu. Gak ada yang berubah kalau dilihat dari luar. Rumah minimalis itu tetap asri dengan halamannya yang banyak ditumbuhi berbagai jenis bunga.
Siapa ya yang ngurus halamannya?? Apa Wina?? Kayaknya iya... Raka mana mau pakai pembantu... Rumah ini...bathin Nara.
Hampir setengah jam Nara berada di depan rumah Raka sebelum akhirnya dia benar-benar kembali ke kantor.