“Pisang goreng cuy,” ucap Kai yang datang membawa sepiring pisang goreng pemberian Emma.
Kai duduk dan melihat ke arah Adam. “Pisang goreng. Lu gak suka kan? Lu kan gak suka makanan berminyak. Jadi gak usah makan ya!” tegas Kai, melarang Adam makan makanan kiriman Emma.
Kai meletakkan piring berisi pisang goreng di atas meja. Sambil mengunyah, tangannya kembali menari di atas keyboard laptopnya.
Adam masih belum merespons sama sekali. Dia hanya mengamati sikap Kai, yang mendadak berubah.
“Siapa itu tadi?” tanya Adam.
“Tetangga,” jawab Kai tanpa melihat Adam.
“Tetangga yang mana? Yang depan rumah?”
“He em.”
“KAI!!” pekik Adam tiba-tiba.
“Heh, setan! Kaget gw! Ngapain lu teriak-teriak hah?! Gak budek gw!” sembur Kai kaget mendengar teriakan Adam yang membuatnya sampai sedikit berjingkat.
Muka Kai langsung berubah masam setelah dia kaget. Dia langsung mengambil gelas minumnya, mencegah serangan jantung tiba-tiba datang menyerang.
Adam tetap duduk diam dengan tatapan tajam yang langsung terarah ke Kai.
“Jangan bilang, cewek itu yang jadi alasanmu tetep bertahan di sini?” tebak Adam dengan wajah serius.
Kai menghentikan aktivitasnya. Dia mengangkat pandangannya, membalas tatapan Adam yang masih tertuju ke arahnya.
“Jangan bilang dia istrinya Doni.” Adam menebak lagi.
Kai tidak menjawab. Dia memilih diam, menyadari kesalahannya, tapi dia juga tidak bisa menghindari Emma.
Melihat reaksi Kai, Adam langsung mendengus kesal. Dia sangat hafal, bagaimana kalau Kai menyukai seseorang.
“Gila. Lu gila, Kai. Emang gak ada cewek lain apa ya? Kenapa bini orang, Kai?” tanya Adam kesal.
“Abisnya dia cantik sih,” jawab Kai santai.
“Cantik? Emang cewek lain gak ada yang cantik. Gila lu, Kai! Dia bini orang!” tegas Adam berusaha menyadarkan sahabatnya.
“Ya emang kalo bini orang kenapa?”
“Kai! Waaah ... udah beneran gak waras lu. Sadar, woy!” Adam makin geram, sampai dia ingin sekali memukul kepala Kai agar sahabatnya itu tersadar.
Mendengar ucapan Adam yang terus menyalahkannya, membuat Kai ikut mendengus kesal. Dia balas menatap Adam dengan tatapan tajam sambil bersandar dan melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Emang kalo suka ama dia salah? Suka doang dan gw juga gak ngapa-ngapain kok. Sekedar kagum!” ucap Kai berusaha membela diri.
“Salah! Tetep aja salah. Dia udah jadi istri orang, Kai. Kalo kamu masuk di antara keluarganya, pasti ntar kamu bakalan dianggep pria penggoda. Mau kamu di anggep jadi pebinor, hah?!”
“Heh kampret! Gw juga masih punya batasan tau! Gw juga gak ada niat buat godain dia kayak yang lu pikirin.”
“Tetep aja aneh, Kai. Ya ampun, dia istri orang loh. Emang gak ada gitu ya gadis secantik dia.”
“Gak ada!” jawab Kai sambil melengos.
“Wah gak bisa dibiarin. Gak bisa, sakit lu, Kai. Sakit!”
Adam langsung uring-uringan mendapati kenyataan alasan Kai tetap bertahan di sana.
“Besok lu pindah dari sini,” ucap Adam kesal.
“Gak!” tolak Kai.
“Kai!” bentak Adam.
“Gak mau!”
“Gw aduin ke bokap lu kalo gitu. Gw bakal bilang kalo lu mau goda bini orang!”
“b******k! Gw gak segila itu tau!”
“Trus yang lu lakuin ini apa, hah? Gak bisa, lu gak bisa gila, Kai!”
Adam sudah tidak sabar lagi. Ingin sekali dia menghajar Kai yang masih bertahan dengan keyakinannya.
Kai juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu kalau dia salah, tapi dia juga tidak ingin pindah.
Dia masih seperti anak muda yang sedang mengagumi seseorang. Padahal seharusnya Kai sudah tidak melakukan hal seperti ini lagi.
“Kasih gw waktu sebulan. Gw janji kalo gw gak akan aneh-aneh,” ucap Kai dengan nada suara yang lebih landai. Sedikit bernegosiasi.
