7. Ketahuan

1191 Words
“Wah ... baunya enak banget, Sayang. Kamu masak apa?” tanya Doni saat dia keluar dari kamar dan melihat sang istri sedang menyajikan makan malam. “Bikin capcai, Mas. Kesukaan, Mas Doni. Makan yuk, Mas,” ajak Emma. “Pasti enak nih. Masakan kamu emang gak ada tandingannya.” Doni segera menuju ke meja makan. Perutnya sudah lapar dan ingin segera menyantap makanan enak buatan istrinya yang sudah lama dia rindukan. Seperti biasa, Emma akan melayani sang suami. Dia juga ikut makan, menemani suaminya. “Enak, Sayang. Makasih ya, udah masakin enak,” puji Doni. “Makasih, Mas.” “Pulang jam berapa kamu tadi dari belanja?” tanya Doni ingin tahu. “Jam berapa ya? Kira-kira jam 1 an gitu deh.” “Kok lama. Mampir ke mana lagi?” “Tadi pas abis belanja, Mas Gun ngajak mampir makan dulu, Mas. Katanya dia belum sarapan pas berangkat.” Emma bercerita pada suaminya. “Mau kerja kok gak makan dulu. Ceroboh!” “Aku tadi juga bilang gitu, Mas. Oh ya Mas, tadi Mas Gun kan juga ikut belanja ya. Tau gak, belanjaannya itu isinya premium semua. Import, organik dan semuanya kelas premium.” Doni mengangkat pandangannya. “Masa sih? Emang dia belanja apa?” “Belanja biasa aja. Buah, sayur, daging gitu. Tapi isinya premium semua. Bahkan tadi aku juga sempet liat dia bayar pake black card, Mas.” “Black card? Masa sih? Sopir online masa iya punya black card?” Doni jadi ikut penasaran. “Kayaknya gak salah, Mas. Tadi pas aku liat warnanya item. Eh, ala efek cahaya ya? Soalnya tadi kami beda kasir sih.” “Salah liat kali kamu. Lagian sekarang kan kartu ATM itu juga kadang warna abunya lebih gelap dari yang edisi lama. Salah liat kamu itu,” ucap Doni. “Lagian kalo emang dia sekaya itu, ngapain dia tinggal di kompleks sini,” lanjut Doni. “Iya juga sih ya. Salah liat kali aku. Dan mungkin lidah dia masih bawaan luar negri. Jadi dia belinya yang bagus-bagus.” “Luar negri?” tanya Doni sambil mengerutkan keningnya. “Katanya dia abis kerja di luar, Mas. Jadi TKI.” “Ooh ... bisa jadi tuh. Duitnya masih banyak, makanya dia beli yang premium. Ato dia mau pamer kali.” “Pamer apaan sih, Mas. Dia baik kok. Selama ngobrol dia gak keliatan sombong.” Emma membela Kai. “Ya kan belum tentu. Lagian kan kamu juga baru kenal dia.” “Hmm ...” Emma memilih tidak menanggapi. “Dia pake aplikasi apa?” “Gak tau. Tadi katanya gak usah pesen lewat aplikasi.” Doni kembali melihat ke istrinya. “Kok gitu?” “Katanya ntar takut keduluan diambil orang lain.” “Trus bayarnya?” Emma menggeleng. “Gak mau di bayar.” “Kok gitu sih. Jangan gitu ah, gak enak. Besok kalo kamu masak, kirim buat dia. Biar makannya gak berantakan.” “Iya, Mas,” ucap Emma sambil mengangguk. Pasangan muda itu meneruskan makan malam mereka. Setelah selesai, seperti biasa, mereka akan duduk santai di ruang tamu sambil menonton TV. Terdengar suara deru mobil di depan rumah. Doni menoleh ke belakang dan melihat siapa yang datang. Melihat suaminya tidak berpaling dari pemandangan di luar rumah, Emma jadi ikut melihat ke luar. Ada sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, lalu si pengemudi masuk ke rumah depan. “Mobil siapa, Mas?” tanya Emma. “Gak tau. Tapi kok kayaknya aku kenal sama orang itu tadi ya?” jawab Doni. “Siapa emang?” tanya Emma ingin tahu. “Kayak bosku di kantor.” Emma langsung menoleh lagi ke luar. Dia tidak lagi melihat ada orang di depan rumah Kai. “Salah liat