The Real Raka

3764 Words
“FIGHT NARA!!”seru Nara saat baru bangun tidur. Badannya gak lagi seburuk tadi malam, semua jauh lebih baik pagi ini. Nara langsung mencuci muka, gosok gigi, dan berpakaian olahraga secepatnya. Jam sudah menunjukkan 6 lewat 15 saat Nara masuk ke dalam mobilnya. Nara memacu mobilnya selaju mungkin menuju rumah Diana. Dan untungnya pagi itu jalanan masih agak sepi, tidak ada kemacetan seperti biasanya. Jam setengah tujuh tepat Nara sampai di rumah Diana. Nara, Revan, Diana, dan Reno akhirnya selesai jogging. Mereka udah hampir terkapar setelah berjogging ria selama satu jam setengah. Sama sekali tidak kelihatan kalau Nara mengalami saat-saat terburuk tadi malam. Pagi ini, gadis yang mengenakan training hitam dan tank top putih itu terlihat begitu sehat. Bahkan dia yang paling semangat saat jogging. “Oi, kita sarapan yuk?”seru Revan setelah kembali membeli air mineral. “Yo’a!!”sahut Diana dan Reno kompak. Nara yang sama sekali belum ada makan dari tadi malam malah tidak ikut sarapan. Dia memilih untuk minum teh manis saja. Selesai sarapan, Diana diantar pulang oleh Nara. “Lo serius gak masuk dulu?? Minum teh dulu mungkin?”tanya Diana saat Nara turun untuk mengantarnya sampai ke depan pintu karena hari tiba-tiba hujan saat mereka bubar mau pulang. “Gak usah. Aku mau langsung pulang aja. Ngantuk nih. Titip salam aja buat orang rumah ya?”ujar Nara lembut, padahal untuk pertama kalinya di pagi ini, pandangannya kembali kabur disertai sakit kepala yang amat sangat. “Ya udah. Hati-hati di jalan ya? Bye…”seru Diana yang kemudian langsung masuk rumah saat melihat Nara akan masuk ke dalam mobilnya. Hal terakhir yang diingat Nara adalah ada seseorang yang berteriak saat melihatnya terjatuh. Nara tidak tahu siapa yang mengangkatnya, yang Nara ingat hanya suara orang itu yang terdengar panik, setelah itu Nara pingsan. Nara baru terbangun saat matahari sudah berada di puncaknya. Nara berada dalam sebuah kamar yang cukup kecil dibanding kamar Nara di apartement. Dipandanginya langit-langit kamar itu, berpikir. “Kamu udah sadar??”tanya sebuah suara yang sangat dikenal Nara. “Raka??”ucap Nara hampir shock. Raka berjalan mendekati tempat tidur dan kemudian duduk di pinggirnya,”Dokter bilang kamu kelelahan dan anemia. Dan katanya anemia kamu ini bukan baru sekali ini kamu alami.”ujar Raka sambil menyerahkan segelas teh manis. Nara meminum teh manis itu sedikit demi sedikit,”Aku tahu. Aku sudah cukup sering anemia. Terima kasih udah menolongku. Aku akan segera pulang.”ucap Nara sambil berusaha bangkit dan menahan sakit di kepalanya. “Kamu gak boleh kemana-mana sampai kesehatanmu membaik!”tegas Raka sambil mendorong tubuh Nara hingga kembali terbaring,”Dan aku hanya ingin mengingatkan, jangan terlalu memaksa diri buat bekerja. Sampai mana kamu buat aku khawatir baru kamu merasa puas?” “Aku harus pulang Raka. Dan aku ingin menegaskan bahwa aku gak pernah memaksa diriku untuk bekerja. Aku menikmatinya. Lagipula kenapa kamu harus khawatir padaku??” “Aku gak boleh khawatir saat melihat kamu tiba-tiba pingsan dihadapanku?? Masih untung kamu pingsan dihadapanku, bagaimana kalau tiba-tiba kamu pingsan di tempat yang gak ada orangnya?? Apa seperti itu juga aku gak boleh