“Gak! Dia istri orang, Kai.” Adam tetap menolak.
“Gw gak ngapa-ngapain. Gw juga gak ada niat buat godain apa lagi mau rebut dia dari lakinya. Gw cuma mau liatin dia doang.”
Adam terdiam sejenak. Kai selama ini dikenal konsisten dengan ucapannya.
Tapi kali ini agak sedikit berbeda. Ini menyangkut harga diri Kai dan juga rumah tangga orang lain.
“Sebulan. Dan kalo gw tau lu udah melebihi batas, gw gak segan buat kasih tau bokap lu!” ucap tegas Adam.
“Iya-iya. Bawel!”
Kai kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia ingin sahabatnya yang sangat cerewet itu segera pulang.
Adam berjalan ke kamar mandi. Dia ingin membasuh wajahnya dulu, ingin sedikit menenangkan diri.
Adam menatap wajahnya yang masih basah di kaca wastafel. Dia mengusap wajahnya kasar, lalu dia mendengus.
“Bisa-bisanya dia naksir istri orang. Padahal dia banyak kenal cewek cantik-cantik. Mau yang kayak mana, pasti gak akan ada yang nolak,” gerutu Adam.
“Gila sih ini. Mana pake nyamar jadi kang ojek juga lagi. Ngarepin apa sih dia. Haaais! Awas aja kalo dia sampe bikin masalah ya!”
Adam sangat stres malam ini. Stres karena pekerjaan, sudah biasa dia alami.
Tapi kali ini dia harus stres menghadapi Kai. Di kantor dia di interogasi oleh papanya Kai, di kontrakan dia stres karena Kai suka istri orang.
Adam tidak sanggup melanjutkan pekerjaannya lagi. Dia memilih pulang dan ingin tidur. Kepalanya rasanya mau pecah.
“Kapan papa ke Amerika?” tanya Kai.
“Lusa,” jawab Adam.
“Siapkan rapat. Aku mau bahas soal proyek ini.”
“Di kantor?”
“He em.”
“Kalo ada yang lapor gimana?”
“Hemm ... online aja lah. Jangan lupa siapkan semua materinya dan jangan sampe papa tau.”
Adam menatap sahabatnya. “Cepet sadar. Jangan jadi pengganggu!”
“Bacot! Balik sana!”
Kai langsung menutup pintu rumahnya, malas berdebat lagi dengan Adam. Dia juga ingin tidur, agar besok pagi dia kembali segar.
Adam berjalan menuju ke mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, dia melihat dulu rumah Emma yang sudah sepi dan gelap. Sepertinya penghuninya sudah tidur.
Adam melepas napas berat. “Bisa-bisanya si kampret itu suka ama istri orang. Haduuh, salah makan apa sih dia.”
Adam mencoba bersabar. Dia hanya perlu memantau Kai, agar sahabatnya itu tidak melewati batas.
Pria muda, tampan, kaya raya, keturunan konglomerat, tapi malah suka sama istri orang. Agak sedikit aneh memang sahabat Adam ini.
**
Kai sedang bersiap untuk pergi rapat. Tadinya dia ingin rapat di rumah saja, tapi mengingat keadaan rumahnya sedikit tidak layak dilihat, Kai memesan sebuah kamar di hotel untuk melakukan rapat.
Kai memasukkan tas berisi peralatan kerjanya dan juga baju ganti. Dia bersiap masuk mobil, ketika Doni memanggilnya.
Kai keluar pagar dan menemui Doni. “Iya Mas, ada apa?” tanya Kai.
“Kamu masih cari kerja? Kebetulan di kantor temenku ada lowongan. Jadi staf administrasi,” ucap Doni.
“Staf administrasi?”
“Iya Mas, kata Mas Doni kerjanya gak susah kok. Cuma ngurusi pembukuan di gudang,” sahut Emma sedikit menjelaskan, seperti yang diceritakan suaminya.
“Gudang? Ck! Sepatu gw terlalu mahal buat masuk gudang!” gerutu Kai dalam hati.
“Emm ... iya Mas, ntar saya pikirin lagi. Ntar saya kabarin ya,” jawab Kai basa-basi.
“Iya. Kabarin secepatnya kalo emang mau ya. Keburu diisi orang lain.”
“Iya.”
Kai berpamitan dan segera berjalan ke arah mobilnya. Tanpa sengaja, Kai menjatuhkan sesuatu yang dia pegang sejak tadi.
Doni yang melihat ada sesuatu milik Kai yang jatuh, segera mengambilnya. Dia melihat ke arah benda kecil itu dan terpaku melihatnya.
“Ini kan ....”