Sejak pertama kali menginap di apartement Nara seminggu yang lalu, Revan mulai sering main ke tempat Nara malam-malam. Memang, kurang enak dilihat tetangga, tapi Revan memang baru bisa ketemu Nara saat Nara pulang dari kantor. Bahkan Revan punya kunci duplikat apartement Nara yang memang sengaja diberikan Nara padanya.
Dan sore ini, saat Revan sedang berkunjung ke apartement Nara, dia dikejutkan oleh kenyataan bahwa Nara ada di rumah.
“Gw kira lo kerja, Nar…”ujar Revan yang tanpa permisi langsung masuk ke apartement Nara.
Nara sibuk mondar-mandir dari kamar yang satu ke kamar yang lain,”Aku gak ke kantor hari ini. Malam ini aku harus menghadiri sebuah acara di hotel.”sahut Nara,”Oh ya, kamu mau gak jadi pasanganku malam ini??”tanya Nara sambil mencondongkan kepalanya ke luar kamar.
“Boleh. Tapi gw belum siap-siap lho?”ujar Revan semangat,
“Gak pa-pa. Kita masih sempat koq ke rumah kamu dulu.”ujar Nara setengah teriak.
Setengah jam kemudian, Nara keluar dari kamarnya.
Gadis itu mengenakan gaun malam model baby doll warna putih. Dilengkapi dengan kalung mutiara yang melingkar di lehernya. Walaupun Revan sudah pernah melihat Nara memakai gaun malam, tapi tetap aja Revan takjub memandang ciptaan Tuhan di hadapannya itu.
“Van… Kamu ngapain?? Ayo kita ke rumah kamu.”ujar Nara menyadarkan Revan.
“Ha?? Oh iya… Yuk.”ucap Revan lalu bangkit dari sofa.
“Kamu bawa mobil kan?? Kita pakai mobil kamu aja yah?”ucap Nara sambil mengunci apartementnya.
Ternyata dari apartement Nara ke rumah Revan hanya butuh waktu 15 menit. Gak jauh. Revan langsung mempersilakan Nara masuk ke rumahnya. Dan ternyata kedua orang tua Revan ada di rumah saat itu.
“Ma, Pa… Ini Nara, teman Revan.”ujar Revan memperkenalkan Nara pada kedua orang tuanya.
“Malam, Om… Tante…”sapa Nara sopan.
“Malam juga. Kalian mau pergi??”tanya Mama Revan saat melihat penampilan Nara.
“Iya, Ma. Revan mau nemenin Nara ke acara kantornya.”sahut revan dari dalam kamarnya.
Kali ini giliran Papa Revan yang menatap Nara,”Kamu sudah kerja??”tanya beliau.
Nara tersenyum anggun,”Sudah, Om.”sahut Nara singkat.
“Sejak kapan??”tanya Mama Revan.
“Sejak SMA, Tante.”
“Dimana??”tanya Papa Revan.
Gila ni orang tua… Emang aku calon menantu kalian sampai ditanya sepanjang itu…Interogasi polisi aja kayaknya gak kayak gini deh... Mau tau aja nih…bathin Nara.
“Di The Shamash Company, Om.”
“Wah, hebat kamu… Tapi ngomong-ngomong apa posisi kamu disana??”tanya Papa Revan lagi.
“Papa!! Udah lah nanya-nya. Kan gak enak. Lagian asal Papa tahu, The Shamash Company itu punya Nara. Jadi posisi dia disana tuh CEO.”sela Revan tiba-tiba yang sudah siap berpakaian,”Kita langsung berangkat aja yuk?”
“Permisi, Om… Tante…”pamit Nara.
Hotel Indonesia begitu ramai didatangi oleh para pengusaha. Kebanyakan dari mereka sudah hampir berumur setengah abad. Bisa dibilang eksekutif muda di sana hanyalah Nara. Nara menggandeng Revan kemanapun dia pergi, dan gara-gara itu ada beberapa pengusaha yang bertanya pada Nara apakah dia calon-nya Nara. Kontan saja Nara menjawab tidak, dan menjelaskan kalau Revan hanyalah sahabatnya.
“Selamat malam, Nona Nara… Saya senang sekali Anda bisa hadir di acara perusahaan saya…”ujar seorang pria paruh baya yang menghampiri Nara saat Revan pergi mengambilkan minuman untuk Nara.
“Malam, Pak Wijaya. Saya juga sangat merasa terhormat karena Anda telah berbaik hati mengundang Saya. Kalau boleh saya tau, bagaimana kondisi keuangan perusahaan setelah penjualan saham besar-besaran itu??”tanya Nara basa-basi.