khawatir??” “Sudahlah, Raka. Gak usah sok perhatian. Aku gak pa-pa koq. Biarkan aku pulang. Aku gak enak sama Wina. Kalian sudah menikah, dan aku gak mau jadi pengganggu diantara kalian. Aku gak mau dianggap perusak rumah tangga orang.”ujar Nara tetap memaksa dirinya untuk duduk. “Kalau aku gak salah ingat, dulu malah kamu yang meminta aku membatalkan pertunanganku dengan Wina.”ucap Raka diiringi senyum licik yang baru sekali ini dilihat Nara. “Jangan diingat!! Lupakan saja!!”seru Nara dengan wajah merah. “Sayangnya, aku akan selalu mengingat kejadian malam itu.”ucap Raka pelan. “Lupakan!! Lupakan!!”pekik Nara. “Gak akan…” “Lupakan!!”tegas Nara sambil mencengkram kaos yang dikenakan Raka. Niatnya Nara hanya ingin sedikit menakuti Raka, tapi yang terjadi adalah, Raka kehilangan keseimbangan dan kemudian jatuh menindih Nara. Keduanya sama-sama terdiam, sebelum akhirnya Raka buka mulut. “Aku gak akan pernah melupakan hari itu, Nara.”ujarnya setengah berbisik dan kemudian mencium bibir Nara dengan lembut. Entah kenapa Nara bukannya berontak untuk melepaskan diri. Dia malah menikmati ciuman Raka yang lembut dan mulai membuka bibirnya. ‘Come on, Nara! Balas ciumannya… Ayo!’ujar Nara jahat dalam benak Nara. ‘Jangan Nara… Jangan! Kamu harus menghentikan ciuman ini… Dia suami orang! Dia bukan milikmu!!’teriak Nara baik gak mau kalah. ‘Biarkan aja, Nara… Kan dia sendiri yang memulai… Bukan kamu yang memintanya untuk menciummu!’balas Nara jahat. ‘Jangan rusak harga dirimu Nara! Kamu bukan wanita yang pengecut seperti itu…’ujar Nara baik. Nara meletakkan kedua tangannya di d**a Raka dan kemudian mendorong Raka sekuat tenaga. “Hentikan! Raka…”ucap Nara setelah ciuman Raka berhasil dihentikannya,”Kamu gak boleh melakukan ini. Apa kata Wina kalau dia melihat kita tadi. Aku gak mau dia mengira kita ada apa-apa. Aku gak mau dia berpikiran buruk tentangku.”lanjut Nara pelan. “Dia gak akan berkata apa-apa. Dan dia gak berhak untuk mengatakan apapun mengenai kejadian ini. Kami sudah bercerai dua bulan yang lalu.”ujar Raka pelan lalu kembali duduk di tepi tempat tidur. “Cerai??”ulang Nara tak percaya,”Kenapa??”tanya Nara sambil ikutan duduk di tepi tempat tidur. “Aku menyadari kalau aku gak mencintainya. Aku terobsesi untuk menepati janjiku. Apalagi setelah malam itu. Dan ternyata belakangan aku baru tau kalau malam itu gak terjadi apa-apa.”jelas Raka pelan. “Malam itu??” “Ya, malam itu. Malam saat kamu menghadiri acara pernikahan yang diselenggarakan di hotel waktu itu bersama Revan.” “Memangnya apa yang terjadi??” “Setelah kamu meninggalkanku sendiri, aku juga langsung kembali ke ruang pesta dan minum beberapa gelas wine, padahal untuk menyelesaikan gelas pertama saja sudah membuatku hampir kehilangan kesadaran diri. Puncaknya aku terbangun keesokan paginya di tempat tidur dengan Wina terbaring tanpa pakaian disebelahku.” Nara mendengarkan dengan seksama,”Maaf kalau aku membuatmu kembali mengingat hal menyedihkan itu.”ucap Nara menyesal. “Gak pa-pa. Lagipula aku bersyukur karena telah bercerai dari Wina. Dengan begitu aku bisa berusaha mendapatkan cintaku yang selama ini gak pernah kusadari.”ujar Raka benar-benar terlihat bahagia. “Baguslah kalau kamu akhirnya bisa mencintai seseorang. Dengan begitu