“Ada siapa, Sayang?” tanya Doni.
“Bentar, Mas. Itu kayaknya—“
“Oh iya bener. Ada Rani, Mas,” lanjut Emma, setelah dia memastikan siapa tamunya.
“Rani? Tumben dia ke rumah.”
“Gak tau. Bentar, Mas.”
Emma segera membuka pintu rumahnya. Dia tersenyum melihat kedatangan Rani, sahabat baiknya.
“Tumben ke sini. Dari mana emang?” tanya Emma.
“Dari luar. Kebetulan lagi di deket sini, trus aku mampir aja,” jawab Rani sambil masuk ke dalam rumah Emma.
“Gak balik ke kantor emangnya?”
“Ntar aja lah. Aku bawa ikan panggang nih. Punya nasi gak, Emm?”
“Ada. Mau makan?”
“Iya. Laper aku. Makan yuk.”
Emma membiarkan Rani masuk ke dapur. Dia kembali ke ruang tamu, teringat dengan teleponnya yang masih belum berakhir.
Rani keluar dengan piring dan juga gelas di tangannya. Dia melihat Emma sedang bicara di telepon, lalu tidak lama kemudian sambungan telepon itu pun berakhir.
“Kamu makan sekalian yuk, Emm,” ajak Rani.
“Aku baru makan, Ran. Kamu aja duluan, ntar aku makan nunggu Mas Doni,” jawab Emma sambil menarik kursi makan, menemani sahabatnya makan.
“Mas Doni pulang hari ini?”
“Iya. Kemaren gak jadi pulang karena ada kerjaan dadakan katanya.”
Rani menganggukkan kepalanya pelan. “Bagus deh. Udah lama juga kan ya dia pergi.”
“Iya. Sama hari ini jadi 3 hari.”
Rani mulai makan. Emma hanya mencomot ikan bakar itu, sambil menemani sahabatnya makan.
“Enak, Ran. Beli di mana kamu? Kayak yang biasa dibeli Mas Doni rasanya,” ucap Emma.
“Emang aku yang ngasih tau dia kok soal ikan bakar ini. Tadi gak sengaja liat, kok ternyata deket sini ada cabangnya. Ya udah aku beli aja.”
“Wah, enak dong deket. Yang biasanya Mas Doni beli itu kan deket ama apartemen kamu ya.”
“He em.” Rani mengangguk sambil mengunyah makanannya.
Suasana menjadi tenang. Dua wanita itu sibuk makan.
“Eh Emm, rumah di depan udah ada yang nempati kah? Kok kayaknya ada mobil di depannya,” tanya Rani.
“He em. Baru tadi pindahnya.”
“Cowok apa cewek? Ato pasangan suami istri?”
“Cowok, muda, ganteng juga. Tadi pas dateng malah pake mobil sport.”
Rani menoleh kaget ke Emma. “Mobil sport? Seriusan kamu? Tadi kok aku liat mobilnya biasa aja.”
“Tadi dibawa sana orang lain. Perlente kayak bos gitu.”
“Perlente. Apa itu mobil orang yang dateng itu?”
“Kalo itu sih aku ga tau. Cuma kebetulan liat aja.”
“Udah kenalan?” tanya Rani.
“Udah. Tadi pas lagi nyiram di depan, orangnya keluar. Trus ngobrol bareng sama Bu Dian juga.”
“Udah nikah belum dia?”
Emma menoleh ke Rani lalu dia menggeleng. “Gak tau. Gak nanya aku. Cuma kenalan aja.”
“Hmm ... baguslah kalo udah ada yang huni. Setidaknya kamu gak ketakutan kalo malem pas sendirian.”
“He em.”
“Eh Ran, boleh nanya gak?” ucap Emma sambil melihat kedua tangannya di atas meja setelah membersihkan tangannya dengan tisu.
“Apa?” tanya Rani yang baru saja menyelesaikan makannya.
“Ran, Mas Doni kalo di kantor genit gak?” tanya Emma ingin tahu.
Rani menatap serius ke arah Emma. “Kok nanya gitu? Kamu curiga ama Doni?”
Wajar kalau Emma sedikit curiga pada suaminya. Sejak naik jabatan, Doni jadi sering kerja keluar kota atau lembur.
Emma takut suaminya tergoda wanita lain, apa lagi paras Doni juga tampan dan terlihat sangat penyayang. Dengan maraknya berita perselingkuhan yang terjadi, Emma jadi takut sendiri.
“Ya gak gitu. Tapi kan belakangan banyak banget kabar perselingkuhan gitu kan. Aku takut aja Mas Doni kegoda wanita lain, karena belakangan—“
“Emm ... Doni itu kerja. Kamu jangan punya pikiran buruk gitu dong. Apa lagi alesannya cuma karena kamu liat di medsos. Kasian Doni tau. Ntar kalo dia tau, dia kesinggung loh,” ucap Rani mengingatkan.
“Iya juga sih. Tapi beneran baik-baik aja kan, Ran?”
“Kalo setau aku sih, Mas Doni bisa jaga diri sini. Dia kalo di kantor, gak pernah keliatan aneh-aneh meski lagi sama pegawai cewek.”
Rani memang lebih banyak bertemu dengan Doni, karena mereka ada dalam satu perusahaan. Meski mereka beda divisi, tapi Rani masih sering melihat Doni selama mereka di kantor.
“Bagus deh kalo gitu. Aku kayaknya emang gak perlu punya pikiran jelek ke Mas Doni.” Emma sadar kesalahannya.
“Nah, itu baru bener. Awas kejadian bener loh kalo kamu punya pikiran macem-macem.”
“Ih amit-amit! Gak mau ah!”
Dua wanita itu pun berbincang santai di ruang tamu. Tanpa terasa, hari sudah mulai gelap, tanda jam pulang kantor akan tiba.
Emma mengantar Rani keluar dari rumahnya. Rani sengaja tidak memesan taksi online dulu, karena dia ingin mampir di ruko depan kompleks perumahan Rani, untuk membeli kue.
Saat dua wanita itu melihat tetangga baru Emma sedang membuka pagar rumahnya.
“Tuh ... liat tuh orangnya,” ucap Emma sambil menyenggol lengan Rani agar sahabatnya melihat ke arah Kai.
Rani melihat ke arah depan. Tampak seorang pria muda dengan setelan rapi, keluar dari rumah depan.
Rani sampai melihat penampilan Kai dari atas ke bawah. Tampilan yang tidak bisa dikatakan biasa saja, karena meski hanya memakai kaos dan celana jeans, tapi gesture Kai berbeda dari orang biasanya.
“Mbak,” sapa Kai ramah berharap senyum Emma akan dia lihat lagi.
“Mau pergi, Mas?” tanya Emma dengan senyum andalannya yang mampu mengguncang jantung Kai.
“Iya, Mbak.”
“Mbak Emma mau pergi juga?” lanjut Kai.
“Enggak, Mas. Cuma nganter temen aja kok.”
Kai yang sedari tadi mengabaikan kehadiran Rani, akhirnya melihat ke arah wanita yang ada di samping Emma.
Kai menyapa dengan senyum tipis dan sedikit anggukan kepala.
“Eh gerimis,” ucap Emma yang kaget tiba-tiba hujan turun.
“Ran, kamu mending pesen taksi online dulu deh. Kayaknya bakalan deres ini,” ucap Emma.
“Mau ke depan, Mbak?” tanya Kai sambil melihat Rani.
“Iya,” jawab Rani.
“Bareng saya aja. Kebetulan mau ke depan juga.” Kai mencoba berbuat baik di depan Emma dengan menolong teman Emma.
“Gak papa nih?” tanya Rani tidak enak.
“Gak papa. Bentar, saya keluarin mobil dulu. Keburu deres.”
Kai segera pergi meninggalkan dua wanita itu menuju ke mobilnya. Kai yang tidak pernah naik mobil murah, sedikit kesulitan, karena semua fitur di dalam mobil tidak bisa menyesuaikan secara otomatis saat dia masuk mobil.
“Kampret si Adam. Mobil begini masih aja dipelihara,” gerutu Kai sambil menghidupkan mesin mobil.
“Ran, sekalian kenalan. Siapa tau jodoh,” bisik Emma sambil tersenyum menggoda sahabatnya.
“Ish! Apaan sih kamu. Aku balik dulu ya.”
Rani segera masuk ke mobil Kai, saat rintik hujan datang semakin deras. Emma melambaikan tangan ke mobil Kai, melepas kepergian sahabatnya.
Kai tersenyum sendiri, sambil mencegah tangannya membalas lambaian tangan Emma. Mobil Kai bergerak perlahan, karena Kai ingin melihat Emma sampai menghilang, lewat kaca spion.
“Kamu suka sama Emma?” tanya Rani tiba-tiba.