Siapa sangka hanya dalam waktu seminggu Nara sudah kembali lagi ke Indonesia. Seharusnya Nara sudah tiba di Indonesia beberapa hari yang lalu, tapi karena ada beberapa hal penting yang menyangkut masalah kantor belum terselesaikan, terpaksa Nara menunda keberangkatannya. Dan saat ini ketiga orang itu sedang membereskan apartement mereka yang baru. Nara kembali membeli dua buah apartement, satu untuknya dan satu lagi untuk Revin dan Diaz. Kali ini Nara berniat tidak akan muncul di depan Revan, Diana, Reno, bahkan Raka sekalipun. Tujuan Nara kali ini hanya untuk mencari sepupunya. Karena itu Nara tidak memindahkan pusat S.C ke Jakarta. Nara sudah meminta Dyon untuk menggantikannya selama Nara berada di Jakarta.
”Nar... Jangan hari ini kenapa??”tanya Revin saat Nara bilang kalau dia akan memulai mencari sepupunya itu.
Nara memandang Revin dengan tatapan merendahkan,”Kalau gak sekarang, mau kapan lagi?? Besok?? Time is money!! Kalau bisa aku lakukan hari ini, kenapa harus nunggu besok??”tanya Nara.
Diaz menepuk bahu Nara,”Revin benar. Saat sampai disini semalam, kamu langsung ngotot nyari apartement tanpa sedikitpun berniat menghilangkan jetlag. Dan sekarang saat baru aja selesai membereskan rumah, kamu mau langsung mencari sepupumu itu?? Perhatian sama kondisi badan sendiri kenapa??”omel Diaz.
”Tapi, Yaz...”
”Sisa hari ini hanya akan kita pakai untuk istirahat. Besok baru kita akan memulai pencarian sepupumu itu. Aku akan menghubungi detektif untuk mencari keberadaan sepupumu hari ini. Jadi kamu bisa sedikit tenang.”ujar Diaz dewasa.
”Oke oke. Aku gak akan menang melawan kalian. Jadi, aku ikut apa kata kalian aja hari ini. Tapi, besok... Kalian harus menuruti semua yang aku katakan.”putus Nara lalu masuk ke kamarnya sendiri.
”Yaz... Ada yang mau gw omongin sama lo. Gw butuh pendapat lo.”ujar Revin tiba-tiba menjadi serius.
Keesokan paginya, Nara sudah bersiap untuk memulai penyelidikannya. Dari info yang didapat sementara dari detektif yang di sewa Diaz, Vela, sepupu Nara itu sekarang sedang kuliah di sekolah khusus design di Jakarta. Padahal Nara ingin sekali langsung masuk ke sekolah itu dengan mendaftar sebagai siswa baru. Tapi inilah satu-satunya kelemahan Nara, dia paling tidak pandai menggambar. Apapun bentuknya. Bahkan untuk menggambar sebuah lingkaran tanpa alat bantu apapun selain pensil, Nara tidak pernah berhasil.
Nara dan Diaz memasuki lingkungan kampus swasta itu. Sedangkan Revin hari itu gak ikut dengan Nara. Nara mengamati kampus itu dengan seksama.
”Sepertinya dia dibesarkan dengan baik.”ujar Nara sambil terus berjalan.
”Ya...”sahut Diaz singkat.
Nara menghampiri seorang gadis yang kebetulan melintas di depannya.
”Apa kamu kenal dengan Vela Raina??”tanya Nara sopan.
Gadis itu mengamati Nara,”Yang bener aja? Siapa sih yang gak kenal Vela?? Kalian emangnya datang darimana koq gak tau Vela??”ujar gadis itu balik bertanya.
”Kami dari London. Bisa kamu tunjukkan yang mana Vela??”tanya Nara lagi.
”Wah wah... Baru kemarin ada orang dari Paris yang menawari Vela untuk kuliah disana, sekarang dari London. Ck ck ck... Gak sia-sia bakat yang dia punya.”ucap gadis itu pelan,”Kalian liat yang ngumpul ramai-ramai di kantin itu??”tanya gadis itu sambil menunjuk sebuah bangunan yang ternyata adalah sebuah kantin.