kamu akan mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang, dan hidupmu akan lebih berwarna. Wanita yang kamu cintai itu pasti orang yang beruntung.”gumam Nara. “Kamu terlihat dewasa sekarang. Jauh berbeda dengan kamu tiga tahun yang lalu.”ucap Raka lalu tersenyum. “Sudahlah...”sela Nara yang paling malas kalau membicarakan masalah dirinya,”Aku benar-benar sudah merasa baikan, lagian aku harus menyuruh orang untuk menjemput dokter pribadiku di bandara, karena itu aku harus pulang. Terima kasih untuk semuanya.”ujar Nara sambil bangkit dari tempat tidur. Raka menahan tangan Nara,”Jangan! Kamu istirahat aja disini. Lagian ini memang kamar kamu kan?? Gak ada barang-barang yang kupindahkan. Kamu bisa tinggal di sini sampai aku yakin kamu udah sehat. Dokter yang kamu katakan itu, biar aku yang menjemputnya.”ucap Raka protektif. “Raka… Barusan kamu bilang kalau kamu sedang berusaha mendapatkan cintamu. Bagaimana kalau dia tau ada seorang gadis tanpa hubungan apapun denganmu, tinggal satu rumah denganmu?? Bisa-bisa dia negative thinking sama kamu. Lagian ini bukan Raka yang aku kenal. Kamu terlalu perhatian sama aku.”ujar Nara pelan, yang entah kenapa sedikit merasa kalau Raka itu sebenarnya gak jahat. “Aku gak peduli! Karena yang kucintai itu kamu, gak akan ada wanita manapun yang akan illfeel. Jadi wajar kalau aku sangat perhatian padamu.”ujar Raka sambil tersenyum, membuatnya semakin tampan, senyuman yang entah berapa kali dalam satu abad baru keluar. Nara melotot pada Raka,”Jangan main-main, Raka! Sudah cukup apa yang kamu lakukan padaku tiga tahun lalu. Kamu jelas-jelas menolakku tiga tahun lalu bukan??”ucap Nara agak emosi. “Apa aku pernah bilang kalau aku gak mencintaimu?? Gak pernah Nara. Apa aku pernah bilang kalau aku membencimu?? Gak pernah Nara. Apa aku pernah bilang kalau aku gak menginginkanmu?? Gak pernah Nara. Karena aku mencintaimu sejak aku melihatmu menunggu di bandara. Sejak saat itu bayanganmu selalu ada dalam pikiranku. Bahkan saat aku bersama Wina, aku selalu memikirkanmu.”ucap Raka serius. “Aku gak mau jadi mainan kamu Raka. Sudah cukup...” “Aku serius, Nara. Aku mencintaimu walaupun aku tau kalau kamu adalah anak perempuan bandel yang dulu pernah kulihat saat aku mengantarkan kepergian Kak Lyra di bandara. Aku tetap mencintaimu walaupun aku sudah menikah dengan Wina. Aku tetap mencintaimu dari dulu sampai sekarang.” “Kamu hanya main-main kan?? Kamu gak mungkin seserius ini.” “Aku serius. Buat apa aku sampai menciummu kalau aku gak menyukaimu?? Aku gak mungkin mencium wanita yang gak kucintai. Aku bahkan gak pernah mencium Wina selama kami menjalin hubungan. Karena aku memang gak pernah mencintainya.” ”Lalu kenapa kau menolakku saat itu?” ”Saat itu aku masih terjebak dengan hubunganku bersama Wina. Dan aku juga masih tidak bisa percaya pada diriku sendiri yang berani-beraninya menyukaimu, gadis yang seharusnya aku asuh.”jawab Raka jujur. Nara menatap Raka begitu lama, berusaha mencari kalau-kalau Raka hanya mempermainkannya. Tapi, Raka terlihat benar-benar serius dengan semua ucapannya. “Raka… Aku benar-benar gak percaya. Aku gak percaya kalau ini kenyataan. Ini... Seperti mimpi.”ujar Nara pelan,”Aku masih mencintaimu sampai sekarang. Walaupun aku