“Sangat baik. Saya merasa sangat beruntung karena Anda-lah yang sudah membeli semua saham itu sehingga perusahaan dapat terus berdiri.”ujar pria yang dipanggil Pak Wijaya itu,”Oh ya, kalau Anda tidak sibuk malam ini, bisakah Anda ikut dengan saya menemui seseorang??”tanya pria itu kemudian.
“Kalau boleh saya tau, siapa ya?”tanya Nara.
“Orang yang selalu memberi masukan apa yang sebaiknya saya lakukan. Padahal ini bukan bidang kerja dia.”jelas Pak Wijaya sambil tersenyum.
Nara tersenyum,”Baiklah. Saya juga sangat penasaran, orang mana yang berani mengeluarkan pendapat bahwa saham perusahaan Anda harus dijual dalam skala besar untuk menyelamatkan perusahaan.”ujar Nara sambil menggandeng tangan Pak Wijaya.
Nara mengikuti Pak Wijaya berjalan menuju sebuah ruangan yang terpisah dengan tempat pesta. Pak Wijaya membuka pintu ruangan dan langsung masuk. Nara melihat seorang pria berdiri dekat jendela dengan gelas sampanye di tangan kirinya.
“Ini dia CEO perusahaan yang aku bilang waktu itu.”ujar Pak Wijaya tiba-tiba.
Pria di jendela itu langsung berbalik saat mendengar suara Pak Wijaya.
Nara terdiam, dia benar-benar gak percaya saat melihat siapa pria yang berdiri di depannya saat ini. Kalau boleh, Nara tidak ingin bertemu dengannya sekarang_atau sampai kapanpun_ dan ingin segera pergi dari ruangan itu sekarang juga. Tapi semua sudah terlambat, Raka sudah berjalan ke arahnya, mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Nara dan Nara spontan membalas uluran tangan Raka.
“Apa kabar, Vela?? Ups, atau harus aku panggil Nona Nara??”bisik Raka di telinga Nara.
Pak Wijaya merasa aneh melihat tindakan Raka yang langsung mendekati Nara dan membisikkan sesuatu padanya,”Kalian sudah saling kenal??”tanya Pak Wijaya.
“Oh tentu!”sahut Raka yang langsung menarik Nara ke dalam pelukannya,”Sampai tiga tahun yang lalu dia masih anak asuhku.”ujar Raka kemudian mencium kepala Nara.
Nara mendongak memandang Raka, mencari tahu apa kira-kira yang akan dilakukan pria itu lagi padanya. Tapi Nara malah ditatap Raka dengan pandangan aneh. Nara langsung mengalihkan pandangannya. Memilih untuk diam.
“Bisakah Anda meninggalkan kami berdua sebentar, Pak Wijaya??”tanya Raka tanpa melepaskan tangannya dari tubuh Nara.
“Oh tentu. Silakan kalian berbincang-bincang sebentar.”ujar Pak Wijaya sambil berjalan menuju pintu.
Nara ingin ikut keluar, dia sudah siap melangkah pergi kalau tangan Raka tidak mempererat pelukannya.
“Apa mau kamu Raka??!”tanya Nara sambil berontak untuk lepas dari pelukan Nara.
“Aku gak menginginkan apa-apa.”ucapnya sambil mencium kepala Nara, lembut.
“Kalau begitu lepaskan aku!! Revan pasti akan kebingungan mencariku!! Lepas!!”pekik Nara.
Raka memegang wajah Nara dan membuatnya menatap Raka,”Aku tetap gak suka melihatmu bersama Revan. Tapi kenapa malam ini kamu malah datang bersama dia. Kalau kamu mau, kamu bisa mengajak siapapun dari perusahaan manapun untuk menjadi pasanganmu malam ini. Tapi kenapa harus dia??”tanya Raka sedikit emosi.
“Apa pedulimu??! Apa urusannya denganmu aku pergi sama siapa. Kamu bukan siapa-siapa-ku!! Kamu gak punya hak lagi melarangku, Raka. Aku bukan tanggung jawabmu lagi!!”ujar Nara serius.
“Aku peduli!! Aku peduli pada apapun yang kamu lakukan ataupun semua yang terjadi padamu.”ucap Raka tak kalah serius.
Nara menatap kedua mata Raka, mencari kebenaran atas ucapannya. Tapi tiba-tiba ponsel Nara bergetar. Nara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangan. Nama Revan terpampang di layarnya.
“Hallo, Van?? Iya, aku lagi ketemu sama rekan bisnis. Iya, bentar lagi aku kesana. Kita langsung pulang yah? Oke… Sampai nanti.”ujar Nara mengakhiri pembicaraannya di telpon.