”Ya. Vela yang mana??”tanya Diaz sambil melihat ke arah yang ditunjuk gadis itu.
”Yang rambut panjang, yang paling cantik, itu Vela.”jawab gadis itu cepat.
Nara tersenyum,”Oh makasih. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa dan dimana orang tuamu bekerja??”tanya Nara ramah.
”Dina, dan untuk apa kalian tau pekerjaan orang tuaku??”tanya gadis bernama Dina itu bingung.
”Untuk mengucapkan terimakasih tentunya.”sahut Diaz cepat mendahului Nara.
”Kedua orangtuaku bekerja di S.C, bagian marketting, nama mereka Wijaya dan Hanum.”jelas Dina yang sebenarnya masih bingung kenapa ada orang asing yang menanyakan pekerjaan orangtuanya.
”Makasih...”pamit Nara lalu berjalan menuju kantin dan Nara sama sekali tidak sadar kalau Wijaya yang dimaksud adalah klien-nya yang bernama Wijaya.
”Sepupu kamu cantik ya?”puji Diaz saat mereka sudah mendekati meja tempat Vela berada.
”Pasti. Karena dia anak Nero.”sahut Nara bangga.
Nara dan Diaz berhenti tepat di depan Vela,”Apa kamu yang namanya Vela Raina??”tanya Nara pada seorang gadis cantik berambut coklat panjang.
Gadis itu menatap Nara dengan pandangan menyelidik,”Ya, kalian siapa??”tanya Vela gantian.
”Apa ibumu bernama Winda??”kali ini Diaz yang bertanya.
”Siapa kalian sebenarnya?? Apa yang kalian mau??”tanya Vela emosi.
Nara tersenyum manis, dan ternyata malah membuat Vela tambah marah.
”Ngapain lo senyum-senyum?!”bentak Vela.
Diaz sudah hampir memaki Vela kalau Nara gak langsung memeluk Vela,”Akhirnya...”gumamnya bahagia.
Vela melepaskan pelukan Nara,”Apa-apa’an ini?? Siapa kalian?? Ada urusan apa kalian mencariku?? Kalau menyangkut masalah kuliah, aku hanya akan melanjutkannya di Paris!!”ucap Vela cepat.
”Kamu salah. Aku kesini gak ada hubungannya dengan kuliahmu. Aku kesini mencari sepupuku.”sahut Nara dan langsung membuat Vela terkejut.
”Kamu... Kamu... Gak mungkin! Untuk apa kalian kesini?? Jangan ganggu kehidupanku lagi!! Kalau kalian mau mencari mama, dia udah gak ada!! Pergi dari sini sekarang juga!!”teriak Vela histeris.
”Vela tenang. Tenang, Vel...”bujuk Nara lembut.
Teriakan Vela membuat perhatian seluruh orang di kantin terpusat pada mereka,”Maaf sudah membuat keributan.”ujar Diaz sopan lalu membimbing Vela keluar dari kantin menuju ke mobil mereka.
Vela sama sekali gak berontak, dia terlalu shock sehingga gak sanggup menolak. Vela duduk di kursi belakang sementara Diaz dan Nara duduk di kursi depan. Diaz mengemudikan mobilnya menuju sebuah taman yang agak sepi. Mereka mencari tempat yang tenang lalu duduk di bangku taman. Diaz pergi meninggalkan Nara dan Vela berdua agar mereka bisa menyelesaikan masalah mereka.
”Kamu tau siapa kami??”tanya Nara setelah Vela terlihat bisa mengusai dirinya lagi.
Vela mengangguk,”Tante pernah bilang kalau pria itu punya keponakan perempuan yang berarti sepupuku. Karena tante belum punya anak, jadi satu-satunya sepupuku hanya dari pihak pria itu.”jelas Vela.
”Kenapa kamu menyebut Nero dengan sebutan pria itu??”tanya Nara.