berusaha mati-matian untuk melupakanmu selama 3 tahun ini. Tapi aku gak bisa. Kenangan tentangmu melekat terlalu kuat dalam ingatanku.”ucap Nara langsung memeluk Raka. “Aku mencintaimu. Dan sayangnya, aku memang bodoh. Aku baru menyadarinya saat semuanya sudah terlambat. Saat kamu akan kembali ke London, saat aku sudah tunangan dengan Wina.”gumam Raka sambil membalas pelukan Nara. Cukup lama kedua orang itu berpelukan sebelum Nara akhirnya menyadari sesuatu,”Raka!!” “Ada apa lagi??”tanya Raka yang merasa terganggu dengan pekikkan Nara. “Aku… Dokter… Aduh!”ujar Nara gugup,”Ah, Ratih…”ucapnya setelah mengingat sesuatu. Nara mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, dan langsung menelpon seseorang. “Hallo, Ratih?? Iya ini Nara. Tolong hubungi supir kantor sekarang juga dan minta dia menjemput seseorang di bandara. Iya, namanya dokter Smith. Ya, dan suruh dia langsung mengatarkan dokter Smith ke apartementku. Ya… Thank’s…”ujar Nara mengakhiri pembicaraan. “Kamu mau kembali ke apartementmu??”tanya Raka. “Ya. Aku tetap harus kembali ke apartement. Semua keperluanku saat ini ada disana.”sahut Nara lembut. “Kenapa kamu gak pindah kesini lagi??” “Aku gak bisa Raka. Lagipula aku gak mau tinggal bersamamu karena aku gak tau akan seperti apa nasibku kalau kamu punya hoby suka menciumku.”canda Nara. Raka menatap Nara cukup lama dan akhirya berkata,”Oke, tapi aku yang akan mengantarmu. Aku gak mau ambil resiko kalau tiba-tiba kamu pingsan lagi di jalan.” “Terserah… Yuk pergi sekarang?”ujar Nara ceria sambil menarik tangan Raka untuk berdiri. Raka dan Nara sedang bercanda sambil tertawa riang saat Nara membuka pintu apartement-nya dan ternyata ada Revan didalam. “Ayo masuk.”ujar Nara sambil menarik tangan Raka, tapi yang ditarik sama sekali tidak merespon. Raka berdiri diam di ambang pintu saat melihat Revan ada di dalam apartement Nara,”Kenapa dia bisa ada disini saat kamu gak dirumah??”desis Raka. “Biasa, main. Ayo masuk… Mau sampai kapan kamu diluar, Raka??”tanya Nara yang sama sekali gak menyadari kalau Raka cemburu melihat Revan ada disana. “Hai, Nar... Lo kok baru pulang??”tanya Revan yang belum menyadari kehadiran Raka disana,”Raka?!”ucap Revan kaget seperti tersengat listrik seribu volt saat menyadari ada Raka disana. “Hai, Van… Tadi ada kejadian kecil pas aku ngantar Diana. Kamu udah lama disini??”tanya Nara yang akhirnya menyerah mengajak Raka masuk. Nara akhirnya melangkah memasuki apartement-nya, dan langsung ke dapur untuk mengambil minum. “Lumayan lah. Dari jam sepuluh.”jawab Revan yang kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa depan tv. “Kamu ngobrol aja dulu sama Raka. Aku mau mandi dulu.”ujar Nara setelah meneguk habis air mineral dalam botol 600 ml yang diambilnya. Nara masuk kedalam kamar dan menutup pintunya. Sementara itu Raka akhirnya masuk ke dalam apartement Nara dan malah ikutan masuk ke kamar Nara. Revan yang melihat kejadian itu tentu saja berteriak mengingatkan Raka bahkan sampai memarahinya. Tapi Raka tetap masuk ke kamar Nara bahkan menguncinya dari dalam. “Kenapa dia bisa ada disini??”tanya Raka setelah mengunci pintu kamar Nara dari dalam. “Raka??”ucap Nara kaget,”Kamu itu, ya. Kebiasaan kalau masuk gak mau ngetuk pintu dulu. Aku kan