“Punya siapa ini?” ucap Emma sambil terus melihat benda yang dia temukan.
Emma menemukan pakaian dalam wanita di dalam tumpukan baju suaminya. Tentu saja, itu bukan punya suaminya dan seharusnya tidak ada di sana.
Ada gemuruh di d**a Emma saat dia melihat benda itu. Jelas-jelas itu bukan miliknya, karena dia tidak pernah punya pakaian dalam dengan motif seperti itu.
“Sayang, bisa bikinin aku teh gak?” pinta Doni saat dia keluar dari kamar masih dengan baju kerjanya
Emma tidak menjawab. Dia menatap suaminya tanpa bicara sedikit pun.
Doni yang melihat sikap istrinya tiba-tiba berubah, segera mendatangi sang istri. Tentu saja dia ingin tahu apa yang sedang terjadi.
“Kamu kenapa? Kok tiba-tiba kamu cemberut gitu,” tanya Doni sambil mencolek dagu sang istri.
Emma menatap tajam ke suaminya. “Mas, ini punya siapa?” tanya Emma sambil menunjuk pakaian dalam yang dia temukan dan sudah dia letakkan di atas mesin cuci.
Doni melihat ke arah yang ditunjukkan sang istri. Mendadak raut wajah Doni menegang dan tampak sedikit panik.
Tapi wajah tegang itu, segera hilang dan berusaha tetap tenang.
“Oh, ini ... ini sebenernya buat kamu, Sayang,” ucap Doni.
“Buat aku?” Emma mengerutkan kedua alisnya.
Emma kembali melihat ke arah pakaian dalam yang dia temukan. “Tapi ini bekas, Mas. Masa Mas mau kasih aku pakaian dalam bekas sih? Jijik tau!”
“Eh, bukan gitu. Ini tuh baru sebenernya. Jadi pas aku beli itu kan pas sampe hotel, aku liat lagi. Gak taunya paginya pas mau londri, malah keikut di pakaian kotor. Lebelnya ilang ke cuci. Aku juga gak tau kalo ini kecuci. Taunya pas londrinya dateng.” Doni berusaha menjelaskan.
Emma tidak menanggapi. Dia malah melihat pakaian dalam itu sambil mencerna cerita suaminya.
Motif pakaian dalam itu sangat liar menurut Emma. Dia sama sekali tidak menyukai motif penuh seperti itu.
“Kok motifnya gini, Mas? Aku gak pernah pake yang begini loh,” gumam Emma pelan tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Iya, sebenernya aku pengen sesuatu yang agak lain. Buat sensasi biar gak bosen gitu. Tapi kalo kamu gak suka gak papa kok. Ntar kita beli yang baru aja ya.”
Emma melihat ke suaminya. “Eh, bukan gitu, Mas. Kalo Mas suka gak papa kok. Aku bakalan pake.” Emma merasa tidak enak pada suaminya.
“Gak usah. Lagian ini udah rusak.”
“Gak kok, Mas. Ini masih bagus.” Emma mengambil pakaian dalam itu dan menelitinya.
Doni menyambar pakaian dalam itu dan melemparkannya ke tong sampah. “Gak usah. Kita beli yang lain aja ya. Aku mandi dulu.”
Doni langsung pergi begitu saja meninggalkan Emma. Dia kembali masuk ke dalam kamar, untuk membersihkan diri.
Emma berdiri diam dengan hati sedih. Dia merasa tidak enak pada suaminya, karena ini pertama kalinya dia menolak pemberian suaminya.
Emma melihat lagi ke pakaian dalam liar yang sudah mendarat di tempat sampah.
“Lagian Mas Doni aneh deh. Udah tau aku gak pernah beli yang kayak gitu, kenapa dia malah beli yang begitu,” gumam Emma pelan.
“Ya udah lah, ntar aja aku minta maaf.”
Emma kembali melanjutkan kegiatannya. Dia mencuci pakaian suaminya, sambil menyiapkan teh hangat untuk sang suami.
Sementara itu, Doni melepas napas lega saat dia berdiri di bawah guyuran shower kamar mandi. Dia juga kaget kenapa pakaian dalam itu bisa masuk ke dalam tasnya.
“Huuh, hampir aja. Moga aja Emma gak curiga lagi,” ucap Doni lega.
Doni ingin segera menyelesaikan mandinya. Setidaknya dia ingin tahu bagaimana istrinya saat ini.
Doni keluar dari kamar sudah mengenakan kaos dan celana pendek. Dia melihat istrinya sudah duduk di ruang TV sambil menunggunya.
“Waah ... ada teh dan singkong. Kamu bikin ini tadi singkong gorengnya?” tanya Doni sambil mencomot sepotong singkong goreng.