”Karena aku gak mungkin memanggil Papa padanya, dia gak pernah menikahi mama... Bahkan aku gak pernah melihat seperti apa pria itu.”
Nara menunduk dalam,”Maaf. Nero gak pernah berniat menyakitimu maupun Winda. Dia mencintai kalian sampai akhir hidupnya. Dia... Dia gak pernah muncul di depan kalian karena dia gak ingin kalian sedih.”ujar Nara.
Vela tersenyum kecut,”Kalau dia memang mencintai Mama, kenapa dia gak menikahi mama??”tanya Vela.
”Karena dia tau kalau umurnya gak lama lagi. Dia mengidap penyakit mematikan. Dia gak ingin Winda sedih saat kematian menjemputnya... Dia selalu memikirkan kebahagiaan Winda...”
”Kalau dia memang memikirkan kebahagiaan mama, seharusnya dia gak seegois itu!! Dia juga harus menanyakan pada mama apa yang bisa membuat mama bahagia!!”
”Aku akui Nero memang egois. Dia juga manusia yang paling bodoh. Tapi dia selalu berprinsip gak akan mengizinkan ada air mata menetes dari mata orang-orang yang disayanginya. Bahkan dia juga gak pernah memberitahuku kalau dia mengidap penyakit itu. Aku baru tau saat semuanya sudah terlambat.”
”Kapan dia meninggal??”
”Tiga tahun yang lalu.”
”Padahal kalau dia menikahi mama, aku akan merasakan kasih sayang seorang ayah sampai aku berumur 16 tahun. Itu cukup lama. Dan itu cukup untuk meninggalkan kenangan dalam hidupku. Tapi aku gak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah.”
”Aku tahu. Aku juga menyayangkan keputusan Nero. Karena itu aku mencarimu untuk menyampaikan maaf Nero yang gak pernah sempat diucapkannya. Aku ingin kamu tinggal bersamaku. Aku akan membiayai semua biaya sekolah dan hidupmu. Aku akan menebus waktu-waktu yang gak pernah kamu dapatkan dari Nero.”
”Percuma. Kamu gak akan bisa menggantikannya. Kamu gak akan pernah bisa menjadi dia. Dan aku gak ingin meninggalkan tante, kakek dan nenek.”
”Aku akan ke rumahmu. Aku akan minta maaf pada mereka semua. Aku akan berusaha membahagiakanmu. Aku janji.”
”Mana mau keluargaku mempercayakanku padamu. Bagaimana caramu membiayai hidupku?? Usiamu mungkin sama denganku. Dan kamu sendiri juga masih kuliahkan?? Dapat uang darimana kamu untuk membiayai hidupku??”
”Aku yakin kalau keluargamu akan percaya padaku. Dan aku mau memberitahukanmu sesuatu, aku lebih tua setahun tahun darimu. Dan aku gak kuliah. Aku menggantikan Nero menjabat direktur di perusahaan kami. Aku sanggup membiayai hidupmu, bahkan seluruh keluargamu, kalau kalian bersedia. Aku sanggup membiayai kuliahmu dimanapun kamu inginkan”jelas Nara tenang.
”Huh! Jangan harap kakek dan nenek akan semudah itu percaya padamu.”
”Aku akan melakukan apapun agar mereka mempercayaiku. Bagiku sekarang mendapatkan maaf dari seluruh keluargamu jauh lebih berarti dari apapun.”
”Dari kepentinganmu sendiri?? Dari kebahagiaanmu??”
”Ya. Karena Nero juga mengorbankan kebahagiaannya demi membesarkanku.”
”Oke. Akhir minggu ini kita ke rumah nenekku. Ini alamatnya. Kamu pergi sendiri aja, aku dan tante akan datang berdua.”
”Kalian aku jemput aja. Kita pergi bersama, dan semua biaya perjalanan akan aku tanggung.”ujar Nara meyakinkan.
”Aku tanya tante dulu.”
”Kalau aku mau menghubungimu, gimana??”
”Telpon aja. Ini kartu namaku. Dan kalau udah gak ada urusan lagi. Bisa gak kamu antar aku kembali ke kampus??”
”Baiklah.”ucap Nara lalu menelpon Diaz menanyakan posisinya.
Sementara itu, Revan sedang berada di teras rumah Raka. Sudah berkali-kali dia menekan bel, tapi yang punya rumah tidak keluar juga. Dan akhirnya Revan memutuskan kalau saat dia menekan bel ini ternyata gak ada yang keluar juga. Dia akan pergi.
Ting tong ting tong ting tong
1 menit...
”...”
2 menit...
”...”
10 menit...
Cklek.
”Kamu??”tanya Raka gak percaya melihat orang yang dari tadi menekan bel rumahnya saat dia sedang mandi.
”Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
”Mau masuk??”ujar Raka menawarkan sambil membuka pintu lebar-lebar.
Revan menggeleng pelan,”Langsung aja. Mana Nara??”
Mendengar nama Nara disebut, Raka langsung bersandar di pintu dengan tangan terlipat di d**a,”Aku gak tau.”
”Apa maksudmu?? Bukankah seharusnya dua hari yang lalu kamu memastikan jawaban Nara??”
”Ya. Itu benar. Dan saat aku ke apartement-nya, dia gak ada. Apartement itu sudah diisi orang lain. Kantornya juga pindah. Nomor telponnya gak aktif. Mau kemana aku mencarinya?? Seluruh Jakarta udah aku telusuri dari kemarin. Tapi Nara belum ketemu. Hanya ada satu kesimpulan. Nara menolak menikah denganku dan memilih kembali ke London.”ujar Raka serius.
”Wah wah... Tebakan yang tepat, Raka. Nara memang kembali ke London.”ujar sebuah suara begitu tiba-tiba.
”Revin!?”ucap Revan benar-benar shock.
Yang Revan tahu dari kedua orangtuanya, Revin tidak boleh kembali ke Indonesia. Dan Revin juga sudah mewarisi perusaahan pengelola resort milik keluarganya. Jadi kedatangan Revin ke rumah Raka benar-benar membuat Revan kaget, begitu juga dengan Raka.
”Kamu?? Yang waktu itu kelahi dengan Revan, bukan??”tanya Raka memastikan apakah ingatannya masih bagus.
”Ingatan yang kuat, Raka Mensa Chamaeleon.”sahut Revin lalu berjalan ke teras Raka,”Kalian pasti bingung kenapa aku ada disini kan??”tanya Revin sesaat kemudian.
”Ya.”sahut Revan dan Raka kompak untuk pertama kalinya.
Terutama bagi Raka, dia benar-benar kaget dengan kemunculan Revin di rumahnya. Apalagi barusan Revin menyebutkan nama panjang Raka yang sangat amat jarang dipakai Raka. Pertama kalinya nama panjang Raka disebut di depan umum adalah waktu akad nikahnya dengan Wina. Bahkan waktu wisuda S2 pun Raka tidak memakai nama panjangnya.
Revin tersenyum,”Aku kesini mau memberi tahu kalau Nara udah kembali ke Jakarta.”
Raka terbelalak. Tapi sesaat kemudian dia berhasil mengatasi keterkejutannya dengan sempurna.
”Untuk apa kamu memberitahukan ini pada kami??”tanya Raka curiga.
”Karena aku ingin bersaing mendapatkan Nara dengan sportif. Bukan karena cincin ini.”sahut Revin sambil memperlihatkan sebuah cincin perak berukir yang tersemat di jari manis kirinya.
”Itu...”
”Ini cincin pertunangan kami. Aku dan Nara.”jawab Revin sebelum Raka atau Revan bertanya apa-apa tentang cincin itu.
Raka menyisir rambutnya dengan jari,”Dia masih menyembunyikan banyak hal dariku. Kenapa dia gak pernah percaya sama aku.”ujarnya frustasi.