mau buka baju. Untung aja belum.”omel Nara. “Jawab pertanyaan aku, Nara.”ujar Raka tegas,”Lagipula aku juga sudah pernah melihatmu tanpa pakaian. Kamu sendiri yang memperlihatkannya padaku.” Wajah Nara langsung memerah,”Sudah kubilang, Revan kesini cuma mau main. Dia emang kayak gitu sejak aku pindah kesini.” “Gimana cara dia masuk??”tanya Raka lagi. “Dia punya kunci apartementku.”sahut Nara sambil duduk di tepi tempat tidurnya. Raka mendekati Nara dan mencengkram kedua lengan kurus itu,”Aku gak suka liat dia ada disini. Apalagi dia bebas keluar masuk apartement kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa, Nara.”tegas Raka. “Dia gak bakal ngapa-ngapain.” “Dia menyukaimu! Apapun bisa dilakukan orang yang jatuh cinta untuk mendapatkan cintanya.”ujar Raka semakin memperkuat cengkramannya. “Raka… Sakit…”ucap Nara kesakitan. Raka langsung melepaskan cengkramannya,”Maaf… Aku gak bermaksud untuk menyakitimu.”ujar Raka menyesal,”Aku mohon… Minta kembali kunci padanya. Aku gak tenang kalau kamu terlalu dekat dengannya. Aku gak mau kehilangan kamu…”ucap Raka serius. Nara berdiri dan kemudian mencium bibir Raka sebentar,”Kamu cemburu, Raka? Dan aku menyukaimu kalau kamu cemburu seperti ini. Aku akan meminta kembali kunci pada Revan agar kamu gak cemburu lagi. Tapi sekarang, lebih baik kamu keluar karena aku mau mandi.”ucap Nara sambil mendorong Raka ke pintu. “Nar…”ucap Raka enggan. “Apa??”tanya Nara lembut sambil bersiap menutup pintu. Raka menatap Nara cukup lama, tapi kemudian dia menggeleng pelan,”Gak ada. Cepat mandi. Ntar dokternya keburu datang.”pesan Raka sebelum keluar dari kamar Nara. Revan memperhatikan Raka yang baru keluar dari kamar Nara. Laki-laki itu terlihat sedikit lebih baik daripada saat dia masuk. Revan menghampiri Raka,”Ada hubungan apa lo sama Nara??”tanya Revan cepat. Raka menatap Revan dengan pandangan menyelidik, kemudian dia berjalan ke beranda apartement Nara,”Bukan urusanmu.”ujarnya tanpa menatap Revan sama sekali. “Apa maksudnya??”tanya Revan gak senang. “Bukan urusanmu kalau aku punya hubungan dengan Nara.” “Lo udah punya istri, b******k!! Jangan coba-coba untuk mengganggu Nara!”umpat Revan sambil menarik kerah kemeja Raka. Raka mengibaskan tangan Revan,”Kalau saat ini aku masih bersama Wina, Nara gak akan mungkin mau menerimaku. Dan aku ingin menegaskan satu hal padamu. Aku gak suka kalau kamu ada di samping Nara. Jangan dekat-dekat dengannya. Aku mencintainya, dan aku ingin segera menjalin hubungan serius dengannya.”ujar Raka tanpa tedeng aling-aling. “Lo orang yang serakah Raka! Setelah Wina, sekarang lo ingin memiliki Nara. Lo memang b******k!!”maki Revan. “Dengar, aku menyukai Nara jauh lebih dulu dari kamu, anak muda. Dan bukankah Nara juga menyukaiku??”ucap Raka tenang,”Jadi apa yang menjadi masalah buatmu??”tanya Raka kemudian. “Gw gak suka sama lo!! Lo dulu sering banget buat Nara sakit hati!!”bentak Revan,”Walaupun Nara gak pernah menangis, tapi gw tau kalau hatinya sakit ngeliat lo bersama Wina!” Belum sempat Revan menyelesaikan ucapannya, terdengar bunyi sesuatu terjatuh di kamar Nara. Raka berlari ke kamar Nara mendahului Revan. Untung pintu kamar Nara tidak dikunci, jadi mereka bisa masuk dengan mudah. Raka melihat Nara jatuh