kali, Mas. Orang Mas Gun loh katanya lagi mau cari kerja di sini. Kalo temennya itu bos, pasti dia minta kerjaan ama temennya lah. Ini kok malah jadi sopir ojek,” ucap Emma. Doni kembali melihat ke televisi. “Iya juga sih. Gak jelas juga tadi mukanya. Kehalang ama taneman.” Doni juga meragu. “Oh ya Mas, kalo ada kerjaan di kantor, cariinlah buat Mas Gun. Siapa tau ada posisi bagus.” “Kerjaan? Emm ... ntar coba aku liat.” Doni kembali menikmati siaran televisi bersama istrinya sebelum istirahat malam. Mereka saling berbincang santai sambil sedikit bermesraan, memupuk cinta mereka agar semakin kuat. Sementara itu di rumah depan, Kai kaget saat melihat Adam sudah duduk di sofa ruang tamunya. Dia yang tidak merasa punya janji dengan sahabatnya itu, sama sekali tidak menyangka kalau Adam akan muncul di rumahnya. “Ngapain lu ke sini malem-malem?” tanya Kai sambil mengambil air minum dari dalam lemari es. “Kai, lu sampe kapan sih di sini. Tobat aku. Tadi aku abis di semprot papamu tau!” keluh Adam protes. Kai hanya terkekeh sambil duduk di kursi makan. “Sabar dulu. Nunggu mama nyerah,” jawab Kai santai sambil membuka tudung saji siap untuk makan. Adam ikut bergabung di meja makan. Dia langsung mengambil piring, siap menghabiskan makanan Kai. Kai terlihat panik melihat Adam yang duduk di depannya. “Heh, pas ke sini tadi, orang di depan ada di luar gak?” tanya Kai. “Orang di luar? Siapa sih?” tanya Adam tidak tahu yang dimaksud sahabatnya. “Tetangga depan. Suaminya kerja di kantor kita tau!” “Hah?! Seriusan lu?!” Kini Adam juga ikut kaget. Kai hanya menjawab lewat anggukan. Dia sedang menikmati udang bakarnya, hasil masakannya sendiri. “Siapa namanya emang? Di divisi apa dia?” Kai menggeleng. “Gak tau. Itu tugasmu buat cari tau. Namanya Doni.” “Buset! Kira-kira dong Bos kalo kasih tugas. Nama Doni di kantor gak satu doang tau!” Adam kembali protes. “Ya itu urusanmu.” Kai mengangkat pandangannya. “Jangan lupa, awasi gerak-geriknya.” “Eh beneran nyebelin ya ni orang. Lagian ngapain juga sih pake nyelidiki tetangga segala? Emang dia mencurigakan?” “Gak juga sih. Kan biar lu ada kerjaan aja,” jawab Kai santai sambil nyengir. “Kampret! Kalo bukan temen, dah gw tonjok lu!” “Inget ya. Kalo ke sini jangan sembarangan. Apa lagi pake baju kerja gini. Sampe ketahuan, gw gibeng lu!” ancam Kai. “Bodo amat!” Adam yang mendapat tekanan kanan kiri, tidak ingin ambil pusing dengan ancaman baru Kai. Dia sudah sangat stres di kantor dan saat ini dia ingin menikmati makan malam enak nan mahal ala Kai. Seperti biasa, kedatangan Adam di rumah Kai, pasti bukan hanya untuk main. Tapi dia membawa pekerjaan kantor yang harus dia diskusikan dengan atasannya itu. Setelah numpang mandi, diskusi itu pun berlangsung. Saat Kai sedang membaca proposal yang masuk ke perusahaannya, tiba-tiba bel pintu rumah Kai berbunyi. Kai langsung mengaktifkan monitor CCTV di depan rumahnya, untuk melihat siapa yang datang. “Eh, dia dateng,” ucap Kai yang langsung berhambur pergi ke depan untuk menyambut Emma. Adam yang sejak tadi duduk di depan Kai, kaget melihat reaksi sahabatnya. Karena penasaran, Adam segera berbalik dan mencoba mencari tahu siapa tamu Kai dari balik gorden. “Hmm ... apa ini alasan si sableng ini tiba-tiba mau di sini?” gumam Adam pelan sambil terus melihat Emma dari balik gorden.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD