Mata Emma membulat saat melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat dari Kai. Guratan indah di perut Kai membentuk perut pria itu sangat kencang dan terlihat sangat seksi.
Kai yang hanya memakai kaos oblong, tentu saja membuka akses bagi Emma untuk melihat pemandangan perut datar nan kencang miliknya. Otot perutnya juga menonjol, seiring saat Kai mengangkat tangannya melepas lampu yang putus.
“Waaw, pasti dia suka olah raga,” ucap Emma pelan.
Emma sangat mengagumi perut pria seperti milik Kai. Dia yang sering melihat drama Korea, sering disuguhi pemandangan seperti ini dari TV.
Sayangnya sang suami tercinta, malas berolah raga. Meski perut Doni tidak buncit, tapi suaminya tidak punya otot perut yang membuat pria terlihat semakin seksi.
“Mana lampunya,” pinta Kai sambil mengulurkan tangannya.
Beberapa detik menunggu dan tangannya tidak kunjung terisi lampu, Kai melihat ke bawah untuk mencari Emma.
Kai tersenyum sendiri saat dia mendapati Emma sedang melihat ke dalam bajunya. Sedikit malu sebenarnya, tapi kalau membuat Emma terpesona, maka mari lupakan malu.
“Emm ... mana lampunya?” panggil Kai lagi.
“Eh, lampu ya. Iya, ini, Mas.”
Emma kaget dan langsung tersadar. Dia segera mengambil lampu yang ada di atas meja lalu memberikannya pada Kai.
“Ini, Mas,” ucap Emma sambil meletakkan di tangan Kai dan mengambil lampu lama yang sudah diambil Kai.
Tanpa menjawab, Kai segera memasang lampu itu. Dia akan memastikan kalau lampu itu terpasang baik, agar teras rumah Emma tidak gelap lagi.
“Coba nyalakan lampunya,” pinta Kai.
“Iya, bentar ya, Mas. Eh, ini dilepasin gak papa kah?” tanya Emma yang ragu melepaskan kaki kursi yang sejak tadi dia pegang.
“Gak papa. Aman kok. Buruan nyalain sana.”
Emma mengangguk. “Iya. Bentar, Mas.”
Emma segera melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dia mencari sakelar lampu teras, untuk mengecek kondisi lampu.
“Yeei, nyala,” ucap Emma senang.
“Naah ... kalo gini kan terang. Jadi bisa makin keliatan ya,” sahut Kai sedikit menyindir apa yang Emma lakukan tadi.
“Keliatan apanya, Mas?”
Kai tersenyum. “Keliatan mana yang udah mandi dan yang belum mandi,” jawab Kai sambil tersenyum.
“Bisa aja, Mas Gun ini.”
Kai turun dari tangga buatannya. Dia kemudian melihat Emma yang tengah tersenyum kepadanya.
“Buset! Cantik bener bini orang,” umpat Kai karena keadaan jantungnya kembali tidak baik-baik saja.
“Mas, bantuin bawa meja ke dalam lagi ya,” pinta Emma.
“Iya. Bawa dulu ini masuk,” ucap Kai sambil memegang kursi plastik agar tidak menghalangi langkah mereka nanti.
Emma mengangguk, lalu dia segera membawa masuk ke dalam dengan membawa kursi plastiknya. Sementara menunggu, Kai memeriksa lagi kondisi lampu, agar tidak bermasalah lagi.
“Mimpi apa gw sampe mau di suruh ganti lampu segala,” gumam Kai pelan.
“Kenapa, Mas?” tanya Emma yang mendengar Kai bicara tapi tidak jelas.
Kai menoleh ke Emma. “Oh enggak kok. Yuk angkat mejanya.”
Emma mengangguk lalu segera memosisikan dirinya di seberang Kai. Mereka berdua membawa meja kayu itu masuk ke dalam pelan-pelan, agar Emma tidak jatuh.
“Eeh ... aduuh!” keluh Emma yang kehilangan keseimbangan, saat dia hendak berdiri tapi ujung roknya terinjak kaki meja.
“Emma!”
Kai langsung menangkap tubuh Emma, agar wanita itu tidak membentur kursi.
Kursi tamu Emma memang memakai pinggiran kayu dengan busa empuk sebagai bantalannya. Kai langsung duduk sedikit rebah di kursi, menahan tubuh Emma yang oleng.
Tubuh Emma jatuh di tubuh Kai. Kepala Emma jatuh di pundak Kai, yang memang memiliki tinggi badan lebih tinggi dari Emma.
Pandangan dua orang itu bertemu. Mereka terdiam, mengagumi kesempurnaan wajah yang ada di hadapan mereka.
“Cakepnya,” gumam Emma dalam hati sambil meremas kaos Kai di bagian perut.
Iya, perut yang tadi hanya dilihat Emma, kini malah bisa dia sentuh.
Kai tidak bergerak. Tidak juga menghindar. Dia malah menikmati.
Menatap wajah cantik itu dalam jarak dekat. Merasakan detak jantung Emma yang bisa dia dengarkan.
Kraak.
Suara benda sobek, membuyarkan suasana. Emma yang kaget langsung berusaha berdiri, sambil menahan malu.
Kai juga demikian. Dia membenarkan posisinya dan berdehem, memecah kecanggungan.
“Loh, sobek,” ucap Emma saat melihat roknya sobek karena terinjak kaki meja.
Kai meringis. “Lagian kamu ceroboh banget sih. Kok gak ati-ati ama rok sendiri,” ucap Kai sambil melihat Emma mengangkat meja untuk melepaskan roknya yang terinjak.
“Ya kan gak tau, Mas. Yaah ... mana ini rok kesayangan aku lagi,” ucap Emma sedih sambil memegang roknya yang sobek.
Kai melihat rok Emma. Melihat robekannya, sepertinya satu-satunya harapan hanya memotongnya, kalau ingin tetap di pakai.
“Harus di potong itu,” ucap Kai.
“Iya. Padahal aku suka banget sama rok ini. Enak banget dipake.”
“Pemberian suami ya?”
Emma melihat ke Kai sambil menggeleng. “Bukan, Mas. Ini aku beli pas aku pertama kali gajian. Kayak self reward gitu.”
“Tapi ya udah gak papa lah. Udah rapuh kali, karena udah lama,” lanjut Emma menghibur diri.
“Oh, bisa jadi tuh karena udah lama. Kalo gitu, aku permisi dulu ya. Gak enak, udah malam.”
“Iya, Mas. Makasih banyak ya udah bantuin.”
“Santai aja. Jangan sungkan manggil kalo butuh bantuan,” pesan Kai sambil berjalan keluar dari rumah Emma.
Emma mengantar Kai sampai depan rumahnya. Dia tersenyum saat Kai sudah masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Kai berjalan ke dalam rumah sambil tersenyum. Dia memegang perutnya, yang tadi dinikmati Emma.
“Gak rugi gw olah raga. Bisa dikagumi sama cewek secantik Emma,” gumam Kai senang.
“Haduuh ... sayangnya bini orang,” lanjut Kai yang kembali tertampar dengan status Emma.
Doni baru pulang sekitar jam 10 malam. Dia langsung mandi dan tidur karena tadi dia makan malam di luar.
Emma yang juga sudah mengantuk, ikut menyusul sang suami. Dia menceritakan pertolongan Kai tadi, karena tidak ingin ada yang dia sembunyikan dari suaminya.
“Untung ada Gunawan ya. Kalo gak, pasti rumahnya masih gelap,” ucap Doni menanggapi ucapan istrinya.
“Iya, Mas. Agak horor juga tadi tuh,” jawab Emma sembari melingkarkan tangannya di atas perut suaminya.
“Maaf ya, karena pulang telat dan gak bisa bantu kamu.”
“Gak papa, Mas. Aku tau kok kalo Mas Doni sibuk.”
“Tidur yuk.”
Emma mengangguk. Dia mengusap perut suaminya pelan dan lembut sambil memejamkan matanya.
Tiba-tiba dia teringat kembali pada perut Kai yang tadi dia lihat dan sempat dia pegang meski sebentar.
“Rasanya beda banget. Punya Mas Gun tadi bisa kerasa keras dan padet,” gumam Emma dalam hati.
“Eh, ya ampun! Gak boleh! Apaan sih malah mikir begitu!” Emma langsung mengusir pikiran itu dari dalam pikirannya.
**
“Kita ketemu di mana?” tanya Kai yang sedang pergi bersama Adam ke sebuah restoran.
“VIP 2 katanya,” jawab Adam yang akan mendampingi Kai bertemu klien mereka.
Adam memimpin jalan menuju ke ruangan yang akan jadi tempat pertemuan mereka dengan klien. Tapi saat mereka akan masuk ke area VIP, tiba-tiba Kai menarik lengan Adam kuat, sampai pria itu menoleh ke belakang.
“Apaan sih, Kai?” tanya Adam sambil melihat Kai.
Namun pandangan Kai tidak tertuju ke arahnya. Karena penasaran, Adam mengikuti arah pandang Kai.
“Siapa itu?” tanya Adam sambil terus melihat orang yang sedang dilihat Kai.