terduduk di pintu kamar mandi dengan keadaan masih sadar. Raka menarik selimut di atas tempat tidur Nara sebelum menghampiri Nara. Raka melilitkan selimut itu untuk menutupi tubuh Nara yang hanya mengenakan selembar handuk pendek. Raka langsung menggendong Nara ke atas tempat tidur. “Kamu kenapa lagi??”tanya Raka lembut setelah membaringkan Nara pelan-pelan ke atas tempat tidur. Nara mengedipkan matanya perlahan,”Gak ada… Cuma agak pusing sedikit. Maaf udah buat kalian khawatir.”ucap Nara pelan. “Lo sebenarnya kenapa sih, Nar??”tanya Revan terlihat gak kalah cemas dibanding Raka. “Gak apa-apa. Bener.”ucap Nara meyakinkan,”Kamu boleh pulang koq, Van. Ada Raka disini yang jaga aku.”ujar Nara sambil melirik Raka sesaat. Revan memandang Nara,”Gw gak tau apa hubungan kalian sekarang. Gw gak bakal minta penjelasan sekarang. Tapi saat semuanya sudah baikan, tolong cerita sama gw.”ucap Revan sambil berjalan ke sisi tempat tidur dan mencium dahi Nara,”Gw pulang dulu.”pamit Revan kemudian. Raka mengantar Revan sampai ke pintu, dan setelah memastikan Revan masuk lift, barulah Raka menutup pintu apartement Nara. Baru saja dia mengunci pintu, bel berbunyi. Raka langsung membukanya. Di depan pintu berdiri seorang dokter muda dan seorang pria setengah baya. Dokter itu terlihat sedikit lebih muda daripada Raka, mungkin sekitar 27 atau 28 tahun. “Anda dokter Smith??”tanya Raka sopan. Orang yang dipanggil dokter itu mengamati Raka dengan seksama,”Anda yang bernama Raka??”ujar dokter itu balik bertanya. “Ya. Silahkan masuk. Nara sudah menunggu dari tadi.”ujar Raka yang sebenarnya ingin bertanya kenapa orang itu tau kalau dia adalah Raka. Supir yang mengantar dokter Smith menunggu di ruang tamu saat dokter Smith dan Raka masuk ke dalam kamar Nara. Ternyata Nara sudah selesai berpakaian. “Hallo sayangku…”ucap dokter Smith sambil menghampiri Nara yang duduk di tempat tidur dan bersandar pada kepala tempat tidur. “Hallo Diaz.”sapa Nara lemah sambil membiarkan dokter Smith mencium kepalanya. Raka yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan marah dengan urat yang mulai menonjol di dahinya. “Kamu terlihat begitu menyedihkan. Sudah kukatakan, jangan pernah pergi jauh-jauh dariku. Aku jadi gak bisa mengawasimu. Dan keadaanmu selalu memburuk setiap kali kamu jauh dariku...”omel dokter Diaz Smith. “Sudahlah, Diaz. Aku gak begitu peduli dengan kesehatanku. Setidaknya dengan aku kembali kesini, aku jadi bisa bersama dengan Raka.”ucap Nara sambil tersenyum penuh cinta pada Raka. Raka yang tadinya masih emosi, jadi luluh melihat senyuman Nara,”Sebenarnya dia sakit apa??”tanya Raka sambil duduk di tepi tempat tidur berseberangan dengan Diaz. “Nara gak sakit apa-apa. Dia hanya gak boleh terlalu kelelahan.”ujar Diaz pada Raka,”Selain itu untuk beberapa hari ini kamu gak boleh kerja dulu, Nara. Gula darahmu sangat rendah, makanya anemia-mu tambah parah.”lanjut Diaz yang kali ini lebih ditujukan pada Nara. “Iya iya… Tenang aja. Beberapa hari ini aku udah memutuskan untuk gak masuk kantor. Kayaknya aku mesti liburan beberapa hari deh.”ujar Nara pelan lalu tersenyum simpul. Raka melihat keakraban yang tercipta diantara Nara dan Diaz. Mereka seperti bukan dokter dengan pasien. Ada yang lain dengan