”Memiliki banyak rahasia adalah ciri khas keluarga Shamash. Sampai akhirpun mereka akan tetap memiliki banyak rahasia.”jawab Revin datar.
“Lalu kenapa lo mau bersaing dengan kami??”tanya Revan.
”Karena Nara gak akan pernah bahagia dengan pasangan yang dipilihnya secara acak. Setelah putus dari dokter pribadinya, Nara langsung memintaku untuk tunangan dengannya. Padahal selama ini dia selalu membenciku. Menjauhiku.”
”Jadi habis putus dari Diaz, dia tunangan sama kamu??”tanya Raka gak percaya.
”Ya. Tapi sampai kapanpun aku tau kalau Nara gak pernah punya perasaan lebih untukku. Alasan dia kembali ke Indonesia waktu itu karena dia bertaruh denganku. Kalau dia berhasil mendapatkan kamu, dia akan membatalkan pertunangan kami dan memilihmu untuk menjadi pasangan seumur hidupnya. Tapi kalau dia gak berhasil mendapatkanmu, dia harus kembali ke London saat itu juga dan langsung menikah denganku. Walaupun aku bukan orang yang dicintainya.”jelas Revin.
”Kalau begitu kenapa dia kembali ke London!? Aku melamarnya!! Aku ingin menikah dengannya!! Seharusnya dia tetap disini bersamaku, dan membatalkan pertunangan denganmu!”
”Aku gak tau apa alasannya, tapi karena aku tau ada yang salah, makanya aku menemui kamu. Nara harus mendapatkan kebahagiaannya bagaimanapun caranya.”
”Raka??”panggil sebuah suara yang begitu dikenal Raka.
Wina berdiri di pagar rumah Raka. Raka langsung menghampirinya,”Mau apa lagi kamu kesini, Win?? Kita udah gak ada hubungan apa-apa!! Kita juga udah sepakat kalau kamu gak akan datang lagi kesini!!”tegas Raka emosi.
”Tapi, Ka... Aku ingin kembali sama kamu. Aku gak pernah menginginkan perceraian ini. Aku mohon...”
”Gak bakal, Win. Aku gak pernah mencintai kamu, dan gak akan pernah. Hubungan itu hanya akan membuatmu tambah sakit. Lebih baik kamu cari pria lain yang lebih baik, yang dapat mencintaimu. Bukan aku, yang selalu menyakitimu.”ujar Raka pelan.
Wina meraih kedua tangan Raka dan menggenggamnya,”Cuma kamu yang aku inginkan. Cuma kamu yang aku cintai!! Kalaupun nanti kamu menyakitiku lagi, itupun gak pa-pa. Yang penting kamu selalu disampingku.”
”Cukup, Wina!! Lebih baik kamu pergi sekarang juga dari sini. Aku bukan boneka tanpa perasaan. Aku juga ingin berada disamping wanita yang kucintai.”ujar Raka datar.
Wina melepas tangan Raka,”Aku akan kembali. Karena aku sungguh-sungguh ingin kembali padamu.”tegas Wina lalu pergi dari rumah Raka.
”Itu istri kamu??”tanya Revin yang entah sejak kapan berada di sebelah Raka.
”Bukan. Mantan istri...”sahut Raka malas.
”Oh... Kalau gitu aku pulang dulu. Nara dan Diaz pasti sudah pulang. Mereka gak tau kalau aku kesini.”pamit Revin.
”Tunggu!! Kalian tinggal dimana??”tanya Raka cepat.
”Mansion Kelapa Gading. Cari aja... Atas nama Diaz Keandre.”pekik Revin sebelum masuk ke dalam mobilnya.
***
Nara termenung di beranda mansion-nya. Dia sedang memikirkan banyak hal. Dari masalah sepupunya, Vela, masalah dia dengan Revin dan Diaz, dan masalah dia dengan Raka. Setidaknya masalah kantor bisa diabaikan Nara karena ada Dyon yang selalu berhasil mengatasi semuanya. Nara memandang ke kolam renang di lantai dasar.
