“Kai, barangmu jatuh,” ucap Doni sambil mengambil barang milik Kai yang jatuh.
Kai melihat ke arah Doni. Matanya terbuka lebar melihat benda yang sedang di pegang oleh suami wanita incarannya itu.
Doni melihat benda yang baru saja dia ambil. “Loh, ini kan kartu akses punya kantorku.”
Doni melihat ke arah Kai. “Ini punya kamu, Gun?” tanya Doni dengan wajah serius.
“Bu-bukan, Mas. Ini punya penumpang kemaren. Iya, punya penumpang,” jawab Kai mencari alasan.
“Penumpang?” tanya Doni dengan nada tidak percaya.
“Mas Gunawan kan sopir ojek online, Mas. Mungkin punya penumpangnya jatuh dan ketinggalan di mobilnya,” celetuk Emma menebak.
“Iya, bener itu. Semalam penumpangnya nelpon dan karena udah malam banget, akhirnya mau saya kembalikan sekarang,” jawab Kai.
“Listnya gold. Ini punya atasan pasti. Punya siapa emang?”
“Mana saya tau, Mas. Kan saya gak kenalan sama yang punya.”
“Kalo gitu, biar aku bawa ke kantor aja. Sekalian aku ber—“
Kai menyambar kartu aksesnya dari tangan Doni. “Ya jangan dong, Mas. Ntar aku gak dapet bonus. Saya duluan ya, Mas.”
Kai langsung melangkah panjang menuju ke mobilnya. Dia tidak mau berlama-lama di sana karena nanti Doni bakalan tanya-tanya terus.
Doni melihat ke arah Kai dengan sedikit kesal. Emma yang melihatnya, menepuk lengan suaminya dengan lembut.
“Udah Mas, biarin aja. Lagian itu kan tugas dia buat kembaliin. Mas berangkat juga gih, ntar telat loh,” ucap Emma mencoba menenangkan suaminya.
“Tapi caranya gak sopan banget, Yang,” gerutu Doni sedikit kesal.
“Udah lah, Mas. Mungkin dia buru-buru. Udah sana berangkat. Udah siang ini loh.”
Doni masih terus melihat ke arah Kai yang melajukan mobilnya di depannya. Meski Kai sempat membunyikan klakson saat melintas, tapi Doni masih tetap tidak suka.
Akhirnya Doni pun menuju mobilnya. Dia berpamitan pada sang istri lalu segera melajukan mobilnya juga.
Saat Emma akan masuk ke dalam rumah, wanita cantik itu melihat ke arah rumah tetangganya. Tampak Dian sedang keluar dengan sebuah tas besar di tangannya.
“Mau ke mana, Bu Dian?” tanya Emma.
“Eh Mbak Emma. Ini loh, mau balik ke solo. Anak saya sakit, Mbak. Mau jenguk dulu,” jawab Dian sambil memberikan tasnya ke sang suami.
“Oh gitu. Ati-ati di jalan ya, Bu. Ini sekalian apa gimana?”
“Enggak, Mbak. Saya duluan naik kereta. Papanya berangkat hari sabtu nanti.”
“Oh gitu.”
Dian melihat ke rumah tetangga sebelah rumahnya. “Orangnya ke mana, Mbak? Kayak gak pernah keliatan keluar.”
“Barusan berangkat kerja, Bu.”
“Dia udah kerja?”
“Ojek online, Bu.”
“Ooh gitu. Baguslah kalo udah kerja. Mbak, saya jalan dulu ya. Takut telat.”
“Iya Bu, ati-ati di jalan ya.”
Emma melambaikan tangannya ke tetangganya itu, lalu dia kembali masuk ke rumahnya.
“Bu Dian pulang kampung. Untung aja sekarang ada Mas Gun. Kalo gak pasti sepi lagi aku kalo tiba-tiba Mas Doni juga pulang malam,” gumam Emma sambil menutup pintu rumahnya.
Sementara itu Kai langsung menuju ke hotel tempat dia akan melakukan rapat secara telekonferensi. Kai segera berganti pakaian yang lebih formal, agar dia tidak malu di hadapan para bawahannya.
“Udah siap semua, Dam?” tanya Kai sambil memasang dasinya.
“Udah, tinggal nunggu kamu aja. Udah siap belum?” tanya Adam yang saat ini sedang ada di kantor.
“Bentar aku pake dasi bentar.”
“Di mana kamu?”
Ada suara lain yang keluar dari laptop Kai. Mata Kai langsung melihat layar laptopnya.
Kai kaget saat dia melihat ada wajah papanya muncul di sana. Kai tersenyum kecut saat melihat pria yang sedang dia hindari itu tiba-tiba muncul.
“Di mana kamu?” tanya Wisnu.
