”Nar... Ngapain kita kesini? Lo yakin lo gak pa-pa??”tanya Revin serius saat Nara mengajaknya dan Diaz ke kamar Nero.
”Udah tenang aja. Aku gak pa-pa koq.”sahut Nara,”Uhm... Mana yah?”gumam Nara sambil memandang keseluruh bagian kamar Nero yang sangat luas itu.
Diaz dan Revin saling berpandangan bingung. Mereka sama sekali gak nyangka kalau mereka akan diajak ke kamar Nero. Masalahnya, cara Nara menyampaikan keinginannya tadi seperti orang yang ingin mengajak pergi jauh.
”Ah itu dia!!”ujar Nara setengah teriak saat melihat tali panjang di tiang tempat tidur Nero.
Tanpa memberitahukan apapun pada Diaz dan Revin, Nara langsung menarik tali itu. Nara menunggu beberapa saat tapi sama sekali gak ada perubahan di kamar itu.
GRRETEK GRRETEEKK GRETEEEKK
”Apa’an tuh?? Rumah lo koq bisa bunyi-bunyi kayak gi...”belum selesai Revin bica, tiba-tiba langit-langit kamar turun hingga menyentuh lantai dan membentuk tangga ke atas.
”WOW!!”ucap Diaz dan Revin bersamaan.
Tanpa mengatakan apa-apa, Nara langsung menaiki tangga itu diikuti oleh Diaz dan Revin. Ternyata ada sebuah ruangan yang sangat luas disana. Ruangan itu didekor seperti galery pribadi. Nara memperhatikan kesekelilingnya. Nara benar-benar gak menyangka saat melihat isi ruangan itu.
”Pantesan gak pernah ada barang Mama sama Papa di manapun di rumah ini walaupun aku sudah mencarinya. Ternyata Nero menyimpan semuanya disini. Aku... Aku benar-benar gak menyangka...”ujar Nara lirih sambil mengambil sebuah pigura yang berisi photo seorang pria dengan seorang wanita sedang menggendong seorang anak perempuan yang ternyata adalah Nara.
”Ini... Barang-barang orang tua lo??”tanya Revin sambil memperhatikan sebuah lukisan pria dan wanita yang tergantung di dinding.
”Tante dan Om... Mereka benar-benar mencintai kamu.”ucap Diaz saat melihat sebuah surat yang sengaja dipasang di frame.
Nara...
Kami gak tau kapan kamu baru membaca surat ini... Mungkin surat ini baru kamu baca saat kami sudah gak ada...
Ya... Itu pasti... Karena kami memang mengatakan pada Nero kalau terjadi apa-apa pada kami... Dia harus memberikan surat ini untukmu... Dan seandainya hal itu gak terjadi sampai kamu dewasa, kami sendiri yang akan mengatakannya padamu...
Nara...
Kami sangat mencintaimu... Kami menyayangimu... Sampai kapanpun... Walaupun pada saat itu kita berjauhan, tapi kami akan tetap mendoakan kebahagiaanmu...
Nara...
Kami gak tau, apakah nantinya kenangan yang kami tinggalkan cukup buatmu atau tidak... Tapi untuk itulah kami menulis surat ini...
Nara...
Seandainya kami memang begitu cepat meninggalkanmu... Kamu sama sekali gak boleh sedih... Karena ini sudah jalan yang ditakdirkan untuk kami... Ingatlah semua kenangan yang sempat kami berikan... Karena hanya itu yang bisa kamu miliki untuk selamanya... Harta yang abadi... Yang gak akan bisa direbut oleh siapapun...
Nara...
Kami gak berharap kamu akan meneruskan jejak kami dengan meneruskan perusahaan... Kamu boleh memberikan perusahaan itu pada siapa saja yang kamu percaya... Karena satu-satunya hal yang kami harapkan darimu adalah kebahagiaanmu semata... Kami gak ingin apa-apa lagi...
Nara...
Kami tau, seandainya kami meninggalkanmu terlalu cepat... Kamu pasti akan dibesarkan oleh Nero... Kamu pasti akan menjadi gadis yang baik... Karena kami percaya, kamu akan tumbuh dengan baik di tangan Nero...
Nara...
Kamu tau... Nero gak akan pernah menikah dengan siapapun... Karena sejak dulu dia sudah bersumpah gak akan menikah kalau hal itu hanya akan membuat istrinya kelak meneteskan airmata untuknya... Nero gak ingin ada yang sedih saat dia harus pergi...
Nara...
Nero mengidap penyakit mematikan... Dan kami yakin kalau kamu sudah membaca surat ini, Nero pasti sudah menyusul kami... Karena dia gak akan pernah memberitahukan pada siapapun masalah penyakitnya ini... Karena bagi Nero, dialah yang harus mengantar kepergian orang lain, bukannya diantar... Dia akan selalu tersenyum, dan dengan tangan terbuka memberikan semua kasih sayangnya... Walaupun pada saat itu kematian sudah menjemputnya...
Nara...
Ada satu hal penting yang harus kami katakan padamu... Nero, walaupun dia pernah bersumpah untuk tidak menikah, tapi dia memiliki seorang kekasih... Kekasih yang sangat dicintainya... Kekasih yang ditinggalkannya karena egonya...
Namanya Winda... Dia perempuan yang menjadi kekasih Nero sejak Nero kuliah di Cambridge... Kami menyukai perempuan itu... Dia anak yang baik dan ramah... Gak ada yang kurang darinya... Tapi Nero sama sekali gak ingin hubungan mereka sampai ke jenjang yang lebih serius... Nero selalu memakai penyakitnya sebagai alasan... Karena dia gak ingin melihat Winda menangis... Nero memang orang yang egois sekaligus orang yang paling bodoh... Dia paling benci kalau tau bahwa orang yang dicintainya mengeluarkan air mata untuknya... Walaupun airmata kebahagiaan... Nero akan melakukan apapun agar hal itu tidak terjadi... Nero gak pernah memahami bahwa bersama dengan orang yang kita cintai sampai akhir adalah kebahagiaan yang paling tinggi sekaligus langka... Hanya sedikit orang yang bisa tetap berada di samping cintanya sampai akhir...
Nara...
Terakhir kali kami menerima berita tentangnya, Winda berada di Indonesia... Dan ternyata mereka memiliki seorang anak perempuan yang satu tahun lebih muda darimu...
Cari mereka, Nara... Kamu harus menemukan mereka... Karena mereka adalah keluargamu... Anak itu adalah penerus keluarga Chamaleon... Dia anak Nero... Anak yang lahir dari hasil kisah cinta yang menyedihkan... Cinta yang gak pernah tersampaikan...
Nara...
Kalau kamu berhasil menemukan mereka... Rawat mereka... Lindungi mereka... Berikan pada mereka semua kasih sayang yang pernah diberikan Nero padamu...
Kami yakin kamu bisa melakukannya, sayang... Jangan berhenti berjuang... Raih kebahagiaanmu... Kami akan selalu memperhatikanmu dimanapun kami berada... Karena kami gak akan pernah pergi meninggalkanmu... Kami sangat menyayangimu...
Fornax & Lyra
Tepat dibawah surat itu, Nara melihat ada tulisan Nero.
Nara... Kalau kamu memang berniat mencari mereka... Aku akan sangat berterima kasih... Karena memang mereka lah hartaku... Bukannya aku gak mau menganggap kamu hartaku, tapi kalau itu kulakukan, bisa-bisa aku dibunuh kak Fornax dan kak Lyra... Karena kamu hanya boleh menjadi harta mereka saja... Bukan untuk orang lain... Winda tinggal di Indonesia bersama kedua orang tuanya dan adik perempuannya... Alamat mereka yang terakhir yang kuketahui adalah Jl. Swadaya II, Blok J10, No 13 Bandung... Mudah-mudahan mereka masih disana... Aku hanya bisa berharap kalau mereka hidup bahagia tanpaku... Beritahukan semua yang terjadi pada Winda dan keluarganya... Sampaikan maaf untuk semua perbuatanku yang gak pernah sempat kuucapkan padanya... Sampaikan padanya bahwa aku selalu mencintainya sampai akhir... Hanya ada dia di dalam hatiku... Dan satu lagi... Nama anak perempuanku itu Vela Raina...
Nara selesai membaca surat yang ada di dalam frame itu. Surat itu disambung oleh Nero sedikit di bagian akhir. Nara benar-benar tidak percaya saat membacanya. Terlalu banyak rahasia yang disimpan oleh Pamannya itu. Nara tidak percaya kalau Nero lebih memilih mengasuh dia daripada anak kandungnya sendiri.
”Nar...”panggil Diaz cemas saat melihat Nara sama sekali gak bergeming setelah memnaca surat itu.
”Nara?”kali ini Revin yang memanggilnya.
”Vin... Maafkan aku. Aku tau kalau aku udah janji gak akan kembali ke Indonesia seandainya aku udah gak bisa berhubungan lagi dengan Raka. Tapi kali ini aku harus ke Indonesia. Aku ingin mencari sepupuku. Aku harap kamu bisa mengerti.”ujar Nara pelan tanpa memandang Revin.
Revin berjalan ke depan Nara,”Lo kira gw bakal ngelarang?? Gak akan. Lakukan apapun yang ingin lo lakukan kalau itu memang yang terbaik buat lo dan memang itu yang lo inginkan. Dan kalau boleh, gw mau ikut ke Indonesia... Gimana, Yaz?? Lo ikut kan??”tanya Revin pada Diaz.
”Pasti!”sahut Diaz.
”Kalian... Padahal aku sama sekali gak ingin menyusahkan kalian lagi.”ujar Nara sambil menahan senyumnya.
”Kamu memang selalu menyusahkan kami. Tapi kami akan lebih susah kalau kamu gak ada di samping kami.”ujar Diaz.
”Diaz benar. Jadi kapan kita berangkat??”tanya Revin antusias.
”Besok pagi!”