“Maafkan aku, Raka. Tapi aku harus segera keluar. Revan sudah mencariku. Selamat tinggal, Raka.”ucap Nara pelan kemudian keluar dari ruangan itu, meninggalkan Raka seorang diri.
Kenapa dia bersikap seperti itu? Kenapa dia seolah memberiku harapan untuk mendapatkannya? Aku gak mungkin menggangu pernikahannya… Aku gak mungkin merebut suami orang… Gak mungkin! Raka pasti hanya mempermainkanku saja… Ya, dia hanya mempermainkanku saja…bathin Nara sepanjang jalan ke tempat Revan.
Nara sama sekali tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan kata-kata Raka.
‘Aku peduli!! Aku peduli pada apapun yang kamu lakukan ataupun semua yang terjadi padamu…’
“Apa maksudnya, Ka? Jangan buat aku mengharapkanmu lagi. Aku sudah berhasil melupakanmu selama 3 tahun ini dengan kesibukkanku. Tapi tadi malam tiba-tiba kamu muncul di depanku dan mengatakan kalimat yang membuatku bingung…”gumam Nara sambil memandang langit-langit kamarnya.
Nara baru bisa tertidur saat jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dan Nara terbangun saat jam baru menunjukkan pukul 7 pagi. Itu berarti Nara hanya tidur selama 2 jam setelah melalui hari yang begitu panjang. Nara bangkit dari tempat tidurnya dan segera mencuci muka. Nara memilih untuk masak daripada pesan makanan. Setidaknya dengan memasak waktu yang digunakan jauh lebih panjang. Jam 9 tepat, Nara berangkat ke kantornya.
Nara memasuki ruangannya. Sudah seminggu Nara menempati ruangan itu, tapi Nara tetap aja masih merasa asing dengan ruangan yang di design serupa dengan ruangan Nara di London. Tapi Nara merasa kalau masih ada yang kurang dengan ruangan barunya itu. Ya, tidak ada kenangan Nero di ruangan ini.bathin Nara. Nara menekan tombol 1 di telpon.
“Ratih, apakah ada rapat yang harus kuhadiri hari ini??”tanya Nara yang ternyata menghubungi sekretaris barunya.
“Ada, Nona. Jam sepuluh rapat dengan divisi pengembangan dari bagian konstruksi.”jawab Ratih sopan.
“Baiklah, siapkan semuanya. Sebentar lagi aku akan kesana.”
Nara menggantung jas-nya. Dia berdiri di dekat jendela, menatap kosong pemandangan di luar. Saat sedang benar-benar termenung, telpon di mejanya berdering.
“Semuanya sudah siap, Nona. Anda bisa ke ruang rapat sekarang.”ujar si penelpon yang ternyata adalah Ratih.
“Baiklah.”
Nara memakai kembali jasnya, dan dengan sedikit perlakuan, Nara tampil rapi lagi. Nara berjalan ke ruang rapat yang terletak di sebelah ruangannya. Bahkan dari ruangan Nara, dia bisa langsung ke ruang rapat. Tidak satupun karyawan di The Shamash Company yang punya pikiran buruk tentang Nara. Karena Nara sudah membuktikan kemampuannya dalam memimpin perusahaan besar warisan Pamannya itu.
Tepat saat jam makan siang tiba, Nara mengakhiri rapat. Nara langsung kembali ke kantornya. Nara benar-benar terkejut. Dia hanya berdiri di pintu, sama sekali gak melangkah memasuki kantornya sendiri. Orang terakhir yang paling ingin ditemuinya kini berada dalam ruangannya. Memeriksa semua buku bacaan Nara yang ada disana.
“Oh, kamu sudah selesai rapat, Nar??”tanya Raka.
“Mau apa kamu kesini??”tanya Nara curiga, dan dia lebih memilih untuk berdiri di pintu daripada memasuki ruangannya.
“Aku ingin mengajakmu makan siang. Bagaimana?? Aku yakin kalau kamu belum makan siang bukan??”tanya Raka sambil mendekati Nara.
“Jangan mendekatiku kurang dari 3 meter, Raka.”
“Hei… Aku gak makan orang kok.”
“Sudahlah. Lebih baik kamu pergi sekarang. Aku gak ingin makan siang bersamamu. Aku akan makan siang dengan Revan dan yang lainnya.”
Raka berjalan mendekati Nara, semakin lama semakin dekat. Nara sudah mengantisipasi kalau-kalau Raka melakukan sesuatu padanya. Tapi ternyata Raka malah meninggalkan Nara sendiri di ruangannya.
“Hpufff… Untung dia gak ngapa-ngapain.”ucap Nara lega sambil berjalan ke kursinya.
Saat Nara sedang sibuk memeriksa laporan yang baru saja di antar sekretarisnya, ponsel Nara berdering, melantunkan sebuah lagu latin yang pernah dibawakan Mark Anthony dan JLO.
No me ames porque pienses que parezco diferente
Tù no piensas que es lo justo ver pasar el tiempo juntos
No me ames, que comprendo, la mentira que serià
Si tu amor no merezco, no me ames, mas quèdate otro dìa
No me ames, porque estoy perdido, porque cambiè el mundo, porque es el
destino, porque no se puede, somos un espejo, y tù asì serìas lo que yo de mì reflejo
No me ames, para estar muriendo, dentro de una guerra llena de arrepentimientos,
no me ames para estar en tierra, quiero alzar el
vuelo, con tu gran amor por el azul del cielo
Nara segera mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan masuk itu.
“Hallo??”
“Nara??”ujar suara di seberang.
“Ya, ini siapa??”tanya Nara sopan.
“Ini gw Diana.”
“Napa, Din??”tanya Nara lagi sambil me-loudspeaker-kan ponselnya agar dia bisa berbicara sambil menandatangani laporan.
“Gw mau ngajak lo jogging besok pagi. Gimana?? Bisa??”
“Bisa. Besok kan hari Minggu. Jadi dimana ngumpulnya??”
“Nah ini dia... Si Revan kan paling susah bangun pagi tuh kalau hari Minggu, jadi Reno nginap di rumah Revan, supaya Revan bisa bangun pagi. Reno kan gak mungkin jemput gw lagi. Muter-muter dong dia…”
“Jadi aku yang jemput kamu??”
“Betul!!”
“Oke. Aku jemput kamu jam setengah tujuh yah?”
“Gak pa-pa lo jemput gw?? Ntar kalau ketemu Raka gimana??”
“Gak pa-pa. Aku gak ada urusan kok sama dia. Udah, tenang aja. Pokoknya kamu siap-siap aja.”
“Oke deh!! Thank’s before yah.”
“You’re welcome…”ujar Nara mengakhiri pembicaraannya di telpon.
Nara berhenti menandatangani laporan yang bertumpuk di hadapannya. Disandarkan badannya pada sandaran kursi. Nara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Nara ingat, minggu ini dia belum ada check up ke dokter. Diraihnya ponselnya tadi dan menelpon seseorang.
“Hallo, Dyon??”
“Nona Nara?? Ada apa menelpon saya??”tanya suara di seberang.
“Tolong minta dokter Smith untuk ke Jakarta.”
“Nona sakit??”tanya Dyon terdengar khawatir.
“Enggak, aku cuma mau check up rutin aja kok. Tolong ya?”
“Baiklah, Nona. Saya pastikan kalau dokter Smith akan tiba di Jakarta besok.”
“Thank you.”
Nara langsung memutuskan pembicaraan. Nara kembali memandang laporan yang masih ada setumpuk dihadapannya. Sebenarnya ini laporan semalam, karena semalam, selama sehari penuh Nara tidak datang ke kantor. Jadi laporan yang harus ditandatanganinya hari ini menjadi berlipat ganda.
Pandangan Nara mulai kabur. Dia menopang kepalanya dengan sebelah tangan sementara sebelah tangannya lagi mengacak-acak isi tasnya, mencari obat yang harus dimakannya setiap hari. Akhirnya setelah sukses mengeluarkan semua isi tasnya, Nara berhasil menemukan botok kecil berisi obat itu. Nara langsung menuang isinya ke atas tangan.
“Tinggal satu…”gumam Nara,”Akh, gak pa-pa, kalau aku makan sekarang, setidaknya tubuhku akan fit sampai besok.”
Nara langsung menelan tablet merah itu, dan berbaring di sofa panjang untuk istirahat sebentar.
Ternyata kepala Nara tambah sakit saat tiba di apartementnya. Untuk berjalan saja Nara harus berpegangan pada dinding. Nara memilih untuk tidak mandi, dia hanya mengganti jasnya dengan kaos longgar dan celana pendek. Nara langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Aku harus sehat. Aku gak boleh sakit. Gak ada alasan aku harus sakit. Aku harus sehat. Dan besok aku harus pergi. Aku gak mau kalau mereka khawatir.”ucap Nara pelan pada dirinya sendiri.
Dan beberapa saat kemudian Nara sukses memasuki alam mimpinya, bersama idolanya tercinta, Valentino Rossi.