“Ma-maksud kamu apa ngomong gitu?” tanya Kai tidak suka dengan pertanyaan Rani.
Kai kaget, tiba-tiba penumpang mobilnya itu menanyakan tentang perasaannya pada Emma. Belum juga kenal, tapi ucapan Rani sangat tidak sopan.
Rani menaruh curiga pada Kai, karena pria di sampingnya itu sejak tadi bersikap manis pada Emma. Selain itu, pandangan Kai, terlihat tidak biasa, kalau hanya berperan sebagai seorang tetangga.
“Trus kamu dari tadi ngapan liatin Emma?” tanya Rani lagi.
Kai semakin kaget dengan pertanyaan teman Emma ini.
Kai melirik sinis ke Rani. “Maksud kamu liatin yang kayak gimana? Kamu tau sendiri kan kalo tadi aku lagi nyapa Emma. Jadi wajar dong kalo aku liat dia. Mana ada orang nyapa kok gak liat!” geram Kai.
Rani menoleh ke Kai. Dia melihat Kai tengah meliriknya sinis, menunjukkan rasa tidak sukanya pada pertanyaannya tadi.
“Gak usah deketin Emma. Dia udah nikah!” Rani memberi peringatan.
“Apa? Emma udah nikah?”
Kai kaget setengah mati saat dia mendengar ucapan Rani. Baru saja dia berniat ingin mengenal tetangganya lebih dekat, tapi ternyata Emma malah sudah menikah.
Tentu saja harapan itu hilang tanpa sisa, padahal dia tadi sudah bersikeras pada Adam untuk tetap ada di kompleks menyedihkan itu.
“Kenapa? Kaget?” tanya Rani dengan nada menyebalkan.
“Em, gak kok. Biasa aja. Lagian mana mungkin wanita secantik itu belum punya pasangan,” jawab Kai berusaha sedikit mengontrol emosinya.
“Emma dari dulu emang banyak yang suka. Bahkan dulu ada anak orang kaya yang suka sama dia. Tapi gak tau kenapa, dia malah suka sama Doni.” Rani sedikit bercerita.
“Doni? Itu nama suaminya ya?”
“He em. Eh, aku tu—“
“Yah, kok tutup sih,” lanjut Rani yang mendapati toko yang dia sasar malah tutup.
Kai melihat ke ruko yang dilihat Rani. “Tutup. Trus gimana?”
Rani menoleh ke Kai. “Bisa anter aku pulang gak? Ujannya makin deres. Pasti susah cari taksi online,” pinta Rani penuh harap, agar dia tidak diturunkan di hari hujan seperti ini.
Meski Rani menyebalkan, tapi kasihan juga kalau sampai Rani menunggu di depan toko sambil kehujanan. Akhirnya, Kai langsung membelokkan mobilnya dan meneruskan perjalanannya.
Siapa tahu dia bisa mengorek cerita tentang Emma dari Rani.
Rani kembali melihat ke arah Kai. Pakaian yang dipakai pria itu, terlihat sangat mahal, bahkan penampilan pria itu, terlihat beda dari pria lainnya.
“Kamu kerja apa?” tanya Rani.
Kai kembali melirik Rani dengan sinis. “Eh buset! Ni cewek detektif apa ya. Dari tadi nanya mulu,” geram Kai dalam hati.
“Belum kerja. Lagi nyari,” jawab Kai ketus.
Rani kembali melihat ke arah depan. “Pengangguran. Tapi kayaknga baju kamu bagus.” Rani melihat lagi ke Kai. “Baju mahal.”
Rani yang terbiasa melihat baju merek terkenal, hafal dengan baju milik orang kaya itu. Meski dia belum memilikinya, setidaknya dia bisa melihatnya saat dia sedang menangani iklan di kantornya.
“Palsu!” jawab Kai sinis.
Rani tersenyum miring. “Percaya sih. Mana bisa kamu beli baju mahal.”
“Emma suka sama cowok kaya. Dia suka makanan mahal dan dia gengsinya gede,” ucap Rani.
Kai tidak menjawab. Dia malas menjawab karena nanti Rani malah semakin banyak bicara.
Sekarang saja dia menyesal mengangkut wanita culas seperti Rani. Sangat berbeda dari Emma yang terlihat sangat lembut.
“Halo, Mas,” ucap Rani saat dia mendapat telepon dari seseorang dan membuat Kai sedikit melirik.
Kai terus memecah jalanan yang sedang diguyur hujan lebat. Dia berharap, Rani akan segera turun, saat dia mendengar obrolannya dengan seseorang di telepon.
“Gun, tolong anterin ke minimarket depan itu dong,” pinta Rani sambil menunjuk ke depan.
Lagi-lagi tanpa menjawab, Kai langsung mengarahkan mobilnya ke minimarket yang ditunjuk Rani.
Sebuah mobil SUV sudah parkir di depan minimarket. Rani berterima kasih pada Kai, lalu segera turun dari mobil Kai.
Dia langsung berlari masuk ke mobil yang sedang menunggunya karena masih gerimis. Tak lama kemudian, mobil itu langsung pergi meninggalkan minimarket.
Kai masih melihat mobil yang dinaiki Rani sampai menghilang. Dia masih geram pada Rani yang ucapannya sangat merendahkannya.
“Pengangguran. Gak bisa beli baju brand mahal. Hemm, pengen kutampar aja mulutnya. Belum tau dia siapa Kai! b******k!”
Kai memukul setir mobilnya, meluapkan rasa kesalnya. Dia kemudian melajukan mobilnya juga, melanjutkan perjalanannya.
Sore ini Kai akan bertemu dengan seorang klien, sekaligus dia akan menyelesaikan tugas kantornya. Meski dia kabur, dia diam-diam masih mengontrol perusahaan keluarganya lewat Adam.
Saat Kai sedang sibuk dengan urusan kantornya, Emma sedang sibuk di dapur.
Karena suaminya akan pulang, Emma memutuskan memasak. Dia sangat bersemangat karena sebentar lagi kerinduannya pada sang suami akan terobati.
Waktu berlalu lebih capat. Tapi pria yang dinantikan Emma belum juga datang.
Emma melihat ke jam dinding rumahnya. “Udah mau jam 8, kok Mas Doni belum dateng juga ya. Apa dia kena macet?” gumam Emma pelan.
Tiba-tiba terdengar suara klakson. Emma langsung mengintip dari jendela untuk memastikan kalau itu mobil suaminya.
Emma langsung berlari ke depan, membuka pagar untuk suaminya. Dia berdiri di depan pintu rumah, sambil menunggu sang suami selesai parkir dan menggembok pagar lagi.
“Mas,” sapa Emma dengan senyum lebar, lalu dia mencium punggung tangan suaminya.
“Sayang,” ucap Doni sambil mengecup kening Emma.
“Nih, aku bawain buat kamu,” ucap Doni sambil memberikan oleh-oleh yang dia bawa.
Emma menerima pemberian suaminya dengan senang hati. Dia melihat merek kue yang dibelikan suaminya.
“Tumben beli merek ini, Mas. Biasanya beli di toko langganan kita,” tanya Emma.
“Tadi di sana juga ujan, jadi aku males muter jauh. Yang ada aja. Gak papa kan aku beli yang ini” jawab Doni sambil mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.
“Gak papa. Aku suka juga kok. Oh ya, aku udah masak tadi. Mas makan dulu apa mandi dulu?” tanya Emma.
“Mandi dulu aja, Sayang. Gerah banget.”
“Ya udah. Aku angetin makanannya dulu ya, Mas.”
Emma membiarkan suaminya pergi ke kamar mereka untuk mandi. Dia membawa tas pakaian suaminya ke dapur, untuk di masukkan je mesin cuci.
Emma membongkar tas suaminya dan memasukkan semua pakaian ke dalam mesin cuci.
Tiba-tiba Emma terdiam, saat dia melihat sesuatu di dalam tas suaminya. Dia mengambil benda itu dan melihatnya dengan teliti.
“Punya siapa ini?” ucap Emma sambil terus melihat benda yang dia temukan.