Apa keluarga Vela mau menerima permintaan maafku ya?? Mereka pasti benar-benar membenci Nero karena tidak pernah sekalipun melihat anak dan kekasihnya. Apa yang harus aku lakukan besok?? Apa yang harus aku katakan pada keluarganya?? Dan... Seumur hidupku, baru kali ini aku menyembunyikan diri. Aku ingin bertemu Raka! Tapi itu gak mungkin... Aku tidak mungkin membiarkan Wina membesarkan anak itu sendirian. Aku tidak tega... Aku tidak ingin anak itu besar tanpa kasih sayang seorang ayah. Dan Revin?? Diaz?? Apa yang harus aku lakukan pada keduanya?? Mereka berdua terlalu baik untuk kusakiti lagi... Dan darah Shamash akan berakhir kalau aku gak menikah... Apa yang harus aku lakukan??bathin Nara bingung.
”Ah!! Kok aku gak coba nelpon Dya aja ya?? Mana tau dia ada waktu.”gumam Nara setelah mendapat sedikit ide untuk menghubungi Dya, cewek yang dikenalnya saat menghadiri balapan Revan beberapa minggu yang lalu.
Nara merasa kalau Dya cocok dengannya. Belum lagi Dheo, cowok yang menjadi saingan Revan ini ternyata seorang cowok yang ramah. Dan dia juga pacar Dya. Nara mengambil hp barunya. Dia membuang hp-nya yang lama dan langsung membeli hp baru beserta nomor baru.
”Hallo??”sahut suara di seberang.
”Dya?? Ini Nara...”
”Wei!! Apa kabar lo?? Lama banget lo gak muncul. Masa cuma sekali itu. Kemarin kami balapan lagi lho! Gw agak heran gitu, koq Revan gak bawa personil ke basecamp.”
”Sorry... Oh ya, kamu ada waktu?? Aku mau ketemu kalau bisa.”
”Siang ini aja. Rencananya siang ini gw sama Dheo mau keluar. Kita ketemuan aja. Gak pa-pa kan kalau gw bareng Dheo??”
”Gak pa-pa. Oh ya, ketemu dimana??”
”Mall Kelapa Gading aja.”
”Oke. Jam satu ya?”
”Seph lah. See you!!”
Nara melipat hp-nya. Dia kembali ke kamar untuk mandi karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang.
Sementara itu di sebuah restoran di mall Kelapa Gading, Revan, Revin, Diaz dan Raka sedang membicarakan masalah Nara.
”Jadi om sama tante meninggal?? Koq kami gak dapat kabar??”tanya Revan shock saat Revin memberitahu kalau kedua orangtuanya telah meninggal.
”Gw kira lo gak mau dengar kabar apa-apa tentang gw.”sahut Revin.
”Tentang lo, bukan tentang om dan tante. Sumpah, selama ini Mama masih menganggap kalau adiknya masih hidup. Sialan lo! Lo tau kan kalau Mama sayang banget sama adiknya?? Dimana mereka dimakamkan??”tanya Revan kesal dengan sikap Revin.
”Di Athena. Sorry... Nanti gw bakalan ikut ke rumah lo. Gw mau ketemu om dan tante.”putus Revin.
”Jadi... Itu alasan Nara kembali ke London waktu itu??”tanya Raka memastikan.
”Yang dia bilang sih gitu. Tapi gw yakin, ada alasan lain di balik itu semua...”jawab Diaz.
”Apa?! Apa alasan yang membuat dia kembali meninggalkan aku?? Mau sampai berapa kali dia mencampakkanku baru dia puas??”tanya Raka stres.
”Kalau lo memang cinta sama dia, kalau lo memang gak mau kehilangan dia, kenapa gak lo cari dia ke London?? Kenapa lo cuma berusaha mencari disini??”tanya Diaz tidak kalah emosi.
”Diaz! Gw ngajak lo kesini bukan untuk bertengkar. Gw ngajak lo kesini karena ingin lo membantu gimana cara membuat Nara bahagia setelah semua masalah yang dihadapinya ini. Lo mau Nara sedih terus?? Lo mau Nara hidup tanpa perasaan??”tegur Revin yang sedikit lebih dewasa kadang-kadang.
”Sorry, Vin. Gw emosi...”ucap Diaz pelan.
Revan meneguk habis minumannya,”Terus, kenapa Nara memutuskan kembali ke sini??”tanya Revan.
”Kami gak bisa bilang. Ini masalah keluarga Nara. Tapi yang jelas, Nara mungkin akan kembali ke London lagi setelah semua masalahnya selesai.”sahut Revin.
Pembicaraan itu terus berlanjut sampai beberapa saat kemudian. Dan setelah jam menunjukkan pukul setengah dua, barulah mereka beranjak dari tempat mereka. Revin membayar semua pesanan mereka sedangkan Raka, Diaz dan Revan menunggu di dekat pintu keluar. Saat itulah Raka melihat Nara sedang berjalan dengan seorang cewek dan seorang cowok.
Tanpa pamit atau berkata apa-apa pada Diaz dan Revan, Raka langsung berlari ke tempat Nara, dan berusaha menarik pergelangan tangannya.
”Nara aku mohon jangan pergi!”ucap Raka cepat.
Tapi ternyata tangan Raka ditangkap oleh Dheo sehingga dia sama sekali gak sempat menarik Nara,”Siapa lo??”tanya Dheo gak senang.
”Lepaskan dia Dheo. Dia Raka...”ucap Nara pelan.
Dheo memperhatikan Nara dan Raka dengan seksama sebelum melepaskan tangan Raka,”Lo mau ngomong sama dia??”tanya Dheo serius pada Nara.
”Lebih baik lo bicara sama dia. Masalah ini gak akan selesai kalau cuma lo yang memikirkannya sendirian. Kalau lo masih butuh kami, lo telpon gw atau Dheo. Kami pasti langsung ke tempat lo.”ujar Dya lembut saat Revan, Revin, dan Diaz menghampiri mereka.
”Thank’s...”ujar Nara tulus.
”Kami pergi dulu. Kami duluan, Van...”pamit Dheo sambil menggandeng Dya.
”Revin, Diaz, dan Revan, bisakan kalian tinggalkan kami sebentar?? Ada beberapa hal yang ingin kami luruskan.”
”Tapi, Nar...”protes Revan.
Revin langsung menutup mulut Revan,”Baiklah. Kami pergi dulu.”ujar Revin langsung menyeret Revan menjauh.
”Apa-apa’an lo, Vin?! Kalau kayak gini jelas Raka yang bakalan menang!! Nara mencintai Raka!! Dan kita gak akan punya kesempatan itu.”ucap Revan gak suka.
”Karena dari awal kami memang berniat untuk menyatukan mereka. Kami gak bisa melihat Nara terus-terusan menahan perasaannya dan membahagiakan aku atau Diaz. Itu gak adil... Lo tau?? Keluarga Nara mungkin keluarga paling aneh di dunia. Mereka selalu mementingkan orang lain daripada mereka sendiri. Kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaan mereka sendiri. Kami gak bisa hal itu juga dilakukan Nara. Kalau itu dilakukannya...”
Diaz memotong ucapan Revin,”Kapan Nara bisa bahagia?? Kapan Nara akan merasakan kebahagiaan kalau dia selalu memilih untuk membahagiakan orang lain terlebih dahulu??”ucap Diaz.
”Kalian... Ini berarti kalian mengorbankan perasaan kalian juga kan?? Kalian mengorbankan kebahagiaan kalian.”ujar Revan masih belum percaya kalau sepupunya yang egois sanggup berkorban demi orang lain.
”Nara segalanya bagi kami. Kalau dia hanya bisa bahagia dengan Raka. Kami akan melakukan apapun agar itu terjadi...”sahut Revin yakin.
”Kalian bodoh!!!”tukas Revan lalu pergi meninggalkan Diaz dan Revin.