“Gak Mas, tadi dibawain sama Rani. Masih agak banyak, trus aku angetin,” jawab Emma.
“Ngapain dia tadi ke sini? Tumben dia ke sini jam kantor.”
“Katanya lagi di deket sini. Trus mampir. Sekalian numpang makan. Dia tadi bawa ikan bakar kayak yang biasanya yang bawa loh.”
“Hmm ... enak itu.”
“Mas mau makan?”
“Gak usah. Makan ini aja.”
“Eh ya, rumah depan udah ada penghuninya?” tanya Doni.
“Udah. Baru pindahan orangnya.”
“Pemilik rumahnya?”
“Bukan. Orang ngontrak katanya. Cowok kok, Mas.”
“Sendirian?”
Emma mengangguk. “Iya.”
“Emm ... awas jangan genit ya. Istriku cantik soalnya.” Doni memberikan peringatan.
“Apaan sih, Mas. Aku juga tau aturan kali, Mas,” jawab Emma sambil tersenyum dan masuk ke dalam pelukan suaminya.
Emma sangat senang, karena suaminya sangat menyangyanginya. Meski pernikahan mereka dulu mendadak karena permintaan mendiang papa Doni, tapi semua berjalan lancar karena Doni selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
Meski sampai saat ini mereka belum punya anak, tapi Doni sama sekali tidak pernah menuntut Emma agar segera hamil.
Kai yang baru saja datang, melihat ada sebuah mobil parkir di rumah Emma. Rumah itu juga tampak sudah gelap, sepertinya penghuninya sudah tidur.
“Apa Emma beneran udah nikah? Hmm ... sayang banget, padahal tadi udah seneng. Kampret!”
Kai kesal karena wanita yang menjadi penyemangatnya tinggal di rumah ini, ternyata sudah milik orang lain.
Rasa kecewa itu, membuat dia uring-uringan seharian. Kai bahkan kembali menyusahkan Adam dan ingin tetap pindah.
**
Seperti biasanya, Emma akan mengantarkan suaminya ke depan saat akan berangkat ke kantor. Dia bergelayut manja di lengan suaminya, sambil sedikit bercanda.
Pada saat bersamaan, Kai membuka pintu pagar. Matanya memanas saat dia melihat Emma sedang bermesraan dengan suaminya.
Tidak wajar memang. Tapi ini adalah bentuk kekecewaan Kai pada dirinya sendiri yang tidak menyelidiki lebih dulu tentang Emma.
“Eh Mas Gunawan. Mau ke mana Mas, pagi-pagi udah mau keluar,” sapa Emma lembut yang hampir saja melumerkan hati Kai.
“Mau jalan, Mbak. Biasalah,” jawab Kai tak kalah ramah.
“Kerja ojek online?” sahut Doni.
“Ojek online palamu!” sembur Kai dalam hati.
Kai terpaksa menarik dua sudut bibirnya, membentuk senyum. “Iya, Mas. Dari pada nganggur.”
“Iya sih. Sekarang cari kerjaan emang susah. Tapi kalo dapet penumpang agak banyak, hasilnya lumayan lah.”
“Iya, Mas.”
“Ini suaminya, Mbak Emma ya?” tanya Kai basa basi.
“Iya, Mas. Mas, ini loh tetangga baru yang semalam aku ceritain,” ucap Emma memperkenalkan Kai pada suaminya.
“Mas, itu Mas Gunawan. Tetangga baru.” Emma mengenalkan Kai ke suaminya.
“Oh iya. Kamu kalo mau pergi bisa sekalian ama dia aja. Kan dia sekalian narik. Mayanlah, nambah penumpang. Iya kan, Gun?”
“Pasti, Mas. Saya bakalan seneng bisa bantuin Mbak Emma.” Kai kembali bersemangat.
“Iya Mas, kadang aku kalo belanja suka susah cari ojek. Mas Doni juga sering dinas keluar kota.”
“Oh gitu. Kalo butuh apa-apa langsung hubungi saya aja, Mbak. Anggep aja, ojek harga tetangga.”
“Bisa aja kamu. Tapi ada benernya juga. Sekarang kan musim ujan, kalo pake mobil pasti lebih aman.”
“Bener itu, Mas. Saya jamin Mbak Emma bakalan aman sama saya.”
Doni hanya membalas dengan senyuman dan anggukan. Dia kemudian berpamitan pada istrinya dan Kai, agar tidak terlambat sampai ke kantor.
Kai terus melihat ke arah Doni. Dia melihat Doni masuk ke dalam mobilnya, yang sudah diparkir di depan rumah sejak tadi.
“Kayak pernah liat. Tapi di mana ya?” gumam Kai sambil terus melihat mobil Doni yang mulai melaju meninggalkan rumah.