“Di ... di Amerika,” jawab Kai berbohong.
“Gak usah bohong kamu!” sentak Wisnu.
“Emang mau ngapain? Kai gak akan mau pulang!”
“Kai! Jangan kayak anak kecil kamu. Kamu itu udah 30 tahun!” Wisnu kesal karena putnya minggat.
“Ya emang kalo dah 30? Pokoknya Kai gak akan pulang kalo Papa belum batalin perjodohan gak masuk akal itu,” tegas Kai.
“Kai, perjodohan itu bakalan nguntungin kita. Kamu ntar bis—“
“Kai gak butuh itu, Pa. Kai bisa kok besarin perusahaan ini tanpa perlu nikah bisnis. Pa, nikah itu bukan buat sehari dua hari. Tapi buat selamanya. Kai gak mau nikah tanpa cinta, Pa!”
“Ya tapi kan ntar kamu—“
“Udahlah Pa, kalo Papa masih mau Kai urus perusahaan ini, gak usah jodoh-jodohin Kai lagi. Kai gak mau!”
“Kai, kam—“
“Dam, mulai rapatnya!” titah Kai menyuruh asistennya memulai rapat.
Adam melihat ke Wisnu yang tampak kesal. “Maaf ya, Om. Kai harus rapat,” ucap Adam yang lalu menghubungkan Kai dengan ruang rapat.
Melihat Wisnu tidak meresponsnya, Adam segera pamit, karena dia akan ke ruang rapat. Adam membiarkan laptopnya di sana, karena sepertinya Wisnu ingin mengikuti rapat juga.
Mungkin dengan ini, mata Wisnu bisa terbuka, kalau putranya memiliki kemampuan hebat dalam memimpin perusahaan. Jadi tidak perlu lagi pernikahan bisnis yang membuat Kai kabur dari rumah.
Kai yang tahu papanya ikut rapat, tetap memimpin rapat dengan baik. Dia ingin membuktikan kalau kata-katanya benar adanya.
**
Hari mulai malam. Emma menyalakan lampu di depan rumahnya, tapi lampu itu tidak menyala.
“Loh, kok gak nyala. Putus lagi kah?” tanya Emma pada dirinya sendiri sambil terus menyetek sakelar, siapa tahu lampunya akan menyala.
“Yaah, beneran putus lampunya. Duh gimana ini, mana Mas Doni lembur juga nih,” gumam Emma.
Emma terus melihat teras rumahnya yang gelap dari balik gorden. Rasanya tidak nyaman sekali, karena rumahnya tampak sangat gelap.
Kai yang baru datang, langsung memasukkan mobilnya ke dalam carport. Dia turun dari mobil dan berjalan menuju ke garasi.
“Loh, rumah Emma kok gelap. Dia ke mana?” tanya Kai pada dirinya sendiri.
“Mas Gun,” panggil Emma.
Emma yang melihat mobil Kai datang, segera keluar dari rumah. Dia ingin meminta bantuan Kai untuk mengganti lampu rumahnya yang padam.
“Lampunya kenapa?” tanya Kai sambil berjalan mendekat ke rumah Emma.
“Kayaknya putus lampunya, Mas. Bisa bantu ganti lampu baru gak?” pinta Emma.
Kai melihat ke arah carport rumah Emma. Kosong. Mobil Doni tidak ada.
“Suami kamu belum pulang?”
“Belum, Mas. Lembur katanya.”
“Lembur? Lembur apaan?” gumam Kai dalam hati.
“Aku takut, Mas. Bisa bantu gak?”
Kai mengangguk. “Punya tangga gak?”
Emma menggeleng. “Gak punya. Biasanya pinjem Bu Dian, tapi orangnya pulang kampung.”
Kai masuk ke dalam teras rumah Emma. Dia menyalakan senter di ponselnya untuk melihat kondisi atap teras itu.
“Kayaknya meja sama kursi nyampe deh. Punya kan?”
“Ada, Mas. Meja kayu sama kursi plastik ya?”
“Iya, gak papa.”
Emma mengajak Kai masuk, agar mereka bisa mengeluarkan meja ruang tamu ke teras. Emma mengambilkan kursi plastik dan juga membawa lampu pengganti.
“Ati-ati ya, Mas,” ucap Emma saat Kai bersiap naik.
Kai hanya mengangguk lalu dia melihat ke atas lagi, memastikan posisinya tepat.
Kai mulai naik. Dia naik perlahan, sambil memastikan kalau posisinya aman.
Karena takut Kai jatuh, Emma berinisiatif memegangi kaki kursi, agar tidak bergerak. Saat dia menengadahkan kepalanya ke atas, ada pemandangan indah yang membuat Emma membuka matanya lebar dan menelan ludahnya kasar.
“Woow,” ucap Emma pelan.