mereka. Aku memang gak cocok dengan Nara. Dia hidup di dunia yang berbeda denganku. Dia begitu beda. Aku gak ngerti jalan hidupnya. Dia bahkan terlalu dekat dengan para pria. Aku gak bisa melihatnya seperti itu. Mungkin aku memang gak ditakdirkan untuknya.bathin Raka sedih sambil berjalan keluar dari kamar Nara. “Raka!!”panggil Nara kuat yang menyadari kalau Raka akan keluar dari kamarnya. Raka menghentikan langkahnya, dia berbalik menghadap Nara yang kini sudah turun dari tempat tidur. “Kamu mau kemana??”tanya Nara sambil berjalan menghampiri Raka. “Aku mau pulang. Supaya kalian gak terganggu.”ujar Raka dingin. Nara menarik tangan Raka,”Kamu cemburu lagi yah??”goda Nara sambil tersenyum manis,”Aku suka deh sifat kamu yang ini. Sini…”sambung Nara sambil menarik Raka mendekati Diaz. “Ka… Ini Diaz Smith, dokter pribadi sekaligus teman masa kecil aku. Diaz itu udah nganggap aku kayak adik dia sendiri. Jadi kamu gak usah cemburu sama dia.”jelas Nara sambil tersenyum geli. Diaz tersenyum,”Sorry if I make you jealous. Aku bener-bener cuma nganggap Nara adik aku. Gak lebih.”ujar Diaz sambil tersenyum puas karena berhasil membuat Raka cemburu,”Ow ya! Aku pergi dulu sama supir kamu yah? Aku harus ke Rumah sakit mengambil obat. Aku gak percaya sama apotek-apotek di pinggir jalan.”pamit Diaz sambil berjalan ke pintu,”Hampir aja aku lupa. Revin bilang kalau dia akan segera pindah dari rumah kamu. Dia udah ketemu apartement yang cocok.”sambung Diaz dan kali ini benar-benar langsung pergi. Raka menatap Nara lama. Dia benar-benar ingin tahu apa maksud dari perkataan Diaz tadi. Tapi Raka lebih memilih untuk menundanya karena saat itu Nara duduk bersandar di kepala tempat tidurnya dengan lemah. “Kamu istirahat aja yah? Aku pulang dulu. Nanti aku pasti kembali ke sini.”ucap Raka lembut. “Okay. Hati-hati ya? Dan satu lagi, kamu pulang pakai mobil aku aja.”pesan Nara. “Nanti kalau mobilnya mau dipakai gimana??”tanya Raka cemas. “Raka… Kamu gak ngira kalau aku cuma punya satu mobil kan??”tanya Nara,”Udah tenang aja, kamu pakai aja mobilnya. Aku masih punya satu lagi koq. Lagian kalau memang mendesak, aku kan masih bisa telpon Ratih. Atau mungkin Revan barangkali…” “Jangan pernah minta tolong sama Revan sebelum kamu memberitahuku terlebih dahulu. Walaupun mungkin aku tetap gak bakal ngasi kamu izin untuk menerima bantuan apapun dari Revan.” “Oke… Oke…”tukas Nara sebelum Raka sempat melanjutkan ucapannya,”Kamu jangan ngebut yah?” Nara mengantar Raka sampai ke depan lift. Setelah itu Nara kembali ke apartementnya. Nara meraih gagang telpon di sebelah TV, dia menelpon seseorang... ”Hallo?? Bisa bicara sama Revin Johnson??”tanya Nara saat telpon di seberang di angkat. ”Ini Revin, ini siapa??” ”Vin... Ini aku, Nara.” ”Kenapa, Nar??” ”Aku cuma mau bilang kalau tadi Raka ke sini. Dia bilang kalau dia selama ini mencintai aku.” ”Bagus! Perkiraanku selama ini benar. Jadi, kamu sendiri maunya gimana??”tanya Revin. ”Aku mau mencobanya dulu. Bagaimana??” ”Terserah kamu. Kamu boleh mencobanya. Tapi ingat apa alasan utama kamu. Jangan sampai kamu lupa. Aku gak akan tinggal diam.” ”Aku tahu. Sampai jumpa.”ujar Nara mengakhiri pembicaraannya dengan Revin di telpon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD